Whole Hearted

whole hearted

Whole Hearted
By FiolaCindy

poster by n u k i y @Home Design

Byun Baekhyun EXO | Kim Taehyung BTS
Krystal Jung F(x)

Attention!
It’s just a fiction. I don’t own anything beside storyline. PG-15 rated. Crime, brothership, pshyco, romance genre. Be carefull of flashback, see the date. Copycat not allowed. Aw this is my first Baekhyun with Taehyung (Hyun family) fanfiction. Thank you!

He love his brother so much. Promise that he would do anything for him, even it means sacrifing his life.

“i would do anything for you, with my whole hearted.”

24 Desember 2015

Belasan mobil polisi telah mengepung gedung tua tersebut. Sirinenya terus menerus mengeluarkan bunyi yang makin membuat lelaki itu geram. Rasanya benar-benar memuakkan baginya. Bahkan rasa ketakutan menyelimutinya detik ini.

“Kau yang berada di dalam, menyerahlah! Kami telah mengepungmu. Keluar dengan tangan diangkat!”

Seruan seorang polisi yang terdengar jelas dari luar jendela membuat keadaan itu semakin tidak karuan. Lelaki itu hanya ingin mendapat waktu lebih leluasa bersama seseorang yang tengah berdiri di depanya itu.

Ia menghentikan langkahnya tepat di depan laki-laki itu. Tidak begitu jelas, bahkan ruangan tersebut hanya diterangi oleh cahaya remang-remang dari lampu tua. Sementara laki-laki itu sepenuhnya tertutup oleh bayangan.

Mengingat kejadian beberapa hari lalu yang benar-benar membuat keadaan menyudutkan mereka berdua. Tepat saat salah satu dari mereka menyandang status buronan polisi.

18 Desember 2015

Malam ini hujan salju mengguyur langit Seoul. Tidak begitu deras namun cukup membuat kedua manusia yang sama-sama lupa untuk membawa payung menggigil kedinginan.

Baekhyun cekat melepaskan jaketnya kemudian menggunakanya untuk melindungi mereka berdua dari deruan hujan salju. Lenganya mengitari kepala seorang gadis yang tengah berada di sampingnya. Mencoba melindunginya dari salju yang berjatuhan sampai ke tempat yang lebih teduh.

Mereka berlari bersama di bawah naungan jaket Baekhyun hingga ke seberang jalan. Membawanya menuju ke halte bus. Ia mengusap kedua telapak tanganya sembari sesekali meniupnya membuat kehangatan kecil bagi dirinya. Begitupun gadis di sampingnya.

Hening di antara mereka berdua. Mengingat keadaan Baekhyun beberapa waktu lalu yang memaksanya untuk rehat dari gadis cantik itu. Bahkan mungkin lebih tepatnya pergi darinya.

Dengan kepingan salju yang tak henti-hentinya menampakan harapan nol untuk reda dan rasa canggung antara mereka membuat hawa dingin semakin menusuk paru-paru mereka. Bahkan setelah salah satu memutuskan untuk membuka pembicaraan, keadaan tersebut tidak berubah, sama saja.

“Hyun…”

“Eum.”

“Kau tahu–“ gadis tersebut memotong ucapanya sebentar kemudian tertawa kecil, “–lucu bukan?” Kedua bola matanya memandang lemah tiap kepingan salju yang jatuh menghantam tanah di depanya. Walaupun dengan tawa tipis menghiasinya, iris matanya tetap tidak memancarkan cahaya layaknya dulu.

Baekhyun mulai mengangkat kepalanya. Sejenak mengalihkan pandangan dari gumpalan salju putih di depanya. Ia memandang gadis tersebut. Gadis yang seharusnya sangat ia kenal sangat periang dan selalu tertawa di sampingnya dulu, kini ia hanyalah seorang yang benar-benar kehilangan cahayanya. Hanya tatapan sendu dan senyum palsu terlukis di wajah sayunya. Menyedihkan.

“Kita benar-benar melekat dulu. Layaknya kedua ujung mata pisau yang tidak dapat dipisahkan. Kau selalu ada untukku dan aku selalu ada untukmu. Begitu cara kita menjalani hari-hari. Namun melihat keadaan kita sekarang–“ ia menggantungkan kalimatnya.

“Sudahlah Krys. Itu masa lalu,” ujar Baekhyun lirih.

