Isabella Lily : 2A – Disappointed

isabella-by-peniadts

Isabella Lily
By FiolaCindy

Visualized by
Kim Min Seok EXO | Krystal Jung f(x)

Attention!
Be careful of typo(s) and out of cast’ real character. NC-17 rated. Angst, sad and hurt genre .Many scenes are not recomended. Full of psycho, pain, solitude and why don’t you love me back? Haha, just kidding!

(p.s actually PG-15 rated, hehe, peace)

“Stay with me,please. I’m lonely”

Aku menapakkan kembali kakiku di kelas musik setelah beberapa hari tidak mengikutinya. Waktu itu aku masih enggan untuk menemui orang yang masuk dalam kategori the most unexpected student -tentu menurut pendapatku sendiri. Jelas aku masih menyimpan amarah padanya.

Aku berjalan memasuki ruangan terkutuk itu. Seperti biasanya, seluruh sahabatku ada di sini. Dari mulai Kris Wu yang selalu menjaga imagenya menjadi stay cool namun selalu digagalkan oleh keidiotanya, Kim Kai dengan segala pesonanya yang membuat hampir seluruh yeoja labil mengejarnya dengan brutal, Luhan dan Sehun yang merupakan duo sejoli maniak bubbletea berparas rupawan bak malaikat yang tidak dapat dipisahkan, Kim Jun Myeon anak dari kepala sekolah dan merupakan pewaris tunggal salah satu perusahaan dari deretan kelima perusahaan terbesar di Korea Selatan, Zhang Yixing leader dance dari grup dance official sekolah kami –yang sayangnya agak pelupa, Do Kyungsoo pemuda agak pendek dan mudah terpancing emosi yang memiliki suara dengan kualitas super melebihi tinggi badanya, Huang Zi Tao seorang pemuda maskulin ahli bela diri yang kepribadianya tidak melebihi penampilanya –ia sedikit feminim, ralat, terlalu feminim, hingga makhluk-makhluk yang termasuk dalam Beagle Line –Chanyeol, Baekhyun, dan Jongdae- yang jangan pernah kau berharap mereka dapat diam walau dalam waktu seperdelapan puluh menit. Bersama denganku kami berduabelas dikenal sebagai flower boys di sekolah.Yah, walaupun mereka terlihat seperti gerombolan orang terlalu-sempurna-namun-idiot, mereka adalah teman-temanku. Tak dapat terelakan lagi bahwa aku telah bersama mereka jauh sebelum ini dan mereka cukup menerimaku –tentu kau tahu bagaimana selayaknya namja bergaul.

Selain sebelas laki-laki yang terlalu-sempurna-namun-idiot itu, ada beberapa yeoja yang tergabung di kelas musik. Sebut saja mereka si arogan Kim Jiwon, si cantik Bae Suzy dan si pemilik suara emas Kim Taeyeon. Mereka cantik, pintar, bertalenta sayangnya mereka hobi menindas orang lain terutama yeoja labil yang berusaha mendekati kami –yang mereka anggap kami adalah miliknya. Aku agak risih dengan mereka namun satu hal yang aku terima adalah ketidaklabilan mereka. Dan masih ada satu lagi, seseorang yang pernah kusebut teman. Tentu kau sudah mengenalnya, bukan? Tepat. Ia yang telah membuka halaman pertama dalam cerita ini sebelumnya, tanpanya aku tidak mungkin repot-repot menceritakan ini semua, baiklah dia adalah Krystal Jung. Benar dugaanku, ia masih di sini. Ia terduduk diam merenung di sudut kelas sembari sesekali menghempaskan nafas beratnya kemudian merundukkan kepalanya. Mengapa ia tak meninggalkan tempat ini saja setelah aku membentaknya? Bukankah akan lebih leluasa bagi kami berdua jika ia pergi dari sini? Tepat.

Selama beberapa hari aku mencoba menjauhkan apapun yang bersangkutan dengan dirinya dan bertingkah acuh pada setiap perbuatan yang dilakukanya. Selama waktu tersebut aku terus-terusan mengumpat dan memaki diriku di depan cermin kamar. Tapi mulai sekarang aku akan lebih untuk tak menanggapinya, bahkan tak menganggapnya. Memang aku telah memustuskan untuk berhenti marah padanya, namun aku masih kecewa dengan apa yang ia lakukan dan memilih untuk mengacuhkanya. Semejak malam yang kelam itu, malam dimana kali pertamanya ia mengecewakanku. Aku masih mengingatnya, bukan, terus mengingatnya. Masih terlukis jelas bayangan kelabu tersebut.

Ia mengatakan bahwa kedua orang tuanya tidak dapat datang untuk makan malam. Awalnya ia terlihat sangat sedih. Terbaca dari raut wajahnya yang terkesan berat dan lesu. Namun senyumnya kembali mengembang sekilas setelah membisikan ia akan mengenalkan temanya padaku. Aku menghirup nafas lega setelah melihat perubahan mimik wajahnya. Entah darimana ia mengenal temanya itu namun ia selalu menceritakan tentangnya ketika istirahat makan siang.

