REWIND

REWIND2
Title: Rewind – Author: Reiko – Lenght: Oneshoot– Disclaimer: I own the storyline and the male cast. My original fanfic was posted here Genre: Angst, Tragedy(maybe) – Rated: T – A/N: I didn’t like silent readers, so keep it well. Enjoy the storyline.
Summary: "Dia adalah milikku! Dan penghianat dihadapanku saat ini harus kulenyapkan secepatnya!"

..

..

Stop. Rewind. Rewind

Saat ini adalah musim semi dan aku mash terpaku di sudut kamar sempit yang aku tempati. Tape recorder terus berputar sepanjang hari.

Stop. Rewind. Rewind. Rewind. Rewind

Jari telunjukku terus menekan tombol ‘rewind’ setiap kali lagunya terhenti. Aku masih bisa membayangkan sosok itu. Seorang gadis yang dulu sempat menari-nari dengan indah, mengisi setiap perjalanan kehidupanku.

Stop. Rewind. Play

Telunjukku kembali menekan tombol yang sama, tapi kali ini aku menekannya lebih lama dari sebelumnya.

..

Aku berada pada sebuah ruangan. Sebuah ruangan yang tak asing, sehingga membuat mataku sedikit menyelidiki keadaan kamar itu dengan gusar. Aku terhenti pada sebuah pemandangan yang kutemukan. Aku mencoba memfokuskan kedua retina mataku untuk mencari tahu apa yang sebenarnya terjadi disana.

Aku tertegun. Pemandangan itu bukanlah suatu hal yang indah. Dia sedang berdekapan mesra dengan orang lain yang notabenenya adalah sahabatku. Dua insan yang berdekapan hangat itu tertangkap oleh retina mataku. Ini tidak mungkin.

“Kau!” aku mengepalkan kedua tanganku lalu berjalan mendekati mereka. “Kau! Beraninya kau!” jari telunjukku menunjuk seorang gadis dengan rambut pirangnya yang terurai bebas. “Jadi selama ini kalian––”

“K-kau?” gadis itu membulatkan matanya ketika melihatku berdiri tepat didepannya. Dengan sangat cepat ia bisa merubah raut wajahnya didepanku. “Apa yang kau lakukan disini?” gadis itu memalingkan wajahnya dari tatapan tajam mataku.

Aku masih terpaku. Dadaku terasa sangat sakit setelah melihat raut wajahnya yang menandakan bahwa ia menganggap tidak ada yang terjadi beberapa detik yang lalu. Ternyata kau sangat pandai bersandiwara.

“Aku ada urusan dengannya. Tapi sepertinya aku datang pada waktu yang sangat tidak tepat. Selamat bersenang-senang. Aku permisi,” aku membalikkan badan lalu melangkahkan kakiku menuju pintu keluar. Apa aku baru saja merasakan yang namanya sakit hati? Tangan kananku meremas kerah baju yang kukenakan. Kenapa rasanya sangat sesak? Aku bisa merasakan sakit di dadaku, seperti ada yang menekan dengan sangat keras saat ini.

“Tunggu aku!” pendengaranku masih berfungsi dengan baik. Gadis itu memanggilku. Langkah kakinya terdengar sangat tergesa untuk mengejarku. Aku menghentikan langkahku tanpa berbalik untuk menatapnya. “Bisakah kita bicara sebentar? Kau hanya salah paham” tangannya yang dingin menggenggam tanganku.

Aku membalikkan badanku. Dia sedang menggenggam tanganku dan menatapku dengan tatapan polos. Aku bisa saja menarik tanganku untuk melepaskan genggaman tangannya. Rasa sakit ini tidak akan bisa hilang hanya karena sentuhan tangannya. Dia mengatakan bahwa mataku sudah salah? Ck! Aku tahu kau sangat menikmatinya. Menikmati pelukan mesra dari pria lain dibelakangku.

“Dengarkan aku, Jessica-ssi, apa yang telah aku lihat, tidak mungkin dan tidak bisa aku ralat kembali,” aku memeberi penekanan pada setiap kata-kata yang kuucapkan, berharap bahwa aku dapat membunuh adrenalinnya.

