That Words (Ficlet)

71114641149880424012

Words that is always hidden inside of me 

That Words

Starring by EXO’s Baekhyun and OC

Genre: Angst | Rating: T | Length: Ficlet

This story officialy belongs to me 

“S–sunbae

Riuh sorakan segelintir murid perlahan merendah. Hampir sebagian besar dari mereka menjatuhkan fokus pada beberapa orang di tengah lapangan, atau lebih tepatnya antara seorang gadis berperawakan mungil dengan sekelompok lelaki berjumlah enam orang. Kebanyakan dari para penonton sukarela itu memilih untuk mengamati dari lantai dua bangunan sekolah, mereka pikir itu lebih menarik. Sedangkan aku dan beberapa orang murid justru bertahan di lantai bawah, namun aku mengambil lokasi yang cukup terpencil dan menyembunyikan separuh badan di balik pilar dinding. Suasana begitu senyap dalam waktu yang cukup lama, seluruh murid menunggu kelanjutan aksi gadis itu, termasuk diriku.

“Aku berada di sini untuk..,” gadis itu menunduk, menggantungkan kalimatnya. Salah seorang lelaki yang berada tepat di barisan terdepan kelompok tersebut menyedekapkan kedua tangannya di depan dada, dagunya sedikit terangkat. Dia, Byun Baekhyun, adalah lelaki yang kukenal sebagai seseorang yang begitu berpengaruh bagi popularitas sekolah dan tim basket kebanggaan sekolah, juga ketenaran kelasku.

“..untuk menyatakan perasaanku kepadamu,” sambung gadis itu, yang disambut oleh riuh siulan dan sorakan sebagian murid. Jemariku mengepal erat, sedangkan pandanganku tertuju pada beberapa gerombolan gadis di lantai dua. Mereka, yang juga pernah melakukan dan mengalami hal serupa dengan gadis yang kini tengah berada di lapangan sekarang, menyunggingkan bibir dengan sinis seolah mengetahui bahwa gadis itu juga akan berakhir dengan penolakan tegas oleh Baekhyun.

Ini sudah merupakan tradisi di sekolah kami, dimana para murid tahun ketiga memberikan kesempatan bagi adik kelasnya untuk mencurahkan perasaan mereka yang terdalam, dengan catatan; secara terang-terangan. Aku tidak tahu sejak kapan peraturan konyol itu mulai menjamur pada benak para murid sehingga mereka pun turut terpengaruh.

Memang, aksi seperti ini merupakan hiburan bagi beberapa murid, namun tak sedikit pula yang justru mengajukan protes, khususnya kepada guru bimbingan konserling. Akan tetapi, pihak sekolah tak kunjung mengambil tindakan tegas, kurasa mereka berpikir bahwa hal ini sama sekali tidak akan berpengaruh terhadap sistem pembelajaran dan hanyalah keisengan remaja belaka.

Dan kali ini, untuk ketiga puluh kalinya, Baekhyun menjadi target utama. Angka yang terlampau tinggi untuk seseorang mendapatkan pengakuan cinta hanya dalam periode tujuh bulan. Aku kembali mengamati objek di tengah lapangan, terlebih kepada gadis itu. Terkadang aku berpikir, betapa berani dan hebatnya mereka yang menyatakan perasaan di tengah-tengah keramaian meskipun pada akhirnya sebagian dari mereka justru akan mendapatkan celaan bahkan penolakan yang kelewat kurang ajar.

Kedua mataku seketika terbelalak begitu gadis itu bersimpuh di hadapan Baekhyun. Kalimat yang ia tuturkan pelan, namun dengan nada suara meninggi yang sedikit bergetar, “Aku menyukaimu, Byun Baekhyun sunbae. Tolong, balaslah perasaanku!”

Aku menggigit bibir bawahku gemas. Suasana kembali senyap, hingga kekehan Baekhyun yang tak begitu keras itu menggema. Ia menyembunyikan kedua tangannya di balik saku celana, kedua kakinya mengambil langkah pendek, menghampiri gadis di hadapannya lantas turut menyamakan posisi dengan menekuk salah satu lutut. Deru nafasku semakin memberat begitu Baekhyun menjulurkan jemarinya, mengangkat wajah gadis itu agar menghadap tepat pada wajahnya. Aksi ‘saling menatap’ itu tak berlangsung lama begitu Baekhyun berujar dengan nada sarkastis, “Kembalilah kemari untuk menyatakan perasaanmu kepadaku bila kau sanggup menghilangkan sepasang gumpalan lemak di wajahmu itu. Aku tidak suka perempuan berpipi tembam.”

Sayup sorakan dengan nada melecehkan serta tepuk tangan meriah mendadak mendominasi. Dan lagi, korban penolakan Baekhyun yang dipermalukan kini berjumlah tiga puluh satu. Semua nampak begitu gembira, para lelaki mendapatkan hiburan gratis, sedangkan para gadis bernafas lega seolah peluang mereka untuk memiliki dan dimiliki Baekhyun masih terbuka lebar. Ironisnya, aku tidak seperti itu.

