[Second Dimension] Prolog

2ndimension

Second Dimension

“When you cross another Dimension.”

FanFiction by Diramadhani

Cast : Shin Ara (Visualized by Krystal Jung), Oh Sehun, And Lu Han.

Disclaimer :
FanFiction originally came up form my  wonderful—wild—crazy fantasy. I don’t own Sehun, LuHan or Krystal Jung who is visualizing Shin Ara. Do not Plagiarize or copycat this story.

____________________________

Kau pasti tahu jika di dunia ini ada begitu banyak hal dan bagian yang tidak bisa dijelaskan oleh manusia, tidak nampak secara visual, namun terkadang mampu dirasakan oleh indera.

Dan hei— aku kabarkan padamu rahasia ini. Namun jangan beritahu siapapun.

Jadi, sesungguhnya, aku bisa melihat hal-hal yang seperti itu.

***

Introduction

Akh, hujan datang lagi malam ini, tempat ini jadi sedikit agak dingin, kupikir aku akan segera membeku. Tadi sempat kubuka jendela dan angin berhembus sangat kencang, mengibarkan kordin rumahku hingga hampir terlepas. Nyaris kupikir angin itu akan membawaku turut serta. Tapi, ah sudahlah, lupakan itu.

Baiklah, akan kumulai ini.

Pertama, perkenalkan, namaku adalah Shin Ara.

Aku lahir pada hari ke dua belas di bulan April. sekitar enambelas —maksudku, tujuh belas tahun yang lalu. Ngomong-omong ini bulan Februari, dua bulan lagi usiaku beranjak menjadi tujuh belas, jadi anggap saja itulah usiaku.

Aku ingin memberitahumu tentang diriku, tapi kuperingatkan, aku tidak tahu apakah ini sekedar opini orang-orang, ataukah memang sebuah fakta. Tapi, mereka bilang, aku diberkati penampilan yang cantik. Aku tidak pernah bermaksud sombong, tapi terkadang aku tidak bisa bohong jika diam-diam aku gemar ketika orang-orang mengatakan bahwa diriku cantik.

Aku pernah memikirkan itu ketika berada di depan cermin, dan kupikir mereka benar. Aku memang cantik. Mataku tidak terlalu bulat, tidak terlalu sipit juga, aku suka itu. Selaput pelanginya berwarna hitam kelam, senada dengan warna rambutku dan kontras dengan kulitku yang putih, namun tidak pucat. Bibirku tipis, berwarna merah alami, bulu mataku lentik dan hidungku proporsional.

Orang tuaku pekerja kantoran, aku tak acuh pada pekerjaan mereka secara pasti, namun yang kutahu, itu cukup membiayai hidupku dengan sangat baik. Kami jarang berinteraksi selain makan malam bersama di malam hari seperti bagaimana biasanya, dan tidak ada yang lebih.

Aku murid tahun pertama sekolah menengah atas. Prestasiku tidak terlalu menonjol, tapi aku tidak bodoh juga bahkan aku pernah empat kali masuk di jajaran lima besar, biasanya hanya sampai ranking sepuluh.

Aku juga berteman akrab dengan seorang anak lelaki. Aku bilang kami memang dekat, tapi bukan berarti kami menjalin sebuah hubungan asmara. Eih, kami tidak bergaya sekuno itu untuk sekedar berjalan berdampingan padahal hanya teman.

Dan —oke, aku nyaris lupa menyebutkan namanya, dia Lu Han. Dan dia lahir di China. Lelaki itu sejak kecil tinggal di sebelah apartemen keluargaku. Jadi kami cukup dekat, apalagi dulu kami dititipkan ke penitipan anak yang sama ketika balita, bahkan bersekolah di tempat yang sama sampai sekarang.

Oh iya, ada satu lagi, aku ingin memberitahumu tentang rahasiaku.

Kau pasti tahu jika di dunia ini ada begitu banyak hal dan bagian yang tidak bisa dijelaskan oleh manusia, tidak nampak secara visual, namun terkadang mampu dirasakan oleh indera.

Dan hei— aku kabarkan padamu rahasia ini. Namun jangan beritahu siapapun.

