Serendipity [2]

Serendipity

“See, i can’t wake up; i’m living a nightmare; locked in a room and hung up on you; and you’re cool with just being friends.”
Hot Chelle Rae —Why don’t you love me [ft. Demi Lovato]

BYUN BAEKHYUN – OC

Previous : [1]

________________

“Ji—” Baekhyun menepuk pundakku. Wajahnya begitu cerah; dia menderetkan seluruh gigi depannya; hingga tak perlu waktu lama untuk paham bahwa situasi hatinya sedang benar-benar baik. Melihatnya seperti itu, aku mendapati diriku merasa nyaman dan ringan; hanya karena sebuah senyum tanpa beban dari seorang Byun Baekhyun.

Lelaki itu memasang kemeja seragam putih bersihnya, dengan menanggalkan almameter sekolah, dasinya pun lenyap entah kemana. Dan hal yang mencenangkan adalah fakta bahwa tetap kutemukan dia tampan dengan cara itu.

“Apa itu?” aku menunjuk wajahnya; atau tepatnya senyum lebarnya; kurasa dengan cara seperti itupun dia menangkap maksud pertanyaanku.

“Sudah kuputuskan.” Baekhyun mencetuskan gagasannya, lelaki itu membusungkan dadanya dan memamerkan senyum penuh kepercayaan diri. “Aku akan menjadi mahasiswa hukum.”

Aku menjatuhkan rahangku seketika.

Alisku berkerut. Aku tidak bisa mendiskripsikan isi kepalaku saat itu; mungkin perpaduan antara terkejut; bingung; dan tidak yakin. Aku tidak pernah tahu Baekhyun mempunyai ketertarikan pada dunia hukum seumur hidupku. Aku juga tidak paham bagaimana bisa dia jatuh pada keputusan itu dalam kurun yang benar-benar singkat.

“Kau tidak yakin, Ji.” putus Baekhyun setelah berhasil mengobservasi ekspresiku.

“Kau paham mengapa aku tidak yakin, Baek.” Ucapku, sembari berjalan mendahului Baekhyun dengan tujuan kafetaria sekolah. Lelaki itu langsung menyusul di sebelahku; dia tidak mengutarakan apapun sebagai jawaban, hanya memajang sederetan gigi depannya padaku.

“Kau hilang akal,” komentarku. Baekhyun sama sekali tidak mengelak.

“Barangkali, Ji. Aku sungguh merasa begitu.” aku Baekhyun. “Kau tahu aku dengan benar, Ji. Aku tidak suka mengada-ada. Kemarin aku pergi keluar. Aku hanya jengah dengan ketidakadilan disekeliling kita. Kurasa, gagasan mencebur ke dunia hukum tidak sepenuhnya harus dipandang negatif. Kondisi keadilan benar-benar terpuruk hingga kita selalu memandang kehakiman kotor dan jenuh. Aku ingin mengubah pandangan itu, Ji.”

Aku tertegun. Terpana pada Byun Baekhyun; untuk yang kesekian kalinya.

Sekarang mengertilah bagaimana bisa aku jatuh hati pada seseorang yang bahkan telah kukenal sejak aku dilahirkan; mengertilah mengapa aku justru kepayang akan eksitensinya di kala aku telah menghabiskan nyaris seumur hidupku bersamanya; mengertilah bagaimana aku tidak bisa keluar dari magnet dirinya. Byun Baekhyun selalu seperti itu. Dia mempesona dari segala sudut pandang; dengan berbagai cara yang tak mampu terdeskripsikan.

“Berhentilah membuatku nampak konyol, Baek. Berhentilah mengatakan hal-hal yang amat mulia.”

Baekhyun tertawa, lalu tersenyum penuh makna, “Kurasa, sekarang, Yoon Jina yakin akan pilihanku.”

Sekarang, akulah yang tidak mampu mengelak. Aku selalu meyakini apapun yang Baekhyun niatkan; lelaki itu ambisius. Dia juga punya pandangan yang luas. Aku selalu kagum akan caranya menyikapi situasi dengan begitu kalem dan tenang.

Lelaki itu tersenyum lebar padaku; sadar bahwa aku tak mampu berkutik. Lelaki itu mengacak rambutku; hobinya yang paling kusebali sekaligus kusuka. “Oh, Ji-ku.”

Panggilan itu lagi.

Aku sebenarnya penasaran apa yang dipikirkan kekasih Baekhyun tentang persahabatan kami. Aku pernah bertemu dengannya beberapa kali, namanya Hyera. Aku cukup mempunyai firasat bahwa gadis itu tidak menyukaiku; tapi dia berusaha sekeras mungkin tidak menunjukkannya. Aku tidak terlalu mengenalnya; tapi kurasa dia gadis yang baik; populer; cantik; serta cerdas. Benar-benar serasi dengan Byun Baekhyun dari segala sudut pandang.

