LOSER – ONE

“I’m alone on the edge of precipice; I’m sick of even crying; but no one care.”

BigBang—Loser.

SeHun, OC, and JongIn

_________

“Outcast.”

SeHun telah memutuskan untuk memberikan label itu pada dirinya. Atas hadirnya yang tidak pernah diharapkan siapapun.

Suara mendesing di telinga Sehun, namun satu-satunya yang dia lakukan adalah diam.

Sejak duapuluh menit yang lalu ia dilibatkan dalam diskusi ini, ia hanya duduk di kursi terakhir, memutar-mutar jari di ganggang cangkir kopi hitam super pahit, memberikan komentar jika memang betul-betul perlu, lantas yang utama hanyalah menyaksikan. Semuanya bukanlah sesuatu yang membahagiakan.

Kepalanya tiba-tiba tersengat oleh penggalan cerita mereka yang dulu.

Ketika mereka bertiga benar-benar santai satu sama lain. Ketika dirinya masih ‘anggota aktif’ dalam segala macam diskusi mencenangkan mereka. Ketika dia —ah, bukan, Sehun rasa, sejak awal dirinya memang outcast, namun baru-baru ini semuanya jadi nampak makin jelas.

Hyera, satu-satunya perempuan di meja mereka mengangkat gelas langsingnya, yang diisi penuh akan susu kocok krim stroberi, jemarinya menggenggam gelas itu dengan sempurna, dan tepat pada jari manis gadis itu melingkar cincin perak yang sungguh cantik. SeHun meringis memperhatikannya. Benda kecil itu hanya makin menamparnya dengan fakta-fakta kecil tentang outcasting kehidupannya.

Jongin, yang duduk di samping Hyera tersenyum jahil begitu melihat krim putih menjejak di sekitar bibir gadis itu. SeHun makin meringis melihat adegan roman dua kawannya itu, tepat ketika Jongin menghapus bekas krim itu dengan jemarinya. SeHun membuang muka.

Ketika ia kembali memperhatikan, tanpa sengaja kedua matanya bertubrukan dengan milik Hyera. Sontak, ia kehilangan ingatan atas apa yang terjadi di atas dunia, bahkan ia lupa bernapas selama beberapa detik.

Saat tersadar, lelaki itu sudah kembali memalingkan arah pandang matanya, kemanapun, sejauh mungkin dari manik kecil hitam pekat yang menjerat itu. Sudah lama ia menetapkan larangan bagi dirinya sendiri untuk tidak masuk ke perangkap yang sama. Dan sudah lama pula bahwa aturan itu bukan main sulit untuk dipatuhi.

Dan SeHun sadar bahwa semua ini memanglah sudah terjadi. Hal yang dulu ada diantara mereka bertiga sudah usai, yang ada hanyalah mereka berdua, terlepas dari eksitensi SeHun.

Lelaki itu mengambil gelas kopinya dan menegak air pekat itu tanpa peduli betapa pahit indera pengecapnya rasa. Semua itu tidak sepahit kenyataan bahwa kebohongan kecil yang dia sembunyikan dulu berefek begitu besar, sampai kini menelannya dalam ketakutan yang tidak wajar.

Dia takut. SeHun yang berlagak tenang diantara dua teman lamanya itu benar-benar ketakutan.

Ia takut akan jati dirinya sendiri. Ia takut mengakui betapa pengecutnya dia. Ia takut untuk kembali tenggelam dalam kedua mata gadis yang duduk di hadapannya. Atau bahkan, dia takut karena dia masih belum bisa menyelamatkan diri dari pekatnya kedua mata itu. Dia masih tenggelam di sana, selama sepersekian tahun lamanya, tanpa peduli bagaimana waktu menua, atau dunia yang nyaris sepenuhnya berubah. SeHun masih berdiri di sana, menyesali apa yang terlewat, memikirkan apa yang tak akan pernah kembali ia dapat. Langkahnya terhenti.

“Hei, dulu, waktu kita nongkrong di kafe ini, rasanya sudah beda jauh, ya. Empat tahun itu rupanya cukup lama.” Jongin berkomentar.

