Firework (Ficlet)

tumblr_neasa87lLs1rgiafeo1_500

Firework

Starring by EXO’s Baekhyun & OC 

Genre: Angst | Rating: T | Length: Ficlet

This story officialy belongs to me 

 

Derap langkahku berangsur melambat tatkala pandanganku menangkap sesosok lelaki berbalut mantel hitam berdiri membelakangiku. Aku mematung sejenak, mengamati gerak-geriknya yang monoton; menoleh ke arah kanan dan kiri setiap detiknya. Lantas, kupejamkan kedua mataku seraya menghembuskan nafas berat—yang kuyakini menghasilkan kepulan uap putih dari balik mulutku, kurasa aku gugup. Setelah beberapa detik terbuang guna mengendalikan deru nafasku, kuputuskan untuk menghampiri lelaki itu. Ia mengembangkan senyumnya begitu berbalik, bahkan kami masih berada dalam radius tiga langkah.

“Lin,” sapanya dengan suara bernada. Demi Tuhan, saat sedang tidak bernyanyi pun suaranya merdu. Byun Baekhyun, lelaki berperawakan mungil dengan senyum lugunya itu, mempersilahkanku duduk terlebih dulu di sebuah bangku yang berada di sampingnya. Kusandarkan punggungku pada kayu memanjang itu dan melemparkan pandangan ke depan, tepat di mana bayangan gemerlap lampu memantul pada permukaan Sungai Han. Kedua mataku mengerjap kagum, “Berapa besar uang yang kau habiskan untuk menyewa bangku ini?”

Kudengar Baekhyun terkekeh, ia turut mendudukkan diri. Kalau boleh dibilang, kami hanya terpaut jarak dua jengkal, dan itu membuatku mau tak mau menghirup aroma parfumnya yang jauh dari kata maskulin. Ia sempat mengambil nafas panjang sebelum berujar, “Untuk apa aku membuang-buang uang hanya untuk menyewa bangku. Aku hanya sedang beruntung mendapatkan bangku ini terlebih dulu dari yang lain.”

Aku tersenyum. Yah, aku memang tahu betul Baekhyun bukanlah tipikal orang yang rela mengeluarkan uang untuk sesuatu yang tidak penting. Rasanya aneh saja sewaktu mendapati–hanya–dua bangku di sepanjang tepi Sungai Han; satu bangku di ujung timur dan satunya lagi adalah tempat kami berada. Kusedekapkan kedua tangan di depan dada, “Kalau begitu, kau sudah berada di sini sejak tadi?”

“Hm, tidak juga,” Baekhyun merentangkan kedua tangannya di atas sandaran bangku, seolah mengalungi bahuku—dan itu membuatku sedikit tidak nyaman. “Kebetulan aku juga ingin membeli sesuatu di sini terlebih dulu.”

Aku mengangguk kecil. Nah, seperti yang baru saja kupikirkan, Baekhyun bukanlah tipikal orang yang menghamburkan uangnya untuk sesuatu yang tidak penting. Jadi, benda apapun yang ia beli itu pasti tergolong penting–dan berharga, kan? Awalnya aku hendak menanyakan benda apa yang ia beli, namun aku teringat oleh alasan utama mengapa aku kemari, jadi kuurungkan niatku. “Kau ingin membicarakan sesuatu denganku?” tanyaku penasaran.

“Euhm, ah, ya itu..,” Baekhyun berdeham kecil lantas melongok dan merogoh saku mantelnya. Ia mengeluarkan sebuah kotak hitam—yang kurasa cukup berat karena Baekhyun sempat kewalahan membawanya dengan sebelah tangan–dan menunjukkannya di hadapanku. Ia kembali menyunggingkan senyumnya, “Coba tebak, apa isinya?”

