All I Need Is Your Love

Title: To Be Loved Author: Anonymouspark – Lenght: OneshotDisclaimer: I just own the story, poster also belongs to me. Already posted here   Genre: Fluff (maybe) – A/N:  This story isn’t based on Michael Buble song

Cast:

Park Chanyeol and OC/You

Previous story:

To Be Loved l I Can See You With My Mind

Summary:

As long as you can picture me in your mind, you can see me with your mind and your heart. It’s enough. And don’t forget this: I’ll always love you and I’ll always be ready to be your pair of eyes

Hye Sung tidak menemukan kesulitan sama sekali di dalam kelas meskipun gadis itu tidak bisa melihat sama sekali. Tidak ada yang benci bahkan menjauh dari Hye Sung meskipun gadis itu memiliki kekurangan. Orang-orang di sekeliling Hye Sung tidak ada memiliki rasa benci tetapi mereka terinspirasi karena Hye Sung dengan kekurangan yang ia miliki itu masih sempat untuk melanjutkan studinya. Ditambah Hye Sung adalah orang yang ceria dan sifat ceria Hye Sung tidak pernah gagal untuk menghipnotis membuat teman bahkan dosennya untuk ikut merasa bahagia. Hye Sung bisa memahami pelajaran dengan sempurna tanpa harus mencatat. Sebaliknya, Hye Sung merekam segala penjelasan yang diberikan oleh dosen dengan baik. Ketika ujian, Hye Sung diperbolehkan untuk melakukan ujian lisan karena dia tidak bisa menulis.

Bel berbunyi dan Hye Sung langsung mengemasi bukunya. Seperti biasa, Hye Sung membiarkan orang-orang lain untuk meninggalkan kelas terlebih dahulu. Setelah Hye Sung dapat merasakan kelas mulai sepi, dia bangkit kemudian berjalan ke luar kelas. Namun saat langkah Hye Sung baru keluar dari kelas, sepasang tangan menariknya dan itu membuat Hye Sung tersentak.

“Tenang lah. Ini aku, Hye Sung-ah.” Tidak lupa Chanyeol tertawa geli saat melihat ekspresi Hye Sung tadi.

Oppa, kau membuat ku takut tadi.”

Hye Sung menghela napasnya yang berat saat Chanyeol baru akan memberi ciuman di kening Hye Sung.

“Maafkan aku. Tetapi aku tidak bisa menahannya tadi.” Pengakuan Chanyeol hanya dibalas Hye Sung dengan sebuah gelengan.

“Ayo, kita pergi. Karena hari ini adalah hari istimewa. Hye Sung-ah, apa kau ingat hari ini hari apa?”

Hye Sung mengangguk sembari tersenyum. Bagaimana mungkin ia tidak mengingat hari ini. Hari ini adalah 4 tahun hari jadi mereka.

“Tentu saja, aku ingat.”

Senyum membelah di wajah Chanyeol sebelum ia menuntun Hye Sung untuk menyamakan langkah dengan dirinya.

“Baiklah, aku antar kau pulang dulu, baru kita akan merayakan hari jadi kita.”

***

SUV Chanyeol berhenti di depan rumah Hye Sung. Chanyeol kembali menuntun Hye Sung hingga langkah mereka sampai pada pintu masuk rumah Hye Sung. Sebelah tangan Hye Sung berhasil menahan badan Chanyeol untuk berhenti.

“Hye Sung-ah, apa aku tidak boleh masuk?”

Hye Sung hanya menggeleng lalu menjawab. “Kita bertemu saja nanti di tempat biasa jam 5 sore.”

Chanyeol membuka mulutnya lebar tidak percaya dengan kalimat yang baru saja ia dengarkan. Tentu saja Chanyeol ingin menghabiskan hari jadi mereka seharian penuh dengan Hye Sung.

“Tapi, sayang—“

Chanyeol tidak melanjutkan kalimatnya saat tangan Hye Sung mulai meraih wajahnya dan jemari Hye Sung berhenti tepat di bibir Chanyeol. Gigi Chanyeol menggigit pelan telunjuk Hye Sung sebelum ia menurunkan tangan Hye Sung lalu mendaratkan bibirnya di hidung Hye Sung.

“Baiklah. Aku mengerti. Karena aku lupa membawah hadiah hari jadi kita maka aku akan menahan rindu ku hingga pukul 5 sore nanti. Oke?”

Bibir Chanyeol mencium kilat bibir Hye Sung kemudian tangan Chanyeol mengacak rambut hitam Hye Sung.

“Sampai bertemu sore nanti, sayang.”

***

Dengan dress coklat selutut dilapisi oversized t-shirt Hye Sung siap untuk bertemu dengan Chanyeol. Hye Sung berjalan menuju dapur untuk mengambil hadiah yang sudah ia siapkan dari tadi untuk hari jadi mereka.

“Anak gadis ibu terlihat sangat cantik.” Sapa ibu Hye Sung melihat anak gadisnya sudah siap.

“Terima kasih ibu. Kalau begitu aku pamit dulu—“

“Apa kau tidak menunggu Chanyeol untuk menjemput, Hye Sung-ah?”

