Loser — Three

LOSER

“In the mirror, I’m just a loser; A coward who pretends to be strong.”

BigBang—Loser

SeHun, OC, and JongIn.

_____________________

Selamalaman SeHun habiskan waktunya untuk berpikir. Ia bertemankan secangkir kopi hangat (ngomong-ngomong SeHun sudah cukup gila kegandrungan kafein dalam berbagai macam jenis sampai efeknya tidak mempan lagi baginya), lelaki itu merenungkan apa yang terjadi, mencari-cari probabilitas terbesar yang menjadi sebab wajah sedih Hyera; dan itu sudah cukup tangguh untuk membuatnya ikut-ikutan depresi.

Keesokan harinya, SeHun menyisir rambut hitamnya menepi; menampilkan kesan rupawannya. SeHun tersenyum bangga akan refleksi dirinya di cermin. Kemeja biru langit, dasi merah bata, celana hitam yang serasi. Dengan itu semua, ia memutuskan untuk berangkat ke kantor.

Lelaki itu ingat ia dirangkul Jongin begitu memasuki gedung. Lelaki itu ribuan kali lebih cerah dibanding biasanya, wajahnya beraura keceriaan, diameter senyumnya pun lebih banyak dari biasanya. Tidak perlu waktu lama buat SeHun untuk berkesimpulan Kim Jongin benar-benar sepenuhnya bahagia pagi itu. SeHun turut tersenyum, tidak mau menghancurkan mood bagus kawannya terlepas semalaman ia tidak tidur untuk alasan tertentu.

Dia bertemu dengan Hyera ketika memasuki ruangannya. Gadis itu meninggalkan beberapa berkas diatas meja SeHun, pandangan mereka sempat bertemu; namun Hyera cepat menghindar. Ia meninggalkan SeHun yang membeku tidak mengerti di dalam ruangannya.

Serampungnya kerja; seusai mengganti busananya; pas seperti yang ia janjikan, SeHun datang ke taman belakang kampus, sembari terus menebak-nebak peristiwa yang mungkin akan terjadi sore itu. Lelaki itu memakai celana panjangnya, kemeja biru gelap yang casual. Berkali-kali melirik sekeliling barangkali bakal menemukan sosok yang dikenalinya.

Taman itu begitu sederhana, ditanami bunga warna-warni yang mengelilingi kolam kecil yang dihuni ikan-ikan, dan tepat ditengah-tengahnya terdapat patung seorang gadis cantik yang membaca buku. Di dekatnya berdirilah sebuah kafe yang terlihat jauh lebih megah dibanding taman itu sendiri, kadang; ia, Hyera, dan Jongin menghabiskan waktu berjam-jam begadangan di sana. Ia tersenyum kecil; ingatan itu begitu harmoni dibenaknya. Ia ingin sekali semuanya kembali seperti dulu, sebelum ia tahu bahwa dua sahabatnya saling mencintai.

Kedua mata SeHun menyipit begitu menangkap refleksi dua wajah yang tak asing baginya. Seorang gadis berambut hitam kelam panjang dengan dres cantik bermotif bunga mawar, duduk di kafe itu, tepat berhadapan dengan seorang lelaki berpakaian nyaris formal, berambut hitam, dengan ekspresi yang betul-betul dikenal oleh SeHun.

Rahang bawah SeHun terjatuh. Ia tidak pernah berpikir bahwa kejadian inilah yang akan menyambutnya hari ini. Lelaki itu menyembunyikan dirinya dibalik pohon akasia besar, yang kebetulan bisa saja meng-cover tubuhnya dengan sempurna.

Cakrawala menguning, meninggalkan bercak keoranyean disekelilingnya, menerpa dunia dengan warna baru keemasan yang memukau. Namun kedua mata lelaki itu tidak mampu dijerat oleh cantiknya suasana, dia terlalu sibuk mengamati dua sahabatnya di sana.

