[Oneshot] Afflicting Nostalgia

Afflicting Nostalgia

Kyungsoo & OC

by Diramadhani

***

Kudorong perlahan pintu kafe dengan meminjam jari telunjukku, kacanya terasa dingin begitu berkontak dengan kulit. Seperti detik ketika aku masuk, aroma semerbak kopi yang memikat langsung menyambutku meriah. Seketika, aku nyaris lupa tentang alasanku nekat keluar dan menerobos salju kemari, kecuali untuk melihat punggung yang terlapis jas merah hati dengan rambut cokelat yang terlihat rapi. Aku kembali dengan inderaku.

Kedatanganku kemari untuk menemuinya.

Aku mendekati meja itu, diam-diam aku dilingkupi kegugupan yang luar biasa besar. Perutku terasa ngilu dan gigiku nyeri, aku terlalu kaku dalam setiap pergeseran tubuhku. Ketika ditelan perasaan itu, aku sudah berdiri tepat di depan sang lelaki, dia mendongakkan kepalanya, kemudian menyampaikan senyumnya padaku.

Lelaki yang mungkin sepuluh tahun, atau entah delapan tahun, atau dua belas tahun telah menghilang eksistensinya —mirip seperti debu. Lucu, sekarang dia duduk di sini, sambil menaikkan tangannya dengan sebuah ‘hai’ yang terdengar asing.

Aku merasa sesuatu bergejolak di dalam perutku. Masih mengira-ngira apa yang berubah, atau apa yang masih terasa sama darinya.

Jadi, itu terjadi kira-kira pada sabtu pagi, tidurku tergangu dering ponsel yang berjerit-jerit. Aku terpaksa memisahkan kelopak mata yang masih enggan untuk dibuka demi mengangkat panggilan itu.

“Halo?” Aku mendengar decitan kecil dari seberang.

“Halo. Aku Jung Hyojin. Ada yang bisa dibantu?”

“Sleeping beauty, princess? Even don’t recognize my voice?”

Aku membulatkan mataku dan menegakkan punggungku. Begitu singkat, rasa kantukku lenyap, aku tak tahu dimana menghilangkannya. Dan berakhirlah kami dengan obrolan singkat tentang rencana pertemuan kecil. Reuni nostalgia, dia bersikeras menyebutnya demikian, meski aku protes sepuluh kali karena menurutku itu agak aneh. Tapi akhirnya,  aku tak bisa melakukan hal lain selain memberi persetujuan.

Dan rencana itu direalisasikan hari ini. Di tempat ini. Sekarang ini.

“How do you do, Hyo?” Kyungsoo bertanya padaku.

“Kau terlihat sedikit lebih tinggi.” Komentarnya, sembari tertawa. “Seratus lima puluh senti itu terlalu kecil,” lelaki itu tertawa lagi, mengingatkanku tentang percakapan-percakapan dan kejadian kecil absurd jaman dulu, waktu kami masih mengenakan seragam biru tua dengan kemeja putih di dalamnya.

“Kau sengaja.” Ucapku, menarik kursi di depannya. Kemudian duduk. “Kau sengaja untuk mengingatkanku tentang itu.”

“Lantas aku menyebutnya cocok dengan ‘reuni nostalgia’. Mari ingat semuanya, Hyo.” Ucapnya, kemudian tersenyum kecil. Senyum yang cocok sekali dengan kontur wajahnya yang damai. Aku bertanya-tanya apa dia masih membenci serangga kecil semacam lebah, atau apa dia masih minum susu sebangun tidur untuk beberapa senti tambahan pada tinggi badannya, atau apa dia masih sering lupa sikat gigi saat mandi. Aku ingin menanyakannya, namun aku juga bertanya-tanya apa yang dia pikirkan jika mengetahui bahwa aku masih mengingat semua itu. Jadi aku menelan semua pertanyaanku, lalu membiarkan mereka mengendap dan menyakiti batang tenggorokanku.

“Ngomong-omong, kau sadar nggak sih?” Dia bertanya, tiba-tiba. Setelah membiarkan kesunyian dan meninggalkanku berpikir kalimat yang tepat untuk memulai percakapan.