“Tidak bu. Kita hanya akan bertemu di taman biasa. Aku hanya memerlukan sekitar 30 langkah dari sini, bukan?”

Rasa cemas nyonya Kim perlahan pudar mendengar penjelasan anaknya tersebut.

“Baiklah kalau begitu, hati-hati ya sayang.”

***

Hye Sung menuntun langkahnya bersama tongkat dan hadiah di kedua tangannya. Ia terlalu fokus dengan langkahnya hingga tidak sadar seseorang mengikuti langkahnya dari belakang. Orang tersebut memeluk pinggang Hye Sung dan berhasil menjatuhkan tongkat Hye Sung tetapi tidak dengan hadiah yang di pegang erat oleh Hye Sung.

“Apa yang kau lakukan, Hye Sung-ah. Kenapa berani jalan sendirian?”

Mendengar suara Chanyeol membelah sebuah senyuman di wajah Hye Sung.

Hye Sung dengan mal-malu menjawab Chanyeol. “Aku hanya ingin jalan kesana sendirian, oppa.”

Chanyeol hanya tersenyum mendengar penjelasan kekasihnya itu lalu mencium puncak kepala Hye Sung.

“Hye Sung-ah, seharusnya kau menelepon ku terlebih dahulu. Aku tidak ingin kau jalan sendirian seperti tadi, kau mengerti?”

Hye Sung mengangguk pelan yang disusul dengan Chanyeol mengambil tongkat Hye Sung dan mengaitkan tangan Hye Sung ke lengannya agar gadisnya tersebut bisa menyamakan langkah dengannya.

Chanyeol dan Hye Sung duduk di salah satu bangku saat langkah mereka sampai di taman. Mereka berdua duduk disebelah pohon yang terdapat ukiran nama mereka. Tidak lupa, taman tersebut adalah saksi kisah cinta mereka. Hingga saat ini.

Hal pertama yang dilakukan oleh Hye Sung saat itu adalah mencari ukiran nama mereka berdua. Dia merasa kesulitan karena tidak menemukan ukiran tersebut. Chanyeol tertawa usil sebelum memandu tangan Hye Sung untuk menemukan ukiran nama mereka berdua.

“Hye Sung dan Chanyeol.” ujar Hye Sung membaca ukiran pohon tersebut. Tidak lupa pada saat itu Hye Sung kembali mengingat memori bagaimana lahirnya ukiran tersebut.

“Hye Sung-ah.”

“Iya?” bisik Hye Sung lalu menarik lengannya dari pohon.

Chanyeol mengeluarkan sebuah kotak kecil dari saku jaketnya lalu meletakkan kotak kecil tersebut di pangkuan Hye Sung.

Oppa, ini apa?” tanya Hye Sung sembari mengambil kotak tersebut dari pangkuannya.

“Buka saja.”

Chanyeol memang sengaja tidak menjawab pertanyaan Hye Sung dan membiarkan gadisnya itu tahu sendiri apa isi dari kotak kecil tersebut.

Dengan hati-hati Hye Sung membuka kotak kecil tersebut. Ia dapat merasakan rantai kecil yang cukup panjang. Benar, sebuah kalung dengan satu inisial nama. Tetapi saat Hye Sung meraba inisial nama pada kalung itu, ia dapat membaca bahwa inisial tersebut bukanlah miliknya. Hye Sung tersenyum kecil saat ia sadar bahwa kalung tersebut memiliki inisial nama sang kekasih. Park Chanyeol.

Kedua tangan Chanyeol lalu meraih kalung tersebut dari jemari Hye Sung kemudian memasangnya di leher Hye Sung. Tidak lupa Chanyeol mendaratkan sebuah ciuman di leher Hye Sung sebelum menarik dirinya.

“Aku harap aku bisa melihat kalung ini.” Gumam Hye Sung.

Chanyeol menggeleng, “Selama aku bisa membuat mu senang, selama kau senang, itu sudah lebih cukup Hye Sung-ah. Kau tidak perlu melihatnya.”

Hye Sung merasa lega saat mendengar ucapan dari kekasihnya tersebut. Chanyeol selalu tahu kata-kata yang tepat untuk membuat Hye Sung tenang. Kedua tangan Hye Sung kembali mencari hadiah yang ia bawa tadi. Chanyeol dengan langsung kembali menolong Hye Sung yang kesulitan.

“Wah. Sepertinya seseorang membawa hadiah yang lebih besar hari ini.”

Hye Sung tertawa kecil. “Bukalah.”

Chanyeol terlihat senang saat membuka hadiah dari Hye Sung. “Kue?”

“Iya. Aku membuatkan mu kue. Dengan bantuan ibuku tentunya.”

“Kau membuatkan kue untukku? Ini pasti sulit untukmu.” Ujar Chanyeol lalu menggigit kecil kue yang diberikan Hye Sung.

“Aku akui, memang sulit.”

