[Vignette] Their Problem

IMG_20150621_222906

 

“Kau tahu, aku sangat bersyukur wajah kita tidak identik” 

 

Their Problem 

 

Starring by EXO’s Chanyeol & 2NE1’s Dara 

 

Genre: Family | Rating: T | Length: Vignette

 

This story officialy belongs to me 

 

Dentuman musik yang menggebu-gebu sukses membuat kepalaku menjadi berdenyut tak karuan. Kududukkan tubuhku pada salah satu sofa di sudut ruangan sebelum tubuhku limbung, jemariku memijat salah satu pelipis dengan tekanan kuat. Kedua mataku bahkan begitu berat, tak sanggup memandang keadaan di sekeliling yang entah bagaimana kondisinya saat ini begitu salah satu DJ membesarkan volume musik.

Kupikir aku telah memilih alternatif yang buruk. Memang sudah tidak ada gunanya aku menyesalkan apa yang sudah terjadi, mau bagaimana lagi?

Kurogoh saku kemeja dan tak mendapati satupun panggilan masuk pada layar ponselku. Demi Tuhan, dimana kakak perempuanku yang satu itu? Ah, tidak mungkin aku mencarinya di antara kerumunan wanita dan pria yang tengah berdansa bebas di tengah lantai dansa, kan? Bahkan untuk berdiri saja rasanya tubuhku tak mampu.

Kurasa aku tak akan sudi terlibat maupun menyepakati apapun perjanjian yang ditawarkan oleh siapapun untuk kesekian kali.

 

 

Saat itu pagi yang cerah di hari Minggu, dan aku benar-benar mengutuk siapapun itu yang mengajukan rencana untuk mengadakan pesta prom esok lusa.

Ada isu yang mengatakan bahwa salah satu perwakilan anggota suatu organisasi mengusulkan rencana itu kepada pemilik yayasan sekolah, dan ia memperoleh persetujuan tanpa syarat. Prom, saat mendengar kata itu membuatku bergidik.

Ayolah, siapa lelaki maupun perempuan yang tidak malu apabila menghadiri acara itu tanpa menggandeng—ehm, pasangan.

Dan aku termasuk kategori itu.

Ah, jujur, aku bukanlah tipikal orang yang mengidam-idamkan gadis cantik nan ideal maupun popularitas. Namun salah satu sohibku yang bernama Kim Jongin telah membuat kesepakatan terikat, bahwa siapapun di antara kami berdua yang tidak membawa pasangan hukumannya adalah harus menyatakan cinta kepada setiap anggota cheerleader secara terang-terangan di lapangan basket.

Dapat kau bayangkan apabila semua gadis itu menolakku di hadapan seluruh penjuru sekolah? Ingin ditaruh dimana harga diriku?

Dan bodohnya, aku menyetujui kontrak itu. Sialan.

Kuacak rambutku frustasi seraya mengerang geram. Dan di waktu yang bersamaan, kakak perempuanku membanting pintu kamarku dengan ekspresi seolah-olah menangis. Ia menghentak-hentakkan kedua kakinya, berjalan ke arahku dan membanting tubuhnya di atas kasur hingga memantul. Kurasa ia juga tengah menghadapi hal yang berat.

“Aku harus bagaimana,” keluhnya dengan nada dibuat-buat seperti orang menangis. Ah tidak, kurasa ia benar-benar ingin menangis.

Noona,” ujarku, “ada apa?”

Dara, kakak perempuanku satu-satunya, hanya memandang kosong dan menggumam tak jelas. Yah, jujur,  aku tidak pernah mendapatinya frustasi seperti ini dalam kurun waktu tujuh tahun belakangan. Terakhir kali ia pernah uring-uringan seperti ini karena salah satu teman tak sengaja menghilangkan pekerjaan rumahnya sewaktu di sekolah menengah pertama. Dan kurasa kali ini masalah yang ia hadapi setipe, atau justru lebih kompleks.

