[Second Dimension] One : I’ll remember it.

2ndimension

Second Dimension

Chapter One : I’ll remember it.

__________

Untuk beberapa poin, aku tahu Lu Han masih menyimpan kesalnya padaku. Tapi lelaki itu tetap datang menjemputku pagi ini, seperti rutinitasnya. Sampai terkadang aku tidak pernah mengerti apa yang dia pikirkan atau apa yang dia khawatirkan.

Logikanya selalu menyimpang dariku. Singkatnya, dia adalah lelaki yang terlalu baik.

“Kau marah.” Aku menggumamkan kalimat itu di belakangnya. Langkah kakinya lebih cepat dibanding biasanya, sampai-sampai aku tak bisa berjalan menyamai langkah itu.

“Aku tidak marah.” Ungkapnya. Tapi wajahnya tak mengatakan demikian.

“Aku tak akan menjemputmu jika aku memang marah.” Sambungnya. Dan ya, seharusnya memang begitu. Aku bahkan sudah berencana meninggalkan rumah sendiri sejak kemarin, jadi aku agak sedikit terkejut menemukan lelaki ini di depan apartemenku.

Dan dia tetap bungkam sampai kami tiba di sekolah. Sedikit banyak, suasana yang kurasakan sangatlah dingin dan kaku. Meski baru hari ini aku kehilangan, aku sudah sangat rindu aura ceria yang dibawa oleh Lu Han yang biasanya, Lu Han yang kemarin.

“Aku akan ke kelas Kimia pagi ini. Nanti aku akan menjemputmu sebelum pulang.” Katanya lagi, tanpa mengubah air wajahnya sedikitpun. Sembari menutup pintu loker agak kencang, bunyi debumnya sedikit membuatku terperangah. Dan lelaki itu pergi dengan menenteng buku di tangan kirinya.

Aku membuka lokerku sendiri dan mengambil dua buku yang kuperlukan, kemudian menuju kelas literatur sebelum terlambat.

“Kau datang?” Pertanyaan itu menyambutku begitu aku masuk ke dalam kelas. Nadanya agak tinggi seolah-olah aku tidak diharapkan. Mungkin memang aku tidak pernah dia harapkan, dan aku sebenarnya juga tidak menginginkan itu.

“Tentu. Aku datang ke kelas Kalkulus setiap Selasa pagi.” Kataku padanya. Namun gadis itu tetap menghadang tubuhku. Aku menilik kursi kosong yang tersisa melalui atas bahunya, sejak tubuhnya menutupi aksesku untuk berjalan.

“Katakan kau tak akan duduk di sana.” Gadis itu berucap jengkel. Aku tertawa kecil, menyelipkan rambut yang mengganggu kembali ke belakang telingaku.

“Aku akan duduk di sana.” Ucapku tenang. Dan gadis itu sudah menunjukkan api di matanya, aku juga bisa melihat bayanganku ada di dalam sana, seolah dia baru saja berencana membakarku hidup-hidup. Kakinya dibawa mendekatiku dan tangannya terangkat, dia ingin memukulku, dan itu bukanlah pertama kalinya.

“Hentikan, Cho Ali.” Tangan Ali yang melayang ditahan oleh Do Kyungsoo. Lelaki perfeksionis—jenius dan sedikit egois, ia tidak suka keributan dan tipe cowok membosankan.

Aku melempar senyum licik pada Ali —meskipun hasilnya tidak cukup disebut licik. Wajahku tidak didesain untuk itu. Gadis itu, Ali, segera kembali duduk dan tidak dengan sepenuh hatinya membiarkanku mengambil kursi yang masih kosong, sedikit jauh darinya.

Ketika kelas belum di mulai, semua murid akan melakukan apa yang mereka suka. Mereka yang seperti Kyungsoo para perfeksionis berambut klimis asik dengan buku setebal ensiklopedia perbintangan yang mungkin dia temukan kemarin di perpustakaan sekolah yang berdebu.

Atau mereka yang seperti aku, murid biasa, tidak melakukan apapun, atau tepatnya melamun.