Krystal menghirup napas panjang lalu menghembuskanya. Terlihat air mata mulai menumpuk di pucuk matanya. Suaranya tergetar, “Kadang aku berpikir, dapatkah aku menyandingmu lagi layaknya dulu?”

“Tidak.”

“Kau berubah semenjak Taehyung pergi. Semenjak dia–“ belum sempat Krystal menyelesaikan ucapanya, Baekhyun menyelanya dengan nada meninggi, “Jangan bahas itu!” Kedua tanganya mengepal erat berusaha kuat menahan emosinya.

“Tapi aku masih menyayangimu, Byun Baek.”

Bus yang sedari tadi dinanti oleh Baekhyun kini datang dan berhenti tepat di depan mereka. Ia lantas bangkit dari tempat duduknya dan berjalan menuju bus tersebut.

“Begitupun aku. Maaf aku harus pergi sekarang,” ujarnya sebelum akhirnya ia meninggalkan Krystal sendirian di tempat itu. Namun matanya tetap lurus memandang gadis rapuh tersebut hingga hilang dari penglihatanya. Mau bagaimanapun ia tetap menyayangi gadisnya tersebut.

12 Juni 2012

Hujan deras mengguyur sebagian Korea dengan frekuensi sangat tinggi. Rombongan keluarga Baekhyun –dia, ayah dan ibunya beserta saudara lainya– sudah sampai di rumah kakeknya di Guangzhou, Korea untuk merayakan pesta atas kesuksesan perusahaan besar mereka. Acara perayaan tersebut juga nantinya sebagai pengumuman pertunangan Baekhyun dengan Krystal.

Namun disaat acara telah dimulai Taehyung, adiknya, masih saja belum menampakan diri. Sebelumnya ia memilih untuk menyetir mobil pribadinya daripada satu mobil bersama Baekhyun. Namun mereka terpisah saat kemacetan mulai memadati jalan dua jam yang lalu.

Kekhawatiran mulai menyelimuti Baekhyun. Ia benar-benar resah saat itu. Bagaimana tidak? Adiknya seorang diri belum juga datang dan hujan deras di luar sana. Bahkan prakiraan cuaca di televisi sempat memberitahukan bahwa kemungkinan malam itu akan terjadi badai. Sudah kesebelas kali ia mencoba menghubunginya lewat telepon namun ponsel Taehyung mati.

Ia benar-benar tidak dapat membayangkan apa yang dapat terjadi kepada adik semata wayangnya selain ia dapat sampai tujuan dengan selamat. Jika itu tidak terjadi maka…

Satu jam… Dua jam… masih tidak ada tanda-tanda kehadiran Taehyung maupun kabar darinya. Selama itu juga Baekhyun terus berharap Taehyung akan datang. Bahkan ia terus menerus menunda pengumuman pertunanganya dengan Krystal.

Ia terus menatap luar jendela kaca yang menampilkan sebuah badai mengamuk. Sebaliknya keadaan di dalam sangat aman dan nyaman. Bahkan di keadaan senyaman itu hatinya tetap saja tergoncang akan keadaan adiknya, Taehyung.

Seseorang berlari dari arah luar masuk ke dalam ruang utama. Ia tengah menggenggam ponsel dan tergesa-gesa menghampiri tuan Byun –kakeknya Baekhyun. Ia berbisik kepadanya. Entah apa yang ia bisikkan namun itu terdengar serius. Seperti perubahan mimik kakek yang tadinya tertawa bahagia kini murung seketika.

Kemudian dengan sebuah garpu yang ia ketukkan pada gelas upaya meminta perhatian ia memberikan pengumuman mendadak.

“Baiklah–“ ujarnya sembari sedikit mengambil napas panjang lalu menghembuskanya, “–baru saja kita kedapatan sebuah kabar buruk. Salah satu pelayanku mengatakan rumah sakit baru saja menelpon kami untuk memberitahukan bahwa–“ ia kembali memotong ucapanya. “–salah satu pewaris kami, anggota keluarga besar kami, Taehyung mengalami kecelakaan mobil yang mengakibatkan ia kehilangan nyawanya saat perjalanan kemari dikarenakan badai hingga membuat mobilnya terbalik lalu menghantam pembatas jalan.”

Rasanya sebuah jangkar raksasa menghantam kepala Baekhyun. Ribuan pisau menghujat jantungnya seketika. Gelas yang tadi digenggamanya kini jatuh dan pecah berkeping-keping. Atmosfirpun ikut menipis bersama udara yang kian bertambah dingin. Bahkan untuk mengambil napas lega baginya sangat mustahil.

