Loser – Two

LOSER

“I started to look at the ground more then the sky. I reach out my hand, but no one grabs it.”

BIGBANG—Loser

SeHun, OC, and JongIn.

_____________________

Sudah Hyera putuskan, bahwa di dunia ini, jika memang ada seseorang yang begitu bodoh atau sangat tolol; menurutnya, tidak akan ada yang sanggup mengalahi kebebalan lelaki bernama Oh SeHun.

Sudah sejak sejam yang lalu ia menerima pesan balasan dari SeHun bahwa lelaki itu setuju untuk pergi keluar bersamanya sore ini. Hyera sudah tak sanggup duduk nyaman di atas kursinya.

Seminggu. Hanya seminggu yang dia punya sebelum dunianya berjungkir balik menjadi sesuatu yang lain; dirinya akan menjadi Hyera yang lain. Dan satu hal yang dia tak akan bisa hidup dengan damai apabila itu terlewat adalah membuka satu lagi percakapan dengan Oh SeHun, sebagai kawan sebaya yang sudah akrab sejak kuliah.

Kedua manik matanya berkeliaran resah, mengambil kesempatan melirik gerbang di luar; atau mencuri pandang waktu yang tertera pada jam dinding di atas almari. Hyera menggigit bibirnya.

Dan pada detik itu, muncullah bayangan Oh SeHun di ambang pintu gerbang kayu rumah kecilnya, Hyera sempat bertanya-tanya apa yang membuat lelaki itu memerlukan waktu begitu lama. Namun ia langsung melupakan pertanyaan-pertanyaan itu begitu dia memperhatikan penampilan SeHun. Lelaki itu terlihat berantakan, rambutnya belum sempat disisir, mengenakan kaus putih bertuliskan “BROKEN BOYS CALIFORNIA”, dan celana pendek seperti biasa. Namun entah bagaimana; segala apapun yang terpancang pada tubuh Oh SeHun selalu nampak menarik bagi Hyera.

Dan satu poin penting lagi yang harus dijabarkan tentang Hyera.

You may fall in love to another, but you can’t just forget someone who you truly in love with.

Boleh jadi, satu rangkaian frasa itu sudah cukup untuk mendeskripsikan kisah cinta Hyera yang memuakkan.

Tujuh tahun terakhir, hidupnya beputar-putar diantara tiga lelaki berharga; pertama ayahnya, lalu kedua sahabatnya SeHun dan Jongin. Sahabat; ugh, yeah.

Barangkali kisah cinta dan hidupnya sudah bersekongkol dan membuat keputusan untuk sama-sama tidak mujur.

Hyera mengamati SeHun yang terengah-engah di hadapannya, pertanda lelaki itu baru saja lari marathon kemari. Hyera menggelengkan kepalanya, lantas bertanya, “Apa yang membuatmu begitu lama?”

“Aduh,” gerutu SeHun. “Lalu lintasnya macet.” sambungnya, melantur. Hyera menaikkan alis.

“Kau ingin mengajakku ke suatu tempat?”

Hyera mengangguk. Gadis itu mengambil jaketnya yang ia gantung di dekat sofa, lantas melemparkan jaket SeHun yang sering menginap di rumah Hyera (entah karena pemiliknya lupa membawa pulang atau sengaja ditinggal) kepada SeHun.

Lelaki itu tidak banyak mengeluarkan protes dan langsung melingkupi tubuhnya dengan jaket, imbasnya, fashion style SeHun jadi agak aneh mengingat dia masih dalam balutan celana pendek. Namun lelaki itu nampak tak peduli; dan disanalah sisi menariknya, sekacau apapun SeHun, dia selalu punya cara untuk tetap menawan di mata Hyera.

Gadis itu lantas beranjak keluar, dan SeHun mengekor di belakangnya. Mereka berdua lebih menyukai keheningan. Bagaikan sudah menjadi rutinitas, setiap kebersamaannya dengan SeHun yang didominasi kesunyian adalah kenyamanan sendiri bagi Hyera. Ia suka setiap detik yang ia habiskan bersama SeHun, betapa lamapun itu, ia tidak akan pernah mengeluh.

Benar, Hyera sudah lama jatuh hati pada sahabatnya itu. Entah sejak kapan dan bagaimana itu dimulai, semuanya terlalu rumit untuk dijabarkan dengan meminjam kata-kata sederhana. Entah akan perangainya yang hangat dan pendiam, raut tenangnya yang stabil, logikanya yang rumit, ketidak peduliannya akan penampilan, atau wajahnya yang rupawan. Semuanya sudah cukup kuat untuk menjadikan Hyera kesusahan mengenyahkan bayangan lelaki itu dari dirinya.

Tapi bagian terburuknya adalah Oh SeHun yang tidak pernah membalas perasaannya.