“Soal?”

“Kalau itu terlalu hiperbolis. Kita dulu nggak sependek itu.” Jawabnya. Kini giliranku lah yang tertawa.

“Finally you found it out.” Aku tertawa. “Hiperbolis adalah prinsip hidupmu, ngomong-omong. Aku bahkan sempat mengira kalau itu nama tengahmu.”

“Bodoh.” Responnya, pendek. Tapi aku terkekeh untuk itu.

“Tapi karena itu hiperbolis, jadi susah dilupakan.” Katanya lagi, berusaha membela diri.

Yeah, maybe you’re right, 150 centimeters frog prince.”  Aku menggumamkan kalimat itu.

“I always, 150 centimeters Ugly duck princess .”Kyungsoo menambahkan. Kemudian melanjutkannya dengan sebuah fakta, “Sayangnya mereka nggak jodoh, ya.”

Aku menghela napas, tersenyum tipis, nyaris terasa pahit di ujung belakang lidahku. “Iya.”

Dulu waktu aku SMA, aku dikategorikan oleh para gadis sebagai orang yang paling dibenci. Alasanya, tentu, masalah lelaki. Ada dua cowok yang memiliki nilai tinggi di mata kaum perempuan, namanya Oh Sehun dan Kim Jongin atau nama kerennya, Kai. Wajah mereka memang , seperti gambaran deskriptif pangeran dalam dongeng-dongeng luncuran Walt Disney. Aku kenal mereka, secara khusus. Dan kadang aku berfikir mereka menyukaiku, atau mungkin salah satunya, namun entahlah, itu hanya kesimpulanku atas perhatian yang mereka berikan.

Tapi disamping mereka berdua aku justru mengenal seorang lagi lelaki yang jauh berbeda dengan mereka.

Namanya Do Kyungsoo.

Aku bertemu dengannya pertama kali ketika memburu buku romansa melankoli di toko buku di seberang sekolah. Dia mengalah untuk memberikan buku yang tinggal tersisa satu untukku. Dan akhirnya kami kenal, yah, simpel.

Keesokan harinya kami bertemu di kantin, makan bersama, kemudian dekat, menjadi teman akrab.

Karena aku dan Kyungsoo pendek, dulu kami melambangkan persahabatan kami dengan nama ‘sahabat-sahabat seratus limapuluh senti’. Tentu saja itu usulan Kyungsoo. Sepanjang hidupku Do Kyungsoo adalah penggila frasa hiperboli yang paling parah, entah darimana dia terjangkit penyakit semacam itu.

Kyungsoo sering menggerutu tentang Sehun dan Kai. Terkadang ia melontarkan candaan garing dengan berandai-andai. Jurusannya membahas tentang : jika aku sepopuler Kai, atau jika aku setampan Sehun. Tapi aku yakin itu tak akan cocok dengan kepribadian Kyungsoo sendiri, dia tidak akan betah jadi bahan atensi lebih dari tiga puluh detik, kecuali jika dalam penobatan juara kelas.

“Memangnya apa istimewanya Sehun dan Kai itu?” Kyungsoo menanyakan hal itu padaku, kali ketiga dalam tiga hari terakhir. Intinya, dia menanyakan pertanyaan itu sekali dalam sehari, dia tak akan bosan dalam waktu sebulan.

“Mereka kan ganteng.” Jawabku asal. Kyungsoo hanya mengangguk, rupanya dia mengakui hal serupa.

“Memangnya aku nggak, ya?” Dia bertanya demikian. Aku tertawa kecil.

“Ganteng, kok.” Jawabku sembari menahan tawa. “Semacam pangeran.” Sambungku.

“Pangeran? Serius?”

“Iya, serius. Pangeran. Pangeran kodok.” Jawabku, kemudian tertawa keras. Kyungsoo menendang kakiku kecil. Dan menatapku datar.

Nggak lucu, serius.”

“Lucu loh. Lihatlah ekspresimu sendiri sekarang, kau juga akan tertawa, dijamin.”

