[Request] Hitori Kakurenbo

hitorikakurenbo

Hitori Kakurenbo

Adapted form Urband Legend — Hitori Kakurenbo (Hide and seek by yourself)

Riddle, Supranatural, Horror (ah, idk -,-)

Writing based on request by fiolacindy, who ask me to write some riddle fic (altough i think it’s failed at all. WTF :P) Hope ya like it 😉

Kim Minseok, Lu Han, and SeHun.

_________

“Bah! Itu legenda basi.” SeHun berkomentar.

Lelaki itu memutar cangkir kopinya. Sedangkan aku dan Lu Han hanya mengangkat alis memandangnya. Aku hanya berpikir kalau lelaki itu terlalu bebal sehingga dia bisa memuncratkan kalimat itu sekonyong-konyong lewat bibirnya.

“Kau tidak tahu apa yang kau bicarakan.” peringat Lu Han. Dia mengetukkan jarinya diatas meja. Bibirnya mengerut khawatir ketika mengamati raut tertarik SeHun yang kelihatannya bukan main-main. Lelaki itu agak bermasalah dengan kelenjar adrenalnya. Adrenalinnya diproduksi terlalu parah.

“Kau tidak akan berkata bahwa kau akan mencoba, kan? SeHun?” tanyaku hati-hati.

Namun menitik dari seringai wajahnya, aku kehilangan harapanku. Dia adalah makhluk paling keras kepala yang aku kenal seantero hidupku.

“Kita bertiga akan bermain bersama, Minseok. Ini akan seru, aku jamin. Kita akan baik-baik saja.” ujarnya.   Wajahnya terlihat begitu yakin. Hingga kau akan kehilangan akal dan langsung saja bisa mempercayainya.

“Aku peringatkan, itu bukan ide yang bagus, yang jelas aku belum siap mati muda.” ujar Lu Han tegas. Lelaki itu sudah menjadi penghuni Jepang lima tahun lebih lama dibanding kami; Lu Han adalah orang China tulen yang tinggal di sini. Sedangkan aku migran Korea, dan SeHun jelas berasal dari tempat yang sama denganku, poin plusnya, dia adalah lelaki yang bodohnya setengah mati, jadi mempercayai Lu Han adalah pilihan terbaik dibanding mengikuti kehendak sinting SeHun.

Lu Han memilih kembali lebih awal ke kampusnya setelah menegak tetes terakhir isi cangkirnya. Sedangkan aku dan SeHun masih berada di sana. Lelaki itu terlihat konyol dengan kegiatannya memutar-mutar sendok dalam cangkir. Aku tahu persis apa yang dia pikirkan. Tapi aku tidak berminat mati mengenaskan dengan mengikuti permainan —atau, yang lebih cocok disebut ritual itu.

Namun menentang pendapat SeHun bukanlah hal mudah. Apapun yang terjadi, SeHun akan menaruh semua hal tepat di jalannya, bagaimana ia ingin dunia berputar seperti kehendaknya. SeHun seambisius itu. Jika saja diimbangi dengan kewarasan yang normal, mungkin itu bisa saja digolongkan menjadi sesuatu yang positif.

Jadi, pada kamis malam, lelaki itu membawa pulang sebuah boneka beruang putih yang imut. Aku nyaris berpikir bahwa dia ingin memberikannya pada kekasih barunya. Tapi gagasan itu ludes seketika begitu kepalanya menyembul di kamarku seraya berkata, “Hey, Minseok, Lu Han kita bersenang-senang malam ini. Kita akan bermain Hitori Kakurenbo.”

Rahangku terjatuh seketika.

SeHun membaca kertas berisi aturan main yang dituliskan oleh salah satu temannya. Lu Han hanya terdiam memandangi lelaki itu, wajahnya terlihat agak takut; pemaksaan SeHun dan iming-imingan hadiah menggiurkannya; sehingga ia tetap tinggal. Sedangkan aku tidak mungkin meninggalkan keduanya sendirian. Jadi disanalah aku, pagi buta sekitar pukul setengah tiga, berdesak-desakan dengan SeHun dan Lu Han di kamar mandi, dengan sebuah boneka yang isi perutnya telah dikeluarkan.