Tapi sebenarnya, aku tidak diam saja. Aku mengamati dua remaja—tentu kau tahu yang aku maksud. Mereka berseragam sekolah dengan logo yang sama dengan milikku. Namun seragam dengan bentuk seperti itu dipakai pada tahun tujuh puluhan. Anak yang satunya utuh, yang satunya tidak punya lima jari tangan kanan dan mata. Aku selalu bertemu dua anak ini di kelas kalkulus. Harusnya mereka tak lagi di sini, entah apa yang menahan mereka pulang ke tempat yang semestinya, aku tidak tahu.

Atau seperti Ali dan anak-anak gengnya. Ali sibuk bercerita tentang Lu Han —diingatkan nama lelaki itu aku jadi lebih merasa bersalah. Ali mengagumi, bahkan memuja Lu Han. Dia selalu bercerita betapa hatinya meletup-letup ketika dia bertemu pandang dengan Lu Han, padahal aku tidak yakin dia pernah. Lu Han bahkan tidak mengenalnya. Dan alasan Ali membenciku adalah persahabatanku dengan Lu Han.

Mau tahu wajah Ali?

Kalau kau pernah lihat tipe cewek berpenampilan norak dan aksesoris berlebihan, seperti itu kira-kira wajah Ali. Badannya agak gendut, tapi kudengar waktu dia masih kurus, dia seperti putri cantik. Namun, aku meragukannya. Bisa saja itu rumor buatan Ali sendiri.

“Look at that Ara girl!” Ali berbicara lagi, kali ini mulai membicarakanku. Dan aku sepenuhnya yakin itu bukan hal yang baik. “Lihatlah dia, dia itu cuma beruntung bertentangga dengan Lu Han. Bisa-bisanya sombong. Lihat wajahnya, dia tidak pantas dengan LuHan, aku bahkan jauh lebih baik.” Ucapnya, dan teman-temannya mengangguk-angguk dan memberikan Ali jempol tanda persetujuan. Aku selalu bertanya-tanya apakah gadis-gadis itu memang dipelet oleh Ali sampai-sampai mau membenarkan semua perkataannya.

***

Dua bulan lalu seorang anak perempuan bernama Kim Sujin masih menjadi bahan tertawaan sekolah. Dia dianggap paling konyol dan menyedihkan.

Bahkan, beberapa anak menyebutnya seorang pelarian dari rumah sakit jiwa dengan kasus sering bicara sendiri, tertawa, dan berteriak-teriak. Anak-anak melabelinya dengan nama depresi.

Nyatanya, hal itu memang tidak dapat di elak. Kim Sujin memiliki wajah yang cantik, bibirnya kecil tipis, matanya membentuk bulan sabit dan hidungnya bangir. Dia terlihat manis dan cantik sekaligus. Namun Sujin juga diberi nama lain sebagai pasien rumah sakit jiwa.

Tidak ada murid yang menyukainya. Beberapa membencinya dan bertindak secara terang-terangan, beberapa yang lain memilih untuk diam dan membiarkan. Ikut campur berarti cari masalah.

Untuk anak sepertiku, tentu aku memilih masuk ke kelompok yang ke dua.

Meski aku kasian padanya. Meski aku tahu dia tidak depresi.

Ya, sesungguhnya Kim Sujin tidak pernah mengalami depresi. Dia hanya melihat mereka. Dia melihat hal yang sama denganku. Namun gadis itu terlalu bodoh dengan melibatkan dirinya dengan mereka. Dia berkomunikasi dengan mereka, tertawa bersama mereka, berteriak kepada mereka.

Aku tahu karena aku melihatnya secara langsung. Dia bahkan juga menyapa dua remaja di kelas kalkulus.

Kemudian, dua bulan lalu, dia di keluarkan dari sekolah dan kudengar, dia benar-benar dianggap bermasalah pada sistem neuronnya. Serta berakhirlah dia di rumah sakit jiwa.

