1st – Beautiful Disaster

Author: anonymouspark

Genre: Comedy, Romance.

Lenght: Chaptered

Cast:

Park Chanyeol

Sheila Larasati (OC)

Other cast:

EXO

Disclaimer: This is just a fanfic. Already posted here

A/N: This story fresh from oven (read:my brain). All of cast belong to God. Do not copy my idea, kalau maksa ntar kamu aku doain bisulan 😉

Previous chapter: Teaser 1 l Teaser 2 l Teaser 3 l Teaser 4

Poster by deerkkamjong07

This holiday will become a beautiful disaster? I don’t know.

Chanyeol meremas rambutnya kuat sesekali menggaruk hebat kulit kepalanya yang bahkan tidak terasa gatal sama sekali. Sudah berkali-kali lelaki itu menghubungi manajer untuk membantunya keluar dari masalah dengan gadis yang ia tidak kenal tersebut, Chanyeol sadar bahwa ia sudah menabrak gadis tersebut sangat keras dan tidak sengaja maka dari itu dia harus bertanggung jawab. Tetapi disisi lain Chanyeol tidak harus memulai pertolongannya dari mana selain menghubungi manajernya tersebut.

Nomor yang anda tuju sedang tidak aktif atau berada di luar jangkauan. Cobalah beberapa saat lagi.

“HYUNG, AKU MOHON ANGKAT TELEPON DARI KU.”

Chanyeol kemudian berteriak bahkan memaki benda mati tersebut yang cukup memekakan telinga Sheila yang duduk di sebelahnya.

“YA! SETELAH MENCELAKAKAN KAKI KINI KAU BERNIAT UNTUK MENCELAKAKAN INDRA PENDENGARAN KU, HA?!”

Sheila tidak mau kalah kembali memaki Chanyeol yang mulai ribut. Kini gadis itu merasa seluruh anggota tubuhnya seolah-olah akan lumpuh total jika ia berada di dekat lelaki ini dalam jangka waktu yang cukup panjang.

Chanyeol bergidik ngeri saat mendengar suara Sheila yang berteriak dan cukup membuat telinganya sakit. Sungguh, tidak ada yang lebih menakutkan daripada teriakan gadis itu. Kedua mata Chanyeol kembali menelusuri Sheila, dari kepala sampai ujung kaki. Gadis itu terlihat sehat. Bahkan sangat sehat. Tetapi Chanyeol tidak yakin dengan kondisi kaki gadis tersebut, mengingat bagaimana dirinya menabrak gadis tersebut begitu kerasnya.

“Ya, gadis aneh dengan sejuta bahasa. Kau bahkan tidak seperti orang kesakitan. Kau terlihat sangat sehat.”

Sheila menoleh ke arah Chanyeol dan memberikan lelaki itu tatapan tidak percaya. Yang benar saja, apa hubungannya sakit kaki dengan kondisi tubuh lainnya.

“Menurut mu? Apa aku harus bertingkah seperti orang gila hanya karena dislokasi kaki? Apa aku harus terlihat lemah? Ah! Apa aku harus benar-benar terlihat sekarat agar kau percaya padaku? Baiklah kalau begitu, mulai sekarang aku akan berbaring saja, bersikap seperti orang lumpuh dan—“

Sebelah tangan Chanyeol membekap mulut Sheila sehingga gadis itu tidak bisa melanjutkan kalimatnya.

“Berisik.”

Sheila dengan seluruh tenaga yang ia punya mendorong tangan Chanyeol yang membekap mulutnya. Tetapi tetap saja ia tidak bisa karena Chanyeol sangat kuat. Tidak ada pilihan lain bagi Sheila selain melukai lelaki tersebut. Benar, ia harus melakukan sesuatu agar lelaki itu tidak membekap seenaknya.

“YA TUHAN. SAKIT!”

Kali ini Chanyeol berteriak lebih kencang dari sebelumnya. Untung  sisi bangunan tua pada sore itu sepi sehingga tidak ada yang bisa mendengar suara keras mereka yang saling beradu dari tadi. Chanyeol melihat pangkal jari telunjuknya yang merah akibat gigitan gadis aneh tersebut kemudian mengusap manja telunjuk berharganya. Di dalam hati Chanyeol ia mengumpat dan mengutuk gadis itu yang tidak-tidak.