Tsk.” Kyungsoo berdecih. “Memang benar, chasingadalah apa yang langsung bisa kau nilai. Tapi seenggaknya, lakukan observasi sama dalemnya.” Ucapnya sinis. Sembari memisah resleting tasnya.

“Dalemnya? Udah pernah kok, waktu acara musikal sekolah, mereka shirtless dan woah, mereka seksi.” Semburku cepat, diakhiri dengan tawa.

“Hei, bukan itu maksudku.” Kyungsoo menggebrak tangannya diatas meja, sembari menaruh selembar kertas. “Pertama, nilai intelegensi mereka, barulah visualnya.”

Aku melirik kertas yang berada diatas meja, lembar nilai kalkulusnya yang angkanya normal buat Kyungsoo, seratus.

“Oke.” Aku menghela napas. “Kau lebih keren dari mereka.” Kataku, menyerah karena tak ada pilihan lain.

Kalau sudah seperti itu, Kyungsoo akan diam sembari tersenyum puas.

Dan yang membuatku betah untuk menempel di punggung Kyungsoo adalah jiwa pelindungnya, meskipun mungkin memang benar, ia tidak  begitu tinggi, tapi ia cukup kuat untuk menjadi perisaiku.

Ibuku meninggal ketika aku duduk di bangku ke dua sekolah menengah atas. Dan itu adalah masa-masa tersulit dengan pukulan dan beban terberat yang pernah ditanggung pundakku. Rasanya seperti aku ikut mati.

Kepulangan ibuku memaknai sebuah kehilangan akan sandaran terbesar dalam hidupku. Sejak kecil, aku hidup bersamanya, dibesarkan olehnya. Seperti bagaimana harusnya kisah seorang ibu dengan putrinya. Memang, tidak ada yang istimewa. Tapi coba kau bayangkan, bagaimana jika esok harimu kau tidak bisa bertemu ibumu lagi? Jika ia tidur dan kelopak matanya tak pernah terbuka lagi?

Menurutmu, bagaimana rasanya?

Bagiku, itu kiamat.

Ayah terlalu sibuk untuk menata hatinya yang hancur untuk sekedar menepuk bahuku dan memelukku untuk sebuah kehangatan. Nenek terlalu sibuk untuk berjuang secara batin untuk kehilangan putri semata wayangnya. Aku tersisa sendiri, berusaha untuk menata hatiku seperti ayah, dan berjuang seperti nenek.

Tapi aku tidak sedewasa ayah atau nenek untuk melewatinya. Aku hanya remaja tujuh belas tahun saat itu.

Dan disanalah Kyungsoo menjadi begitu berarti bagiku, dia memberikan sandaran untukku, dia meminjamkan bahunya bagiku, dia mengalirkan ketenangannya padaku.

Dan saat itu, kuputuskan pundak Kyungsoo adalah tempat paling nyaman, disamping milik ayahku.

Lalu, ada hal lain yang membuatku akhirnya jatuh hati pada Kyungsoo. Yah, sebenarnya, sejak aku merasa nyaman dengannya aku mulai lebih sering memperhatikannya sih, secara romansa, bukan sekedar afeksi.

Kyungsoo adalah seseorang yang terlampau handal menyembunyikan sesuatu; dan yang paling berkesan adalah hebatnya ia menyembunyikan bakatnya.

Kadang aku mendengarnya menggumamkan senandung-senandung lagu-lagu yang lagi nge-trend. Itu jauh daripada yang aku pikirkan. Sebuah suara yang berkategori halus dan adiktif, andai dia mempertajam bakatnya dan tampil di ajang penyaring bakat terkenal, dia sudah lama berdiri gagah diatas panggung. Tapi tak perlu kuulang bahwa Kyungsoo mengidap popularity alergic; anxiety. Dia berusaha terlihat buruk ketika apresiator dari sekolah berusaha mencari bakat yang terselinap, dan dia berhasil.

Aku pernah bertanya padanya dalam bentuk basa-basi kecil.

“Kau bisa nyanyi ya?” Aku bertanya padanya yang sedang sibuk dengan buku yang dicurinya diam-diam di perpustakaan, akibat keluhannya yang bertema ‘kartu pinjam perpusku hilang’ yang sejak kemarin dia ocehkan.