Noona, kau tidak ingin menceritakannya kepadaku?” tawarku hati-hati. Ia hanya menggeleng lemah. Yah, walaupun ia begitu usil, tetapi aku merasa kasihan melihatnya seperti ini.

Noona, kalau kau benar-benar tidak memiliki kepentingan denganku tolong tinggalkan ruangan ini. Asal kau tahu, aku juga sedang frustasi.”

Kakak kini beralih memandangku dengan raut wajah heran, “Frustasi? Kau juga bisa frustasi?”

Mungkin karena sikapku dalam keseharian yang tak pernah mengeluh maupun bersedih, Kakak menjadi sedikit bingung melihat sikapku yang tak biasanya. “Yang benar saja, aku juga manusia yang dapat merasa kesal akan sesuatu.”

Kakak menatapku penuh selidik, membuatku sedikit tidak nyaman. “Biar kutebak, masalah remaja biasanya hanya berpusat pada asmara dan  persahabatan. Apa kau sedang mengalami depresi karena kedua hal itu?”

“Mungkin lebih menjurus ke topik asmara,” ujarku gugup seraya mengusap tengkuk, “aku tak memiliki pasangan untuk pesta prom esok lusa.”

Tawa sumbang Kakak menggema di seluruh penjuru kamar, “Astaga, kau belum memiliki pacar rupanya?”

Sial, jika aku tahu nantinya akan ditertawakan seharusnya tidak kukatakan sejak tadi. “Yah,” sesalku, “lalu aku harus bagaimana sekarang?” Menyewa anak gadis tetangga?”

Dan tepat setelah itu, Kakak menyentil dahiku cukup keras. “Bodoh, pemikiranmu benar-benar kelewat batas.”

Sejenak kami terdiam. Kakak mengusap-usap dagu dengan salah satu jemari tangannya, pandangannya menerawang menghadap langit-langit kamar. Bahkan dahinya memunculkan persimpangan, tanda bahwa ia sedang berpikir keras. Belum sempat aku bertanya apa yang sedang ia pikirkan, Kakak berseru gembira seraya menepuk-nepuk kedua telapak tangannya. Nyaris membuatku terjungkal kaget.

“Aku memiliki ide,” ujarnya, “tetapi kau harus membantuku juga.”

“Apa itu?” tanyaku penasaran. Sepertinya menarik.

“Ah, mengenai solusi masalahmu, aku akan memberitahumu nanti. Pokoknya, kau harus membantuku terlebih dulu.” Kakak buru-buru menambahkan, “Siapkan pakaian resmi yang bagus dan menarik, berdandanlah sebelum pukul tujuh malam. Hari ini kau harus menemaniku ke acara reuni teman-temanku.”

Aku mengernyit bingung. Bukankah ini permintaan yang konyol? “Hanya itu?”

Kakak kembali tertawa lepas, namun kali ini terasa janggal bagiku. “Ya, begitulah. Kuanggap ini sebagai kesepakatan sah!”

Ia beranjak dari kasur dengan wajah berseri-seri, seolah-olah telah melupakan penyebab mengapa ia mampir kemari dengan ekspresi sedih. Membayangkan solusi apa yang akan ia berikan membuatku jadi berasumsi yang tidak-tidak. Sebelum menutup kembali pintu kamarku dengan rapat, Kakak menyembulkan kepala dari balik pintu seraya tersenyum sumringah.

“Kau tahu, aku sangat bersyukur wajah kita tidak identik.”

 

 

Kalimat itu terus menerus terngiang dalam benakku, rasanya mencurigakan. Belum sempat aku beranjak dari sofa untuk menemukan keberadaan Kakak, seseorang mengguncang-guncangkan kedua bahuku cukup kuat. Kepalaku kembali berdenyut.

“Astaga, kau kemana saja, ha?” Suara yang tak asing itu mendengung dalam gendang telingaku. Perlahan aku mengerjapkan kedua kelopak mata dan mendapati Kakak berada tepat di hadapanku dengan raut wajah–khawatir?

“Seharusnya aku yang bertanya begitu kepadamu,” tuturku kesal.