Jadi, sesungguhnya, aku bisa melihat hal-hal yang seperti itu.

Itu terjadi ketika aku masih berusia lima tahun. Aku yakin kau pasti mengerti isi pikiran anak semuda itu. Dan seperti anak-anak seusiaku, aku pergi ke sekolah, mencari teman, dan bermain.

Ketika itu, ibu mengajakku ke sebuah pusat perbelanjaan —yang tidak ingat tepatnya. Ibu meninggalkanku di taman bermain di sana. Dan pada waktu itu, kami bertemu.

Kami yang kumaksud—itu adalah aku dan seorang temanku. Semua tentang dirinya nyaris terlupakan, itu sudah lama sekali. Jika tidak salah, anak itu bernama Selena. Hal yang kuingat darinya adalah wajah cantiknya, kulitnya yang cerah, irisnya yang biru cemerlang, rambut bergelombangnya yang berwarna cokelat. Dan… oke, aku ingat sedikit lebih banyak tentangnya.

Jadi, kami berteman cukup akrab. Selena adalah anak ceria yang pandai bernyanyi.

Saat ibu menjemputku untuk kembali ke rumah dari taman bermain itu, kupikir itu adalah akhir pertemananku dengan Selena. Namun aku salah; tanpa kuduga, Selena mengunjungi rumahku keesokan harinya. Bahkan, mungkin, setiap hari dia selalu datang.

Kami selalu bermain bersama, tertawa bersama, dan kadang dia menyanyikan beberapa lagu berbahasa lain untukku. Aku lupa bahasanya, mungkin spanyol, atau perancis. Yang jelas, bukan bahasa korea dan Inggris.

Tapi aku merasa ganjil akan dirinya pada suatu malam.

Malam dengan hujan yang begitu deras; plus petir yang mengkilat datang. Kami bermain di dalam kamarku, berbagi sebuah selimut hangat. Saat itu, Lu Han datang berkunjung, anak lelaki itu suka sekali datang dan mengacaukan kamarku sembari membawa mobil-mobilannya. Dia memaksa ikut bermain jadi aku memperkenalkan Selena pada Lu Han.

Tapi Lu Han justru menatapku takut-takut, dan berkata bahwa hanya kami; aku dan Lu Han yang ada di sana. Dia bilang dia tidak melihat Selena.

Aku menatap Selena ketika Lu Han mengatakannya, namun gadis itu tak berusaha menyangkal, atau menunjukkan Lu Han bahwa dia di sana. Dia justru memberiku senyuman, membuatku menjerit, senyuman itu sangat menakutkan, dibarengi dengan lelehan cairan merah kental dari hidung dan mulutnya. Matanya merah terang menatapku nyalang, dia tidak seperti Selena yang biasanya. Dan aku menangis ketakutan.

Aku, secara terbirit-birit menarik tangan Lu Han keluar kamar, dan menangis kencang. Ibu menggendongku dan mengajakku tidur bersamanya selama tiga bulan, dan pada masa yang sama aku mengabaikan semua ketukan pintu dari Selena, sebelum dia menyerah dan menghilang.

Selena tidak pernah muncul lagi hingga sekarang.

Namun hilangnya Selena bukan berarti segalanya telah berakhir, itu justru merupakan sebuah permulaan. Aku sadar Selena adalah hantu, aku berkali-kali diberitahu kisah menyeramkan oleh nenekku untuk menakut-nakutiku agar tidak berbuat nakal. Saat itu, aku langsung memikirkan apa aku berbuat hal nakal seperti kata nenek. Tak ayal, aku masih lima tahun, terlalu muda untuk memikirkan tentang Delusi, imajinasi, makhluk abstral, dimensi berbeda, bayangan atau hal-hal yang serius lainnya.

Dan setelah itu, mereka yang datang semakin beragam.

Aku pernah bertemu dengan kakek pengemis yang memintaku uang, namun ketika aku ingin memberikan uang padanya, kakek itu tidak ada lagi, menghilang tanpa bekas. Saat aku bertanya pada Jieun, temanku saat itu, dia bilang dia tidak melihat kakek pengemis. Jieun mengataiku pembohong seminggu penuh. Kala itu, aku berada pada usia ke tujuh.