Jessica menatapku dengan tajam, seakan menusuk kedalam mataku. “Baiklah, semua terserah padamu,” gadis berambut pirang itu melepaskan genggaman tangannya lalu mengalihkan pandangannya dariku. Raut wajahnya terlihat seperti sedang mencari alasan-alasan baru yang akan ia lontarkan padaku.

Aku melihat sebuah bayangan seorang mantan sahabatku muncul dibalik pintu kamarnya dan berniat untuk mendekati kami berdua. Tapi kurasa ia tidak akan berani menghampiriku bahkan bertatap muka saja ia sangat takut.

Aku menyadari sebuah hal. Semua kata-kata yang telah diucapkannya tadi membuatku semakin yakin bahwa mereka berdua memang memiliki sebuah hubungan khusus dibelakangku. “Bahkan kau tidak berusaha untuk meyakinkanku bahwa semua yang kulihat tadi adalah sebuah kepalsuan yang kalian buat,”

Aku tersenyum meremehkan. Kedua tanganku mencengkram bahunya . “Sejak kapan?” tenggorokanku tercekat. Aku mencoba menormalkan keadaanku yang menyedihkan. “Sejak kapan kau bermain dibelakangku dengan sahabatku sendiri?”

Iris mataku kembali menatap pintu kamar itu. Lu Han! Aku menggeram dalam hati sambil mengepalkan tanganku. Rahangku mulai mengeras mengingat wajahnya tadi.

Jessica menepis tangan kiriku yang masih berada di pundaknya. “Untuk apa lagi aku meyakinkanmu? Bahkan jika aku menjelaskan semuanya padamu sampai 100 kali, aku pastikan kau tidak akan pernah mempercayainya,” Jessica menolehkan kepalanya ke arah pintu dan aku yakin ia melihat kearah Luhan yang berdiam diri ditempat itu.

Jessica kembali menatap mataku. Matanya memerah. Mungkin ia akan segera menangis. “Luhan bisa lebih mengerti apa yang aku butuhkan. Bukan sepertimu yang selalu sibuk dengan semua pekerjaanmu!” Jessica melipat kedua tangannya didada.

Aku hanya menatapnya dengan raut wajah datar. “Jadi dia lebih baik dariku? Begitukah maksudmu? Apa selama ini yang kuberikan padaku masih kurang? Kau tidak tahu, kan? Aku selalu memikirkanmu, mencari cara dan waktu untuk bisa selalu bersamamu. Kau pikir aku tidak mempedulikanmu?” tangan kananku melayang, memukul dinding yang ada di sampingku. Rasa sakit yang menjalar di tanganku tidak sebanding dengan apa yang kurasakan saat ini.

Semua pengakuannya itu membuatku benar-benar telah kehilangan harga diriku dihadapannya. Ekor mataku menangkap sosok Luhan yang mulai berjalan mendekatiku dan Jessica yang sedang berargumen. Tapi kurasa, langkah kakinya terhenti setelah melihatku memukul tembok. Tergambar rasa bersalah yang sangat dalam pada raut wajahnya.

“Ya. Dia lebih baik darimu. Dia selalu ada di saat aku membutuhkan seseorang di sampingku. Tidak sepertimu yang akan datang menemuiku saat kau sedang membutuhkanku dan meninggalkanku begitu saja, tanpa mempedulikanku.” Jessica mengambil sehelai sapu tangan disakunya lalu menarik tanganku dan membalut luka di tanganku dengan sapu tangannya. “Biar aku obati dulu,”

Aku menarik tanganku dengan kasar dan menyingkirkan sapu tangan yang membalut tanganku. Mataku menatap tajam kearah Luhan dan Jessica secara bergantian. Aku membalikkan badanku dan melesat pergi dari apartement milik Luhan.

Aku sudah tidak peduli lagi pada mereka. Mungkin memang benar aku yang salah. Tapi aku tidak akan pernah suka dengan yang namanya penghianatan. Dan mereka sudah menghianatiku. Terlebih Luhan. Dia adalah orang yang sangat aku percayai selama ini. Dan Jessica, dia adalah satu-satunya gadis yang bisa membuatku jatuh cinta untuk pertama kalinya.

..