Kakak hendak bersua, namun sepasang kekasih–mungkin–yang menghampiri kami membuat Kakak menjadi terkesiap. Tanpa aba-aba, Kakak mengamit lenganku dan menarikku hingga aku berdiri limbung–nyaris ambruk. Demi Tuhan, apakah aku terlalu kampungan mendengarkan dentuman musik rancu di tempat ini?

“Dara,” sapa pria berwajah maskulin di hadapan kami, “lama tidak bertemu, ya.”

Kakak mengangguk kaku, kurasa ia gugup. “Y–ya, senang bertemu denganmu.”

Wanita bertubuh mungil bergelayut manja pada lengan pria berwajah maskulin itu. Ah, mereka nampak serasi. Mengingatkanku kembali mengenai siapa pasanganku di pesta prom nanti, uh.

“Kau sudah menerima undangan  pertunangan kami?” tanya pria itu seraya menyandarkan kepalanya di atas kepala sang wanita di sampingnya.

Ah, ternyata benar mereka sepasang kekasih.

“Y–ya, aku menerimanya tadi pagi.” Dari sudut mataku, aku dapat menangkap gestur Kakak yang semakin gelisah. Benar-benar mencurigakan. Dan salah satu dari berbagai pertanyaan dalam benakku mendadak meluncur begitu saja, “Noona, sebenarnya apa yang sedang terjadi?”

Sepasang kekasih itu memandangku heran, seolah baru saja menyadari eksistensiku di sini. Lain halnya dengan Kakak yang tiba-tiba menyikut pergelangan tanganku cukup keras. Jika kami sedang tidak berada di tempat umum, mungkin aku sudah mengaduh lantang.

“Apa kau baru saja memanggil Dara dengan sebutan ‘Noona‘?” selidik pria itu. Dapat kutafsirkan bahwa ia benar-benar terganggu dengan keberadaanku, terlihat dari sorot matanya yang memandang rendah dan tak suka. Rasanya situasi semakin rumit.

“Ya, tentu saja. Dia kan—”

“Pacarku. Usia kami terpaut delapan tahun, wajar jika ia memanggilku ‘Noona‘.”

Gila! Kakak benar-benar gila. Apa yang ia ucapkan barusan? Aku pacarnya?

“Ah, begitu. Kau cepat juga menemukan penggantiku, ya.” Pria berwajah maskulin menyunggingkan senyum sinis kepadaku. Benar-benar, sebenarnya apa motivasi Kakak mempermalukanku seperti ini?

“Tentu,” sahut Kakak riang. Ia bergelayut manja pada lenganku, “Kami juga akan bertunangan dalam waktu dekat. Benar, kan?”

Apa-apaan!

Sungguh ini menjijikkan. Aku ingin mengelak dan meluruskan semua kebohongan ini, namun Kakak secara sengaja menginjak ujung sepatuku dengan heels-nya. Pijakannya yang kuat membuatku mau tak mau mengeluarkan jawaban yang tak terencana sebelumnya.

“Y–ya”

 

Demi Jenggot Merlin, rupanya kami sama-sama bermasalah dalam urusan pasangan hidup.

 

 

 

FIN 

 

 

Hai! Selamat menuaikan ibadah puasa bagi yang menjalankan /bow 

Sebelumnya maaf karena aku baru bisa nge-posting di sini setelah sekian lama. Ide benar-benar ngadat di tengah jalan, dan selalu datang di waktu yang tak terduga /ugh 

Selain kendala mengetik yang tersendat-sendat, diksiku pun nampaknya tidak menunjukkan perkembangan sama sekali /sigh 

 

Anyway, mind to review? Komen kalian sangat membantu 😀 

Iklan

7 pemikiran pada “[Vignette] Their Problem

  1. hahahaha ‘Demi Jenggot Merlin, rupanya kami sama-sama bermasalah dalam urusan pasangan hidup.’ demi apa ya, padahal dua orang itu punya tampang di atas rata-rata, tapi ternyata kalo mereka dinistakan asyik juga/eh?

    Disukai oleh 1 orang

Review And Chat here!

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s