SeHun nyaris meledakkan tawa di sana. Dulu. Kata itu begitu sensitif di telinganya, atau bahkan hatinya.

Dulu, mereka bertiga adalah mahasiswa biasa yang menjalani hidup mainstream mereka. Sibuk datang ke kelas tiap hari, sorenya nongkrong di kafe sampai gelap, menikmati free hotspot sembari mengerjakan tugas yang tidak akan pernah selesai kecuali kau berhasil menyabet toga wisuda.

Persahabatan mereka SeHun lah yang mulai.

Dan sampai sekarang, dia berjuang keras untuk membuat dirinya merasa menyesal atas itu. Namun yang ada, separah apapun akhir yang musti dia terima, dia tetap menyetujui keputusan lamanya untuk memulai persahabatan itu.

Untuk menjabat tangan Hyera di kelas pertama yang ia hadiri; untuk tersenyum lebar dan memberikan salam; untuk bergabung dengan Hyera di meja kantin kampus pada siang berterik itu; untuk menatap kedua matanya dan terjerat di sana.

SeHun menghela napas.

Kali pertama dia bertemu Jongin adalah pada awal triwulan dua tahun pertamanya di kampus. Mereka kebetulan mengikuti ekstra sama; modern dance. SeHun hanya iseng, namun dia lantas lolos masuk ke klub, bahkan berhasil menjadi anggota resital. Sungguh, itu prestasi yang cukup mendongkrak semangat hidupnya. Ia ber-partner dengan Jongin yang keren.

Dan pada akhirnya, mereka bertiga berteman.

Ia cukup sering berandai-andai jika saja dulu dia tidak perlu mengikuti klub itu saja dan tidak mengenal Jongin selamanya. Namun SeHun selalu berhasil menepis gagasan itu. Pertemanannya dengan Jongin bukanlah permainan, dia sungguh-sungguh, meski Sehun terus-terusan menjadi bayangan di ekor Jongin, namun dia tidak pernah bisa membenci lelaki itu terlepas betapa kesal atau bahkan iri dia terhadap Jongin.

Bukan soal rumit untuk sekedar menamai perasaan SeHun kepada Hyera. Cukup mudah untuk menebak lelaki itu sudah kepayang terhadap gadis yang tingginya hanya mencapai pundak SeHun, dengan mata hitam pekatnya, rambut hitamnya bergelombangnya, kulit bersihnya, suara halusnya, semuanya.

Heart often broken because of words that left unspoken.

SeHun sudah membuktikan petuah itu dengan cukup. Dan itu sudah saja sangat menyiksa dirinya sendiri.

Itu terjadi pada semester empat mereka.

Berkat waktu yang dia habiskan untuk mengamati kebiasaan-kebiasaan kecil Hyera, dia cukup paham jika gadis itu memperhatikan sahabatnya lebih baik dibandingkan kepada dirinya. SeHun jatuh dalam kesimpulan jika Hyera menyukai Jongin. Itu terjadi ketika SeHun sudah memantapkan niatnya untuk membuat sebuah pengakuan; untuk menyemburkan kenyataan tentang perasaan yang sudah menjamah seluruh bagian —sampai yang terkecil— di hatinya.

Dan itu membuatnya kembali mengatupkan bibir.

Parahnya lagi, SeHun juga menyadari bahwa Jongin pun menyukai Hyera. Seolah itu belum cukup buruk, tepat ketika mereka menerima gelar baru di bekalang nama mereka dan menamatkan studi tiga tahun, Jongin membisiki SeHun tentang apa yang menimpanya, sebuah kalimat yang cukup ampuh untuk membuat SeHun mengalami mimpi buruk di malam-malam berikutnya, “Hei, SeHun, aku menyukai Hyera. Bisakah kau membantuku?”

Dan bodohnya, hari itu dia —entah bisa-bisanya bagaimana, tapi dia sanggup memajang sederet gigi depannya seraya berkata, “Baiklah.”