SeHun menggantikan kapas dari dalam perut boneka itu dengan beras. Kemudian memotong kukunya dan memasukkannya, lantas meneteskan sedikit darah di sana; sialnya, dia menyuruhku dan Lu Han melakukan hal yang sama.

Seusai itu, SeHun menjahit kembali boneka yang dibedahnya dengan benang bewarna merah. Aku tidak tahu apa maksudnya, namun aku menunggu dengan sabar. Lagipula bukan seperti aku antusias saja mengikuti permainan ini.

Lantas, SeHun menepuk boneka itu dengan lembut dan membisikkan kata-kata di telinga sang boneka, “Namamu Lily, mulai sekarang, kau kupanggil Lily.” Aku berjengit mendengarnya. Kelihatannya Lu Han juga menunjukkan ekspresi serupa. Entah mengapa, mulai detik itu aku merasa ada yang tidak beres. Suhu udara menurun drastis; namun SeHun tersenyum ganjil untuknya.

“Hei, Minseok, nyalakan keran airnya. Biarkan baknya penuh.” Pinta SeHun karena jangkauan keran air lebih dekat denganku. Aku melakukannya dan menunggu bak itu penuh, sementara SeHun melarutkan garam dapur dengan air dalam tiga botol minum, dan memberikannya satu kepadaku, satu pada Lu Han.

“Ini akan mudah, Minsok, Lu Han. Jika kau mendengar hal aneh-aneh, dan merasa sudah dipuncak, selesaikan permainannya. Tidak harus aku, kau, Lu Han atau kau, Minseok. Siapa yang merasa butuh harus segera melakukannya, oke?” pinta SeHun lagi. Aku menegak air liurku sendiri, namun aku menangguk. Lu Han terlihat lebih parah, kelihatannya dia tidak main-main soal ketakutannya. Wajahnya memucat dan keringat membanjiri keningnya, aku menepuk punggungnya untuk meyakinkannya. SeHun memang benar-benar hilang akal.

SeHun tersenyum dan menaruh Lily dan membiarkannya mengambang diatas air bak mandi, ditangan lelaki itu terdapat pisau dan botol air garam. Lantas ia tersenyum, dan berkata, “SeHun, Lu Han dan Minseok, yang pertama!” dia mengulangnya tiga kali.

Permainan ini sudah dimulai. Tidak ada jalan untuk kembali.

SeHun menarik kamarku meninggalkan kamar mandi dan menanggalkan aliran listrik pada setiap lampu di seluruh apartemen. Jadilah tempat ini gelap gulita, satu-satunya penerangan adalah televisi yang tetap dibiarkan menyala, dengan menayangkan adegan ‘semut bubar’ atau apalah kau menyebutnya; yang jelas hanya gambaran titik-titik dimana-mana dengan suara yang tidak enak di dengar.

Kami berlari ke kamar SeHun. Dan seperti yang dianjurkan teman SeHun, aku dan Lu Han memilih untuk masuk ke dalam almari, yang lebih aman. Sedangkan SeHun berada di bawah meja sebelah lemari; mengklaim bahwa yang lebih ekstrem akan lebih seru. Tapi untuk yang satu itu, aku tidak mau ikut-ikutan.

Aku mencengkram erat botol minuman ditanganku begitu mendengar hitungan SeHun, yang terdengar mengerikan diantara kesunyian. Keringat mengaliri pelipisku sedangkan aku seratus persen tegang.

“Satu.” Kami akan baik-baik saja.

“Dua.” Tidak ada yang terjadi.

“Tiga.” Aku tidak yakin.

“Empat.” Aku ingin menghentikan semuanya.

“Lima.” Aku ingin lari dari permainan ini.

“Enam.” Aku merasakan napas Lu Han disebelahku memberat. Dan kelihatannya milikku juga.

“Tujuh.” Aku merasakan keringat mengalir dipelipisku sendiri.

“Delapan.” Aku kembali merasakan hasrat untuk meninggalkan rumah sekarang juga.

“Sembilan.” Tinggal sedikit lagi.

