Isabella Lily

isabella-by-peniadts

Isabella Lily
By FiolaCindy

Visualized by
Kim Min Seok EXO | Krystal Jung f(x)

Poster by peniadts

Attention!
Be careful of typo(s) and out of cast’ real character. NC-17 rated. Angst, sad and hurt genre .Many scenes are not recomended. Full of psycho, pain, solitude and why don’t you love me back? Haha, just kidding!

PG-15 rated

“Stay with me,please. I’m lonely”

Hai, namaku Krystal. Apakah kau tahu? aku mempunyai seorang teman. Ia sangat cantik, pintar dan tentunya ia selalu ada di sisiku. Namanya bahkan sangat indah layaknya kuncup bunga yang mulai mekar. Ia sangat mengerti aku. Ialah yang selalu menemaniku saat senang maupun susah. Ia tempatku mengadu hari-hari kesalku. Bagiku, ialah bagian dari diriku. Hingga suatu hari ia berubah, ia mulai menerorku. Ia mulai menghantuiku. Ia telah menguasai diriku. Dendam itu, dendam itu yang telah membuatnya menguasaiku. Untuk sekali lagi aku kehilanganya. Ia yang dulu kupanggil teman. Aku memanggilnya Isabella Lily.

Aku berlarian kecil seraya memegang erat tas kanvas dengan tumpukan buku yang berada di atas kepalaku. Derap langkah kakiku semakin menggebu seperti saling susul-menyusul berusaha lebih cepat mencapai tempat teduh untuk tempatku berlindung sementara. Ah hujan. Sialan aku lupa membawa payung. Aku berteduh di bawah atap telepon umum berharap ada kendaraan maupun seseorang yang datang dan menjemputku pulang membawaku pergi dari tempat menyedihkan ini. Hujan bertambah deras dan aku masih terjebak di tempat sempit ini. Tidak ada satupun bus umum atau taksi yang lewat. Aku memeluk erat-erat tubuhku yang dibalut hanya seragam sekolah. Lapisan atmosfer rasanya betambah tipis dengan udara dingin yang semakin mencekik tenggorokanku. Sial, aku bisa mati kedinginan di sini.

Aku tidak dapat merasakan jari-jariku. Aku memejamkan kedua mataku berharap aku dapat terbangun di kamarku. Tapi tidak, tiba-tiba seseorang menarik lenganku. Ia mendekap tubuhku lalu berbisik, “Mari pulang.” Aku membuka mataku lalu kutemukan dia. Kim Min Seok. Ia menatapku lantas melontarkan sebuah senyuman hangat padaku. Sebuah senyuman yang berhasil menyisihkan rasa dingin yang menusuk paru-paruku menjadikanya lebih hangat dan nyaman. Terimakasih telah menjemputku.

Kami berdua duduk berseberangan meja di balkon rumahnya. Menyeruput masing-masing secangkir Cappucinno yang dibuat oleh namja pendek yang bercita-cita menjadi barista ini. Memandang bintang-bintang seraya menikmati kopi manis buatanya selagi masih hangat. Benar, hujan telah berhenti namun kini hanya keheningan yang menyelimuti suasana kami. Aku melemparkan pandanganku dari satu titik ke titik lainya berusaha mencari topik pembicaraan yang tepat namun naasnya, nothing.

“Apakah kau sudah merasa lebih baik?” ia membuka mulutnya dan menghancurkan keheningan antara kami. Baguslah ia sudah mulai bicara. Mau bagaimanapun ia adalah tipe pediam dan selalu menghemat kata-katanya.

“Ah sudah kok.”

“Hem,” balasnya enteng. Benar. Ia tidak mau membuang tenaganya hanya untuk menjawabku. Bagaimana ini? Suasana berubah menjadi hening kembali. Oh Tuhan apakah dia bukan manusia? Dia tega membiarkan seorang gadis terjebak dalam suasana canggung seperti ini. Katakan padaku dia bukan manusia.