Itu cukup untuk medeskripsikan betapa tolol seorang Oh SeHun.

Saat itu, dia berpikiran untuk menjadi lelaki yang baik, mengkhilaskan diri untuk kebahagiaan sahabatnya. Tanpa memikirkan konsekuensi yang cukup berat, yang akhirnya ditanggungnya sendiri untuk kian lama waktu.

Tahun selanjutnya, SeHun berhasil terdaftar menjadi pegawai perusahaan penerbitan; disertai Jongin dan Hyera di departemen yang sama. Mereka bertiga masih menempel satu sama lain.

Namun SeHun merasa semakin tidak dibutuhkan.

Ketika waktu mulai beranjak, Jongin sudah tidak lagi malu-malu melemparkan rasa suka dan perhatiannya. Dia tidak pernah repot-repot berusaha keras untuk menyembunyikan semua hal seperti yang si-profesional-aktor-SeHun lakukan. Jika ‘berpura-pura’ masuk kategori buku rekor dunia; dia cukup yakin namanya bisa dipampang di sana dan berabad-abad tak tergantikan.

Ketika mereka jalan bertiga misalnya. Jongin akan selalu melakukan hal-hal manis pada Hyera yang selalu tersenyum meresponnya, ketika SeHun hanya bisa memperhatikan dalam diam.

SeHun sering gerah disuguhi adegan-adegan seperti itu. Tapi yang dia lakukan adalah diam.

Dia juga ingat kejadian pada minggu sore, hari libur kantor, ketika SeHun datang sendirian mengunjungi rumah Hyera, gadis itu tinggal berdua dengan ayahnya. Hyera pernah beberapakali bercerita tentang ibunya, namun gadis itu selalu tampak enggan dan terlihat tak punya harapan setiap kata ‘ibu’ musti lewat tenggorokannya.

SeHun akrab datang kemari, dengan atau tidak bersama Jongin. Lelaki itu mengenakan celana pendek, kaus cokelat dan sneakers-nya seperti biasa. Ia cukup cuek dengan penampilannya dibandingkan dengan Jongin.

Dan ketika jemarinya menggeser pagar kayu rumah Hyera, ia menemukan gadis itu duduk di pekarangan rumah, di bawah pohon dengan memandang bunga-bunga yang ditanamnya sendiri sembari menikmati angin hangat musim semi. SeHun bergegas masuk.

“Kau terlihat cukup depresi.” komentar SeHun mengamati ekspresi gadis itu.

Hyera mendongak, begitu dia menangkap bayangan SeHun, dikeluarkannya sebuah senyum penuh kelegaan. Untuk beberapa alasan, SeHun tahu gadis ini mengharapkan kehadirannya, dan kebetulan saja dia sedang di sini.

“Apalagi yang terjadi?” ucap SeHun, lelaki itu menepuk bagian belakang celananya dan menaruh badannya tepat di samping Hyera, menumpukan tubuhnya dengan tangan yang ia sanggakan pada rerumputan.

“Aku—eh, itu, tidak ada apa-apa.” ungkap Hyera, gadis itu memalingkan wajah, menatap kosong bunga yang baru mengeluarkan kuncupnya.

SeHun tersenyum kecil, nyaris terkekeh, “Kau payah dalam seni kebohongan.”

Hyera tidak menjawab. Dan SeHun pun tidak berusaha mengejarnya. Ia tahu pasti semua itu hanya akan membuang-buang tenaga. Meminta Hyera mengatakan sesuatu yang sama sekali tidak dia mau telah terdaftar sebagai hal yang paling tidak ingin SeHun lakukan; karena tingkat kesulitannya yang bukan main.

“SeHun-ah?”

“Hm?”

“Kalau aku bilang aku ingin mati saja, apa yang akan kau katakan padaku?” tanya gadis itu, tatapannya masih kosong seolah pertanyaannya sekedar lanturan yang tak terpikirkan belaka. Tapi itu bukan berarti kurang kuat untuk mengejutkan SeHun, lelaki ini terbiasa bersama seorang gadis yang ceria dan tangguh.