Deru nafasku semakin tidak teratur. Aku ingin semuanya kembali seperti dulu. Aku ingin dia kembali padaku. Aku ingin merasakan hangat tubuhnya saat aku mendekapnya dan membiarkannya tertidur dalam pangkuanku. Aku hanya ingin dia kembali ke tanganku, tentu saja dengan menyingkirkan Lu Han dari kehidupan kami.

“Aku tidak bisa seperti ini. Membiarkan penghianat itu menang? Cih! Tidak! Ini semua tidak akan pernah kubiarkan. Aku tidak akan pernah membiarkanmu mendapatkan gadisku!”

Aku kembali menekan tombol ‘rewind’, lalu berdiri didepan cermin. Mataku menatap pantulan diriku di cermin. Tangan kanan yang terluka ini sangat nyata. Ini benar-benar nyata.

Aku kembali teringat padanya. Aku teringat saat aku memeluknya di kamar ini. Aku juga masih bisa mengingat dengan baik, bagaimana kita membetulkan lampu bersama. Semua kenangan tentang dirinya kembali berputar dengan cepat di dalam otakku. Aku mengacak rambutku frustasi.

“Persetan!” Teriakku lantang. “Apapun itu, semua itu hanya kenangan! Yang harus aku lakukan sekarang hanyalah membalaskan dendamku dan merebut Jessica.”

Aku menekan tombol ‘rewind’ untuk kesekian kalinya. Aku bisa mengaamati wajah sendunya dari kejauhan. Jadi dia menangis? Dia menangis untukku atau justru ia menangis karena takut aku akan menghancurkan hubungannya?

..

Aku menghela nafas gusar seraya melangkahkan kakiku untuk pergi dari tempat pengintaianku. “Lu Han! Aku harus segera menemukannya dan segera melenyapkannya! Kau harus membayar rasa sakit yang telah kurasakan. Membayar setiap penghianatan yang kau lakukan padaku. Kau harus tau bahwa aku tidak bisa kalian permainkan!”

Aku masih menatap layar ponselku. Nomor ponsel Luhan sudah tertera disana. Aku hanya tinggal menekan tombol ‘call’ untuk menghubunginya. Mungkin saja ia bermuka tembok dan mau menemuiku. Aku menyunggingkan sebuah senyum penuh arti.

“Halo, Kris?”

“Apa kita bisa bertemu?” tanyaku setelah mendengar sapaannya. Aku adalah tipe orang yang sangat tidak suka berbasa-basi. Dan aku harap dia masih mau menemuiku. “Aku ada pekerjaan penting. Sebuah project besar dengan untung yang besar jika kau mau bekerjasama denganku.”

“Benarkah? Ah, kebetulan sekali. Aku ingin membicarakan sesuatu denganmu, Kris.”

“Baiklah. Nanti akan kukirimkan alamat tempat kita bertemu,” ujarku lalu memutus sambungan telepon. Dengan segera aku mengirimkan pesan berisi alamat tempat pertemuan kita pada Luhan. Setelah itu aku bergegas mengambil senjata dibalik laciku. Sebuah pisau lipat, serta pistol yang kumasukkan dalam saku.

Aku pergi ke tempat yang sudah kujanjikan menggunakan mobil McLaren kesayangan ku. Tidak butuh waktu yang lama. Tempat itu tidak jauh dari apartementku. Aku melihat sebuah rumah tua yang masih kokoh diatas tanah. Rumah yang sudah sangat lama tidak ditinggali. Rumah itu adalah bekas peninggalan keluargaku.

Aku melangkahkan kakiku kedalam. Rumah ini masih sangat terawat, karena beberapa orang suruhan Ayahku masih sering membersihkan rumah ini. Aku duduk di atas sebuah sofa yang ada di ruang tamu untuk menunggu Luhan datang. Dengan sigap aku menyelipkan sebuah pisau lipat di bawah meja yang aku tempati.

“Apa sudah lama menungguku, Wu?” aku menolehkan kepalaku ke sumber suara dan menemukan Luhan sudah berdiri di depanku. Kukeluarkan proposal sebuah proyek seperti yang aku bicarakan di telpon bersama Luhan beberapa waktu lalu.