Sheila melihat iba Chanyeol yang masih sibuk mengusap jari telunjuk yang ia gigit tadi. Sungguh, ia tidak bermaksud jahat untuk menggigit telunjuk Chanyeol, hanya saja ia merasa kesal karena lelaki itu membekap mulutnya sesuka hati. Ya, tatapan iba Sheila hanya muncul saat sisi baik gadis tersebut muncul. Detik kemudian air wajah Sheila berubah. Kini senyum licik terpampang di wajah Sheila saat melihat lelaki itu kini meringis kesakitan.

“Baru saja telunjuk mu yang aku gigit dan kau meringis seperti itu.”

Kini Sheila mulai berani melawan Chanyeol.

Chanyeol tidak langsung menjawab cemoohan Sheila tetapi menatap gadis itu tidak percaya. Yang benar saja, apa gadis itu benar-benar tidak tahu bahwa setiap anggota tubuhnya itu memiliki harga yang tidak ternilai. Apa gadis itu benar-benar tidak mengenali dirinya? Ayolah, bahkan ibu-ibu rumah tangga yang sibuk mengurus anak-anak pun tahu siapa Chanyeol. Mungkin terdengar masuk akal jika gadis itu benar-benar sibuk dengan kehidupannya –yang terlihat membosankan– atau terlalu banyak fenomenal lahirnya boygroup baru dengan wajah yang tidak kalah tampan dibanding dirinya bisa menjadi beberapa alasan kenapa gadis itu tidak terlalu mengetahuinya dirinya secara detail,tetapi alasan masuk akal tersebut membuat Chanyeol jengkel dan tidak percaya dengan sikap kasar gadis itu.

“Ya! Kau! Gadis aneh! Apa kau tidak tahu betapa berharga jariku ini bahkan setiap anggota tubuhku ini?”

Sheila memainkan telunjuknya di bibir. Bertingkah seolah dirinya benar-benar bingung.

“Tidak tahu. Mungkin tidak berharga sama sekali.”

Sheila hanya menjawab Chanyeol sesingkat itu kemudian tersenyum manis.

Kini Chanyeol menganga seperti orang bodoh setelah mendengar jawaban yang dilontarkan oleh gadis anehnya tersebut.

Apa? Tidak berharga sama sekali?

Chanyeol menggeram kesal sembari kembali berpikir bagaimana ia akan membalas setiap jawaban dan alasan tidak masuk akal yang keluar dari  mulut Sheila.

“Apa kau bilang? Tidak berharga? Aku akan menuntut mu jika tulang jari ku ini patah—“

“Tetapi jari mu tidak patah. Dan berhenti melebihkan sesuatu!”

Kedua bibir Chanyeol merapat. Ia ingin membalas Sheila tetapi ia kembali menahan diri. Bukan,lebih tepatnya ia kehabisan akal dan kehabisan kata untuk membalas ucapan Sheila.

“Kau benar-benar tidak tahu siapa aku? Apa kau benar-benar gadis alien? Apa kau terlalu miskin untuk tidak berselancar di internet? Apa kau—“

“BERISIK! Dan tolong berhenti meninggikan status mu dan bertingkah seolah dirimu adalah artis besar, dari tadi yang kau bicarakan hanyalah kau artis besar dan aku hanyalah gadis miskin yang tidak memiliki apa-apa.” Sheila kemudian berhenti dan merogoh isi tas kemudian memperlihatkan gadget terbaru yang masih hangat dibicarakan oleh orang banyak.

“Kau lihat ini. Aku tidak semiskin yang kau kira hanya karena tidak mengenal siapa dirimu! Dan jangan lupa dengan kamera rusak milikku yang sedang kau sandang. Apa sudah cukup bukti bahwa aku bukanlah gadis miskin?”

Chanyeol menunduk kemudian melihat kamera yang terlihat rusak akibat lensa kamera yang pecah.

Benar juga. Kalau dilihat dari segala sisi dan apa yang baru saja diperlihatkan gadis itu, memang ia bukanlah gadis miskin. Aku tahu itu, tetapi tetap saja. Kenapa ia tidak mengenal ku?

“Oke terserah mu. Tetapi apa mungkin kau pengikut ku? Stalker?”

Sheila tahu persis arah dan tujuan pembicaraan Chanyeol. Tetapi kenapa lelaki itu bisa berpikir sejauh itu? Dirinya? Stalker? Yang benar saja.

“Bahkah jika aku dibayar dengan harga tinggi pun aku tidak akan pernah tertarik mengikuti orang tidak penting seperti mu.”

“Dasar gadis aneh.”

“Lelaki narsis.”

“Kau lebih aneh.”

“Sok ngartis.”