Malam itu, 12 Juni 2012, malam saat peristiwa kelam itu terjadi. Ia kehilangan adiknya, Taehyung, untuk selamanya.

Malam itu adalah malam paling kelam dalam hidup Baekhyun karena satu-satunya adik yang ia miliki, seluruh jiwanya, telah pergi. Bersama itu pula telah pergi seluruh rasa ceria maupun canda tawa Baekhyun. Malam itu hatinya telah tertutup oleh senyuman. Hanya penyesalan dan rasa bersalah yang tertinggal.

Karena baginya Taehyunglah jiwanya, Taehyunglah hidupnya. Tanpa Taehyung ia bahkan tak dapat berdiri tegak. Tanpa Taehyung, ia mati.

22 Desember 2014

“Jadi bagaimana?” tanya seseorang yang tengah berjalan memutari Baekhyun yang sedang duduk di sudut ruangan kantor kepolisian.

Baekhyun yang mulai kesal menggebrak meja di depanya, “Sudah kubilang itu bukan aku!”

Polisi itu malah berhenti di depan Baekhyun dan ganti memukul meja yang sama. Ia mulai mendesak Baekhyun, membuatnya benar-benar muak akan tingkah polisi yang menuduhnya tanpa bukti tersebut.

“Apa harus aku jelaskan lagi, huh? Orang dalam foto dan rekaman cctv itu bukan aku! Apakah kau rabun?!”

BRAGG! Ia kembali menghempaskan tanganya pada meja tak bersalah tersebut. Ia mencengkeram erat-erat dua buah foto yang menunjukan seorang laki-laki berambut cokelat dengan mantel tebal dan kacamata hitam bersama seorang gadis yang tak lain adalah Krystal, mantan kekasih Baekhyun. “Lihat! Jelas-jelas ini kau! Siapa lagi orang yang mirip dengan orang di foto ini tengah bersama dengan keponakanku, huh? Kau mantanya, bukan?”

“Lalu apa hubunganya denganku? Apa keuntungan yang aku peroleh jika benar aku pelakunya?”

“Ada saja! Pasti kau dendam denganya, bahkan sekarang kau masih mencintainya. Akui saja!”

“Kenapa anda sangat keras kepala, tuan?”

Keadaan makin ricuh saja di antara mereka berdua. Dengan tidak ada satupun di antara mereka yang mau mengalah benar-benar membuat keadaan tersebut kacau. Bahkan belasan pasang mata yang juga menyaksikan perseteruan antara Baekyun dan polisi secara live di ruangan tersebut tetap saja tidak menggugah niat mereka untuk menurunkan nada bicaranya. Hingga seseorang masuk dan melerai mereka.

“Ma– maaf saya menyela. Saya terlambat karena sedang turun salju di luar. Saya teman Baekhyun, Chanyeol,” ujarnya sembari membungkukan badan meminta maaf selanjutnya sebagai tanda hormat.

“Anak muda, apakah kau kenal Krystal?”

“ Iya, dia teman kami.”

“Lihatlah foto ini!” ujarnya sembari menyerahkan foto yang tadi ia cengkeram erat kepada Chanyeol, “ini diambil tepat dua jam sebelum kejadian itu, artinya selama kejadian itu berlangsung hanya orang ini yang bersama dengan Krystal. Jadi pasti dia pelakunya!”

“Tenanglah dulu paman, biar aku periksa fotonya.”

Baekhyun yang sedari tadi duduk menunggu pembelaan Chanyeol kini angkat bicara, “apa lagi yang perlu diperiksa, Chanyeol? Kau temanku, bukan? Kau percaya padaku bahwa aku tidak mungkin melakukan hal semacam itu.”

“Tapi, Baekhyun, memang kau yang paling mirip dengan orang ini dan kau yang punya kaitan dengan Krystal. Pikirkanlah, Taehyung sudah meninggal tiga tahun yang lalu, tidak mungkin itu dia,” ujar Chanyeol pelan.

Entah apa yang tengah menghujat hatinya hingga sahabatnya sendiri menuduhnya sebagai pelaku tindak kejahatan.

Baekhyun berpikir sejenak. Memikirkan apa yang telah terjadi dan apa yang akan terjadi. Memang benar ucapan Chanyeol. Taehyung sudah meninggal tiga tahun yang lalu dalam kecelakaan mobil jadi tidak ada lagi yang dapat ditumpahkan kesalahanya. Apakah Baekhyun harus mengakuinya?