Baiklah aku akan memberanikan diri untuk angkat bicara. “Eum, tentang tadi,” aku menahan kata-kataku sebentar menunggunya menanggapiku. Ia memalingkan pandanganya dari bintang-bintang yang lalu menatapku. Yes! Aku melanjutkan kalimatku, “terimakasih telah menjemputku.” Mendengar hal itu ia tertawa kecil sembari memalingkan wajahka kembali ke arah bintang-bintang. Sejujurnya, Min Seok, apakah kumpulan bintang itu lebih menarik daripada diriku?

Ia beranjak dari tempat duduknya berjalan ke arahku. Ia tepat berdiri di hadapanku dengan menampakkan smirk tipisnya padaku. Aku yang kaget langsung bangkit dari tempat dudukku, berdiri tepat di depanya. Mata kami bertemu pada satu titik. Kami saling bertukar pandang. Matanya coklat pekat menatapku tajam, mencoba mencari tahu apa yang menyelimuti pikiranku. Begitupun sebaliknya. Sekejap kupikir ia akan pergi meninggalkanku tanpa sepatah katapun. Namun tidak. Lain dari biasanya, ia kembali melukiskan senyuman di wajahku. Ia tiba-tiba mendekatkan dirinya padaku. Menghapus jarak antara kami berdua. Kemudian mengecup keningku lalu mengusap kepalaku pelan. Ia kembali tersenyum kepadaku. Memandangnya. Memandang kedua bola mata yang memantulkan bayangan ribuan bintang-bintang yang berada di langit. Min Seok, kau benar. Bintang itu bahkan lebih indah di matamu.

“Tidurlah. Kita masih harus sekolah besok,” ucapnya pelan dengan suara yang sangat halus. Tiada. Tiada yang memiliki suara sehalus Xiumin bahkan dengan seluruh perhatian yang ia berikan padaku.

Ia kemudian mengusap kepalaku sekali lagi sebelum ia beranjak dari tempat kami berdiri berjalan menuju kamarnya lalu meninggalkanku. Oh rasanya aku benar-benar ingin berteriak kegirangan di tempat ini. Terimakasih, Min Seok. Terimakasih.

Paginya aku telah siap berbenah memakai segaram sekolahku. Aku mencoba menghirup nafas panjang lalu mengembuskanya. Aku berjalan menuruni tangga yang menghubungkan lantai dua dengan ruang makan rumah Xiumin. Benar. Aku berada di rumah Xiumin tapi jangan beranggapan yang macam-macam. Ibunya Xiumin kenal dengan ibuku dan ayahnya adalah rekan kerja ayahku. Di rumahku hanya ada aku dan pelayanku jadi tidak jarang aku menginap di rumah Xiumin dan kelihatanya ibunya menyukaiku.

“Sudah bangun? Ayo sarapan dulu. Aku telah memasak makanan kesukaanmu,” sambut bibi setiap aku bangun di rumahnya.

Aku dan Xiumin berjalan ke sekolah bersama. Jarak antara sekolah dan rumahnya tidak begitu jauh. Jarak tersebut dapat ditempuh sekitar lima belas menit berjalan kaki. Oh ya setelah pulang sekolah nanti aku ingat aku akan mengajaknya ke rumahku. Sudah hampir dua tahun kami berteman dan dia belum pernah pergi ke rumahku selain untuk menjemputku. Bukankah sudah kubilang bahwa di rumahku tidak ada orang selain aku dan pelayanku jadi kupikir tidak ada hal yang dapat dilakukan di rumahku. Rencananya malam ini aku ingin mengundangnya makan malam bersama orang tuaku. Yah itu kalau kedua orang tuaku tidak sedang sibuk dengan urusan bisnis mereka. Dan aku ingin mengenalkanya pada seseorang yang kupanggil teman.

“Pulang nanti jangan lupa mampir ke rumahku. Aku ingin mengenalkanmu dengan seseorang.”

“Oh ya? Siapa? Apakah ia yang selalu kau ceritakan itu? Aku ingin tau apakah ia memang sehebat itu di matamu?” sahutnya dengan nada bercanda.