“Bayipun bisa.”

Enggak. Aku serius. Aku pernah mendengarkanmu, sekali, oke, beberapa kali, mengumamkan lagu-lagu, dan itu bagus. Bisa jadi nilai plus loh.”

Nggak menarik.” Gumamnya, setelah tak merespon kalimatku dalam beberapa waktu.

“Apanya?”

“Bukunya.” Dia menjawab, sembari menutup buku ‘curian’nya. “Dan obrolanmu. Membosankan.”

“Serius?”

“Dua rius. Jangan bahas soal itu lagi.”

Dan ya, aku tidak pernah membahasnya lagi. Tapi berkat itu, aku terlanjur terpesona pada Do Kyungsoo.

Beralih ke masa sekarang, lelaki itu memesan muffin dan moccachino, sama dengan yang dulu dia pesan waktu datang kemari, waktu kami masih SMA. Aku juga, aku memesan satu gelas besar cappuccino dan rainbow es krim, terlalu kekanakan untuk orang-orang seusia kami, tapi sejak aku setuju dengan Kyungsoo untuk menamai pertemuan ini dengan nama ‘reuni nostalgia’ maka baiklah, aku memesan sesuatu yang akan mengantarku untuk mengingat hal-hal yang dulu.

Nggak harus es krim kok. Ini kan dingin.” Dia menegurku begitu aku dengan tanpa perhitungan langsung memesan menu jaman dulu.

“Jangan khawatir. Akulah yang kangen makan es krim.”

I’m not worrying about you, ugly duck princess. Just, it’ll be annoying if you suddenly catch a cold because drink a cup of ice cream, really.”

Kami tertawa.

That surely won’t happen, frog prince. I’m a strong girl, you know that well.

Whatever.”

Untuk pertama kalinya, Kyungsoo menyerah dalam perdebatan kami. Mungkin karena faktor pendewasaan cukup mempengaruhinya. Dulu, ia akan terus berdebat hingga opininya tak tersanggahkan lagi; satu lagi hal yang menarik, sekaligus menyebalkan soal dia.

Pesanan kami datang. Kyungsoo mulai menyantap muffinnya sedangkan aku mulai dari es krim ku. Tapi aku tak berkonsentrasi, fokusku lebur untuk mengamatinya. Lelaki itu masih Do Kyungsoo, yang tampan dengan caranya sendiri.

Aku kembali teringat ketika kami kemari, sama-sama memesan es krim dan membiarkan wajah kami penuh akan noda es krim dan terlihat konyol, tak mengacuhkan tatapan aneh orang sekitar, atau respon miring mereka. Hanya untuk besenang-senang, awalnya Kyungsoo terlihat kurang nyaman, tapi akhirnya setelah beradaptasi, dia berhasil kubuat bersenang-senang dengan hal yang seperti itu.

Yah, kau tahu, semakin hari, aku semakin menghargai setiap waktu bersamanya. Aku semakin sering mendapati ujung mataku yang blak-blakan mengamati detail wajahnya. Aku  –tanpa aku hendaki secara refleks mulai menghafal seluruh kebiasaannya. Secara garis besar, aku pelan-pelan mulai terjebak dalam pesonanya, mulai jatuh cinta padanya.

Bahkan sampai sekarang, aku pun masih tidak bisa berhenti mengamatinya, setelah kami tumbuh dewasa, setelah perpisahan kami yang cukup lama.

Hyo, do you still afraid watching horror movies?”Tanyanya. Aku berhenti menelan es krim ku untuk menatapnya. Kemudian tersenyum tipis, Kyungsoo ingat itu.

“Dammit that you still remember that, Kyung-ah.” –Thanks for still remembering that, Kyung-ah.

Nggak akan lupa. Wajah merah ketakutan itu, mustahil.”

Lelaki itu tertawa renyah,

Namun tiba-tiba, udara dingin masuk beserta seorang lelaki tambun dengan jas biru tua itu membuka pintu kafe. Kyungsoo  berhenti tertawa, airmukanya berubah menjadi serius, dua detik kemudian, lelaki itu tersenyum lembut. “You still call me that way, Hyo.”