Jongin tersenyum pada Hyeranya (setidaknya menurut presepsi SeHun, dia boleh memanggil gadis itu secara posesif, paling tidak untuk bicara dengan dirinya sendiri). SeHun sekarang mulai paham senyum lebar Jongin tadi pagi di kantor. Dan hindaran mata Hyera dari miliknya.

Jongin memang benar-benar lelaki sempurna. Ia maklum saja jika Hyera jatuh hati padanya. Tapi itu cukup kuat untuk membuat SeHun patah hati.

Dari radius yang ia tancapkan, SeHun cukup yakin jika Jongin sedang berbicara, mengungkapkan sekelompok frasa serius yang sulit bagi SeHun untuk mengaku bahwa ia tahu pasti apa yang sedang mereka bicarakan. Ia hanya berdoa pada Tuhan bahwa saja pemikiran negatifnya tidak pernah menjadi realita.

Namun rasanya SeHun kehilangan semua penyangga hidupnya ketika ia melihat dengan jelas, bagaimana Hyera mengangguk dan betapa manisnya cara Jongin mengeluarkan kotak beludru dari sakunya. Sebuah kejadian yang diimpikan SeHun bertahun-tahun, namun harusnya, SeHun lah yang tersenyum lebar di sana.

Itu kesempatan terakhir SeHun, untuk lari dan mengacaukan acara Jongin. Menghampiri Hyera dan menyatakan perasaan. Bukan tidak mungkin jika Hyera juga menyukainya, kan? SeHun ingin sekali melakukan itu.

Namun satu-satunya hal yang ia lakukan adalah menyaksikan Jongin menaruh cincin perak itu di jemari Hyera dan membiarkan wajahnya mengeras. Menahan emosinya yang bisa pecah kapanpun. Tangan SeHun mengepal di kedua sisi tubuhnya, terlalu erat hingga jemarinya terasa sakit. Tapi itu bukan apa-apa ketika kau sedang menyaksikan langsung seseorang yang paling ingin kau habiskan sisa waktumu dengannya dilamar sahabatmu sendiri.

SeHun hanya disana, berdiri dengan hancur dilindungi sebatang akasia sembari menatap dua objek yang menyakitinya sembari meringis perih. SeHun tertawa dalam hati, mengenali betapa pengecut dirinya.

Ia membiarkan semua ini terjadi dari awal. Dan ia harus menanggung semua konsekuensinya seorang diri.

***

SeHun merasakan angin menghempas wajahnya yang kaku. Kemampuannya memerani ‘sahabat baik yang tidak punya perasaan apapun padamu’ benar-benar patut memenangi penghargaan.

Lelaki itu mengusap rambut halus Hyera. Mendekapnya begitu erat seperti apa yang memang diimpikan SeHun belakangan ini. SeHun merasa seluruh tubuhnya menguat, berusaha menjadi apapun yang mungkin bisa menjaga Hyera. Dan sebetulnya, dari dulu ia pernah membuat janji untuk merelakan segalanya demi melindungi Hyera dan memastikan gadis ini baik-baik saja.

Bahkan jikapun itu memakan waktu seribu tahun, ia merasa dirinya bisa menjadi jauh lebih kuat; sekalipun nanti wajahnya berkeriput, tulangnya merapuh, jalannya tidak lagi seimbang, ia yakin ia akan tetap cukup kuat jika Hyera ada di sisinya.

Namun mimpi indah itu harus kandas dengan segera, SeHun menjauhkan wajah Hyera dari dadanya. Merasakan kekecewaan yang besar melingkupinya. Kemudian membiarkan dirinya terbenam dalam kedua mata gadis itu lagi. Membiarkan semua emosi menarik dirinya menjauh.