21 Desember 2015

Krystal tengah bersandar sendirian pada tiang lampu hias di taman kota. Kedua tanganya lembut ia usapkan dengan sesekali ia menghembuskan napasnya mencari kehangatan. Sudah berkali-kali ia menengok jam di ponselnya begitupun notifikasi yang masuk.

“Huuft… lama sekali. Dimana orang menyebalkan itu?”

Masih beberapa menit ia berdiri di tempat itu. Bahkan baru saja ia ingin beranjak dari tempatnya lalu pegi namun seseorang telah menghampirinya.

“Krystal… maaf aku terlambat. Apakah kau sudah lama menungguku?” tanyanya yang setengah berlari menghampiri gadis yang hampir menjadi patung es karena membeku kedinginan tersebut.

“Tidak begitu, hanya sekitar empat puluh dua menit yang lalu,” jawabnya sembari menampilkan mimik lelah.

Laki-laki itu tersenyum tipis kemudian tanganya pelan meraih tangan Krystal, menggandengnya lalu pergi dari tempat. “Mari kita bersenang-senang lalu makan kue ttok!” serunya sambil menarik tangan Krystal menuju wahana biang lala.

Mereka menghabiskan waktu mereka bersama. Tertawa berdua setelah lama mereka tidak merasakan kebahagiaan seperti ini. Lama sekali setelah Krystal gagal bertunangan dengan Baekhyun dan kehilangan kontak sepenuhnya denganya.

Dua jam setelahnya mereka tengah berada di sebuah cafe di sisi kota Seoul. Bercengkrama ria setelah sangat lama keadaan berbalik memisahkanya. Bahkan di sela-sela canda tawa tetap ada keraguan dan penyesalan yang tertera.

“Krys–“ panggilnya pelan, “sudah lama kita tidak seperti ini.”

Krystal tertawa kecil lalu melanjutkan aktifitasnya menengguk secangkir cappucinno hangat di hadapanya.

“Krys… aku menyayangimu. Biarkan aku kembali padamu. Izinkan aku mencintaimu layaknya dulu,” pintanya lirih sembari mengusap cangkir putih khas cafe di atas mejanya. Krystal tertegun lalu menghentikan aktifitasnya meminum kopi tersebut. Ia diam, seribu bahasa. Hanya hening yang menyelimuti mereka saat itu. Bahkan dengan hawa dingin pada musim itu dan rasa canggung yang ada rasanya semakin membuat dingin itu menusuk paru-paru.

Hening.

Lima belas menit berikutnya Krystal telah terbaring di lantai cafe tidak bernyawa. Sebuah pisau menancap tepat di perutnya dengan darah yang bekesimbah. Sesuatu telah terjadi. Sesuatu yang buruk telah terjadi kepadanya, tidak, kepada mereka semua.

Polisi telah berdatangan dengan sirine mereka yang memekakkan telinga. TKP telah diamankan. Bahkan mayat Krystal telah dibawa ke rumah sakit untuk pemeriksaan lanjut. Namun laki-laki itu telah pergi bahkan sebelum seseorang di cafe tersebut menyadari identitasnya.

24 Desember 2015

Belasan mobil polisi telah mengepung gedung tua tersebut. Sirinenya terus menerus mengeluarkan bunyi yang makin membuat lelaki itu geram. Rasanya benar-benar memuakkan baginya. Bahkan rasa ketakutan menyelimutinya detik ini.

“Bagaimana kabarmu, hyung?” tanya seorang laki-laki yang tengah duduk di sofa tua. Seluruh tubuhnya tertutup oleh kegelapan cahaya lampu tua yang tidak dapat meraih tubuhnya.

“Kau tidak perlu khawatirkan aku. Seharusnya aku yang menanyakan kabarmu setelah beberapa hari peristiwa itu terjadi,” ujarnya yang tengah berdiri tegap tepat di bawah cahaya lampu tua yang walaupun remang-remang tersebut namun dapat menampakan postur tubuh pendeknya.

“Apakah kau baik-baik saja?”

“Hanya jika ada dirimu,” jelasnya singkat. “Jadi bagaimana?”

“Aku akan keluar dari pintu itu sebagai diriku, menggantikanmu. Namun sebelum itu aku ingin menanyakan satu hal padamu,” ia memotong ucapanya, menunggu reaksi dari seseorang yang tengah duduk di depanya, “apakah kau senang telah melakukanya? Dengan membunuhnya?”