Aku merenung. Apa ‘that way’ yang dia maksud adalah panggilan ‘kyung-ah’?

Aku tersenyum tipis, “Do i have to call you formaly then, Kyungsoo-ssi?

No, that’s even better.” 

 

Aku mengangguk untuknya.

Setelahnya, kami diam. Atmosfir berubah menjadi begitu canggung, dingin, dan kaku. Kutemukan lidahku kelu dan kepalaku penuh oleh frasa-frasa tak terungkap berikut luapan emosi masa lalu yang belum sempat terpuaskan.

Dulu, aku memang tidak blak-blakan dalam mengungkapkan rasa sukaku padanya, tapi sebenarnya itu terlihat jelas, hanya saja tertutup status kedekatan kami dalam level pertemanan, perhatian dalam tahapan romantisme itu terpendam oleh persahabatan kami. Seolah tidak pernah ada. Dan bagiku, itu menyedihkan.

Setiap kutatap Kyungsoo, setiap kuperhatikan dia dalam setiap gerak-gerik kecilnya ketika bersama, tak kutemukan keadaan dimana dia menatapku dengan tatapan tertarik secara romantismue. Aku yang suka padanya. Dan dia yang kelihatan biasa saja dengan semuanya.

“Oh ya, Hyo.” Lelaki itu bicara lagi. Dia menghela napasnya sebentar. Kemudian menaruh dua tangannya bertumpukan diatas meja, “Kalau misalnya dulu kita sempat bertemu di hari itu, apa menurutmu ceritanya jadi beda? Diantara kita berdua?”

Aku mengambil helai rambut yang terlepas kembali ke belakang telingaku. “Mungkin iya. Mungkin tidak.”

“Jawaban yang bijak.”

“Tentu saja.”

Jadi, kejadian itu tercipta sekitar dua minggu sejak kelulusan sekolah, aku menghabiskan waktuku untuk berlibur di kampung halamanku, dan sialnya, di sini aku nyaris tidak bisa mengoperasikan ponselku untuk beberapa faktor. Tempat ini terlalu asri dan mungkin, terlalu terbelakang hingga aku kesulitan mencari sinyal untuk ponselku. Jadi, aku putus kontak dengan dunia sejak itu, pun begitu dengan Kyungsoo.

Aku harus menempuh jarak beberapa kilometer untuk menemukan warung internet untuk mengecek email masuk, aku sudah janjian dengan Kyungsoo untuk berkirim email selama aku di sini. Tapi berhubung sulitnya akses,  aku jadi agak malas. Aku baru datang ke sana tepat satu bulan setelah aku sampai di sini.

Pesan yang kuterima di hari pertama :

“Hyo, sudah sampaikah kau?”

 

Hari kedua :

“Hyo, apa yang kau lakukan? Aku barusan memenangkan kupon buku gratis loh, sayang kau tak disini.”

 

Hari ketiga :

 

“Kau mulai sombong tidak membalas emailku, Hyo. Kau baik-baik saja, kan?” 

 

Hari kesembilan, ada empat pesan masuk :

 

“Hyo, kau benar-benar bebek jelek jika tidak membalas, bagaimana keadaan keluargamu, Hyo? Kuharap aku bisa datang kesana kapan-kapan.”

 

“Hyo, katakan aku lebih tampan dari Sehun.”

 

“Hyo, kau harus segera kembali untuk mengembalikan buku yang kau pinjam.”

 

“Hyo, balas emailku.”

 

Hari kelima belas :

 

“Hyo, aku merindukanmu.”

 

Hari kedua puluh dua :

 

“Hyo, kapan kau pulang?”

 

Hari ke duapuluh empat :

“Hyo, aku tak tahu kau akan baca ini atau tidak, nomor ponselmu diluar jangkauan. Tapi, temui aku di taman sekolah, Hyo. Sabtu sore, sebelum pukul empat. Kumohon, ini penting bagiku, Hyo. Kita tak boleh melewatkannya.”

Aku menahan napas ketika membacanya, apa? Apa yang terjadi dengan Kyungsoo? Sabtu sore? Sebelum jam tiga?

