Serendipity

Serendipity

“No matter how hard I think, i guess we’re not mean to be.”
—Don’t be seen; Sunny Hill; Warm and Cozy OST.

BYUN BAEKHYUN – OC

Fluffy Romance (maybe 😀 :P)

_____________

Aku akan pergi ke Jepang dalam dua puluh hari.

Aku mengirimkan pesan itu pada Baekhyun, teman tumbuhku dari kecil. Kukira ponselku akan berdering dalam waktu cepat. Bagaimanapun, aku cukup yakin Baekhyun sangat terkejut mendengar kabar itu.

Melalui jendela yang kubiarkan terbuka, aku menerawang ke langit. Malam ini begitu cerah sampai semua bintang nampak tidak enggan berkelipan. Aku mungkin akan merindukan kamar ini nantinya. Tapi kurasa itu tidak sanggup mengurangi uforia dan excitement-ku terhadap Jepang.

Kulirik jam yang menempel di dekat almari. Jarum panjangnya telah bergeser seratus delapan puluh derajat; tiga puluh menit menanggal namun ponselku sama sekali tidak menunjukkan apa-apa.

Mungkin Baekhyun sibuk; namun gagasan itu terlalu tidak masuk akal sampai aku menertawainya sendiri. Ujian akhir sudah ditempuh. Bahkan kami pergi ke gedung sekolah hanya untuk bermain-main. Dan tidak ada alasan bagi Baekhyun untuk sibuk.

Ah, kecuali satu, kekasihnya. Gadis yang enam bulan terakhir dikencaninya. Gadis yang setengah tahun terakhir mencuri eksitensi Baekhyun dari hidupku.

Pada detik itu, pintu rumahku diketuk. Aku menemukan Baekhyun begitu membuka pintunya. Wajahnya bersimpah peluh; napasnya tidak beraturan; dan dia terbatuk-batuk beberapa kali. Aku memandangnya terkejut, tak pernah kubayangkan ia memilih datang terlepas dia bisa kapan saja menelponku.

“Kau….” ucapnya sembari menudingku dengan jemari telunjuknya. “Apa kau berniat membunuhku, HAH?” jeritnya geram; diakhiri dengan suara terbatuk-batuk yang sumbang.

Aku menaikkan sebelah alis. “Dalam dua puluh hari, aku akan pergi ke Jepang.” Baekhyun mengucapkannya sarkastis, “Kau pikir guyonanmu lucu, HAH?”

Aku tersenyum kecil, entah mengapa, aku tidak bisa mengelak kalau aku merasa tersentuh akan kemunculan Baekhyun saat ini. Kuamati dirinya yang menopang tangan pada kedua lututnya sendiri sembari terus-terusan menyenggal napas.

“Ibuku pergi ke Jepang untuk reuni SMA-nya, Baek.” Jelasku. “Tadi beliau menelponku. Beliau membawa lukisanku untuk ditunjukkan pada kawan-kawannya. Ternyata, ada yang menyukainya, Baek. Teman ibuku merekomendasikanku.”

Aku tersenyum kecil, “Kurasa mereka suka selera seniku, mereka menghargai lukisanku dan menawarkan beasiswa. Aku serius. Itu bukan candaan.”

Baekhyun meluruskan punggungnya, mensejajarkan matanya dengan milikku. Lelaki itu menatapku lama, seolah berusaha menilai seberapa besar angka yang dia bisa terapkan untuk mempercayai ucapanku; dan aku juga merasakan dia bersikap seolah dia ingin aku tertawa sekaligus berkata, Eee, ketipu! Coba kau menghadap cermin dan lihat betapa konyol wajahmu! Tapi aku tidak pernah melakukannya.

“Kau senang?” tanyanya kemudian. Wajahnya begitu datar sampai aku tidak bisa membaca apapun dari maksud pertanyaannya.

Aku tersenyum; berusaha memberikan yang terbaik. Meski bukan senyum yang indah seperti milik kekasihnya, tapi aku berusaha menggunakannya untuk meyakinkan Baekhyun. Memberitahunya jika aku benar-benar bahagia. Memberikannya keyakinan untuk mempercayaiku. Lantas aku berkata, “Ya. Tentu. Aku begitu senang hingga kurasa aku ingin menangis sekarang.”

Wajah Baekhyun mengosong. Aku tidak tahu kemana arah pikirannya. Kedua matanya menerawang ke atas pundakku. Bibirnya tak mengucapkan sepatah katapun.

Namun akhirnya dia sudah bisa menetralkan frekuensi napasnya, lelaki itu membenarkan posisi rambutnya yang acak adul karena acara marathon mendadaknya barusan. Kami berdua duduk canggung di ruang tamu rumahku. Masih tak ada yang bicara. Kadang aku mencuri lirikan untuk potretnya yang berhadapan denganku.

Ia memakai kemeja kasual serta Jeans-nya; aku baru menyadari itu sejak tadi. Pikiranku terlalu berkelumit ke segala arah sampai-sampai aku lupa mencermati keadaan; bahkan untuk sesuatu yang selalu menjadi sorotan pertamaku. Rambut cokelat Baekhyun masih berantakan dimana-mana, tapi itu sama sekali tidak jadi soal jika disatukan dengan wajah rupawannya.