Aku juga pernah melihat seorang anak kecil meraung-raung di tengah Mall, memanggil ibu dan ayahnya, seolah kehilangan dan ditinggalkan di sana. Ketika aku meminta ibuku untuk menolongnya dan melapor ke pusat informasi,  ibu bilang beliau sama sekali tidak melihat adanya anak kecil dan memarahiku agar berhenti mengada-ada. Aku berusia sepuluh tahun saat itu.

Aku juga sering melihat bayangan berbeda-beda ketika hujan lebat dan kordin kamar terbuka, aku melihat banyak hal, terkadang bentuknya bagus seperti wajarnya manusia, kadang pula menjijikkan sampai penuh darah yang menyeramkan. Aku pernah melihat yang sejenis Zombie, yang bola matanya keluar dari rongga di tengkoraknya, atau lelaki yang memainkan kepalanya sendiri di atas tangannya. Lebih lagi, mereka ada di segala tempat.

Aku benci kenyataan, tapi aku tidak bisa menepis jika aku memiliki indera ke enam; yang orang-orang sebut Intuisi.

Aku baru bisa mengontrolnya ketika usiaku dua belas. Aku mulai bisa membedakan secara sempurna yang mana manusia hidup dan yang bukan dan mulai terbiasa dengan mereka yang berbentuk aneh-aneh. Aku mulai bisa mengabaikan mereka semua dan menjalani hidup seperti biasa. Awalnya, mereka berusaha mengangguku, tapi pada usia ke empat belas, mereka berhenti.

Kupikir itu adalah akhirnya;

Tapi, kau tahu, kau tidak bisa benar-benar lepas dari sebuah dunia ketika kau sedang terlibat di dalamnya.

Akh, malam sudah mulai larut. Lihatlah mataku yang mulai memerah; aku benar-benar mengantuk. Jadi untuk saat ini, biarkan aku tidur. Aku akan bercerita lagi padamu nanti, kawan. Tenang saja.

Sekian untuk kali ini, Shin Ara.

***

So, inilah Prolognya.

Untuk visualisasinya Ara yang aku pinjem muka Kakak Soojung alias Krys Eonni, soalnya dia cocok banget buat menggambarkan karakter Ara, selain faktor wajahnya yang cantik bersahaja /? Aku juga males make wajah Ulzzang, Kim Shinyeong lagi? Baek Sumin? Do Hweji? Gak ah, Krystal jauh lebih cantik =))

Dan buat Oh Sehun? Oke, dia nanti munculnya di Chapter berapa entah, tapi dia pemain utama paling di Chapter satu atau dua udah muncul. Karena yang paling utama di sini Ara, hahaha. Karena LuHan teman kecilnya dia makanya kena sebut tuh.

Menurut kalian, bagaimana dengan FF ini? Kira-kira nantinya bakalan kek gimana?

 Anyway, today’s someone birthday, so happy birthday the birthday boy, Oh Sehun. ❤

Iklan

3 pemikiran pada “[Second Dimension] Prolog

  1. tenang aja kak saya penunggu yang baik kok, benarkah malahan dia loh yang rekomendasiin baca ffnya kakak apalagi yanh second dimension katanya keren gila jadi saya mulai nyari dan ternyata terbukti ff kakak emang keren keren semua~~~

    iya kak, saya sampein hehehe ^.^

    Suka

  2. kakak tanya ini bakal gimana justru itu pertanyaan saya ini bakalan kaya gimana, apa yang akan terjadi atau masalah apa yang bakal muncul secarakan ara udah bisa ngatasinnya, dan dari prolognya udah menarik tapi apa mereka bakalan masuk kedimensi lain???

    nggak salah seseorang mengelu2kan tentang kakak dan saya juga setuju ff kakak emang keren

    Suka

    • Hadooooh…. dear, pertanyaanmu akan terjawab, tenang saja. Tapi sialnya aku tipe update lamban /? Dan oh makasih banget pujiannya, disamping itu, aku baru tau ada yg beneran sesuka itu ama tulisanku, sampaikan pada seseorang itu aku berterimakasih ya… ❤

      Suka

Review And Chat here!

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s