Aku melirik arloji di tangan kiriku.

Ini jam dua siang.

Dan ini hari sabtu.

Aku, secepat kilat, lantas meninggalkan warnet itu dan mencari bus yang bisa membawaku ke seoul. Sembari menggerutu karena yang ditunggu tak kunjung datang. Setelah enambelas kali melirik arloji, barulah si bus datang.

Aku terbayang-bayang isi email Kyungsoo, apa yang sebenarnya terjadi?

Kulirik supir bus itu sekali lagi, tenggorokanku bergerumul keinginan untuk berteriak sekeras mungkin pada sang sopir agar mempercepat perjalanan. Entah saja. Tapi aku khawatir. Intuisi dan bayangan tentang hal-hal negatif semakin besar berkembang di kepalaku, itu membuatnya terasa sakit dan membuatku merasa bingung.

Setelah turun dari bus itu, aku melirik arlojiku lagi. Aku tamat.  Ini pukul lima sore, terlambat dua jam dari waktu yang ditentukan. Jantungku berdegup begitu kencang. Rasa dan karsaku sesak akan ketakutan.

Aku berlari ke belakang sekolah. namun tak kutemukan Kyungsoo. Tak ada orang, hanya taman kecil yang terasa aneh karena lenggang, tempat ini akan sangat ramai jika sekolah tidak dalam fase liburan.

“Hah! Melelahkan tau, kenapa kau bawa-bawa aku kemari, sih?” Seseorang bicara. Aku sempat berharap bahwa itu adalah Kyungsoo, namun aku tahu bahwa itu bukan. Aku tahu suara siapa itu. Byun Baekhyun, siswa kelas dua, atau kelas tiga setelah kenaikan kemarin.

“Heh? Bukankah tadi kau yang mau ikut! Dasar dungu!” Dan itu suara LuHan, setingkat dengan Baekhyun.

“Hai, Baek, Lu!” Aku menyapa keduanya. Inginnya terdengar ceria. Namun kelihatannya itu gagal parah.

“Woah, Jin noona!” Baekhyun menyambutku meriah.

“Hei, Jung Hyojin, sedang apa kau disini?” Luhan bertanya, terlalu stoic, kasar, dan tidak sopan. Semua orang terlanjur maklum dengan sikapnya. Jadi dia tanpa berat hati menggunakan aksen dan cara seperti itu ketika berbicara.

“Apa mungkin, kalian melihat Kyungsoo?” Aku bertanya langsung tanpa berbasa-basi, darahku sudah nyaris mendidih sekarang.

“Kyungsoo hyung? Tidak. Aku tidak melihatnya.” Baekhyun menjawab.

“Tadi dia disini.” LuHan menyahut. “Aku dengar dia menunggumu. Kurasa, kau telat, Junghyo.”

“Dia dimana sekarang?”

“Bandara? Tidak. Mungkin dia di pesawat. Atau justru sudah mendarat? Entahlah.” LuHan mengedikkan bahunya.

Aku terdiam sejenak. Tiba-tiba otakku blank begitu saja.

“Kau bercanda.”

“Kau kan dekat dengannya. Kau bahkan tidak tahu dia dapat beasiswa, kan?” LuHan tersenyum ganjil. “Kau tahu peraturannya. Tidak ada handphone. Tidak ada internet. Fokus belajar. Dia diterima di universitas semacam itu, Junghyo. There is no hope left for you.”

Do you have to say those thing, Lu Han? Aku bertanya padanya, dengan suara yang pelan. Terlalu pelan.

 

“You rejected my cousin, didn’t you? He is even too perfect for you! And you rejected Sehun. It’s karma then, Kyungsoo has gone, anyway.”

Aku menatap LuHan sendu, lelaki itu masih menampilkan aura dendam di kedua matanya, mengkoar-koar padaku. Tapi bukan itu yang aku pikirkan, aku tahu perkataannya benar, tapi satu-satunya pertanyaan yang terus bergerumul di kepalaku adalah, kenapa Kyungsoo tidak memberitahuku tentang kepergiannya? Apa yang ingin dia katakan jika saja aku tak terlambat? Apa yang dipikirkan lelaki itu?