Ada sesuatu yang membuat nafasku terasa begitu berat, sesak. Aku sedikit menunduk, jemariku meremas ujung kemeja dengan kuat. Aku tahu ada sesuatu yang mengganjal di balik kantung mataku, sesuatu yang hangat dan membuat kedua bola mataku memanas, sesuatu itu memaksa agar aku meneteskannya. Namun, aku berusaha menahannya, setidaknya hingga keperluanku terpenuhi nanti. Ada begitu banyak spekulasi yang berlalu lalang dalam benakku, dan salah satunya adalah; ‘bagaimana jika aku juga seperti ‘gadis itu’ pada akhirnya?’

Fokusku teralihkan oleh beberapa derap langkah yang saling bersahutan, dan saat itulah aku menyadari bahwa Baekhyun beserta anggota kelompoknya berjalan beriringan menuju ke arah tempatku berada. Baekhyun menyelipkan salah satu tangannya pada saku celana, sementara tangan yang satunya lagi menyangking kemeja almamater di atas bahu kirinya. Ia pernah berkata bahwa pose itu keren, dan aku tak dapat mengelak karena benar adanya.

Tepat di saat Baekhyun mengangkat wajah, pandangan kami saling bertubrukan. Sorot matanya yang teduh adalah salah satu alasan mengapa jantungku berdebar, dan kuakui itu adalah letak ‘pesonanya’ berada. Kupikir aksi ‘saling memandang’ ini akan berlangsung lama, namun Baekhyun menyudahi terlebih dulu dengan melenggang melewatiku, diekori oleh anggota kelompoknya. Aku mengulum bibir, gugup, namun lebih didominasi oleh kekecewaan.

Aku mengeluarkan sebuah buku dari balik tas, juga sebuah amplop. Ada suatu hal yang hendak kutegaskan kepada Baekhyun, tetapi aku rasa ini akan sedikit sulit, ditambah aku tidak memiliki keberanian untuk mengutarakannya. Berulang kali aku berusaha menyetabilkan deru nafasku, memberi dorongan kepada diri sendiri untuk segera bertindak rupanya tidak semudah yang kuduga. Namun tiba-tiba mulutku menyerukan namanya yang sejak tadi tertahan dalam benakku, “Baekhyun!”

Dan lelaki itu membalikkan badan, bersama dengan lima anggota kelompoknya. Terkadang aku merutuki diriku sendiri yang acap kali terlalu cepat mengambil tindakan tanpa memikirkan bagaimana caraku menyikapinya nanti. Kini, enam pasang mata itu menantikan kelanjutan ucapanku dengan tatapan cepat-katakan-sebelum-kau-membuang-waktu-kami-lebih-banyak. Lantas, aku mengambil nafas sebelum melangkah menghampiri mereka. Aku sedikit bergidik begitu menyadari betapa hening dan canggungnya situasi ini.

“Ada yang ingin kubicarakan denganmu,” ujarku spontan, dengan nada keraguan yang sedikit kentara. Baekhyun yang berdiri di bagian belakang kemudian melangkah maju. Jarak kami kini hanya terpaut dua langkah, memang posisi yang wajar karena kami bahkan pernah lebih dekat dari itu, tetapi untuk kali ini justru membuat suasana jauh lebih canggung. Ia memandangku dengan pandangan tegas, “Apa?”

Aku melirik kedua benda pada genggamanku dengan ragu, terlebih pada amplop putih itu. Otakku memberi komando agar aku menyelipkan benda itu dibalik sampul buku, tetapi hatiku berbisik agar aku menyimpannya atau bahkan membuangnya saja. Cukup memakan beberapa detik bagiku untuk berkutat dalam pertentangan batin, namun begitu menyadari Baekhyun mengamatiku dengan gelagat tak sabar, mau tak mau aku menuruti permintaan hatiku dengan menyelipkan amplop itu di balik saku kemeja.

Lantas aku mengambil satu tarikan nafas panjang, “Aku ingin mengembalikan novelmu.”

Baekhyun sempat tak menunjukkan reaksi apapun begitu aku menyodorkan buku ini kepadanya, tetapi beberapa detik berikutnya ia justru menaikkan sebelah alis seraya mengambil alih bukunya dariku, “Kenapa terburu-buru? Kau kan bisa mengembalikannya di rumahku?”

Aku tersenyum kecil. Ya, kami adalah tetangga, dan aku rasa hanya sebagian kecil dari murid di sekolah ini yang mengetahui hal ini. Kami memang tidak pernah berangkat maupun pulang sekolah bersama-sama lagi semenjak lulus dari sekolah menengah pertama, rutinitas dalam kegiatan ekstrakulikuler adalah salah satu faktornya, terlebih Baekhyun adalah anggota tim basket sementara aku adalah anggota jurnalis sekolah. Tetapi, keakraban kami memberi petunjuk secara tidak langsung bahwa aku dan Baekhyun telah bersahabat cukup lama. Dan terkadang, posisi ini membuatku sedikit bangga.