Tapi hal yang mengejutkan adalah, dia menemui Lu Han kemarin. Dia bercerita pada Lu Han tentang semuanya. Tentang apa yang dia lihat dan tentang diriku. Dia tahu aku juga melihat hal yang sama dengannya.

Lu Han memang bodoh untuk beberapa hal, namun dia tidak terlalu bodoh untuk percaya. Dia juga terlalu baik untuk menyangkal ucapan —yang mungkin bagi Lu Han— tidak masuk akal.

Akhirnya mereka datang ke rumahku untuk sebuah pembuktian.

Sujin langsung menarik rambutku kasar, begitu aku membuka pintu apartemenku. Namun Lu Han melepaskannya. Itu sakit, tentu saja. Aku mengerang sedikit. Dan Lu Han menjauhkannya dariku.

“Kau! Kau tahu aku tidak gila tapi kau hanya diam dan membiarkan semuanya terjadi!” Kim Sujin berteriak dengan keras. Lu Han mencencang tangan gadis itu di belakang tubuhnya. Sedangkan aku memalingkan wajahku, tanpa berkata apapun.

“Mereka menyuntikkanku antidepresan! Aku tidak bisa menerima itu, kau tahu aku tidak gila, Shin Ara.” Ucapnya lagi. Aku cukup terkejut. Antidepresan? Mengapa mereka melakukan itu? Atau mungkin dia memang benar-benar menjadi gila sekarang?

“Ara, jangan tanggapi dia. Maaf membawanya kesini, aku akan membawanya pergi sekarang.” Lu Han berucap dengan hangat. Lelaki itu berusaha membawa pergi Sujin yang terus meraung-raung. Gadis itu cukup kuat untuk lepas dari cengkraman Lu Han.

“Tidak! Shin Ara, aku akan membuat mereka melukai pria ini jika kau tidak mengakuinya. Setidaknya di depan pria ini, di depan satu orang saja katakan bahwa aku tidak gila!” Perintahnya. Dan aku tahu ucapannya bukanlah main-main. Jika dia sudah lama terlibat dengan makhluk-makhluk itu, dia bisa saja melukai Lu Han dengan mereka. Itu pasti bukan hal yang sulit baginya.

“Lupakan itu, Ara. Dia hanya mengancammu. Aku tidak percaya perkataannya. Dia tak akan melukaiku dengan teman hantunya.” Lu Han berucap. Lu Han tidak percaya hantu, tentu saja. Dia adalah lelaki berlogika, meski kadang-kadang terlihat bodoh dalam suatu hal.

Aku menghela nafasku, Sujin menatapku dengan tersenyum ganjil. Aku tidak punya pilihan atau dia akan benar-benar melukai Lu Han. Aku menarik napas dan berucap, “Baik. Aku memang melihat mereka, puas? Aku memang tahu kau tidak gila. Aku juga melihat mereka! Aku melihat hantu-hantu itu!”

“Bagus.” Gumam Sujin, jauh lebih tenang. Dan itu membuktikan dia memang bukanlah orang berpenyakit saraf. “Dan mulai saat ini, berhentilah menghindar. Karena kau tidak bisa benar-benar lepas dari sebuah dunia ketika kau sedang terlibat di dalamnya, meskipun kau berusaha sekuat tenagamu.” Ucapnya, dengan nada rendah. Seperti menasihatiku.

Kemudian, gadis itu berjalan meninggalkan gedung apartemen dengan langkah kaki tegas tanpa keraguan.

Masalahnya adalah, aku harus menghadapi pertanyaan Lu Han sekarang. Lelaki itu masih menatapku, penuh permintaan akan kejelasan.

“Kau serius?” tanyanya.

Aku menghela nafas, itu memang saat bagiku untuk menjelaskan semuanya pada Lu Han, kurasa. “Ya.”

“Kau melihat hantu?” tanyanya lagi.

“Ya.” Kedua mata Lu Han kosong, seolah pikirannya terenggut keseluruhan untuk mencerna apa yang barusan dia dengar. Dan Lu Han tidak pernah meragukanku, dia selalu percaya semua apa kataku.