“Kau adalah—“

Chanyeol tidak melanjutkan kalimatnya saat ponselnya berdering. Lelaki itu menghembus napasnya begitu  lega sebelum mengangkat panggilan masuk tersebut.

Hyung! kemana saja kau aku dari tadi menghubungi mu dan tidak ada respon sama sekali mohon bantu aku kini sedang dalam masalah sangat besar jadi tolong dengan segera kau menyusul ku kesini.”

Kemudian Chanyeol menarik satu napasnya yang panjang setelah berbicara panjang lebar tanpa jeda.

“Ya, ya, ya! Bicara pelan-pelan aku tidak mengerti maksud pembicaraan mu tadi. Tetapi tunggu dulu! Sebelum kau melanjutkan pembicaraan mu aku ingin mengingatkan kembali perjanjian kita. Bahwa kau akan membiarkan ku berlibur dengan kekasihku, begitu juga kau. Terserah dengan semua rencana yang sudah kau susun jauh-jauh hari.”

Chanyeol berdecak kesal saat mendengar manajernya tersebut kembali mengingat janji yang mereka buat sebelum mendarat di Pulau Jeju. Awalnya Chanyeol tidak ingin menganggu manajernya tersebut tetapi keadaan kini berbeda. Bagaimanapun manajernya tersebut harus menolongnya, dan tidak ada alasan baginya untuk menolak permintaan Chanyeol karena ini akan sangat berpengaruh besar bagi kehidupan mereka selanjutnya.

“Oke hyung, aku akan lanjut saja ke alasan utama mengapa aku mengganggu liburan mu. Aku kini bersama gadis lain. Bersembunyi di salah satu gedung tua. Alasan kenapa aku bersama gadis bodoh ini karena aku mematahkan kakinya.”

Sheila menoleh ke arah Chanyeol sembari menatap heran lelaki tersebut. Pertama, ia memanggil Sheila adalah gadis bodoh. Kedua, ia bilang dislokasi lutut Sheila adalah patah kaki. Apa maksud dari pembicaraan Chanyeol barusan?

“Kaki aku ini tidak patah—“

Ibu jari Chanyeol kini mendarat di bibir Chanyeol agar gadis menghindari mulut cerewet gadis tersebut. Chanyeol tahu bahwa ia telah berbohong mengatakan kaki Sheila patah. Tetapi hanya itulah salah satu cara agar manajernya itu bisa bergerak cepat.

“APA? YA PARK CHANYEOL APA KAU BERCANDA ATAU BERCANDA? APA KAU SUDAH GILA?! CEPAT KIRIM ALAMAT MU KINI MELALUI PESAN SINGKAT. KAU DALAM MASALAH BESAR!”

Chanyeol menjauhkan ponselnya dari telinga mencegah agar indera pendengarnya tersebut agar tidak rusak.

Tut tut tut. Hanya itu yang terdengar setelah Chanyeol kembali mengangkat ponselnya. Kini Chanyeol sibuk mengetik sebuah pesan singkat kepada manajer.

From: Chanyeol

To: Manajer Kim

83 Jungmungwangwang-ro72beon-gil, Seogwipo. Aku kini sedang duduk di sisi bangunan tua. Posisi agak menjorok, jika kau sudah sampai  tujuan, segera hubungi aku.

“Seharusnya kau lega, aku mempunyai kenalan yang bisa menolong kita dan kondisi kaki mu itu.”

Sheila hanya menjawab Chanyeol singkat kali ini.

“Bukan seharusnya memang begitu?”

***

Sudah kesekian kalinya Chanyeol melirik jam tangan. Sudah lebih dari satu jam ia menunggu Manajer Kim untuk segera menjeputnya. Pandangan Chanyeol hanya sibuk dengan jam dan ponsel karena ia terlalu malas untuk bertengkar dengan Sheila, gadis anehnya. Namun kali ini Chanyeol tidak bisa menahan dirinya untuk tidak menoleh ke arah Sheila saat ia tidak mendengar atau merasakan gerak gerik apapun dari gadis tersebut.

Benar saja. Chanyeol menemukan Sheila setengah menganga dengan kepala menunduk. Gadis itu tertidur dengan posisi yang aneh. Memang terlihat aneh mengingat kondisi kakinya yang belum bisa diluruskan atau ditekuk. Detik berikutnya tangan Chanyeol mengarahkan kepala Sheila agar bisa bersandar di bahunya. Tidak tahu setan atau jin apa yang merasuki Chanyeol untuk melakukan hal tersebut. Yang ia tahu, ia sedikit kasihan melihat wajah lelah gadis tersebut. Memang ia tidak mengeluh sama sekali dan menyinggung betapa sakit lututnya sekarang. Tetapi Chanyeol tahu bagaimana rasanya dislokasi di lutut memang sangat menyiksa. Walaupun dia baru mengalami hal tersebut sekali. Well, anggap saja lelaki itu hanya bersimpati dan kasihan melihat gadis itu. Hanya untuk saat ini.