Aku sedikit memiringkan kepala, pandanganku terfokus pada kotak hitam berbentuk kubus di hadapanku, menerawang benda apa yang mungkin berada di sana. “Ng, ponsel?” Namun jawabanku justru membuat Baekhyun terkekeh, “Tutup matamu”

Kedua alisku bertaut, bingung. Aku sempat ingin bertanya ‘mengapa’, namun Baekhyun mengangguk seolah memberi isyarat ‘lakukan saja’, maka dari itu aku terpaksa menurut dan memejamkan kedua mataku. Jemariku gemetar begitu aku merasakan pergerakan Baekhyun yang menggeser posisi duduknya, mengurangi ruang di antara kami, mendekat ke arahku. Aku tidak tahu pasti bagaimana posisi kami sekarang, namun kurasa ia tengah mencondongkan badannya, karena aroma parfumnya semakin menggelitik indera penciumanku dan.. hembusan nafasnya menyentuh permukaan leherku.

“Jangan bergerak,” bisiknya tepat di telingaku kananku, dengan suaranya yang berat–dan sedikit serak. Aku menggigit bibir bawahku, berupaya menahan rasa gundah yang menyeruak dalam benakku. Baekhyun sempat berujar sebelum mengalungkan kedua tangannya pada leherku, “Semoga kau tidak keberatan.”

Seakan ada sesuatu yang menggedor-gedor dada kiriku begitu jemari Baekhyun mengaitkan sesuatu pada leherku, jantungku berdetak dengan kecepatan di luar batas normal. Aku benar-benar tidak percaya dengan jarak kami, meskipun aku tak dapat melihatnya, namun jarakku pasti terlampau dekat dengan Baekhyun karena daguku bersandar tepat pada bahunya. Sungguh, ada sesuatu yang bergejolak di dalam diriku. Akan tetapi, ini semua tidak berlangsung lama begitu Baekhyun melingkarkan jemarinya di kedua lenganku dan menjauhkan tubuhnya dariku.

“Sekarang kau boleh membuka matamu,” tuturnya memecah keheningan. Setelah mengambil nafas dalam-dalam, aku membuka kedua mataku secara perlahan, dapat kutemukan pantulan cahaya dalam sorot mata Baekhyun begitu aku mengerjap-erjapkan mata. Sesaat aku menahan nafas, sedikit terkejut saat menyadari seberapa dekatnya kami, bahkan hembusan nafas Baekhyun kembali terasa, namun kali ini berada tepat di permukaan wajahku. Aku sedikit tersengal begitu kembali bernafas sebagaimana mestinya, posisi ini membuatku sedikit tidak nyaman.

Walaupun kuakui aku juga menyukainya.

“Lihatlah apa yang menggantung di lehermu,” ujar Baekhyun pada akhirnya. Pandanganku mengekori kemana sorot mata Baekhyun tertuju, dan jujur, aku terkejut begitu mendapati sebuah kalung berbandul bulan sabit melingkari leherku. Kalung itu memang tidak meriah maupun mewah seperti pada umumnya, namun entah mengapa seolah ada daya tarik begitu pertama kali aku memandangnya. Baekhyun tertawa kecil, “Bukankah ukurannya pas?”

Kuulum bibirku, gugup, aku bahkan tak dapat melontarkan sepatah katapun. Sengaja aku menunduk, sebisa mungkin menghindari adanya kontak mata dengan Baekhyun. Ada sesuatu dalam dirinya yang membuatku tertarik, dan daya tarik itu berpusat pada kedua matanya. Setiap kali aku menatap kedua iris matanya yang hitam pekat itu, aku seolah tenggelam dalam pesonanya. Aku hanya belum siap tenggelam terlalu jauh, meskipun jauh di dalam hati, kusadari perasaanku kepadanya sudah terlampau dalam. Kurasakan Baekhyun mengubah posisi duduknya, “Ternyata ukurannya benar. Aku tidak sabar mengalungkan itu kepada Ahjung.”

Aku mendongak, menatap Baekhyun dengan pandangan penuh tanya. Kulihat ada kepulan uap putih di setiap hembusan nafas Baekhyun, ia memandang lurus ke depan dengan kedua tangan terlentang pada sandaran bangku seperti sebelumnya. Kuyakinkan diriku bahwa telingaku mungkin salah dengar, tetapi aku memang benar-benar menangkap nama ‘Ahjung’ pada kalimat terakhirnya. Aku memberanikan diri untuk bertanya, “Mengalungkannya pada Ahjung? A-apa maksudmu?”