Lagi pula, ini semua hanyalah sebuah drama kecil sebelum kematiannya. Mana mungkin aku langsung menikamnya. Kalau belum mempermainkan korban, dramanya tidak akan seru. Aku tersenyum penuh arti kearah Luhan. Didalam benakku sudah terbayang dengan jelas bagaimana darah menetes dari ujung matanya bersama dengan erangan kesakitan yang keluar dari mulutnya. Aku sudah tidak sabar.

“Kris? Boleh aku berbicara sebentar sebelum kita membahas apa yang ada di dalam kertas itu?” Luhan menatapku sambil menunjuk kertas-kertas yang aku keluarkan satelah ia melangkah masuk tadi.

“Ya. Katakan saja,” ujarku singkat. Aku berharap Jessica tidak mencoba mengikuti Luhan datang ketempat ini dan menggagalkan rencanaku. Tidak akan kubiarkan! Aku harus memilikinya kembali! Dia adalah milikku! Dan penghianat dihadapanku saat ini harus kulenyapkan secepatnya!

“Kris, Jessica masih mencintaimu. Hatinya masih sepenuhnya padamu. Aku hanya menjadi teman curhatnya, tidak lebih. Dan kejadian saat kami berpelukan, aku hanya mencoba untuk menenangkannya saat itu. Kumohon kembali dan berbaikanlah dengannya,”

Aku hanya tersenyum kecil menanggapi semua omong kosong yang di lontarkan Luhan padaku. Aku salah paham? Cih! Omong kosong! Aku tidak pernah salah menilai penghianat ini. Tanganku bergerak meraba bawah meja, mencari letak pisau lipat yang kusembunyikan. Aku menghitung mundur. Berapa lama lagi penghianat ini masih bernafas?

“Jika kau ingin membunuhku, bunuh saja aku. Lagipula jika aku meninggalkan dunia ini, tidak akan ada lagi yang mempedulikanku,”

Aku tersenyum kecut mendengar penuturan Luhan. “Oh? Pasrah sekali kau,” ucapku dingin sambil memainkan pisau lipat di atas meja. Mengukir sesuatu pada permukaan meja dengan ujungnya yang runcing.

“Aku pasrah karena kau membawa semua senjatamu, Kris. Sedangkan aku tidak membawa apa-apa. Dengan tangan kosong, mana mungkin aku bisa melawanmu, Kris?”

Aku meletakkan pisau lipat di hadapannya lalu mengambil sebuah pistol dari sakuku. “Kau tahu? Orang yang paling aku benci dalam kehidupan ini adalah penghianat bermuka dua sepertimu,” aku memainkan pistolku diatas meja sambil menatap matanya dalam.

“Lu Han, bukankah kau tahu aku sangat mempercayaimu. Aku sudah menganggapmu sebagai kakakku sendiri, dan bukankah kau mengatakan sendiri padaku bahwa kau menganggapku sebagai adik kesayanganmu? Tapi sekarang, kenapa kau justru menghianatiku?” wajahku tertunduk lesu. Kedua mataku panas dan berair. Luhan, Jessica.

“Kenapa, Kris? Apa aku salah jika aku memiliki perasaan yang lebih padanya? Kau bahkan tidak pernah ada waktu untuknya. Kau selalu sibuk mengurusi perkerjaanmu. Apa semua pekerjaanmu itu lebih penting daripada Jessica? Sepenting itukah pekerjaanmu sampai kau melupakannya? Barulah kau meninggalkan pekerjaanmu setelah Jessica bersamaku. Jadi apa salahku, Kris?”

“Kau tidak salah mencintainya. Tapi tidak bisakah kau mengerti, bahwa Jessica tu milikku! Milik adikmu sendiri Lu Han!” aku berdiri sambil menarik pelatukku yang sudah kuarahkan tepat kekepalanya.

“Ada dua tipe manusia bodoh di dunia ini. Pertama, mencintai dalam diam. Dan yang kedua, mencintai sesuatu yang telah menjadi milik orang lain.” aku menempelkan ujung pistol yang kubawa ke pelipisnya. “Dan kau.. Kau adalah keduanya!” bentakku keras sambil menarik kembali pistolku menjauh darinya dan kulepaskan pelatuknya.