Dan opini itu menyakitiku entah bagaimana.

Ponsel Baekhyun tiba-tiba berdering, lelaki itu membaca pesan teks yang dia terima sebelum menatapku sembari tersenyum lebar, berusaha memberiku sinyal apa yang barusan dibacanya. Dan aku benci pada diriku karena begitu cepat memahaminya. “Oh, Hyera, ya?” aku berucap. “Yasudah sana pergi.”

Baekhyun tertawa lagi, “Kau memang baik. Aku mencintaimu, Ji.”

Kemudian dia pergi, menemui kekasihnya.

Aku mencintaimu.

Andai Baekhyun menggunakan cara yang lain saat mengucapkannya; andai Baekhyun mempunyai maksud yang lain saat mengucapkannya; andai Baekhyun menggunakan kalimat itu sesuai dengan artinya. Cinta yang dia berikan berbeda dengan cinta yang aku harapkan.

Aku tersenyum untuk diriku sendiri dan melanjutkan perjalananku ke kafetaria.

***

Sore itu, Baekhyun datang ke rumahku.

Mentari sudah hendak menukar peraduannya namun sungguh kutemukan Baekhyun sibuk diperjalanannya menuju rumahku.

Lelaki itu membawa dua kaleng diet coke di tangannya dengan pakaiannya yang serba rumahan. Sneakersnya berhantaman dengan aspal jalan; rambut hitamnya diterbangkan angin sore kesana-kemari; wajahnya terlihat cerah seperti Baekhyun yang biasanya (yang selalu sukses membuat perutku jumpalitan tidak menentu); lelaki itu melambaikan tangannya sembari meneriakkan namaku bising sembari terus berlari menuju gerbang rumah.

Aku sempat terkejut mendapati dia seperti itu. Sudah lama sekali sejak terakhir kali dia melakukannya; kapan detil tepatnya pun sudah kulupa. Mungkin aku hanya terlalu rindu dia datang seperti ini, sampai kehilangan kata-kata menatap bayangnya yang tersenyum lebar di hadapanku.

Kami duduk di kursi taman rumahku sembari menelan isi diet coke yang dibawa Baekhyun; dia mengklaim benda itu sebagai hadiah untukku. Entah hadiah apa; yang jelas aku tidak berminat mendebatnya.

Baekhyun menghirup udara sore, “Sudah lama sekali, ya.” katanya pelan. “Aku tiba-tiba kangen minum soda bersamamu, Ji.”

Ia menolehkan wajahnya kepadaku, tersenyum lebar.

“Hidupku akhir-akhir ini lebih tenang karena kau tidak datang dengan segala kebisinganmu. Yeah, itu sudah lama sekali kurasa, dan sekarang, di sinilah kau. Lagi-lagi berusaha mengobrak-abrik kedamaianku.” balasku.

Lelaki itu tertawa keras, tawa tanpa halangan yang terdengar harmoni di telinga. Dia menutup mulutnya dengan tangan kirinya yang bebas diet coke sembari menetralkan tawa. Kemudian tersenyum jahil padaku, “Terkadang kau harus mencoba menerima kenyataan bahwa kau merindukanku juga, Ji.” Katanya.

Aku mendengus. Tapi sama sekali tidak berusaha menyangkal.

Dia menatapku dengan pandangannya yang dalam; kalem; dan penuh arti. Dan tentu saja aku lantas kehilangan semua ketenanganku menerima tatap semacam itu; rasanya otakku berantakan dan perutku naik sampai ke dada; jadi kualihkan pandangku dan kuputus kontak itu.

Ketika kulirik lagi dia; lelaki itu hanya memandang rerumputan tanpa berucap apapun. Angin menghembus wajahnya ketika lelaki itu membuang napas berat.

Aku menelan tegakan terakhir diet coke-ku. Kemudian mengikuti Baekhyun untuk menikmati hembusan angin sore yang pelan.

“Bagaimana dengan preparasimu untuk terbang ke Jepang, Ji?” tanya lelaki itu; kedua matanya lurus kedepan terlepas kenyataan bahwa aku yang dia ajak bicara duduk tepat di sampingnya.

Aku mengetuk kaleng soda kosong ditanganku. Kemudian menghela napas, tersenyum kecil membayangkan masa depanku di sana. Semuanya terlihat sempurna kecuali satu fakta kecil bahwa aku tidak akan bisa melihat seorang Byun Baekhyun sesukaku di sana. Bahkan, sejak sekarang pun aku sadar aku tak punya sepeserpun kepercayadirian untuk berkata bahwa aku tak akan merindukannya. “Semuanya baik-baik saja,” jawabku. “Ibu lah yang menyiapkan segalanya.”