“Tentu. Aku sangat mencintainya seperti dirimu. Bedanya ia lebih memilih untuk mencintaimu. Bahkan setelah kecelakaan tiga tahun yang lalu, ia masih mencintaimu.”

“Baiklah kalau itu membuatmu senang. Selamat natal,” ujarnya sembari tersenyum tipis. Ia mendekatkan dirinya kepada lawan bicaranya tersebut.

“Terimakasih, hyung,” ujar laki-laki tersebut setelah bangkit dari tempat duduknya dan berjalan menuju hyungnya hingga cahaya perlahan-perlahan menyinarinya, menampakkan tubuhnya sedikit demi sedikit hingga sepenuhnya menampilkan wajah yang telah lama tersembunyi dari dunia luar.

“Aku menyayangimu, Taehyung,” ujar Baekhyun memeluk adiknya singkat sebelum akhirnya ia keluar dari pintu tersebut meninggalkan Taehyung sendiri dalam gedung tua tersebut dan keluar sebagai terpidana palaku pembunuhan Krystal Jung.

Polisi lekas berlari menghampirinya lalu menggiringnya ke mobil patroli untuk persidangan esok. Kedua tangan Baekhyun diborgol erat dan Taehyung hanya dapat memandang kakaknya dari jendela gedung tua tersebut. Memandang kakaknya pergi meninggalkanya.

Percayalah apapun akan ia lakukan dengan sepenuh hati demi melindungi adiknya, demi membuat adiknya bahagia.

21 Desember 2015

Krystal tertawa kecil lalu melanjutkan aktifitasnya menengguk secangkir cappucinno hangat di hadapanya.

“Krys… aku menyayangimu. Biarkan aku kembali padamu. Izinkan aku mencintaimu layaknya dulu,” pintanya lirih sembari mengusap cangkir putih khas cafe di atas mejanya. Krystal tertegun lalu menghentikan aktifitasnya meminum kopi tersebut. Ia diam, seribu bahasa. Hanya hening yang menyelimuti mereka saat itu. Bahkan dengan hawa dingin pada musim itu dan rasa canggung yang ada rasanya semakin membuat dingin itu menusuk paru-paru.

Ia kemudian menengguk kopinya sejenak, baru ia angkat bicara, “Tidak, Taehyung. Maaf, tapi aku hanya mencintai kakakmu, Byun Baekhyun.”

Taehyung sontak beranjak dari tempat duduknya. Mengambil sebuah pisau yang tersembunyi dalam mantel tebalnya, mengarahkanya tepat pada dagu Krystal. Krystal yang ketakutan tidak dapat berbuat apa-apa selain menahan dirinya agar dalam posisi itu dan tidak terjatuh tepat pada mata pisau tersebut. Karena ia tahu jika ia bergeser sedikit saja maka Taehyung tidak akan segan-segan menusukan pisaunya tepat pada wajahnya tersebut.

Air mata Krystal sudah tak terbendung lagi, bahkan ia benar-benar ketakutan detik ini. Seluruh orang yang menyaksikan kejadian tersebut hanya bergidik ketakutan dan berusaha menjauh dari amarah Taehyung.

Tangan kiri Taehyung erat mencengkeram kedua tangan Krystal sementara tangan kananya kokoh menggenggam pisau yang ujungnya ia jatuhkan tepat di bawah dagu Krystal.

“Byun Baekhyun! Selalu dia! Apakah hanya dia yang selalu ada dipikiranmu, huh?!” seru Taehyung dengan nada tinggi.

“Tae.. Taehyung… kumohon lepaskan aku.”

“Kau pikir aku akan melepaskanmu? Kau salah!” dia semakin mengangkat ujung pisaunya, memaksa Krystal menghadap kedua matanya.

Krystal benar-benar ketakutan. Ia kenal Taehyung. Ia tahu bahwa Taehyung akan melakukan apa saja untuk mendapatkan keinginanya. Bahkan ia tahu apa akibat atas perbuatanya kali ini.

“Lepaskan aku Taehyung, kumohon… jangan buat dirimu menyesal,” pintanya lirih di sela aliran air matanya yang mengalir deras.

“Jika aku tidak dapat memilikimu, maka tidak ada satupun seorang di dunia ini yang memilikimu. Tidak seorangpun, maupun itu Baekhyun hyung!”