“Kau mengejutkanku; yang jelas itu adalah kalimat pertama yang kusebutkan.” jawab SeHun.

“Kau tidak akan mengataiku hilang akal?” tanya Hyera.

SeHun tersenyum lagi, “Barangkali kau memang hilang akal dengan menanyakan itu, Hye-ah. Tapi aku kenal kau betul. Aku tidak akan langsung mengataimu sinting untuk menanyakan itu. Aku punya firasat kalau aku lebih harus mencemaskan apa yang terjadi padamu dibandingkan dengan niatmu yang ingin bunuh diri.”

Hyera menolehkan kepalanya, menatap SeHun yang duduk di sampingnya. Dan itu menciptakan perseturuan pandang diantara keduanya.

SeHun tau pasti jika Hyera mencari keyakinan di matanya, mencoba menilai kualitas ucapannya; apa cukup kuat untuk dipercaya atau semacamnya. Namun hal yang SeHun lakukan justru berlawanan, pertahanan aktingnya lantas digempur begitu saja ketika kedua matanya harus mengarungi milik Hyera, ia tidak bisa menghindar karena ia takut Hyera pikir dirinya hanya membual. Ia ingin membuat Hyera yakin, bukannya tenggelam dalam kedua mata itu lagi, tapi kelihatannya, dia sudah menyabet kedua opsi itu sekaligus.

Perut SeHun geli segelinya. Ia berusaha keras agar dadanya tidak bergemuruh terlalu keras. Ia mencoba mati-matian untuk terlihat seperti the usual SeHun, tapi itu tidak mudah seperti berpetuah kosong.

Hyera mengarahkan pandangannya menjauh; SeHun menebak gadis itu sudah cukup menemukan apa yang dia cari.

“Kau tahu, SeHun?”

SeHun menunggu gadis itu melanjutkan kata-katanya, tanpa memberikan respon selain curahan perhatian.

Hyera mengusap air mata yang turun di pipinya, “Aku ingin saja membencimu. Tapi aku tidak pernah berhasil.”

SeHun dibuat speechless oleh pernyataan itu.

Kemudian mereka terjebak di dalam keheningan begitu lama. Kedua mata Hyera masih kosong dan mengamati kupu-kupu cantik yang terbang diantara satu kelopak ke kelopak lain; sayapnya berpadu antara biru dengan merah hingga jingga; benar-benar mempesona. Punggungnya nampak bergetar; entah bagaimana, SeHun tau bahwa dia sedang ketakutan —begitu ketakutan hingga SeHun ingin saja mendekapnya dalam pelukan dan tidak pernah melepasnya. Tapi lelaki itu memilih untuk menahan diri, mengepalkan kedua tangan di sisi tubuhnya; menjadi pengecut seperti biasa.

Waktu beranjak; mereka telah dua jam duduk di taman itu, dengan SeHun yang tidak henti-hentinya mencemaskan gadis kecil yang duduk tepat di sebelahnya. Warna cakrawala berubah menjadi jingga dan emas. Dan ia tahu itu pengingat bagi mereka berdua untuk kembali berlindung ke bawah atap.

“Hye-ah, masuklah. Ini sudah petang.” ucap SeHun. Lelaki itu bangkit dari duduknya, membersikan sisa rerumputan yang menempel di celana pendeknya.

Gadis itu tersadar, lantas berdiri, menunjukkan dres putih yang ia kenakan, yang sebagian kotor berjejak rumput. Hyera cantik. Terlepas akan fakta bahwa SeHun suka seorang gadis mengenakan dress; terlihat lebih anggun, Hyera memang selalu cantik.

“Masuklah, aku akan pulang. Jika terjadi sesuatu telepon aku—ah, tidak, aku akan menelponmu untuk memastikan kau baik-baik saja.” ucap SeHun. Respon Hyera hanyalah sekedar anggukan. SeHun mengacak pelan rambut gadis itu dengan jemarinya, lantas beranjak pergi.