Akan tetapi ia cukup cepat tersadar kembali. Ia menemukan semua logikanya kembali, lalu menjauhkan pandang matanya dari tatapan gadis itu. “Jadi, apa sekarang…” SeHun menggantungkan kalimatnya. Ditariknya napas, kemudian ia berucap sembari membawa udara itu keluar dari paru-parunya, “kau … bahagia?” ucap lelaki itu, cukup lega karena berhasil menyelesaikan kalimatnya.

“Tentu saja,” Hyera tersenyum, gadis itu mengusap air mata yang mengaliri kedua matanya. “Tentu saja aku bahagia.”

Lelaki itu mengulum sebuah tersenyum, berharap bahwa senyumnya sudah cukup tampak nyata. SeHun berterimakasih pada sinar redup yang membantunya untuk menyamarkan segalanya, “Kau sudah menyukai Jongin sejak lama.” ucapnya, persetan dengan remuk dirinya begitu mengucapkan alinea itu, SeHun berhasil.

“Apa?” tanya Hyera, terlihat tidak percaya. Namun SeHun pun kurang dapat memastikan dengan bantuan lampu yang tinggal berkelip dan rembulan di atas sana.

“Aku memahamimu, Hye-ah, kita berteman sudah sejak lama.” ungkap SeHun, sehalus mungkin.

Angin berdesir menghantam wajah mereka, membuat SeHun mendengar gigi Hyera bergemertuk. Ia melingkupi tangan Hyera dengan jemarinya. Sebelum akhirnya dia sadar jika dia sudah melakukan lebih dari yang seharusnya. Ia bersikap terlalu frontal hari ini, membuatnya kehabisan akal untuk mengingatkan dirinya bahwa gadis yang ia hadapi adalah tunangan sahabatnya.

“Aku … eh, sudah waktunya, kita harus pulang.” ia menyatakan itu dengan kikuk. Lelaki itu bangkit dari posisi berlututnya kemudian berjalan duluan mendahului Hyera, menyembunyikan wajahnya dan semua ekspresi yang bisa saja muncul tanpa dia kehendaki.

“Tapi, Sehun….” suara Hyera kembali terdengar, dan itu cukup ampuh untuk menghentikan segala pergerakan SeHun; selalu, Hyera punya sejuta sihirnya untuk membuat SeHun jatuh cinta lagi pada gadis itu. Lelaki itu tidak berbalik, namun tidak pula menjauh.

SeHun tidak melihat gadis itu namun dia mendengarnya berkata, “Kelihatannya, setelah mengenalku bertahun-tahun, kau masih belum sepenuhnya mengerti diriku, SeHun-ah,” ucapan Hyera terdengar getir, begitu terluka hingga menohok SeHun dengan sangat kuat.

Terdengar helaan napas dari gadis itu, “Orang yang kusukai sejak lama … bukanlah Jongin,” ucapnya lirih, dan itu membuat seluruh bagian ditubuh SeHun seolah lupa akan fungsi masing-masing. Sebuah pemikiran absurd telak menghantam kepalanya. Beruntung otaknya masih mampu mencerna keadaan, dan dia paham pasti apa yang akan diucapkan Hyera, meski ia tidak tahu darimana dan bagaimana bisa ia begitu yakin.

“Orang itu adalah….”

Tanpa menunggu Hyera menyelesaikan kalimat, SeHun memutar badannya dan membawa tubuh Hyera terdorong sampai punggung kecilnya mencium tembok di belakang tiang lampu, sepersekian detik kemudian, bibir SeHun berada tepat diatas milik Hyera, lelaki itu memejamkan matanya. Tak butuh waktu lama bagi Hyera untuk turut serta. Gadis itu menangis lagi, membasahi pipinya maupun pipi SeHun, dan kenyataan itu semakin menampar SeHun.

SeHun melingkarkan tangannya di tubuh Hyera. Membiarkan lehernya dikalungi tangan gadis itu. Ritme gerakan mereka benar-benar serasi seolah mereka sama-sama dilahirkan untuk satu sama lain. Dan pemikiran itu sukses menohok SeHun.

