[Ficlet] Renounce; forsake.

renounce; forsake

Renounce; forsake.

Saying these words; i know you’re gonna hate me forever.

2ne1 – Lonely.

***

 

Tangan hangat ini masih bertautan dengan milikku. Entah berapa dekade lagi bisa kurasa kembali nanti jika memang benar kusemburkan huruf-huruf yang telah kupersiapkan ini. Mungkin tidak lagi, tak akan pernah lagi.

Kedua kakiku berhenti, menarik kedua miliknya yang akhirnya melakukan hal yang sama. Kulepaskan genggaman tangannya. Sedikit banyak, aku menyesal melakukannya, namun perasaan itu kurang kuat untuk mendominasi. Aku masih merasa semuanya benar. Seolah memang, ya, inilah yang seharusnya kulakukan.

Kedua mata kami berseturu.

Untuk beberapa detik, aku kehilangan semua persekutuan frasa yang sudah kurangkai mati-matian selama perjalanan kemari —atau mungkin lebih lama dari itu.

Angin mengalir menerbangkan anak-anak pendek surai cokelat lelaki itu, kemudian menghempas helai-helai rambutku, mendinginkan kepalaku yang diam-diam mulai panik.

Burung-burung gereja berterbangan melewati jarak diantara kami berdua. Kicauan mereka tak sedikitpun mengurangi keresahanku.

Dan aku tak bisa mengalihkan perhatianku kecuali untuk secuil lingkaran cokelat menenangkan dan memesona. Itu menakutiku. Aku khawatir gagal lagi hari ini.

Di dalam mata itu, terdapat jutaan alasan bagiku untuk tetap tinggal, untuk mengurungkan semua maksud aku datang kemari. Untuk menjatuhkan isi hatiku dan kemudian mengikuti logika rumit yang telah lebih dari kurun sepekan ini mati-matian kupertanyakan.

Disana, pada kedua mata itu, aku merasa bisa mendapatkan seluruh sandaranku, seluruh kekuatan yang bisa kugenggam kapanpun aku terjatuh.

Aku ingin mencoba berpikir realistis dan bernegosiasi dengan hatiku, sudah kulakukan lusinan kali namun tak ada yang berubah. Aku justru mengacaukan semuanya.

Tidak ada yang cacat darinya. Aku dan dia, kami bisa menjadi pasangan yang sangat sempurna. Inginku berargumen lagi dengan perasaanku, tapi kelihatannya kekuatan nalarku tetap kalah.

Lelaki itu menungguku mengeluarkan kata-kataku, dia sudah dua kali menebak bahwa aku ingin mengatakan sesuatu padanya sejak seperempat jam lalu. Tubuhnya yang kuat memunggungi arah angin. Kedua matanya tak henti-henti memberikan aura hangat padaku. Lengan kekar di dua sisi badannya terlihat siaga, selalu sedia memberikan pelukan terbaik untukku. Dada bidangnya siap kapanpun menjadi sandaran bagiku. Bibirnya siap membisikkan kata-kata terindah bagiku, dan siap menjadi rumah pulang dua belah bibirku.

Tiba-tiba, kehilangan diriku sendiri. Aku tidak mengerti kenapa aku melakukan ini. Kenapa aku disini. Dan kenapa aku tega membawa segelintir kata yang sebentar lagi hendak terucap.

Tapi aku harus.

Aku tau aku tidak bisa terus-menerus bersembunyi dibalik dusta. Dari awal aku telah mengetahui ini, dari awal aku sudah siap untuk melakukan ini. Bahkan sebelum apapun terjadi diantara kami.

Aku tahu dia yang terbaik; itu apa yang dikatakan kepalaku, mengingatkanku terus menerus. Tapi sesuatu di dalam dadaku terus-terusan meneriakiku hal lain, membuatku mengadukan kedua belah pihak yang lama bertengkar ini. Mengakhiriku dalam kebingungan.

Ini keputusannya. Aku harus melakukannya.

“Junmyeon?” panggilku pelan.

“Ya?” betapa aku terpekur mendengar halus nada yang ia pilih untuk menjawabku. Harusnya dia tidak seperti ini; jeritku frustasi. Ini menyulitkanku.

Kutelan ludahku. Kemudian kucoba menetralkan segalanya dengan menarik napas, kuat. Kemudian menghempaskan mereka perlahan.

Satu kalimat; maafkan aku, Kim Junmyeon yang baik.