“Kris Wu! Tidak! Kumohon jangan!” sebuah peluru perak melesat cepat keluar dari pistol yang kubawa bersama dengan suara pekikan seorang gadis yang terjatuh dipelukan Luhan. Darah segar mulai keluar dari perutnya, membuat ruangan ini mulai dipenuhi dengan bau anyir.

“Jadi kau lebih memilih melindunginya, Noona?” mataku melayang menatap Jessica. Aku tidak peduli dengan tubuhnya yang berlumuran darah. Semua ketulusannya, telah berhasil membuatku membencinya. Aku tidak akan membiarkan mereka hidup dan bersenang-senang dihadapanku.

“Kalian ingin bahagia dan hidup bersama, bukan? Dengan senang hati aku akan mengabulkan permohonan penghianat seperti kalian,” aku kembali bersiap menarik pelatuk pistolku.

“Apa tidak bisa berhenti? Sudah cukup! Semua penderitaan, rasa sakit, dan air mata. Apa itu semua belum bisa membuatmu puas, Kris?”

“Aku mohon hentikan,” Jessica mengeluarkan suaranya dengan susah payah. “Kau berubah, Kris.” gadis berambut cokelat itu menatapku dengan tatapan nanarnya. “Kalian berdua, bunuh saja aku. Bunuh! Bunuh aku sampai kalian puas, sehingga salah satu dari kalian tidak akan ada yang bisa memilikiku,”

“Permohonan kalian tidak membuatku merasa iba sedikitpun! Kau harus tahu Noona, semua rasa sakit yang ada ditubuhmu tidak sebanding dengan rasa sakit yang kurasakan. Kalian harus mati ditanganku!” aku menarik pelatuk pistol yang dengan segera senjata beramunisi itu memuntahkan peluru perak panasnya. Namun tembakanku melesat mengenai benda yang ada dibelakang Luhan. Aku mengerang frustasi.

“Kau.. Kau boleh membunuhku, tapi selamatkan anakmu. Bukankah lebih sakit ketika kau tidak mau mengakui anakmu sendiri dan membiarkan Luhan bertanggung jawab?”

“Anak? Sejak kapan?” aku menahan nafasku sepersekian detik setelah mendengar kalimat Jessica. Aku jatuh terduduk dihadapan Jessica. Aku merasakan sebuah pisau yang masih kusembunyikan dalam saku malah menusuk lambungku hingga robek. Ini tidak mungkin. Aku tidak bisa membiarkannya. Aku harus hidup! Aku tidak boleh kalah dengan mereka, para penghianat.

“Aku hamil, Kris! Aku hamil anakmu…” sebuah seringai kecil muncul di wajahku, sebelum akhirnya aku merasakan kepalaku menghantam lantai yang dingin dan pandanganku mulai hilang, kemudian aku hanya mendengar suara-suara yang meneriakkan namaku dan semuanya gelap.

..

Awan gelap mulai menutupi langit kota Seoul. Seakan mengetahui kesedihanku, titik-titik hujan mulai turun membasahi tubuhku dan segala sesuatu yang ada diatas tanah. Aku masih disini. Berdiri mematung didepan sebuah gundukan tanah yang mulai basah terkena hujan. Mataku tidak bisa menghentikan air yang keluar begitu saja membasahi pipiku.

“Jessica Jung, ayo kita pulang,” sebuah suara berat yang kukenal menepuk pundakku pelan. Aku hanya menggelengkan kepalaku. Bahkan saat ini aku tidak tahu bagaimana caranya agar kakiku bisa melangkah menjauh dari tempat ini. Kepalaku tertunduk melihat gundukan tanah basah didepanku.

“Aku berjanji akan melindungimu. Aku tidak akan meninggalkanmu.”

Sebuah tangan kekar sudah melingkar di pinggangku. Tangisku pecah. Aku seperti baru saja menyadari bahwa aku telah kehilangan seseorang yang sangat aku cintai. Hatiku hancur dan rasanya sangat sakit.

“Kenapa meninggalkanku, huh? Kau tidak tahu bagaimana rasanya kehilanganmu? Kau bodoh Kris! Sangat bodoh! Aku membencimu!”

Iklan

5 pemikiran pada “REWIND

Review And Chat here!

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s