“Sepuluh.” Kami baik-baik saja.

SeHun membuka lemari baju dan tersenyum pada kami. Ia mengajakku dan Lu Han kembali ke kamar mandi. Tidak ada yang berubah. Lily masih ada di sana, mengapung diatas air. Aku bertukar pandang dengan Lu Han. Sedangkan SeHun terlihat tidak terkejut. Ia mengangkat Lily dengan kedua tangannya, kemudian berkata, “Aku menemukanmu, Lily.” Kemudian lelaki itu menggunakan pisau ditangannya untuk menusuk dada Lily, memastikan beberapa benang merah rusak. Lantas meninggalkan pisaunya di dekat bak mandi.

“Sekarang, yang kedua, Lily yang jaga.” dan dia mengatakannya tiga kali seperti sebelumnya, lalu dia menarikku serta Lu Han kembali ketempat persembunyian kami. Lu Han dan aku berdesakan di almari, menahan rasa panik dan takut.

Lima menit pertama tidak ada yang terjadi.

Namun setelah itu, barulah semuanya dimulai; jika aku jadi SeHun, mungkin aku akan menganggap ini adalah sisi paling menyenangkan. Sedangkan jika aku jadi Lu Han aku akan menganggap ini bagian paling mengerikan. Tapi aku memilih untuk setuju dengan Lu Han.

Suara televisi yang awalnya adalah ‘semut ruwet’ yang tidak nyaman di dengar mulai pindah-pindah saluran. Aku menatap Lu Han was-was. Dia di sini, tepat disebelahku dan aku tidak mendengar pergeseran apapun dari SeHun diluar. Dan aku cukup yakin kami bertiga tidak ada yang memegang remote.

Kedua tanganku gemetaran.

Suara televisi itu berubah begitu cepat. Namun sempat kutangkap suara ‘aku’ sebelum saluran berganti, dan suara dilanjutkan dengan kata ‘akan’, lalu saluran berganti lagi sedemikian rupa hingga menunjukkan adegan dengan suara ‘menemukanmu’.

Lu Han mencengkram pergelangan tanganku.

Suara televisi berubah, mengeluarkan penggalan kata ‘Lu’ kemudian berubah lagi dan suku kata ‘Han’ terdengar. Tak lama, diikuti penggalan kata ‘Se’ kemudian ‘Hun’. Dan aku cukup yakin setelahnya namakulah yang akan disebut oleh perubahan cepat Channel televisi itu. Dan benar, kata ‘Min’ terdengar, lalu barulah, ‘Seok’ muncul.

Satu lagi kalimat, “Aku akan menemukan kalian.” terdengar dari televisi itu lagi.

Seluruh badanku begetar hebat, cengkraman tangan Lu Han semakin erat.

“Apa kalian di sana?”

“Lily akan menemukan kalian. Tunggu aku.”

Suara telapak kaki terdengar dari kejauhan, dan gemanya semakin jelas dan jelas dan aku cukup yakin jika suara itu menandakan bahwa apapun yang berjalan, hal itu segera akan sampai di sini, terdengar semakin dekat dan dekat saja.

Lu Han menangis. Aku menyikap bibirnya dengan tanganku yang longgar untuk tidak menimbulkan suara. Satu ketukan jaripun bisa mengancam nyawa kami.

Lu Han menggeleng padaku. Dia mendorong tanganku menjauh dan wajahnya panik sepenuhnya. Ia membuka almari dan berlari menjauh. Aku sempat ikutan takut namun aku tidak boleh mengikutinya. Aku menutup almarinya kembali dan kemudian mendengar tapak kaki tergesa-gesa yang semakin menjauh, aku bisa memastikan itu milik Lu Han karena pada detik berikutnya, kudengar jeritannya yang menyakitkan. Aku menangis pada detik itu juga. Aku khawatir aku tidak bisa meyakinkan diriku sendiri bahwa ia baik-baik saja.

Aku merasa benar-benar kalut, berada di dalam almari itu sendirian. Kucengkram botol minumanku dengan benar-benar erat; namun berusaha tidak menimbulkan suara.

Dan suara tapak kaki kecil itu terdengar lagi.