Ia lantas menarik lengan kiriku seraya berlari ke lantai dua tepatnya ke kamarnya. Betapa terkejutnya aku setelah ia memutar kenop pintu kamarnya. Jika kau lihat keadaan kamarnya, tidak seperti layaknya gadis SMU yang tertata rapi dengan konsep girly yang mereka buat pada umumnya. Justru lebih tepat jika disebut dengan kamar seorang psikopat. Jika kau pikir itu hiperbolis, kau salah. Kamarnya benar-benar tidak tertata. Barang-barangnya berserakan dimana-mana, tirai pada jendelanya telah robek, selimut yang seharusnya ada di tempat tidur hanya terbaring di atas lantai, kaca pada figura fotonya pecah begitupun dengan cermin riasnya dengan bekas darah yang telah mengering bertuliskan “hurt”, tercium bau anyir yang sangat menyengat ketika kau membuka pintunya, keadaan boneka-bonekanya yang terpajang dalam raknya juga terlihat memprihatinkan, dakron yang menjadi isi boneka tersebut berserakan seakan telah terjadi mutilasi terhadap mereka, yang semakin memperparah keadaan tersebut adalah terdapat tidak sedikit bercak darah di setiap sudut pandang kamarnya, entah itu darahnya atau hewan lain. Oh Tuhan, baru sekali ini aku melihat kamar seseorang semenakutkan ini, tidak untuk milik gadis berparas cantik nan manis semanis Krystal.

Baiklah itu sedikit tidak menjadi masalah untukku, namun apakah kau tahu dimana letak kekecewaanku? Kaulihat sebuah boneka yang terduduk di atas ranjangnya? /tidak. Kami hanya dapat membacanya/ Kurasa hanya boneka itu satu-satunya yang utuh di tempat ini. Namun kau takkan menyangka bahwa Krystal menyeretku ke dalam lalu mendudukanku di tepi ranjangnya. Tidak, bukan itu yang mengejutkan. Ia mengambil bonekanya itu lalu menunjukanya padaku layaknya mengenalkan manusia. Bagaimana ia bisa dengan tenang berbicara : “Hai, Xiumin kenalkan ini Lily, Lily ini Xiumin. Ia temanku yang selalu kubanggakan padamu,” lalu berbicara seakan-akan ia menceritakan diriku pada boneka itu. Kukira ia hanya bercanda, ayolah ia masih suka bercanda. Namun naasnya aku mendapati bahwa ia benar-benar menganggap boneka itu hidup layaknya makhluk hidup lainya. Baiklah, detik itu juga ia telah mematahkan hatiku. Aku sontak membentaknya berharap ia akan berkata bahwa ia bercanda, namun tetap saja. Detik selanjutnya aku berlari pergi meninggalkanya dengan agak sedikit membanting pintu kamarnya. Aku kecewa padanya.

Sejak pertama masuk sekolah memang sudah tersebar kabar bahwa seorang siswi baru tingkat satu mengidap kelainan psikis bahkan berkepribadian ganda. Krystal yang sudah menjadi teman terdekatku sejak masuk SMU, tentu saja aku tak mempercayai berita abal-abal tersebut yang kupikir hanya perbuatan orang yang iri padanya karna ia dapat bersamaku –ingat yang kuceritakan diatas tentang aku dan sebelas temanku. Namun setelah apa yang kulihat, kurasa itu bukan kabar burung yang tak jelas sumbernya. Sumber berita tersebut adalah Yuri, adik perempuan dari dokter yang dulu pernah menjadi dokternya. Seharusnya aku mempercayai kabar tersebut. Namun apadaya, nasi telah menjadi bubur.

Setelah malam itu aku benar-benar hilang kontak denganya. Tidak ada dari kami yang meminta maaf ataupun membuat suatu kejelasan setelah apa yang terjadi. Jika kau bertanya, apakah aku merasa bersalah? Dengan enteng aku akan menjawab ‘tidak’. Dan jika kau bertanya, apakah aku akan meminta maaf padanya? Tentu dengan senang hati akan kujawab ‘untuk apa? Aku tidak merasa salah apapun. Kenapa aku harus meminta maaf?’

Namun apa yang terjadi tetaplah terjadi. Biarkan berlalu seiring berjalanya waktu. Kini aku tak mengenalnya lagi. Gadis yang sedang memandang kosong keluar jendela yang menampilkan dedaunan berguguran di bawah sinar keoranyean matahari yang mulai tenggelam. Gadis yang dulu kupanggil teman.


Annyeong,,, piyo kembali membawakan chapter kedua-a dari fiksi Isabella Lily. So? Apakah terlalu pendek, ga nyambung, gaje, aneh? Yah seperti biasanya ini belum direvisi sama sekali, karna saya hanya sempat menulis bukan untuk merevisinya. Tenang ini baru chapter 2-A, masih ada 2-B. Di sini hanya kuungkap alasan dibalik kekecewaan cowok pendek yang sialnya membuatku tergila-gila dan histeris karenanya –fangirling pada normalnya. Apakah mau dilanjut ke chap 2-B? mampir sekalian >.< here

Iklan

Review And Chat here!

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s