Baekhyun terdiam. Lagi-lagi membawaku merasakan keheningan diantara kami berdua. Terkadang, cukup dengan waktu yang kuhabiskan dengan Baekhyun, sedetikpun selalu dapat membuatku bahagia, meskipun tak ada yang dilakukan, hanya diam yang tenang.

“Kurasa, aku akan sangat merindukan sahabat konyolku ini.” aku Baekhyun, membongkar diam; lelaki itu lagi-lagi tertawa. Ia menolehkan kepalanya ke arahku, tersenyum konyol. “Dan aku juga penasaran apa yang akan sahabat kecilku ini lakukan di sana tanpa diriku.” tangannya naik untuk menghancurkan tatanan rambutku.

Aku mencengkram tangan Baekhyun lantas menjauhkannya; apa yang akan kulakukan tanpa ada Baekhyun di sana? Siapa yang akan kuajak bicara? Siapa yang menemaniku di negeri antah berantah itu?

Kemudian kuhela napas dan berkata, “Aku akan sangat baik-baik saja.” ucapku, dibanding terdengar menjanjikan, aku sadar bahwa kalimat itu lebih nampak seolah aku berusaha menyakinkan diriku sendiri.

Ekspresi Baekhyun berubah; aku tidak yakin tapi kudapati raut ketakutan singgah pada wajahnya; hanya sepersekian detik; begitu singkat. Aku tidak berani berekspetasi ekpresi itu dikarenakan dia takut aku pergi; bahwa dia ingin menahanku tepat di sisinya; mendekapku dan tidak pernah melepaskanku hingga waktu bicara; menua selamanya bersamanya. Aku bahkan tidak berani memutuskan apakah ketakutan Baekhyun yang kulihat itu nyata atau hanya terjadi di kepalaku saking berharapnya aku akan hal itu.

Lalu pandangannyapun kembali tertuju ke depan, menatap kosong angin dan dedaunan. Aku penasaran setengah mati apa yang dia pikirkan saat itu.

Hingga akhirnya lelaki itu berkata, “Kau harus, Ji.”

Aku belum sempat meresponnya, namun Baekhyun sudah menoleh, menyeturukan pandang mata kami. Kemudian berkata, “Kau harus janji padaku bahwa dirimu akan sangat baik-baik saja di sana. Kau harus.”

Aku tertegun. Terdiam beberapa detik untuk mencerna keadaan dan memilih respon yang tepat. Masih belum bisa menerima fakta bahwa Baekhyun memikirkan semuanya sejauh itu.

Kemudian, tertawalah diriku begitu aku mendapatkan akalku kembali. Dalam waktu yang begitu singkat, berkat Byun Baekhyun, aku mendapatkan seluruh keyakinanku.

Aku menepuk kecil punggungnya lalu berkata, “Aku berjanji.”

Aku tersenyum padanya; sebaik mungkin yang aku bisa. Kami beradu tatap lagi; menyelami pandang satu sama lain. Terdiam beberapa saat serta membiarkan angin melewati jarak diantara kami. Kini Baekhyun lah yang mencari kesungguhanku, berusaha mencermati keyakinan dalam diriku. Jadi kutunjukkan segalanya padanya. Kutularkan keyakinanku padanya.

“Aku berjanji, Baek. Aku akan baik-baik saja.”

***
To Be Continued.

SO, I DECIDE TO MAKE IT CHAPTERED SINCE I’VE STARTED IT YEHET ‘-‘

Beneran pendek perchapternya tapi berusaha update regularly, oke? Wkwkwkwk. Dan btw, aku payah dalam fluff kayanya ya :’) pasti ini tetep kelihatan angst. KENAVA SETIAP FFKU SELALU BERAKHIR NAMPAK SEDIH? T-T Mungkin gegara aku bawaannya galau mulu yah. Pdhl aku bukan penggemar berat galau jugak (-_-)

Ngomong-ngomong,aku galau cari caption yang nyambung. Jadi ganyambung ya biarlah ;_;

Dan sungguh, ini Byun Baekhyun beneran out of character. Mana ada dia semempesona itu, yang ada bocah gila; sinting; bikin gregetan. Kok bisa-bisanya aku nulis ini yah? Beneran jauh dari imej aslinya -_____-

Dan eonni, tadi aku udah berusaha nulis cewenya itu Taeyeon aja. Tapi aku tetep ga ngefeel, aku juga pengen bikin wataknya kaya yang eonni mau, tapi tetep ga kesampaian. Aku pilih pake OC ajah 😀 aku juga ga nyaman jadiin dia villain xD

Oiya, diet cokenya terinspirasi dari Pak D. Direktur perkemahan tercintah :v wkwkwk. Ada penggemar PJ di sinih?

Btw, makasih udah mau aja baca ff penulis labil kelas gaje (?) semacam gue. Terhuralah pokoknya /?

Iklan

2 pemikiran pada “Serendipity [2]

Review And Chat here!

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s