“Sejak kapan?”

“Sejak aku berusia lima tahun.” Jawabku lagi, kini, dia menatapku. Kedua matanya tidak lagi kosong. Namun sedikit berbeda dari biasanya, bisa kulihat ada sebuah kekecewaan di dalam sana. Aku yakin dia sangat kecewa karena aku tak pernah memberitahunya apapun.

“Dan kau baru memberitahuku sekarang? Dan andai Sujin tidak pernah datang kau tak akan pernah memberitahuku?” tanyanya lagi. Namun aku tidak menjawabnya, kupalingkan wajahku sejauh mungkin darinya. Lu Han mengangguk sembari mendenguskan nafasnya kecewa.

“Benar, begitulah sahabat. Simpan saja semuanya sendiri.” Katanya, sarkastik. Kemudian dia pergi dari apartemenku. Dengan membiarkan sebongkah batu besar di dalam dadaku. Aku memang tidak seharusnya membohongi Lu Han.

Ringkasnya, itu kejadian kemarin kenapa Lu Han marah padaku hari ini.

***

Itu Lu Han.

Aku menggumamkan namanya sebelum membawa tray-ku mendekat ke mejanya. Kemudian duduk di sana. Lu Han melirikku sebentar, sebelum dia menghela nafasnya panjang. Tidak lama kemudian, dia menatapku, tepat pada mataku yang dia hindari sejak kemarin sore.

Aku membuka plastik penutup tray-ku dan menyumpit nasi kemudian memasukkannya ke dalam mulut, namun belum sempat itu terjadi, Lu Han berbicara padaku, “Kau tahu kenapa aku marah?”

Dia akhirnya mengakui kemarahannya.

“Kau ingat sejak kapan kita berteman?”

Itu sekitar tiga belas tahun yang lalu, kurang lebih. Atau mungkin empat belas jika aku salah menghitung.

“Dan kau masih belum percaya padaku.” Lelaki itu berucap, sembari menghempas nafasnya kuat, lalu melumpuhkan punggungnya dan menaruhnya pada sandaran kursi. Lelaki itu menyilangkan tangannya di depan dada. “Itu hal yang paling mengecewakan di hidupku, Shin Ara.”

“Sekarang, bicaralah. Katakan apa yang ingin kau katakan. Jelaskan apa yang ingin kau jelaskan.” Ucapnya, tegas. Berbeda dari Lu Han yang biasanya. Aku bertanya-tanya kemanakah sikap halus dan hangatnya pergi.

“Aku—” Aku berbicara, sedikit terpenggal. Semalaman aku sudah memikirkan ini matang-matang, bahkan nyaris tidak tidur karenanya. Dan akhirnya, aku membuat keputusan untuk memberikan Lu Han kejelasan atas semuanya. Segalanya. Seperti bagaimana tepatnya.

Aku menarik udara sekitar melalui hidungku sebanyak mungkin, mengumpulkan kekuatan. Aku merasa sangat aneh untuk hal ini. Sekian lama aku telah bersugesti untuk menyembunyikan semua ini dan tiba-tiba harus mengatakannya dengan jujur, aku hanya merasa seperti tidak biasa.

Aku menarik napas lagi dan mulai berbicara, “Aku menemukan itu di usiaku yang ke lima. Aku bertemu mereka yang tidak bisa kau lihat, Lu Han. Aku tidak menyukainya jadi aku tidak memberitahu siapapun, bahkan kau, ataupun ibuku. Bukan karena aku tidak mempercayaimu. Hanya karena aku tidak ingin siapapun tau karena aku tidak menyukainya.” Jelasku. Kuharap itu cukup jelas untuk dia mengerti.

Lelaki itu tidak merespon untuk beberapa menit kemudian, itu membuatku cemas. Dia bahkan terdiam sembari menatap tray-nya yang telah kosong. Aku ingin memanggilnya namun tenggorokkanku pun terlalu kering untuk itu. Aku bahkan belum menyentuh makananku. Hal yang kulakukan adalah meremas ujung pakaianku hingga kusut dan tanganku memerah.