Ketika hang-out bersama SeHun dan Jongin dalam hari-hari mereka yang biasa; entah itu pada awal mula ketika mereka memerankan kehidupan masing-masing sebagai tiga mahasiswa biasa; sampai pegawai perkantoran; Hyera masih belum bisa mengalihkan pandang matanya dari SeHun.

Tapi berkat keyakinan Hyera sendiri, ia lebih memilih untuk tidak begitu menarik perhatian. Ia berusaha menyelaraskan perlakuannya pada Jongin dan SeHun. Ia tidak ingin terlihat lebih perhatian kepada SeHun, karena kedua lelaki itu sahabatnya. Dan dia berhasil; atau bahkan mungkin rasanya dia cenderung seolah menyukai Jongin, tapi dia pikir itu tidak masalah. Karena ia lebih takut untuk tertangkap basah oleh SeHun yang kelihatannya tidak peduli padanya.

Namun kelihatannya; jalan yang ia ambil benar-benar salah kaprah.

Tak lama setelah dia melakukan tindakan itu, Jongin menaruh perhatian kepadanya lebih dari seharusnya. Lelaki itu terlalu frontal menunjukkan semua hingga tidak lagi sulit bagi Hyera untuk sadar bahwa halauan rasa suka Jongin terarah pada dirinya. Dan dari tindak-tanduk SeHun, lelaki itu malah berusaha membantu Jongin untuk menemukan waktu bersama dengan Hyera lebih banyak. Lelaki itu sering memberi mereka ruang bersama dan sengaja pergi di saat-saat tertentu.

Tapi sungguh, Hyera tidak pernah menginginkan hal itu.

Jongin lelaki baik, benar. Hyera tidak akan mampu menyangkal kenyataan itu. Tapi yang sudah lama berdomisili di hatinya adalah SeHun. Dan banting stir dalam sekejap adalah hal yang nyaris mustahil.

Setelah cukup dibuat patah hati dengan kenyataan bahwa SeHun benar-benar tulus untuk membantu Jongin lebih dekat dengannya, Hyera berusaha sebaik mungkin menerima Jongin. Tentu saja ia berhasil, bukan hal yang susah untuk jatuh hati pada seseorang seperti Kim Jongin, the-almost-perfect-guy; tapi bukan bohong juga jika sebagian hatinya yang lain masih dijejali oleh citra, pendar wajah, dan senyuman menawan Oh SeHun.

Dan Jongin benar-benar serius dengannya.

Lelaki itu mengundangnya datang ke taman dekat kampus lama mereka waktu itu. Menilai dari wajah serius dan sorot mata cokelat Jongin saat rangkaian frasa itu mencuat dari bibirnya, Hyera tidak mengerti apa yang musti ia lakukan; atau apa yang harusnya dia rasakan. Di satu sisi; ia menyukai hal itu, tapi di sisi lain yang lebih mendominasi; ia benci akan apapun yang akan dikatakan Jongin padanya.

Dan sehari sebelumnya, ia menghabiskan setiap detiknya untuk mencari jawaban yang tepat; untuk membenahi segalanya. Untuk menentukan jalan yang harus dia pilih dan memastikan bahwa tidak akan ada yang disesali.

Namun pilihan tidak akan pernah terjadi jika keduanya tidak seimbang. Jika berat sebelah, jelas tidak ada yang perlu dipilih.

Mencintai; atau dicintai. Hyera berkutat diantara kedua opsi memuakkan itu.

Ia akan kehilangan SeHun jika dia memilih Jongin; atau dia akan kehilangan Jongin jika dia memilih SeHun yang belum tentu juga menyukainya balik.

Ia melamunkan semua di taman rumahnya.

Hingga derap kaki mengganggu konsentrasinya. Ia sempat membeku sejenak begitu menemukan semua kesadarannya dan mengambil kesimpulan bahwa Oh SeHun berkunjung di saat yang begitu tepat. Satu hal terlintas di kepala kecilnya, sebuah gagasan konyol yang memberikannya secercah harapan kecil yang kemungkinan besar tidak terjadi. Tapi itu pegangan terakhir yang dapat ia jangkau.

Jadi ia minta Oh SeHun datang ke tempat dimana ia menjanjikan Jongin pertemuan mereka. Ia juga berhasil mendapatkan janji bahwa SeHun akan datang.

Tapi kelihatannya tuhan benar-benar sudah mengukir kisah hidupnya seperti itu. Seberapa keraspun usahanya untuk mengakali rencana Tuhan, makhluk lemah sepertinya tak punya kesempatan untuk berhasil.