Aku harus bagaimana?

Lagi, lelaki bernama Do Kyungsoo itu tak sanggup untuk bisa kubaca. Isi kepalanya terlalu rumit.

Kutatap Kyungsoo yang kini dihadapanku, mengingat semua itu hanya menyisihkan luka bagiku. Jadi aku memilih untuk berhenti mengingatnya dan bicara dengan Kyungsoo, yang bagaimanapun, ada dihadapanku sekarang.

“Ngomong-omong, apa yang kau lakukan akhir-akhir ini?” Akhirnya dia menanyakan itu, terlepas dari nama pertemuan ini, tak ada kaitannya sedikitpun dengan nostalgia.

“Biasa. Sibuk memaparkan namaku sendiri di depan buku-buku best seller. Kalau kau?”

“Uh, aku hidup terlalu jauh dari dunia sastra, tau. Aku. Oke, mereka mencariku di rumah sakit.”

“Dokter?” Tebakku.

“Tepat.” Aku tersenyum puas, Aku berhasil menebak isi pikirannya.

“Bukan stylemu.” Aku berkomentar.

“Tepat.”

“Lalu? Kenapa kau lakukan?”

“Mencoba hal baru bukan hal buruk, tau.”

“Menyebalkan.”

“Tepat.”

Tsk.” Aku berdecih. Dia tertawa lagi.

Lalu, kami terpendam diam untuk yang kesekian kalinya, Kyungsoo menyicip minumannya lagi, lama terdiam. Aku menghabiskan waktuku untuk berpikir apa yang kira-kira sedang dia pikirkan? Kenapa dia diam?

Namun tak lama, Kyungsoo tiba-tiba bangkit dari kursinya, dia berdiri tegak, menunjukkan badannya yang lebih tinggi dibanding dulu. Lalu lelaki itu tersenyum kecil, kemudian mengulurkan tangannya padaku.

“Selamat atas pernikahanmu, Hyo. Dua minggu lagi, kan?” Dia bertanya. Memukulku pada kenyataan yang faktual.

Aku perlahan menaruh tanganku pada tangan kanannya yang terulur, menyambut jabatan tangannya, kemudian menjawab,”Ya. Dua minggu. Dari hari ini.”

Kyungsoo tersenyum kecil, “Kau pasti telah menemukan lelaki yang benar-benar baik.”

“Ya, lebih baik. Setidaknya dari si pangeran kodok.” Candaku, namun tak terkesan lucu bahkan pada pendengaranku sendiri.

“Ya. Pasti seorang lelaki yang bukan pengecut. Andai saja si pangeran kodok tidak terlalu lama bersembunyi dibalik batu, dia tidak akan kehilangan si bebek jelek.” Kyungsoo menggumam. Aku mulai benci dengan perkataan benarnya.

“Dan seekor merpati cantik menjemput si bebek sebelum si kodok sempat muncul. Dan tentu saja, Hyo, si bebek lebih memilih ikut dengan merpati dibading menunggu katak yang tidak jelas, ya, kan?” Kyungsoo tertawa sendiri, sedangkan aku tak menemukan kelucuan dalam kosa katanya. Atau, jika boleh dibilang begitu, Kyungsoo sedang menertawai dirinya sendiri.

“Sekarang aku benar-benar mengerti, Hyo. Kenapa Oh Sehun terlihat lebih keren dariku. Aku akan mempercayainya untuk menjaga bebek jelekku.” Ucapnya lagi, tapi aku masih terdiam.

“Dan si kodok. Kau tahu, dia mencintai si bebek, Hyo, sangat. Bahkan dulu, sampai sekarang, dan mungkin esok, entahlah. Ketahuilah itu, Hyo. Jangan dilupakan.” Ucapnya, ia melepaskan genggaman tangannya dari milikku.

“Selamat tinggal Hyo. Jaga dirimu baik-baik.” Ucapnya, mengacak rambutku sedikit.