Kemudian mata Chanyeol menelusuri setiap sudut wajah Sheila. Secara dekat. Tidak, tidak ada perasaan gugup atau jantung yang berdegup sangat kencang saat ia memandang wajah gadis itu secara seksama. Lebih kepada Chanyeol penasaran. Terlalu banyak alasan kenapa ia bisa penasaran dengan gadis itu. Hanya saja, Sheila terlihat berbeda., jika ia bandingkan dengan gadis Korea lainnya. Apalagi mengingat suatu hal, bahwa gadis itu tidak mengenal dirinya. Chanyeol sendiri tidak tahu kenapa ia bersikap seperti anak-anak tadinya kepada Sheila. Kenapa dengan gadis ini, sikap Chanyeol tiba-tiba berbeda?

***

Baru sekitar 15 menit Chanyeol beristirahat kini ia harus terjaga karena telepon masuk dari Manajer Kim.

“Halo, hyung.”

“Aku sudah memasuki wilayah Seogwipo, sekitar 15 menit lagi aku akan sampai. Tunggu ya.”

“Iya hyung, aku tunggu.”

Chanyeol menguap sebelum ia terkejut karena hidung mancung Sheila terasa sedikit runcing menyentuh jakunnya. Well, memang sedikit berlebihan mengingat posisi gadis ini begitu dekat denganya. Chanyeol menggoyang kasar tubuh Sheila agar gadis itu bangun dari tidurnya.

“Ya! Gadis aneh! Bangun!”

Tidak ada respon.

“Bangun. Cepat! Bahuku sudah kram.”

Masih tidak ada respon.

Ponsel Chanyeol kembali berdering, tanpa melihat layar Chanyeol segera mengangkat panggilan masuk tersebut.

“Chanyeol. Aku sudah sampai dan kini berada di sisi luar bangunan tua yang kau maksud. Cepat susul aku kesini.”

“Tunggu hyung. Apa keadaan di luar sepi?”

“Selagi sepi  makanya kau cepat-cepat kemari.”

“Oke. Tunggu aku.”

Tidak ada pilihan bagi Chanyeol selain membopong Sheila yang masih  tertidur pulas. Gadis itu benar-benar tidur seperti orang mati.

“Ahh! Kaki ku!”

Sheila tersentak dari tidurnya kemudian meringis kesakitan saat kakinya tidak sengajak ditekuk.

“Ya! Telinga ku!”

“Salah mu kenapa tidak membenarkan posisi tidur ku terlebih dahulu!”

“Aku tidak tahu jika itu akan mempengaruhi kondisi mu!”

“Siapa suruh kau tidak membangunkan ku terlebih dahulu!”

“Siapa suruh kau tidur seperti orang mati!”

“Kenapa kau—“

“Tolong eratkan rangkulanmu di leher ku sebelum aku menjatuhkan dirimu.”

Sheila hanya bisa diam sembari mengeratkan pelukannya di leher Chanyeol. Sepertinya hari itu berjalan cukup lama.

***

Setelah perkenalan singkat antara Sheila dan Manajer Kim, tidak ada lagi yang mengeluarkan suara setelah itu. Perjalanan menuju rumah sakit malam itu cukup tenang. Tentunya ditemani beberapa lantunan lagu dari radio setempat.

Sheila Larasati. Memang Chanyeol tidak terlalu menangkap nama lengkap gadis itu. Terlalu susah untuk dilafalkan bagi lidahnya, lagi pula ia tidak memiliki kepentingan apapun untuk mengingat nama gadis aneh tersebut. Chanyeol berusaha menahan diri untuk tidak melirik Sheila. Bukan, lelaki itu bukannya penasaran. Hanya saja gadis itu terlihat aneh jika diam. Memang, di mata Chanyeol gadis itu aneh di dalam semua hal.

Chanyeol menoleh ke belakang saat menyadari gadis itu tidak bersuara atau melakukan gerakan apapun. Seperti yang Chanyeol duga, gadis itu tertidur. Lagi.

“Chanyeol-ah, daripada harus membawa gadis ini ke rumah sakit dan menambah satu lagi masalah bagaimana kalau kita membawanya ke hotel mu dan—“

“Membiarkan dia bersama ku? Hyung, kenapa kau terdengar sangat jahat.”