Semenit kemudian, lelaki itu bangkit dari duduknya sembari membawa tray-nya sendiri. Menaruhnya di tempat tray kosong, dan pergi tanpa mengucapkan apapun. Aku ikut dengan beberapa langkah dibelakangnya.

Kakinya tiba-tiba berhenti, beberapa langkah di depanku. Kemudian badannya berbalik, mungkin untuk menghadapku. Aku menunggu dengan cemas, kuharap itu bukan teriakan untuk menyuruhku menjauh dan berhenti mengikuti—

“Kau lebih cantik dengan rambut digerai seperti itu.” Ucapnya pada akhirnya, sembari memberikan sebuah senyum yang entah bagaimana terasa seolah langsung menghangatkanku. Kemudian dia melanjutkan jalannya tanpa menungguku selesai mencerna apa yang sedang terjadi

Aku tersenyum kecil ketika dia telah hilang dari penglihatanku. Tepatnya, sesaat setelah aku sadar apa yang terjadi barusan.

Lu Han memaafkanku.

***

Malam minggu yang hangat di musim semi.

Lu Han membunyikan bel apartemenku. Lelaki itu tersenyum padaku begitu aku menarik daun pintunya. Lelaki itu mengajakku pergi ke luar. Aku hanya menurut dan mengikutinya kemanapun dia berencana mengajakku.

Seperti yang kukatakan tadi, malam itu terasa hangat. Aku bisa merasakannya begitu menyentuh udara di luar. Suara bising deruan kendaraan mendominasi indera pendengar. Lampu-lampu yang benderangan di sepanjang trotoar menyokong indera penglihat. Agaknya mengalahi bintang yang sama sekali tidak muncul di malam itu.

“Lu Han, bolehkah aku bertanya sesuatu padamu?” Aku bertanya sembari mengamati wajahnya dari samping. Kemudian lelaki itu mengangguk, “Tentu, apapun.”

Aku menarik napas, sembari mengamati kuncup bunga di pinggir trotoar, kadang bertanya-tanya kira-kira bunga itu akan memiliki mahkota dengan warna ungu atau merah muda, kemudian mengamati mobil-mobil yang sekonyong-konyong lewat di jalan, menimbulkan polusi udara sekaligus suara. “Mengetahui bahwa aku melihat mereka. Apa kau tidak menganggapku aneh?”

Lu Han tertawa, mulutnya terbuka lebar seperti orang bodoh dan konyol. Terkadang aku menganggapnya berlebihan. Lelaki itu kemudian menggumam beberapa saat, membuat-buat ekspresi berpikir, lantas berkata, “Apa kau pikir kau pernah bersikap aneh?”

“Tidak.” Aku memang benar-benar tidak pernah.

“You aren’t a weirdo then.” Dan kini aku mengerti, Lu Han adalah orang yang seperti itu. Orang yang memang punya sudut pandang yang tidak terbaca.

“But you are.” Ucapku kemudian. Lelaki itu tertawa dan menggaruk belakang kepalanya.

“Ayo!” Dia menarik tanganku menjauh.

Kami di sini lagi.

Ini bukan kali pertama dia membawaku ke sebuah jembatan penyebrangan. Ia bilang, ia suka melihat mobil-mobil yang berlalu lalang di bawahnya. Aku masih ingat ketika usiaku sepuluh tahun dia mengajakku ke tempat seperti ini dan menyanyikan lagu selamat ulang tahun untukku.

Terkadang aku bersyukur menjadi sahabatnya. Meski kadang harus menolelir sifat agak kekanakannya yang kadang memalukan, seperti saat ini, melompat-lompat di tangga naik ke jembatan.

“Aku ingin korea membangun bendungan seperti Hoover Dam.” Lu Han menggumam. Entah apa yang dia pikirkan tiba-tiba membicarakan bangunan tahun 1930-an itu. Aku menatapnya dan dia menolehkan wajahnya padaku, tersenyum sebelum kembali menatap mobil-mobil yang berlalu lintas. “Hoover dam versiku.” Koreksinya. Sejenak, aku mengerti apa yang dia maksud.