“Se-Sehun!” panggil gadis itu sebelum SeHun sempat menjauh. Langkah SeHun terhenti. Lelaki itu membalikkan kepalanya ke belakang, dan lagi-lagi disuguhi ekspresi itu. Raut ketakutan Hyera.

SeHun nyaris kehilangan kendalinya ketika Hyera melangkah mendekat dan mencengkram pergelangan tangannya. Seolah hal yang ditakutkan Hyera adalah kehilangan SeHun selamanya; menyaksikan SeHun pergi jauh darinya. Dan itu membuat SeHun berhasrat untuk membekap gadis ini di dadanya, dan tidak mengizinkannya pergi; mengucapkan janji bahwa ia memang benar-benar tak akan pernah pergi.

Namun kenyataan yang terjadi hanyalah SeHun yang terkaku di tempat dan Hyera yang masih ketakutan.

“Maukah kau … kau …” gadis itu seolah mati-matian menahan tangis, “Yeah, datang ke taman dekat kampus kita yang dulu sore besok setelah kerja? Kumohon … aku punya firasat kalau kau … kalau kau perlu datang kesana besok.” pinta gadis itu dengan suara halusnya yang penuh kegetiran. Dan tentu saja SeHun tidak akan pernah bisa memberikan penolakan.

SeHun sebenarnya cukup heran dengan apa yang terjadi pada gadis ini, sungguh, ia ingin bertanya, namun SeHun hanya mengacungkan jempolnya tanda persetujuan. Ia melepaskan tangan Hyera yang mencengkramnya dan menautkan jemarinya diantara milik Hyera, kemudian menuntun gadis itu masuk ke dalam rumahnya.

“Aku pulang dulu, ya. Aku janji besok akan datang. Apapun itu.” jamin SeHun. Ia tersenyum lembut dan tulus, untuk memperkuat janjinya. Tangan kanannya terangkat naik untuk menaruh rambut Hyera yang terlepas untuk kembali berada di belakang telinganya. Dan raut lega Hyera menyambutnya untuk kali kedua di sore itu.

***

Waaaaaaaa! Ini apaaan coba, kenapa aku nulis FF chaptered lagiiii? (gapapa, paling cuma dua sampai empat chapter; ga akan di post dengan jarak lama-lama kokk (insyaallah), sementara FF chaptered yang lain lagi ngadat :v)

Terlepas dari genre yang kugandrungi —tetek bengek fantasy, action, horror, thriller, supranatural dan blah blah blah yang ribetnya minta ampun, FF ini so simpel yuhuuu, cuma fluffy fluff romance friendship /? dan maybe ada sad-sadnya gituh :v Jadi ga terlalu mikir susah-susah, soalnya mau update second dimension aja pening palak gue -___-

Dan asdfghjkl! DAFUQ LAAAAAH! LOVE ME RIGHT SI SEHUN NYOBA-NYOBA PAKE RAMBUT ITEEEEEEEMM! (niatnya mau mbunuh gue kali yaaa… demi apa sesak napasssss!) WAAAAAAAAAAAA~ Kenapa ada sosok kece badai seperti diaaaaaa 😥 huuaaaaaaaa…. Tissue adaa??? Gue mimisaan niiiih, duuuuuhhhhhhhhh….. (Nah, alay gue kumat .-.)

Iklan

4 pemikiran pada “LOSER – ONE

  1. kerennnnn thorrrrr….suka bgt sama ceritanya!!!!
    asli nyessssseeeeekkkkk bgt!!!!!
    sory baca ys kedua dulu…hehehe
    fighting…..di tunggu kelanjutannya!!!!

    Suka

  2. kakak ini jangan ada sad sadnya dong tapi nih ff keren rapi~~~

    kalau saya jadi sehun nggak tau juga mau ngapain sedangkan sehun juga nggak nyesel

    yah lah kan itu hyera sama kai udah tunangan apa jangan2 udan nikah dan lagi apa hyera pernah ada perasaan sama sehun atau apa T.T
    sehun oppa tenang aja i’m here for you ^.^ ditunggu nextnya kak

    Suka

Review And Chat here!

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s