Ia datang lebih awal dari waktu yang dijanjikan; tanpa berpikir bahwa ternyata Jongin juga telah melangkahi waktu, lelaki itu tersenyum lebar menyambut kehadirannya, namun Hyera tidak berusaha menutupi keterkejutan dan kekecewaannya. Jongin tertawa, seolah dia berpikir bahwa mereka sama-sama ingin datang lebih awal. Dan Hyera berbuat sebaik mungkin untuk tersenyum.

Jongin membawanya menjauhi taman dan duduk di kafe dekat taman itu. Namun kedua mata Hyera tidak bisa berhenti untuk berkeliaran kesana kemari, berusaha mencari SeHun

Namun SeHun tidak pernah datang. Lelaki itu tidak menepati janjinya.

Jika saja Jongin tidak dihadapannya, wajahnya akan meledakkan seluruh emosi yang ia pendam, ia ingin saja menangis dan melarikan diri dari Jongin, mencari Sehun dimanapun lelaki itu berada dan berlutut untuk mengakui perasaannya. Tapi itu konyol-tolol-bodoh-sinting, apa sajalah. Si bedebah SeHun benar-benar tidak menunjukkan batang hidungnya. Ia hanya berpikir, barangkali lelaki itu membalas perasaannya, ia akan datang kemari dan membawa dirinya pergi. Tapi SeHun sama sekali tidak di sini.

Harapnya hancur. Kesempatan terakhirnya musnah tak berbekas.

Hyera menundukkan wajahnya, mencoba tetap antusias di hadapan Jongin. Tapi itu bukan semudah membalik telapak tangan. Hyera bersumpah perasaannya kacau balau saat itu.

Hyera berusaha menenangkan dirinya.

Dan senja yang tidak diharapkan pun berkunjung.

Jongin yang sedari tadi bercerita menghentikan diri begitu waktu menunjukkan pukul enam. Lelaki itu menatap mata Hyera. Gadis itu tidak pernah bisa dipungkiri bahwa Jongin memiliki pesona tersendiri juga.

“Hye, kuyakin kau sudah paham apa yang akan kukatakan padamu.” Kata lelaki itu. Tangannya terulur untuk memegangi jemari Hyera di atas meja, “Seperti yang kau telah lama ketahui, aku menyukaimu.” Lelaki itu mengecup punggung tangan Hyera sebagai bukti.

Hyera tidak terkejut, namun dia merasa tidak nyaman dengan itu. Dia sudah memprediksikan hal ini bakal terjadi. Namun kelihatannya persiapannya bobrok parah karena keraguannya antara dua lelaki. Padahal mustinya ia bisa dengan cepat memilih Jongin jika logikanya masih jalan. Namun terkadang harus dipahami bahwa cinta itu emosi yang benar-benar diluar nalar.

“Kita juga sudah lama sekali saling mengenal. Kita juga sudah sama-sama tumbuh dewasa. Duh, aku benar-benar payah dalam berkata-kata.” kata lelaki itu lagi, mengusap rambut belakangnya, berusaha tersenyum pada Hyera, namun gadis itu kesusahan untuk membalikkan aksi yang sama.

Jongin menghela napas, seolah mengumpulkan semua kepercayaan dirinya dari udara sekitar, “So, to the point, will you marry me, girl?” tanya lelaki itu. Seluruh kesungguhan terpancar di kedua matanya. Dagu Hyera turun. Ia benar-benar sudah yakin sejak sebelumnya bahwa ini akan terjadi, tapi ia rupanya belum selesai berurusan dengan persiapan keterkejutannya. Ia tetap terkejut.

Saat itu, Hyera masih berusaha menilik melalui atas pundak Jongin, berusaha mencari suatu objek yang sudah jelas. Namun ia tak pernah menemukan apa yang ia cari, bibirnya tersenyum kecil untuk menyatakan kepahitannya. Lalu, ditatapnya mata Jongin. Ia tidak punya pilihan selain menganggukkan kepalanya. Ia tidak boleh mengharapkan SeHun lagi. Meski hatinya harus hancur, meski ia tahu kesempatannya akan benar-benar hilang. Hyera hopeless.

Jongin berteriak girang seolah barusan dia berhasil menggenggam seluruh dunia di dalam tangannya. Lelaki itu mengeluarkan kotak beludru dari saku jasnya, lalu membukanya, mengekspos sebuah cincin perak cantik yang sungguh memukau.

Cincin yang saat ini berada di jari manisnya.

Ia dan Oh SeHun masih berjalan berdampingan hingga ia mencapai sebuah taman kecil yang kosong. SeHun mengerutkan kening ketika gadis itu membalikkan diri, menatapnya begitu lama. Hyera mengamati SeHun dengan cahaya yang makin menguras. Mencoba membiarkan semua ingatannya bermain di wajah lelaki itu. Hidungnya yang sempurna, bibirnya yang tipis, kulitnya yang bersih, tubuhnya yang tinggi, rahangnya yang tegas, dan sepasang mata yang memukau.