“Kau menghancurkan kencanku, Ji. Sungguh.” ucapnya pada akhirnya.

“Kau bisa membalas pesanku; atau paling tidak menelpon. Aku tidak pernah memintamu berlarian seperti orang gila kemari. Itu juga sungguh.” balasku. Baekhyun mencemooh. Dia berdecak kesal seolah ucapanku barusan adalah ejekan menyakitkan bagi harga dirinya.

“Oh, yang benar saja. Kukira dengan mengirim pesan itu kau sudah cukup menghancurkan kencanku. Kau pikir ada yang bisa tetap tersenyum manis pada kekasihmu ketika kawan karibmu berkata akan pergi begitu jauh? Coba pikirkan lagi.” desah Baekhyun. Ia menaruh kepalanya pada sandaran sofa kemudian memijit pelipisnya sendiri, “Kau bikin pusing. Aku bisa gila.”

Aku tersenyum kecil, “Maaf soal kencanmu.” ungkapku. Berusaha terdengar tulus. “Apa kau berniat menyetujui perginya aku ke Jepang?”

Saat itu aku berharap bahwa Baekhyun melarangku pergi dan memintaku tetap tinggal di sisinya. Tapi ekspektasi itu tidak memiliki banyak peluang. Kurasa Baekhyun akan membiarkan aku pergi dengan mudahnya seperti ia menyaksikan orang-orang berlalu lalang keluar masuk lingkup hidupnya. Kurasa aku esensiku tidak lebih dari mereka bagi Baekhyun.

Lalu, Baekhyun tertawa. Ia memandangku seolah aku barusaja menggumamkan lelucon garing yang seratus persen tidak masuk akal, napasnya sekarang sudah sangat teratur dan keringatnya mulai berkurang; dia tersenyum penuh arti padaku.

“Ji, siapa aku memangnya hingga boleh melarangmu untuk menggapai kebahagiaanmu?”

Dan kalimat itu membuatku tertegun.

Setelah kian lama mengenal Baekhyun, aku bahkan tidak pernah berpikiran bahwa itulah yang akan ia katakan padaku. Aku tidak pernah membayangkan itu. Tidak biarpun hanya sekali. Kurasa aku masih belum bisa mengerti Baekhyun sepenuhnya, bahkan setelah delapan belas tahun terlewat.

“Capai mimpimu, Ji-ku. Aku akan mendukungmu.” Ia tersenyum manis.

Satu-satunya yang ingin kukatakan saat itu adalah Aku membencimu, Byun Baekhyun.

Poin satu, aku ingin sekali saja untuk tidak luruh hanya karena caranya tersenyum padaku. Untuk tidak mempercayai segala yang dia katakan hanya karena dia mengatakannya begitu lembut padaku. Untuk bisa membencinya karena melakukan itu.

Poin dua, dia mengulang penggunaan kata posesif ‘-ku’ untuk memanggil diriku. Dan seumur hidupku, aku selalu ingin membenci Baekhyun melakukannya (tentu saja itu tidak mungkin terjadi). Aku bukan miliknya, atau tepatnya, dia bukan milikku. Dan itu hanya seperti ejekan tiap kali aku mendengarnya.

***

TBC/FIN????? I don’t know too.

Wakakaka :v edisi bikin fic selain Sehun ma Luhan nih 😀 sedari 99th Mission sama 2nd dimension ngadat /ngumpet di selokan/ no matter how hard i think, i can’t find some good scene for those two fics and i’ve destroyed my old plot somehow (I FORGOT THEM WTF). I’m so sorry 😀 (Oh, gosh, i meant it. For you who wait for my updates 😥 i’m so sorry). I’m trying to get them back anyway, or maybe i’ll just make a new one.

And for this serendipity, it can be end right here, but i’ve drawn some plot for short chaptered fict (maybe for 3-4 chapters). What do you think about it? Just make them chaptered or let it ended this way. I just feel uncomfortable to write another chaptered fict because i haven’t finished the previous one yet. Altough if i let it just ended this way, i can’t explain the meaning of ‘serendipity’, i wanna ask you, what do you think? Gimme some advice. 😦

And thanks for reading btw 🙂 i appreciate it.

Iklan

12 pemikiran pada “Serendipity

  1. Ping balik: Serendipity [2] | Gallery of EXO School

  2. omona. author nya mana? author nya mana nih? arisa mau kenalan dong wkwk
    beneran, ini nyesek banget. nyesss nyelekit gtu bacanya hiks hiks
    yaampun byun baekhyun kenapa dirimu gak peka peka ?
    kasian pemeran wanita nya. sabar ya

    Suka

  3. Dira, aku ga habis pikir buku apa yang kamu konsumsi tiap hari sampai-sampai diksimu buat fanfic se-simple ini jadi kerasa berbobot :’)
    I mean, yeah, genre angst memang bener-bener mendarah daging di kamu. Haha.
    Btw, kutipan di atas dari drakor favorit kamu, ya kan? XD
    Dan aku baru ‘ngeh’ kalo kamu suka ambil judul dari kata bahasa Inggris yang asing buatku, jarang dipakai juga, jadinya nyentrik. Wkwk..

    Anyway, fic-nya cukup menyentuh ❤

    Disukai oleh 1 orang

Review And Chat here!

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s