“Aku ingin membelikan sesuatu untuknya. Kupikir kalung adalah sesuatu yang menarik, dan disukai oleh wanita. Aku tidak tahu berapa ukuran lingkar lehernya, tapi kurasa postur tubuhmu setara dengan Ahjung, jadi aku ingin menyamakan ukurannya denganmu.” Baekhyun mengambil nafas panjang lantas tersenyum kecil, “Rasa-rasanya aku ini adalah kekasih yang buruk dan tidak perhatian dengan Ahjung. Maka setelah kupertimbangkan, menghamburkan sedikit uang untuk seseorang yang kusukai tidak ada salahnya.”

Aku termenung, memusatkan pandangan tepat pada sebagian wajahnya yang menghadap lurus  ke depan. Seperti ada sesuatu yang menekan di dalam dadaku, membuatku sedikit kesulitan untuk bernafas, rasanya sesak. “Kau dan Ahjung sudah..”

Kalimatku menggantung, aku tak sanggup melanjutkannya. Bahkan sesak dalam dadaku menimbulkan sensasi aneh pada batang tenggorakan, seperti ada sesuatu yang mengganjal. Baekhyun mengangguk kecil lantas melanjutkan kalimatku yang sempat tertahan, “Pacaran, kami sudah menjalin hubungan semenjak dua minggu yang lalu.”

Cairan hangat menggenang pada kedua kantung mataku, nyaris membuat penglihatanku buram seutuhnya, bahkan bola mataku terasa perih dan panas. Namun, aku masih dapat menjumpai seulas senyum tipis pada bibir mungilnya. Baekhyun melipat kedua tangannya di depan dada, “Aku bahkan belum mengatakannya kepada teman-temanku, mereka kira aku masih terjebak dalam fase pendekatan. Padahal hubungan kami sudah sejauh ini. Aku.. jadi merasa bersalah karena juga menyembunyikan hal ini darimu. Padahal kita sudah berjanji untuk tidak menyembunyikan sesuatu satu sama lain. Sebagai sahabat yang baik, aku minta maaf.”

Aku menunduk, dan tepat pada saat itu air mataku meluncur lalu mengembun pada mantelku. Kuulum bibirku, menahan bilamana sewaktu-waktu hela nafasku tersendat-sendat dan menimbulkan suara isakan. Jemariku meremas ujung mantel dengan kuat. Kenapa rasanya begitu sakit, bahkan aku sama sekali tak terjatuh ataupun tergores benda tajam hingga berdarah?

Kupejamkan kedua mataku dan kuusap sisa air mata pada pelupuk mata dengan jemariku seraya mengambil nafas dalam-dalam. Tidak, ini salah. Perasaanku benar-benar terlampau jauh sehingga aku bertingkah konyol seperti ini. Entah atas dorongan apa aku melepaskan tautan rantai pada kalung kemudian menjulurkannya kepada Baekhyun. Aku tetap menunduk, membiarkan wajah memalukan ini tersembunyi di balik helaian rambut panjangku. “Ahjung pasti menyukainya, kau sungguh kekasih yang baik,” kalimat ini terlontarkan begitu saja tanpa sempat terpikir olehku.

Memang itu kalimat yang sebagaimana mestinya harus kuucapkan, tetapi aku benar-benar tidak mengutarakannya dengan setulus hati.

Baekhyun hendak kembali bersua, namun suara ledakan menginterupsi pembicaraan kami. Kupikir itu hanyalah suara kendaraan yang mengalami pecah ban, namun begitu mendengar bunyi ledakan yang sama terus bersahutan secara bertubi-tubi, aku langsung mengangkat kepala dan menoleh ke arah sumber suara. Kedua mataku berbinar begitu menjumpai beberapa lingkaran kecil berekor melesat ke langit dan meledak seperti bunga yang bermekaran dengan berbagai gradasi warna, namun hanya berlangsung selama beberapa detik, lalu lenyap.