Ritme jantungku meningkat berkali-kali lipat.

Aku masih tidak mau mati konyol disini; ataupun saat ini.

Suara langkah kaki itu terdengar lagi, makin jelas dan semakin jelas diiringi dengan suara aneh seperti dentingan sendok, suara besi yang dibengkokkan, dan sejenisnya. Namun, tapakan kaki itu berhenti secara tiba-tiba. Semuanya hening. Tiada suara yang dapat kutangkap.

Aku mendengar suara geseran dari luar, kukira itulah saat dimana SeHun berusaha mencari Lily, namun pemikiran itu berubah begitu saja begitu aku mendengar suara teriakan. Suara SeHun yang berteriak begitu kencang, meringis kesakitan. Aku tidak tahu apa yang terjadi padanya; dan aku terlalu takut untuk mengetahuinya. Aku tidak berusaha mencerna apapun yang sedang terjadi karena itu hanya akan membuatku semakin panik; padahal aku sudah panik parah. Lantas, aku memasukkan air garam itu ke dalam mulutku perlahan, berusaha tidak menimbulkan suara dan tidak menelannya.

Tapak kaki itu kembali terdengar disertai suara keras televisi kembali mengatakan, “Aku sedang mencarimu, Minseok.”

Aku kembali mencengkram erat botol minumku.

Makin lama, suara tapak kaki itu semakin jauh. Dan aku cukup yakin bahwa keputusan yang paling benar untuk saat ini adalah menyelesaikan permainan ini.

Aku menarik napas kuat-kuat. Kupastikan botol air garam masih ditanganku dan membuka almari. Kunyalakan senterku kemudian menahan napas begitu melihat tubuh SeHun yang terkapar di tengah ruangan, dengan bekas luka benda tajam di bagian dadanya.

Aku segera berlari dan membuka pintu, menuju ke kamar mandi secepatnya. Begitu kubuka pintunya, seperti dugaanku, Lily sudah tidak lagi mengapung di atas air bak mandi.

Aku menahan napas dan segera keluar dari kamar mandi, kukelilingi seluruh bagian rumah, bahkan sempat mengintip keluar, namun hal itu cukup kuselali. Karena aku memukan Lu Han juga terkapar di luar rumah, posisinya tengkurap, aku tidak melihat dirinya terluka, namun aku tidak yakin apa dia masih hidup atau tidak. Aku bahkan tak berani berharap banyak.

Aku harus segera menemukan boneka itu, apapun yang terjadi. Permainan ini harus diselesaikan. Aku berjalan di koridor dekat kamarku sendiri. Berusaha menjaga ritme langkah dan tidak terlalu berisik, berusaha mengumpulkan seluruh keberanianku.

Namun tiba-tiba terdengar suara dari belakang. Terdengar suara gemrisik bergerak pelan. Aku berusaha mengarahkan kedua mataku tetap kedepan. Namun begitu mendengar suara bedebum keras, organ reflekku memerintahkan kepalaku menoleh ke belakang cepat.

Itu adalah pilihan paling salah yang kuperbuat seumur hidupku.

Cengkramanku pada botol minum terlepas, air garam di dalam rongga mulutkupun tertelan. Botol kaca terjatuh dari tanganku, suara pecahnya menyakiti telingaku.

Dan selanjutnya, kurasakan sebilah logam menikam dadaku. Aku berteriak sekencang mungkin namun aku tahu aku tidak punya harapan. Aku terkapar, hal terakhir yang kupikirkan adalah SeHun dan Lu Han, sedangkan hal terakhir yang aku lihat adalah seringaian dari Lily.

“Aku menemukanmu, Minseok. Kau sekarang milikku.”

***

Hal yang perlu diingat dalam permainan :

  1. Jangan pernah meninggalkan permainan sebelum kau menyelesaikannya.
  2. Jangan ada orang lain di dalam rumah selain pemain resmi.
  3. Jangan pernah meninggalkan rumah saat permainan berlangsung; bisa disebut diskualifikasi.
  4. Jangan pernah membuat suara sekecil apapun.
  5. Bersembunyilah seaman mungkin, tempat paling aman adalah almari.
  6. Jangan pernah menoleh ke belakang.