“Kau benar-benar berambisi.” Responku. “Terkadang aku kagum pada anak-anak sepertimu. Mengukur skala untuk membuat maket. Berkecimpung dengan styrofoam untuk membuat miniatur rumah-rumahan. Kadang jembatan juga. Kuharap kau berhasil nantinya.”

“Tentu saja.” Ucapnya dengan nadanya yang percaya diri. Dia menyelipkan rambutku yang sedikit menutupi wajah ke belakang telingaku. Aku tertegun beberapa saat.

Hanya saja, Lelaki ini menaruh perhatian lebih banyak padaku. Kurasa, lebih dari sekedar teman, seperti saat ini.

Lu Han menyukaiku. Aku tahu itu.

Setelahnya, tidak ada yang berbicara. Aku mengamati lampu-lampu mobil yang bercahaya, mengalahi langit yang tak berbintang. Diam itu terlalu lama dan membuatku tidak nyaman. Jadi, aku memutuskan mengambil bagian untuk memulai, “Jadi, kau kenal Cho Ali?” aku bertanya padanya. Dan sedikit tidak percaya bahwa barusan, dari segala hal yang bisa kubahas aku justru membicarakan Ali.

Lu Han mengerutkan alisnya. Kemudian menggeleng. “Siapa Cho Ali?”

“Kau tidak tahu?” tanyaku, memastikan. Namun Lu Han tetap menggeleng.

“Sungguh?” tanyaku lagi.

“Demi Tuhan, Shin Ara. Aku benar-benar tidak tahu siapa itu Cho Ali.” Ucapnya, penuh penegasan. Itu cukup untuk membuatku percaya meski agak sulit.

“Itu cukup mengejutkan. Apa kau benar-benar tidak tahu nama gadis gendut yang memberimu sekumpulan hadiah setiap hari sabtu?” tanyaku padanya. Kali ini, pasti dia tahu maksudku.

“Ah, itu.” Ucapnya, seolah menyadari sesuatu. Ia menghela nafas. “Dia memberiku barang-barang yang sebenarnya tidak perlu. Dan oke, jadi namanya Cho Ali, oh.” Ucapnya kemudian. Aku bersumpah aku menyesal tidak merekamnya. Andai aku melakukan itu dan memutarnya di kelas aku jamin Ali akan menangis setiap malam selama seminggu penuh. Kadang-kadang ide jahat selalu muncul di benakku, tapi saat aku ingin merealisasikannya selalu berakhir gagal karena aku tidak tega. Meski aku tidak sebaik Lu Han, rupanya aku juga tidak sejahat itu.

“Dia menghadiahiku bogem mentah minggu lalu, kau tahu itu?” Aku mengucapkannya tanpa kusangka. Lu Han membulatkan matanya dan menatapku terkejut, sembari menyatakan pertanyaan benarkah? Secara tidak langsung.

“Ya,” ucapku. “Dia tidak suka aku menjadi temanmu. Dia menjuluki dirinya #1 LuHan’s fans and future girlfriend, even future wife.” Ucapku. Lu Han tertawa kecil. Itu bukan sebuah tawa licik untuk menertawakan Cho Ali yang tidak pantas untuk dirinya atau apa. Lu Han bukan tipe lelaki seperti itu.

“Tidakkah dia berlebihan? Apa kau baik-baik saja sekarang? Kau terluka? Apa aku harus membawamu ke rumah sakit?” tanyanya kemudian, nada khawatir tertanam di sana.

“Sekarang? Ya, aku baik-baik saja. Kalau kau tanya itu seminggu lalu, maka, tidak.”

Lu Han tertawa, menyadari kebodohannya. Terkadang aku berpikir untuk beberapa saat dia bisa saja menjadi semua orang, bahkan lelaki ini bisa menjadi sangat konyol untuk menghiburku, atau menjadi kuat untuk melindungiku.