“Selamat tahun baru, Hyelin!” seru Baekhyun dengan nada riang. Namun aku kembali termenung begitu ia melanjutkan kalimatnya, “Dan selamat ulang tahun.”

Perlahan aku menoleh, dan pandangan kami saling bertubrukan. Sejenak kami terdiam, membiarkan letupan-letupan kembang api mendominasi momen pergantian tahun, menjadi saksi bisu atas pertemuan kami. Baekhyun kembali menggeser posisi duduknya, semakin mendekatiku. Aku tak dapat berkutik, bahkan terpaksa menahan nafas begitu wajahnya hanya berjarak beberapa senti dariku, membuatku mau tak mau tenggelam dalam pesona di balik iris matanya yang hitam. Jantungku kembali menggedor-gedor begitu Baekhyun menyibak helai-helai rambut yang menghalangi separuh wajahku dan menyelipkannya di balik daun telingaku dengan jemarinya.

“Aku tidak tahu kenapa kau selalu membiarkan rambutmu jatuh menutupi wajah,” Baekhyun mengeluarkan sesuatu dari balik mantelnya kemudian menyelipkan dan menjepitkan sesuatu pada helaian rambutku, “tetapi kau harus tahu kalau ini adalah asetmu. Jangan sembunyikan wajahmu seperti ini lagi, aku merasa seperti sedang berbicara dengan sadako.”

Aku tak dapat menahan rasa terkejut begitu Baekhyun secara spontan mendekap tubuhku, hingga daguku kembali bertumpu pada bahunya yang tegap. Tidak hanya jantungku yang berdebar kencang, perutku bahkan terasa menggelitik. Baekhyun membenamkan wajahnya pada bahu kananku, kemudian berbisik, “Aku benar-benar berterima kasih. Jika kau tidak duduk di bangku yang sama denganku sewaktu sekolah dasar dulu, mungkin kita tidak akan pernah saling mengenal.

“Apabila kau tidak mengajariku bagaimana caranya mengaplikasikan rumus-rumus Fisika dalam soal latihan, mungkin aku tidak akan pernah mendapat nilai sempurna pada mata pelajaran itu. Dan semisal kita tidak pernah bertemu, aku tidak tahu siapa yang akan memberiku dorongan hidup sewaktu aku menyerah. Sekali lagi, terima kasih, Hyelin; sahabatku.”

Jemariku gemetar, namun aku berusaha mengepalkannya kuat hingga kukuku nyaris menembus permukaan telapak tangan. Aku membiarkan cairan hangat yang semula tertahan membasahi pelupuk, kali ini aku tak sanggup membendungnya. Aku memandang punggung Baekhyun yang semakin menjauh dari pandanganku dalam diam, sementara kembang api masih saling bersahutan membelah keheningan malam.

 

Kenapa kau membuatku seperti kembang api, Baekhyun? Semula kau membuatku melayang, meledak, kemudian kau melenyapkan anganku..

 

Apa kau tahu, itu benar-benar menyakitkan.

 

 

FIN 

 

Mind to review? Komen kalian sangat membantu ^^

Iklan

9 pemikiran pada “Firework (Ficlet)

  1. Ommona!!aku nangis baca ini:'( aku kira itu kalung beneran buat hyelin.. Nyeseknya bertubitubi ini,rasanya sakit tapi gak berdarah;(( yah,mungkin benar seorang pria dan wanita tidak akan pernah menjadi sahabat sejati,toh pasti bakalan tumbuh rasa cinta karna rasa nyaman;’v *aaaseeekkk*
    Daebak,daebak ficletnya>.<

    Disukai oleh 1 orang

  2. Ahhh!!
    FF ini sukses mengaduk-aduk emosi
    Aku kira itu si aku sama baekhyun pacaran atau saling suka gitu, ternyata baek sama ahjung
    Terus aku kira baekhyun bohong soal pacaran, ternyata beneran
    Dan cum ngnggep sahabat
    Nyesek :”
    Feelnya dapet ;))

    Disukai oleh 1 orang

Review And Chat here!

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s