Manajer Kim sendiri tidak tahu harus memikirkan solusi apalagi agar mereka bisa bebas dari masalah ini tanpa harus melibatkan banyak pihak.

“Hyung, kita berhenti saja dulu di rest area sembari menunggu manusia aneh bangun.”

“Dan selanjutnya?”

Chanyeol tidak menjawab pertanyaan Manajer Kim. Setelah sekitar 15 menit mereka menunggu Sheila untuk bangun dari tidurnya, Chanyeol geram kemudian memutuskan untuk membangunkan Sheila dari bangunnya.

“Ya, gadis aneh, bangun!”

Hebatnya, dengan sekali panggil Sheila kembali terbangun dari tidurnya.

“Ada apa?”

“Aku tidak bisa mengantar mu ke rumah sakit dan berpikir akan mendatangi dokter dimana kau menginap, jadi beri tahu aku dimana kau menginap.”

Sheila masih setengah sadar namun indera pendengaraannya mampu menangkap kalimat yang baru saja Chanyeol tanyakan.

“Aku menginap di The Shilla Jeju.” Sheila kemudian menguap lalu kembali tertidur.

“APA?”

“Ya! Sepertinya kau harus berhenti mencelakakan pendengaran ku. Kau ingin rugi dua kali?”

Sheila tidak bisa menahan dirinya untuk tidak memaki Chanyeol. Masih setengah sadar dan mata yang tertutup. Benar-benar aneh.

“Aku setuju dengan gadis itu.” Manajer Kim menambah kadar emois Chanyeol saat itu namun dengan cepat Chanyeol kembali menahan dan meredam emosinya karena ia terlalu lelah untuk itu.

Chanyeol kembali menoleh dan menemukan Sheila sudah tertidur lagi.

“Benar-benar gadis yang konyol,” umpat Chanyeol. “Ya! Mana kunci kamar mu! Aku akan mengantar mu, satu paket dengan dokter yang akan menangani mu.”

“Ini,” Sheila memberikan Chanyeol kunci kamarnya. “Jangan lupa untuk memanggil dokter untuk ku, dan…JANGAN GANGGU TIDUR KU LAGI.”

“Gadis ini. Bahkan kau tidak mengenal ku tetapi bisa menginap di hotel semewah ini.”

Sheila menjawab omelan Chanyeol dengan sebuah umpatan.

“What the hell.”

“I heard that miss.”

“What ever.”

Chanyeol menangkup wajahnya kemudian memijat pelan dahinya.

Liburan kali ini akan menjadi sebuah bencana yang… menyenangkan? Entahlah.

.

Btw, aku ada fiksi baru dengan cast Park Chanyeol – OC – Suho yang mau baca silahkan baca -> A Broken Promise

.

.

This story specially for Paja – @fzmaa yang selalu menanyakan kehadiran ff ini, here you go sist 😉

.

Halooo. Apa kabar kalian semua? Semoga baik-baik saja ya. Aku? Oh aku baik-baik aja kok, makin sehat malahn (gak ada yang nanya kali…) Okelah kalau begitu haha. Aku kembali sama lanjutan fiksi lain (setelah post galau nulis poem gaje, maaf buat kalian yg baper). Actually #aseeek, sebenarnya aku udah mulai sibuk, sibuk mencintai Chanyeol (gak deh, bercanda). Yah, as you know, kuliah dan bla bla bla, jadi ya harap maklum kalau aku post ff sebisanya aja. Terima kasih sudah mau baca dan ikutin cerita ini. Maaf kalau komedi aku receh /?, menghadirkan bapak jayus tambunan (apasih). yaudahlah ya, ENJOY ❤

See u on next story, xoxo~

Iklan

15 pemikiran pada “1st – Beautiful Disaster

  1. Kakak sudah lama aku menantikan ini hhaha, kenapa sheila nyangkal ngga suka sm chan pdhl kan dulu fans, sejauh ini keren kak, ceritanya masuk akal, aku sedih niih baca a/n kakak, semoga msh sempat nulis ya kak 🙂

    Suka

  2. HALO KAK, MALAM MINGGU KU LEBIH BERWARNA NIH GARA2 FF INI 😀
    Chanyeol lucu, sera ggc, garang2 cantik..hahaha
    Suka max deh aku sm ff ini, kak wul sllu, tbc pas lg seru… karya lain ditunggu 🙂

    Suka

Review And Chat here!

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s