Mata Chanyeol terasa panas. Tentu saja Chanyeol terharu setelah mendapat hadiah dari Hye Sung. Tidak terbayang oleh Chanyeol bagaimana sulitnya Hye Sung untuk membuat kue tersebut. Setelah selesai mencicipi kue tersebut, kedua tangan Chanyeol menyingkirkan kue tersebut untuk sementara lalu menangkup wajah Hye Sung ia bisa melihat wajah gadisnya itu dengan benar.

Detik berikutnya bibir Chanyeol menempel di bibir Hye Sung. Mencium lembut kekasihnya. Kedua lengan Hye Sung membungkus leher Chanyeol begitu sebaliknya lengan Chanyeol memeluk erat pinggang Hye Sung. Baik Chanyeol dan Hye Sung sama-sama tidak mau menarik diri mereka hingga Chanyeol merasakan sesuatu yang basah di bibirnya. Kedua mata Chanyeol melebar saat melihat Hye Sung menangis.

“Hye Sung-ah, kenapa? Apa ada yang salah?” Kedua lengan Chanyeol kembali menangkup wajah Hye Sung lalu mengusap air mata kekasihnya itu.

“Ha-hanya saja…aku ingin melihat mu…” isak Hye Sung. “Setiap harinya kau bisa melihatku, tetapi aku tidak bisa melihat mu. Memang aku bisa membayangkan wajahmu, tetapi itu tidak cukup bagiku dan ini seolah membunuhku dengan perlahan.

Chanyeol berusaha sekuat mungkin untuk tidak menangis saat melihat Hye Sung sedih. Tidak bisa diungkapkan oleh kata-kata bagaimana sedih dan sakitnya Chanyeol setiap kali melihat tangisan yang keluar dari kedua mata Hye Sung.

“Hye Sung-ah..”

Kedua tangan Hye Sung mencoba meraih kembali wajah Chanyeol. Melihat gerak gerik Hye Sung yang kesulitan, Chanyeol kembali mendekatkan wajahnya dan menuntun tangan Hye Sung untuk menyentuh wajahnya.

“Aku bahkan tidak bisa menemukan wajah mu dengan benar…”

Chanyeol mendekatkan wajahnya dengan Hye Sung lalu membiarkan dahinya bersandar di dahi Hye Sung.

“Hye Sung-ah, dengarkan aku. Aku sudah mengatakan ini beberapa kali dan aku akan mengulangnya lagi untuk meyakinkan perasaan mu. Bahwa aku bersungguh-sungguh Hye Sung-ah. Aku bersungguh-sungguh saat aku bilang bahwa aku tidak memerlukan yang lebih baik dari mu. Aku tahu betapa kau ingin aku mendapatkan yang terbaik tetapi hanya kau lah yang terbaik bagiku. Aku tahu kau ingin aku bersama gadis yang bisa melihatku, tetapi aku tidak butuh itu. Aku tidak membutuhkan seseorang yang bisa melihat wajah ku tetapi gadis yang bisa merasakan hatiku. Kau harus tahu, hal yang terindah di dunia ini adalah hal yang bisa kita rasakan tanpa kita harus melihat.” Tangan Chanyeol menaruh telapak tangan Hye Sung tepat di dadanya.

“Apa kau dapat merasakan hati ku ini, hati ku ini hanya bisa mengalah untukmu, Hye Sung-ah.”

Hye Sung mengangguk lalu mengatupkan bibirnya untuk menghentikan air mata.

“Aku ingin kau tahu bahwa kau lah yang terbaik untukku. Aku milik mu dan kau milikku.” Chanyeol mencium punggung tangan Hye Sung sebelum berbisik.

“Tidak ada orang lain.”

Chanyeol tahu ia berhasil memecahkan sebuah senyuman di wajah manis Hye Sung. Tangan Hye Sung kembali memeluk leher Chanyeol dan lengan Chanyeol kembali memeluk erat pinggang Hye Sung.

“Apa kau sudah merasa lebih baikan?”

Hye Sung menyandarkan kepalanya di dada Chanyeol kemudian mengangguk pelan. Chanyeol merengkuh badan Hye Sung lalu berbisik.

“Bagus, karena matahari baru saja akan tenggelam.”

“Oppa, kau tahu aku tidak bisa melihatnya.”

“Memang, tetapi bukan itu maksudku.”

“Lalu?”

“Hye Sung-ah. Saat matahari tenggelam adalah saat yang romantis untuk mencium bibir sang kekasih.”

“Apa?”

Chanyeol tidak menghiraukan pertanyaan Hye Sung dan kembali membiarkan bibirnya-yang tidak bosan mencium bibir Hye Sung.

.

A new story from me: Picture Of You, yang mau baca silahkan klik link nya ya :).

.

I know it’s late and I hope you like it. Maaf terlalu banyak line yang yah romantis gantung apalah pokoknya. Makasih sudah baca dan meninggalkan jejak. See you on next story! Xoxo~~~

Iklan

15 pemikiran pada “All I Need Is Your Love

  1. Kata-kata ma is chanyeol sangat menyentuh dan membuat hyesung tak sedih akan keadaannya malah aku sangat mrnghargai orang yang seperti itu mereka mempunyai semangat hidup lebih .
    Next chapternya ya somoga long last sama mereka berdua

    Suka

Review And Chat here!

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s