Lelaki itu membalas tatap mata Hyera, bibirnya pun terkatup, begitu lama. Angin menghembus wajah mereka dengan pelan, menerbangkan rambut SeHun yang menutupi dahinya. Lelaki itu masih terdiam. Membuat Hyera cukup heran dan penasaran apa yang dipikirkan lelaki itu. SeHun memang selalu sulit ditebak. Lantas SeHun berdehem, “Kenapa kau membawaku kemari?”

Sedangkan segalanya mulai gelap, menyisakan pendar redup dari lampu kecil bertiang dan rembulan.

Hyera mendudukkan dirinya di kursi kayu pendek. SeHun mengikutinya dan berdiri dekat lampu di belakang gadis itu. Ia menaruh tangannya di depan dada. “Jadi?”

“Aku punya firasat jika aku harus bicara padamu SeHun, sebelum … kau tahu….”

Hyera melihat perubahan ekspresi SeHun, namun gadis itu tidak terlalu bisa memastikan apapun dalam bantuan cahaya yang betul-betul berbatas ini.

“Dan untuk itu, kau membawaku kemari, agar tidak ada yang menyadarinya?”

“Bukan. Aku hanya … suka tempat ini.”

SeHun melangkahkan kakinya dan berhenti di depan tubuh Hyera, ia mengangkat tangannya dan menaruh dua jemarinya di dekat bibir Hyera, menarik kedua ujung bibirnya melebar; membentuk senyum. Lantas SeHun tersenyum; seolah puas akan hasil karyanya.

Debar jantung Hyera tidak bisa berfrekuensi sama dengan normalnya, kedua matanya berseturu dengan milik SeHun, wajah mereka hanya bersisihan beberapa senti. Kendati malam itu dingin, Hyera merasakan kehangatan menjalari seluruh tubuhnya. Ia ingin waktu berhenti. Seperti ini saja. Selamanya.

Lalu, SeHun berkata, “Aku tahu kau gugup, oke? Itu tinggal seminggu lagi. Tapi kau harus tetap tersenyum dan nampak cantik. Janji, ya?”

Senyuman SeHun yang tulus itu semakin menyihirnya, bagaimana ia melepaskan SeHun jika seperti ini jadinya?

SeHun mengangkat jemari Hyera, lelaki itu mengusap cincin perak di jari manisnya. Lelaki itu tersenyum, “Dua kawanku, ya ampun, kalian harus bahagia. Aku benar-benar tidak menyangka, duh, aku sendirian sekarang, kalian akan bersama. Kalian benar-benar harus berjanji untuk bahagia, oke?” ucapnya. Lelaki itu benar-benar terdengar tulus dalam setiap frasa yang diambil.

Hyera menangis. Mendengar itu, ia menjadi benci dengan dirinya sendiri. SeHun benar-benar sahabat yang tulus, tapi Hyera mengharap yang lain.

Jemari SeHun mengusap pipi Hyera pelan, menjauhkan air mata yang mengalir halus di sana. Andai saja SeHun bukanlah sekedar sahabatnya; andai saja dia tidak perlu takut untuk mengungkapkan perasaannya; andai saja dulu ia tidak perlu berpura-pura menyukai Jongin.

Dan lelaki itu mendekap Hyera didadanya. Akhirnya, tangis Hyera semakin menjadi. Hyera bisa merasakan kehangatan SeHun, mendengarkan detak jantung SeHun, menikmati kebersamaannya dengan SeHun.

Ya, itulah yang ia butuhkan. Pelukan SeHun. Setidaknya untuk terakhir kalinya. Sebagai teman. Sebagai hanya Hyera dan SeHun.

***

TO BE CONTINUED

Wahhh…. as i’ve promised, FFnya ga berjeda lama, kan? (JARANG BANGET GUE BISA BEGINI DEMI APA)

Dan iya, bener, mereka berdua sama-sama GA PEKA=))

Iklan

7 pemikiran pada “Loser – Two

  1. Inii baperr sumpah kaa:( mereka tuh harus nya saling terbuka dan pekaa dikiiitt ajaa-__- entaah, gregetaan:( si hyera nya gmpang nyerah:(

    Suka

  2. Huaaaaa kakak saya mewek baca ini, Yaampun ketidak pekaan seseorang itu mengerikan sungguh padahal mereka bisa aja jadi pasangan paling bahagia sedunia tapi yang mereka pilih malah..(?) ah kak kamu berhasil buat prasaan saya nggak karuan.

    dan lagi AAKHHH itu apa yang seminggu lagi please deh kak kasihani sehun jangan buat dia terlalu ngenes kalau boleh kasih kesempatan juga hehehe dan saya tunggu nextnya^.^

    Suka

Review And Chat here!

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s