“Haha, seperti biasa kau dapat menebak apa yang berada di pikiranku. Coba saja kau lihat nanti,” balasku dengan nada menggodanya. Selama perjalanan kami dihiasi oleh canda dan tawa. Entah mengapa tapi ia selalu memahamiku.

Kim Min Seok atau yang lebih sering dipanggil oleh teman-temanya dengan Xiumin adalah satu-satunya teman yang kumiliki di sekolah. Aku menjadi sangat pendiam di depan orang lain tapi tidak di depanya dan ibunya sebab itu aku tidak memiliki teman selain dia dan sebenarnya aku tidak tahu alasan tepat mengapa orang-orang terkesan selalu menjauhiku. Tapi asalkan masih ada seseorang yang peduli padaku itu sudah cukup. Kami sudah berteman dua tahun yang lalu tepatnya saat hari pertama masuk sekolah menengah atas. Sejak saat itu kami menjadi sangat akrab hingga sekarang.

Dialah orang yang aku tidak ingin kehilanganya. Hanya dia.

Saat di sekolah seperti biasanya orang-orang menjauhiku. Tiada yang ingin bertegur sapa denganku bhakan untuk memandangku. Tidak ada yang memperdulikanku melakukan atau tidak melakukan apapun di kelas. Aku sudah terbiasa dilakukan seperti ini. Rasanya menyakitkan untuk tidak dianggap. Setiap aku memikirkanya rasanya seperti ingin terus menangis namun satu hal yang menahan air mata itu jatuh. Sebuah janji. Sebuah janji yang kubuat bersama Xiumin ketika aku tingkat satu dulu saat ia menemani dan menenangkanku di kelas musik saat sudah tak ada lagi orang yang ada di ruangan itu selain kami berdua. Dialah yang berhasil menahan seluruh air mata itu jatuh. Dialah cahaya bagiku.

Hari-hariku selalu diawali dengan sebuah rasa sakit dan selalu diakhiri dengan rasa berterimakasih kepada Xiumin. Entah mengapa dapat seperti itu namun itu sudah berjalan dua tahun ini.

Baiklah kembali pada jalan cerita.

Kami –aku dan Xiumin- berjalan pulang dari sekolah menuju rumahku. Berbeda dari sebelumnya, hari ini cuaca sangat cerah. Kamipun memutuskan untuk pulang menggunakan bus umum karna jarak antara rumahku dengan sekolah lebih jauh. Betapa bahagianya aku, ini kali pertamanya pergi ke rumahku. Aku tidak sabar makan malam bersama keluargaku.

Saat perjalanan menggunakan bus aku mencoba menghubungi appa dan eomma. Ponsel appa sedang tidak aktif sehingga tidak dapat menerima panggilan jadi aku memutuskan menghubungi eomma. Awalnya hanya terdengan nada sambung tapi akhirnya ia mengangkat telponya.

“Hallo, eomma. Xiumin akan datang berkunjung malam ini. Aku harap kita dapat makan malam bersama. Kau akan pulang lebih awal kan?” sambutku hendak membawa berita gembira untuknya. “Oh begitu. Tidak apa,eomma aku akan menghubungi appa. Annyeong.” Aku menutup ponselku lalu mengembalikanya ke sakuku. Aku tidak tahu. Tanganku lemas. Aku hanya melamun kosong.

“Kau tak apa? Apa yang bibi ucapkan?” tanyanya spontan. Aku terbangun dari lamunanku lalu pura-pura tersenyum. Aku tidak tahu harus bagaimana lagi. Aku harus menutupi kekecewaanku. Aku berusaha menutupinya dengan senyuman. Mau bagaimanapun aku tidak boleh membuat orang yang menyayangiku merasa terbebani karena kesedihanku. Aku buru-buru mencari jawaban sebelum ia mengetahui kekecewaanku ini.

“Ah tidak apa. Eomma hanya tidak dapat datang makan malam kali ini. Ia mungkin tidak dapat pulang karena ia masih banyak pekerjaan di kantor.” Bodoh! Apa aku tidak dapat memikirkan kalimat lain. ia bisa tau jika aku berbicara seperti itu. Di perjalanan hanya keheningan antara kami. Tidak ada dari kami yang angkat bicara.