“Ya, awalnya aku berpikir begitu. Tapi, Ayahku memberitahu secara mendadak kalau pesawat kami dijadwalkan terbang siang ini. Lagipula kau juga jarang berada di rumah, kan? Tahu tidak, aku bahkan harus meminum dua cangkir kopi agar dapat menghabiskan separuh halaman novelmu tengah malam,” tuturku seraya memaksakan sedikit tawa yang malah terkesan hambar.

Baekhyun nampak begitu heran, “Pesawat? Pesawat apa? Kau ini bicara apa?”

Aku termenung sejenak. Kini justru aku yang dibuat bingung, “Kau sudah diberi tahu Ibumu, kan?”

“Diberi tahu apa? Kenapa kau berbicara berputar-putar? Aku tidak mengerti apa maksudmu,” sahut Baekhyun gusar dengan nada meninggi, membuatku sedikit tersentak. Mulutku kembali bungkam. Kupikir Baekhyun hanya berpura-pura lupa untuk mengulur waktuku atau semacamnya, tetapi menyadari bahwa kali ini ia membentak dengan nada tegas dan pembawaan yang serius, rasanya ia sungguh tidak main-main. Apakah ibu Baekhyun benar-benar belum memberitahukan hal ini?

“A–ayahku dipindahtugaskan ke Jepang. Untuk kali ini ia turut memboyong kami sekeluarga ke sana,” jelasku seraya meremat ujung kemeja, “dan aku juga akan meneruskan pendidikanku di sana. Ayah sudah mengurus berkas kepindahanku pagi tadi.”

Aku sedikit menunduk, membiarkan helaian rambutku jatuh menyembunyikan wajah. Kedua mataku begitu perih, serta sedikit berair. Aku bahkan tidak sedang berada dalam ruangan hampa udara maupun dalam kondisi terikat, tetapi mengapa dadaku begitu sesak?

“Maaf, aku tidak sempat memberitahukanmu secara langsung jauh hari. Aku bahkan belum sempat mengucap salam perpisahan kepada teman-teman. Maka dari itu, aku mohon agar kau sudi menyampaikan salam perpisahanku kepada mereka. Juga, aku ingin meminta maaf apabila ada perkataan maupun tindakanku yang mungkin sempat menyinggungmu maupun yang lain.

Aku akan segera memberi kabar begitu sampai di Jepang,” tuturku seraya membungkuk sembilan puluh derajat sebelum pada akhirnya melangkah menyusuri koridor. Air mataku meluncur, sebagai wujud pelampiasan atas berbagai perasaanku yang sejauh ini berusaha untuk kupendam. Aku mengulum bibir, menahan bilamana isakanku menyeruak, meskipun justru membuat nafasku jauh lebih sesak. Aku tidak sempat menghadap Baekhyun, menjatuhkan pandanganku ke dalam sorot matanya justru akan membuatku semakin jauh tenggelam ke dalam perasaan yang tak wajar.

Aku menyelipkan sebelah tangan di balik saku, meremas amplop yang sempat kusembunyikan di dalam sana. Benda itu, yang awalnya kupikir akan menjadi penyalur atas curahan perasaanku yang terdalam kepada Baekhyun, kini aku merematnya dengan kuat. Karena begitu banyak spekulasi yang membayang-bayangiku; Bagaimana bila Baekhyun menolakku? Bagaimana bila di kemudian hari kami tak dapat bercengkerama sebagaimana mestinya? Bagaimana bila ia kemudian menjauhiku dan membangun dinding pembatas di antara kami? 

Ada beberapa kata yang cukup membebaniku, bahkan memaksaku untuk meluapkannya, namun di saat-saat tertentu beberapa kata itu memilih untuk bersarang di dalam relung hatiku; Aku mencintaimu, Byun Baekhyun.

.

Gadis itu melangkah gontai, tak menoleh maupun menghentikan langkah sekalipun, meninggalkan lelaki itu yang kini membungkam. Jemari lentiknya mencengkeram buku pada genggamannya geram, bahu bahkan dadanya naik turun, mengontrol amarah serta nafasnya yang berbaur tak stabil. Pelupuk matanya memerah, membendung cairan hangat yang memberontak untuk diluncurkan.

Aku sudah menolak mereka untukmu, dan sekarang kau pergi?

FIN 

Mind to review? Komen kalian sangat membantu 🙂

Iklan

10 pemikiran pada “That Words (Ficlet)

    • Kalau dapet ide aku bikin lanjutannya, stay tune saja /jiah :’)
      Kkk, aku aja ragu pas ngetik ”Baekhyun anak tim basket kebanggaan sekolah” /kemudian lirik postur tubuh Baek
      Makasih udah nyempetin baca dan komen, ya 😀

      Suka

  1. Hii.. thor pengen sequel ni ato buat jadi chapter aja thor . ceritany menarik.. pengen tau deh gimana hubungan mereka kedepanny..
    apalagi si bebek di sini keren sbg ketua basket..
    d tunggu karya2 selanjutny ea..

    Disukai oleh 1 orang

Review And Chat here!

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s