Cara menyelesaikan permainan :

Temukan boneka teman ‘main’mu sebelum dia menemukanmu; semburkan air garam kepadanya dan berteriaklah “Aku menang!” tiga kali. Setelah itu, semuanya akan kembali seperti normal.

Terimakasih sudah bermain ^^

Iklan

15 pemikiran pada “[Request] Hitori Kakurenbo

  1. Nah, saya sebenarnya sudah ngebet baca ini waktu pertama datang (?) Tapi baru sempat sekarang, lama banget kan ya -__-
    hitori kakurenbo, saya juga pernah nulis cerita ini (dengan cast kai haha) nyali saya ciut seketika. PUNYAMU KOK KEREN BANGET SIHHH… punyaku cuma fokus ke bloody scenenya, ga ada tegang2annya huhu
    dan diksimu ituuu, saya jadinya iri juga D:
    omong-omong soal permainan, kan mereka main bertiga ya, jadi mungkin mereka bertiga yang bicara waktu menemukan lily, atau ‘Sehun, Luhan, Minseok menemukan Lily. Kami menang.’ tapi ini berdasarkan yang saya baca dari orang yang bermain, tapi aslinya ga tahu, ga pernah main soalnya hahaha

    Disukai oleh 1 orang

    • Nah, hahahahaha. Disini aku lbih suka tegang2nya sih dibanding bloody scene soalnya biar nyambung genre horror dibanding thriller emg difokusin ke situ, wkwkwk. Dan soal gamenya yg pas blg ke lily itu entahlah deh T-T kayanya sih bener kakak. Tpi kan kta gatau sebenernya gmn, barangkali mau nyobain bareng? XD

      Anyway, thanks for commenting, kak 🙂

      Suka

      • Nah, dulu saya ga bisa bikin yang tegang2 gitu (sampek sekarang sih). Dira aja deh yang main, nanti saya tunggu hasilnya hahaha anytime ya dira 😀

        Suka

  2. Sebenernya agak ragu mau baca ini ff. Takutnya nnt kalo udh terlanjur baca, jadi ga berani kemana2. Tapi, dengan tekad yang kuat dan rasa penasaran saya yg tinggi akhirnya saya baca ini ff. Daaannn setelah selesai baca, tb2 suasana menjadi mencekam. Auranya jadi gelap. Endingnya beneran engga berani kemana2. Tapi tetp deh, 5 jempol buat kak diramadhani. Ff keren. Sukses bikin saya yg parno-an ini tambah parno. Keep writing ya kak!!!!!!!! \^_^/

    Disukai oleh 1 orang

    • AStagaaaah…. gue kirain siapa, pake uname kai88 setelah lirik emailnya eeeehhh ternyata dek sekarayuputriazzahrah -_- pantesan kok parnoan kaya temen gue? ternyata emang temen gue -_____- btw, makasi udah meninggalkan jejak dan selamat karena udah ga berani kemana-mana 😛 😀

      Suka

  3. Oh my oh my oh my…. Huh ini bnr2 menyeramkan. Untung aja q bca rmhku rame. Gk kepikiran kl sampe2 q bca sndiri.an.
    Hy thor…… Ska urban legend ya??? Q blm prnh bca, tp biasanya urban legend ada sangkut pautnya ridle bkn sih? Lah… Kl ridle itu bru q ska.
    Buat lg dong thor kyk gni.an. Sbnrnya seru sih, tp ya… Gtu ada seremnya. Eh tp permainan ini beneran gk?
    Kyknya sgini aj deh thor q commentnya q bingung mau comment ap lg. Q tunggu ff lainnya….
    See ya in the other stories

    Disukai oleh 2 orang

  4. sehun kenapa kamu ngajak main yang aneh-aneh nak?
    kasian tuh minseok sama luhan…
    aku pernah baca aslinya, tapi pingin baca lagi di versi beda… dan hasilnya sumpah ini bikin merinding, aku gigit-gigit jari sendiri bacanya… horror banget!

    Suka

Review And Chat here!

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s