Ia akhirnya melepaskan genggamanya lalu menarik pisaunya kembali. Mungkin kalian berpikir Taehyung sudah berhenti, namun kalian salah. Ia mendorong tubuh Krystal hingga bertabrakan dengan tembok lalu dengan sangat cepat ia menusukkan pisaunya tepat di perut Krystal.

“Ini akibat untukmu karena telah menyebut nama laki-laki berengsek itu di depanku!” ujarnya marah. Ia menarik keluar kembali pisaunya dari tubuh Krystal. Lalu menusukkanya untuk yang kedua kalinya. “Ini karena kau telah mencampakanku!” lalu ia terus menarik dan menusukkan pisaunya itu berkali-kali.

Darah berkesimbah di mana-mana. Bahkan sebuah aliran darah keluar dari mulut Krystal. Baru saat itu Taehyung berhenti menyiksanya dengan pisau kesayanganya itu.

Ia menarik tubuhnya menjauh dari Krystal. Tanganya berlumuran darah, begitupun dengan pisau yang telah ia jatuhkan ke lantai ketika melihat Krystal telah tidak bernyawa. Ia telah pergi, Krystal telah mati karena ulah Taehyung sendiri.

Waktu itu rasanya membeku. Terhenti begitu saja ketika Taehyung menyadari gadis yang paling ia sayang telah pergi untuk selamanya dari hidupnya karena tingkah konyolnya. Setitik air mata menetes dari pucuk mata indahnya. Detik itu juga dia benar-benar kehilangan dirinya.

Ia kemudian lari dari tempat itu. Pergi meninggalkan Krystal yang terbujur kaku penuh oleh darah. Baginya cukup melihat Krystal menderita seperti itu sekali seumur hidupnya.

Krystal telah mati. Satu-satunya cahaya di hidupnya telah padam untuk selamanya.

25 Desember 2015

Pagi ini muncul berbagai berita tentang pengepungan dan penangkapan Baekhyun yang berlangsung semalam. Beberapa saluran televisipun juga memuatnya sebagai berita utama.

“Pihak polisi telah menangkap dan menahan tersangka pembunuhan sadis seorang gadis bernama Krystal Jung di sebuah cafe pada tanggal 22 Desember 2015. Sebelumnya tersangka membantah tuduhan sebagai pelaku pembunuhan Krystal pada persidangan sebelumnya. Namun setelah dua hari melarikan diri akhirnya ia mengakui kesalahanya dan menyerahkan diri kepada polisi pada malam Natal, 24 Desember 2015. Ia akan dijatuhi hukuman maksimal seumur hidup penjara. Dari tempat kejadian saya melaporkan.”

Semuanya telah berakhir. Krystal mati terbunuh dan Baekhyun dipenjara karena tuduhan pembunuhan terhadap Krystal.

Sementara Taehyung? Ayolah kau tahu ia akan bahagia di luar sana.

Walaupun tidak ada orang yang menganggapnya ada.

♣♣♣

Kau tahu, kau rela melakukan apapun untuk orang yang kau cintai, bukan?
Sama sepertiku, aku rela melakukan apapun demi adikku, Taehyung. Karena dia cahayaku, menerangi sisi gelapku, membuat hari mendungku lebih cerah. Tanpa dia aku takkan dapat bersinar terang. Tanpa dia aku mati.

Karena dia seluruh hidupku.

Bahkan, jika ia memintaku untuk mengorbankan hidupku atau membunuhku, aku akan mengabulkan permintaanya.
Dengan sepenuh hati.

Byun Baekhyun
30 Mei 2015

♠♠♠

Goodbye May, Hello June

Hay guys! \(^_^)/ aku comeback setelah hiatus UKK! Yeay!
Jujur, ini fanfiksi bergenre crime pertamaku –setelah DLA series tentunya. Dan entah mengapa aku pingin pake cast kedua namja beda appa eomma tapi kembar ini, eh?

Dari dulu pingin buat brothership tapi baru kesampaian. Dulu sih pingin buat pairing HunHan tapi apalah apa jadinya malah Hyun family (Baekhyun+Taehyung+Daehyun) karna aku pernah baca ffnya kak morschek96 yang ‘Just A Symphony’ dan aku kerasa karakter Baekhyun dan Taehyung sebagai kakak adek itu kuat banget /bukanya itu karna bias author?/ hehe itu juga sih

Yaudah, gitu aja, comment jusseyo!

Iklan

Review And Chat here!

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s