“Aku tau kau akan membenciku untuk mengatakan ini tapi…” aku menggantungkan ucapanku sendiri. Kuperhatikan raut wajahnya, satu alisnya terangkat naik. Kujilat bibirku gugup, “Aku tidak bisa melanjutkan ini.”

Kedua matanya sontak kosong. Bibirnya mengatup; tak mengucapkan apapun. Detik kemudian, wajahnya mengeras. Rahangnya menegang. Kedua matanya mengobarkan keterkejutan. Aku bisa memahami itu. Dia menatapku, lebih tidak percaya. “Apa maksudmu?” Tanyanya.

Aku sempat panik.

“Aku ingin berpikir bahwa, bukan hanya aku, tapi kau harusnya juga merasakan kekosongan ini. Aku yakin ketika kita bersama aku tidak bisa merasakan nyaman yang harusnya ada. Aku merasa… hampa, Junmyeon-ah.” Ucapku, tanpa jeda. Baru diakhir kalimat kuhempaskan napasku. Dan detik itu kuketahui bahwa diriku adalah seorang gadis kejam.

“Aku— Tidak, kau bilang aku berubah. Itu tidak sepenuhnya salah. Aku, yah, aku memang berubah. Aku mulai merasa tidak pantas menerima cintamu. Kau baik. Kau tulus, aku tau. Tapi aku…” aku menjeda, menarik napas, “Everytime, eventough you’re by my side, i’m still lonely.”

Aku menjeda untuk mengamati air mukanya.

I’m sorry Junmyeon-ah, but, I can’t stay cause with you I’m lonely. I’m so lonely.”

Kedua matanya menggelap, kurasakan kekecewaan di sana. Dia berhak melakukannya.

“Maaf, maafkan aku. Aku sudah berusaha untuk tetap bertahan karena kau seseorang yang baik. Aku coba mencintaimu seperti dulu. Tapi semakin aku berpegang, semakin kutahu perasaanku bermain sendiri di sini. Aku tidak tega berbohong lebih lama, padamu, atau pada diriku sendiri.”

Junmyeon memalingkan wajah. Sedangkan aku tidak punya keberanian untuk mengenali ekspresi wajahnya. Aku menyakitinya. Aku sadar betul akan hal itu.

“Aku hanya merasa ini yang terbaik. Buatku. Buat kau. Buat kita.” Ucapku. Itu adalah hal terakhir yang ingin kukatakan pada Junmyeon. Aku tahu lelaki ini bakal sangat tersakiti. Lidahku terlalu kejam.

“Apa salahku?” Tanyanya pelan, begitu pelan hingga nyaris hilang. Tangan kirinya naik untuk menggenggam pegelangan tanganku, begitu kuat hingga kuberpikir ia akan kehilangan segalanya hanya dengan melepaskan itu. Membuat hatiku mencelos. Aku tidak ingin melukai seseorang sebaik dia.

“Kau tidak bersalah, sungguh.” Aku meyakinkan. “Akulah, yah, akulah yang aneh. Akulah yang aneh. Akulah yang aneh.” Ucapku, ambigu, aku sendiri juga kesulitan memahami ini.

“Aku takkan bisa mengerti.” Ucapnya. Wajahnya masih gelap. Intonasinya menurun, tapi agak tajam. Aku tidak mengharapkan dia melepaskanku dengan tawa riang, itu ekspektasi berlebihan, dan sangat kejam.

“Maafkan aku.” Aku melepaskan tangan yang mencengkram pergelangan tanganku, perlahan, dan itu terasa berat.

Kuangkat kepalaku untuk menatap matanya; wajahnya. Kuberikan sedikit kesempatan diriku untuk menggambarkan kilasan wajahnya di kepalaku, menaruhnya dalam ingatanku sebagai seorang lelaki yang begitu baik selamanya. Kutarik napas panjang.

Good bye, Junmyeon-ah.” Kemudian tubuhku berbalik ke belakang, kuangkat kedua kakiku dan membuat derap langkah diantara lorong yang dibuat oleh pepohonan berdaun cokelat-jingga yang mulai berguguran.

Aku tak akan menengok kebelakang. Aku harus melakukan ini. Memang inilah yang terbaik.

Disanalah. Aku mengakhiri semuanya.

Aku—

meningalkannya.

 ***

—Diramadhani

Iklan

3 pemikiran pada “[Ficlet] Renounce; forsake.

Review And Chat here!

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s