Sampai di rumah aku buru-buru mengajak Xiumin masuk lalu mencari pelayanku hendak menanyakan tentang appa. Bagus masih ada seorang penjaga dan seorang pelayan di sini. Aku berlari ke arahnya dengan begitu bersemangat. Namun naasnya semangatku dipatahkan olehnya mendengar bahwa appa sedang dalam perjalanan karir di luar negri kurang lebih seminggu hingga ia tidak dapat hadir makan malam malam ini. Bagaimana aku harus mengatakanya pada Xiumin?

Entah. Tubuhku lemas. Kepalaku berat. Bahkan rasanya sangat berat berjalan dari dapur ke ruang tamu. Dari sini dapat kulihat Xiumin menungguku di ruang tamu. Baguslah dia masih di sana tapi apa yang akan kulakuan? Aku menunggu berapa lama agar kami dapat makan malam bersama keluargaku namun sepertinya itu takkan pernah terjadi. Aku mencoba menjelaskanya pada Xiumin. Baik dia menerimanya tapi tidak dengan aku. Apakah mereka tidak dapat menyisihkan waktu demi anak mereka?

Sekejab aku teringat dengan Lily. Benar, aku akan mengenalkanya pada Xiumin. Nampaknya senyumnya mengembang saat kukatakan itu. Aku langsung menarik tanganya menuju lantai dua tepatnya ke kamarku. Namun suasana berubah seratus delapan puluh derajat setelah aku membuka pintu kamarku. Senyuman di wajahnya hilang seketika. Ia memandang heran ke arahku.

“Krystal kau jangan bercanda,” pintanya baik-baik padaku. Hah bercanda? Apa maksudnya? Aku tidak merasa aku sedang melontarkan guyonan apapun. “Kim Min Seok, apakah kau tidak dapat membedakan orang yang sedang bercanda maupun serius?” usahaku membela diri. Bukanya tenang ia malah marah padaku. Aku tidak tahu kenapa tapi ia membentakku. Ia suda benar-benar bukan orang yang aku kenal.

“Yak!Krystal kau jangan bercanda! Tanggal satu april sudah terlewat kau jangan bercanda! Terlambat untuk April Mop. Sudahilah guyonan tak bermutumu itu. Kau sudah bukan anak kecil lagi. Benar kata orang-orang kau itu sudah gila. Jangan lagi kau menganggapku temanmu. Detik ini aku bukan temanmu lagi!” bentaknya dengan nada tinggi sembari membanting pintu kamarku lalu pergi meninggalkanku.

Ke.. kenapa dia? Apa yang kulakukan? Apa aku membuat kesalahan? Kenapa ia pergi dariku? Hari ini, detik ini ia menggoreskan luka baru di hatiku membuat luka lama datang kembali. Ia telah menancapkan duri padaku. Ia membagi perasaanku menjadi sedih, bingung dan bersalah. Ia sudah benar-benar pergi dariku. Ia meninggalkanku. Cahayaku telah pergi dari kehidupanku meninggalkanku sendirian di tempat gelap dan sepi ini. Ia takkan kembali, seperti dulu. Ia sudah bukan Xiumin yang ku kenal. Ia telah pergi meninggalkanku. Aku hanya dapat menangisi kepergianya karna kebodohanku. Aku tidak dapat menerima kenapa ia marah padaku. Kenapa?


Ayo GG ,,, ga kerasa udh lama aku ga post sama sekali yah duh jadi merasa bersalah. Maaf maaf. Btw ini hanya intro aja sih, jujur pingin nulis lanjutanya tapi takut ga ada yang baca. Jadi gimana? Mau sekuel dan prekuelnya enggak? Ada prekuelnya juga kok tapi tergantung readers mau dilanjut enggak? maaf masih jelek ini baru aku tulis tadi dan bener-bener aku revisi sama sekali. mungkin akan ada revisi selanjutnya. dan yang mau baca chap 2nya lebih dulu bisa ke blogku, here

Iklan

2 pemikiran pada “Isabella Lily

Review And Chat here!

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s