Sayangnya, bagiku Lu Han hanyalah seorang teman terbaik.

“Aku akan membelikanmu kopi. Tunggulah di sini.” Dengan itu, lelaki itu turun dari jembatan penyebrangan. Aku menatap punggungnya yang kelamaan menjauh.

Tinggalah aku di sana, masih sama. Hanya menatap jalanan yang ramai sembari mendengarkan suara orang-orang yang bercakap-cakap di sana. Jika kau pikir tempat ini sepi, maka kau harus mengganti bayanganmu, di sini sangatlah banyak orang yang berkunjung, begitu bising mengalahi deru sepeda motor. Aku hanya lupa menceritakannya padamu.

Aku menghela napas pelan.

Tak lama, aku merasa diperhatikan. Ada yang sedang mengamati gerak-gerikku. Aku menoleh ke kanan kiri, mencari barangkali ada yang mengamatiku.

Tapi di sini hanya ada beberapa pasangan kekasih yang memiliki dunia mereka sendiri, atau anak-anak SMA sepertiku yang bercakapan dengan teman-temannya tentang idola mereka sembari berteriak-teriak, atau mereka yang datang dengan keluarga mereka. Tak ada yang mempedulikanku, bahkan termasuk kakek-kakek compang-camping yang kepalanya dia tendang-tendang sendiri, atau anak kecil yang berjalan melayang-layang pun tidak memperhatikanku.

Sampai aku menemukan seorang lelaki, posisinya agak jauh, dan dia memang sedang memperhatikanku. Kedua matanya memincing menatapku, aku yakin akan hal itu.

Lelaki itu kira-kira memiliki tubuh yang lebih tinggi dari Lu Han, menggunakan kaus berwarna putih dengan bawahan jeans. Aku tidak dapat melihat wajahnya dengan jelas untuk memastikan apa aku mengenalnya atau tidak, dia terlalu jauh.

“Shixun! Ayo pergi!” ketika seseorang memanggilnya demikian, cukup keras untuk terdengar olehku, dengan bahasa mandarin. Terkadang Lu Han bicara dengan bahasa tanah airnya jika dia sedang jahil karena aku tidak tahu artinya. Tapi kelamaan aku jadi tahu beberapa kata, termasuk kata barusan.

Dan kemudian, lelaki itu pergi bersama temannya. Tapi sebelum itu, aku yakin dia tersenyum padaku meski wajahnya tak bisa kulihat dengan jelas.

Namanya Shixun. Akan kuingat itu.

***

Ini chapter belum ada apa-apanya ya. Ini pandangan deskriptif tentang perwatakan mereka. Biar kenalan dulu, gimana watak Ara dan Lu Han, kuharap itu sudah cukup jelas. Dan soal Shixun itu, dia dikit banget, okeh. Hahahaha. Belum waktunya, belum masanya, tunggu aja.

I think that’s all.

Iklan

7 pemikiran pada “[Second Dimension] One : I’ll remember it.

  1. serius deh setiap kali habis baca ff kakak saya nggak tau mau komen apa ceritanya jempol, pembawaanya jempol dan penulisannya wow~~~

    kakak bilang chapter ini belum ada apa2nya tapi saya sangat menikmati ff ini sampe nggak yangka udah sampe tbcnya aja, saya bacanya nggak bosen intinya ff kakak keren~~~

    Suka

  2. Gak sengaja nemu ff ini, dan entah kenapa berasa ketarik sama soojung di posternya dan karna judulnya juga yg seolah2 mengisyaratkan “ayo dibaca ayo dibaca!!” hehehe
    Ide ceritanya bagus, menurutku menarik. Gaya penulisannya juga cukup bikin aku jatuh cinta walaupun ini pertama kali baca. Sejauh ini pendeskripsian ceritanya bagus, rapi, gak berbelit dan gak ngebosenin. Tapi herannya, ff sebagus ini yg komennya kemana 😦
    tapi aku suka ini 🙂

    Suka

Review And Chat here!

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s