Mereka tetap seperti itu dengan luka pada diri masing-masing, berusaha meyakinkan diri bahwa semua ini nyata. Berusaha mencerna apa yang sedang terjadi. Tapi bagi SeHun, segala hal sudah menjadi persetan. Lelaki itu berusaha tidak berpikir apalagi yang akan dikatakan dunia. Ia tidak berusaha memahami perasaan Jongin jika saja ia melihat ini semua. Satu-satunya yang ia pedulikan adalah gadis yang saat ini ia dekap dengan lengannya. Gadis yang bertautan dengannya.

Jadi benar memang SeHun; orang yang disukai Hyera sejak lama.

Lelaki itu menjauhkan dirinya, mengusaikan ciuman mereka. Mereka tidak melakukan pertukaran pandang penuh akan kehangatan setelahnya seperti bagaimana biasanya dilakukan dua anak manusia yang lain setelah berciuman. Mereka saling menjauhkan diri dari mata masing-masing, hingga Hyera yang terlihat linglung berlari menjauh, sejauh mungkin dengan SeHun seolah enggan menemui lelaki itu lagi selamanya. Dan mungkin opini itu memang sepenuhnya benar.

SeHun menyaksikan lenyapnya tubuh kecil Hyera dari padangannya, juga dari hidupnya. Gadis itu sudah pergi, SeHun berusaha meyakinkan dirinya sendiri. 7 tahun. Itu adalah waktu yang dia habiskan untuk menjadi pengecut dan mengagumi seorang gadis dalam diam. Seorang gadis yang akhirnya dimiliki lelaki lain. Gadis yang akhirnya dilukai oleh SeHun sendiri dengan segala acting bodohnya.

Lelaki itu memandang langit. Ada jutaan rasi bintang yang merias bimasakti malam itu. Namun disanalah ia, berdiri sendirian seperti orang tolol yang kehilangan hidupnya. Dan gagasan itu tidak sepenuhnya salah.

Ia merasakan kaki-kakinya melemah. Dan terempaslah tubuhnya tepat diatas kursi. SeHun melingkupi wajahnya dengan kedua tangan, berusaha meredam remuk dirinya, menutupi air mata yang terjatuh dari ujung matanya. Berulang kali terdengar hempas napas berat darinya. SeHun bersumpah ia tak pernah merasa selemah ini.

Inilah SeHun yang sebenarnya, seorang yang lemah. Pengecut menyedihkan. A jerk full of hurt; a coward who pretend to be strong; a Loser.

FINAL

Bah! Tamat noh, ga ada nggantung2an. Iya, cuma gitu ceritanya. Hyera nikah sama Jongin, dan mengkandaskan perasaan SeHun. Dari awal memang inilah yang harusnya terjadi, biar cocok gituh ama lagunya mas-mas BigBang 😛

DAN SATU NASEHAT BUAT KALIAAAAN : “SPEAK OUT! CONFESS! WHATEVER! HOWEVER! LET HIM/HER KNOW YOUR FEELING. WHY? BECAUSE HEART OFTEN BROKEN BY WORDS THAT LEFT UNSPOKEN!” (Ngomong ama cermin :v dan readers)

Ya ampun; jangan mau deh, punya gue sebagai penggemar berat lo, soalnya nama lo bakalan dipinjem jadi penggambaran tokoh-tokoh dengan nasib hidup yang tragis =)) dan itulah yang terjadi setelah SeHun mencuri hatikuuuh 😛

Iklan

4 pemikiran pada “Loser — Three

    • wakakak :v kalo disequel mau gimana lagi? mengisahkan sehun yang lebih ngeunesss gituh? xD xD aku ga jago bikin fluffy fluffy-an dan kalo mau belokin alur sehun jadi ma hyra otakku ga nyampe (?) (stuck amet ni orang -_- gue emang payaaah) xD makasih komennya 🙂

      Suka

Review And Chat here!

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s