Kemudian lelaki itu berjalan meninggalkan kafe. Sedangkan dua bulir mataku masih terus merekat pada punggung yang akhirnya hilang setelah melalui pintu kaca, lenyap dan lebur. Rasanya ada desakan untuk menjerit, berlari, dan memeluk kemudian menahannya pergi, tapi tubuhku terbeku. Terkaku di tempat. Kutemukan diriku mematung seperti orang bodoh.

Aku merasa dadaku hampa bersamaan dengan perginya lelaki itu.

Konyol. Ironis. ‘Reuni Nostalgia’ ini, bagiku lebih mirip dengan ‘Afflicting Nostalgia’. Nostalgia yang menyakitkan.

—Ya, merpati putih itu memang menawarkan segala hal yang indah untuk si bebek, Kyung. 

 

Tapi si kodok adalah satu-satunya yang membuatnya merasa nyaman. 

 

Kau juga harus bahagia, Kyung-ah.—

FIN

©diramadhani12

Iklan

4 pemikiran pada “[Oneshot] Afflicting Nostalgia

  1. Hah endingnya jauh diluar dugaanku, entah kenapa pengennya mereka berdua bersama mungkin lebih baik walaupun biasku sehun hehehe

    jujur aku baca ff ini serius karena beberapa kali kepotong jadi pas kyunsoo bilang selamat mata saya langsung terbelalak kaget dan jantung saya berdetak.

    gx tau kenapa juga mungkin karena di dukung kejadian hari ini yang begitu bad?.
    pokoknya ini ngena deh dihati

    Suka

  2. Eonni belajar jadi pelawak sekarang? aku yang baca ffnya sambil mijit hidung kenceng-kenceng nahan napas biar bisa berhenti ketawa, sumpah gilak gabisa nahan ketawa . dialognya bikin orang ketawa sampai susu keluar dari hidung (?) sampai-sampai aku dibilang orang gila baca ffmu eon -__-

    Kasihanilah adekmu ini, eh (?)
    Keep writing!

    Suka

  3. Hai diraa! Iseng-iseng ngebaca postingan baru, eh ternyata punya kamu :))

    Pertama, maafkan karna OC di sini panggilannya sama-sama Hyo, aku jadi rada ngeblur antara si Hyojin ini atau Hyora ((padahal orangnya beda)) ((lempar sandal aja gapapa)) Ehehehe aku suka sama panggilan lucunya si Hyo ke Kyungsoo wkwk

    Kedua, penulisan kamu rapiih. Diksinya menarik. Tapi bakal lebih bagus kalo misalnya eyd-nya disempurnain lagi. Untuk yang ini aku emang lagi belajar juga, sih. Saran aja, sih ya. Kalau untuk preposisi (di, ke) yang berhubungan sama tempat, tambahkan juga spasi. ‘Disana’ itu kurang tepat. Yang tepat itu ‘di sana’. Saran aja hehe.. Terus kalau semisal habis dialog, belakangnya huruf kecil, gitu.

    Misal: “Aku menyukaimu,” kata Sehun. Gitu, deh ehehe.

    Maafkan, ya kalo review aku malah kayak gini huhu. Semangaat!

    Suka

    • hai kakak ‘-‘ Makasih koreksinya.

      Sumpah, aku tau itu. EYD udh apal semua karena di UN bakalan keluar juga bagaimanapun. Yang susah itu penerapannya, susaaaah bgt. Pemakaian di-, ke-, sebagai imbuhan dan kata depan, aku ngerti. Cuma kalo udh nulis entah ngilang kemana mereka semua. Dan, soal abis dialog itu, aku selalu kasih titik diakhir kalimat, misal. “Aku merindukanmu, Hun.” nah, karena ada titik, autocorrect Ms Word udh kerja tuh. Nanti tak matiin.

      Btw makasih banget reviewnyaaaaaaa… ya ampun serius kakak baca ini, tulisan kakak diksinya selangit, kupikir kakak udh tamat brp kamus -___-

      Rasanya adi dikoreksi sama senior ugh. Hehe 😀 lebay amet gue -____- yaelah.

      Kedepannya bakal lebih tak perhatiin lagi, hehe.

      Suka

Review And Chat here!

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s