Dominoes #1

PicsArt_1442197019783

We are like dominoes; I fall for you, you fall for another

Dominoes #1

 

Starring by EXO’s Baekhyun, OC, and EXO’s Sehun 

Genre: Angst | Rating: T | Length: Ficlet

This story officially belongs to me

Tubuh mungilnya menyelusup di antara beberapa pemain lawan yang berusaha menghadangnya. Namun dengan kegesitan larinya itu, ia berhasil mengecoh tim lawan dan melambungkan bola sepak itu ke dalam gawang, bersamaan dengan lengkingan peluit seorang wasit. Teman sesama regunya bersorak riang dan mereka melakukan serangkaian aksi selebrasi konyol yang mengundang tawa beberapa penonton.

Aku tersenyum kecil, terhibur dengan spontanitas mereka. Kulihat ia tengah merangkul beberapa kawannya dan saling berjabat tangan dengan pemain lawan. Gelak tawanya yang mendominasi membuatku turut tertawa kecil. Tak kusia-siakan wajahnya yang berseri itu, maka aku segera membidiknya dengan lensa kameraku. Sempat ia tak terdeteksi oleh pandanganku tatkala aku hendak menengoknya lagi, namun tubuhnya yang cukup mungil di antara teman-temannya itu membuatku tak membutuhkan waktu yang lama untuk mencarinya. Kini ia tengah berjalan menuju sebuah bangku di pinggir lapangan dan meneguk sebotol air mineral. Aku kembali memotretnya.

Namanya Byun Baekhyun, dan aku tidak tahu sejak kapan pesonanya mengusik kehidupanku. Kami cukup dekat sejak kecil, bahkan semakin akrab saja sampai saat ini. Aku tidak tahu mengapa kami bisa sebegitu dekatnya padahal Baekhyun adalah tipikal disaster sementara aku hanyalah seseorang yang irit bicara. Saling melengkapi, mungkin–begitu kata orang. Yah, tapi kami hanya sebatas itu, tidak seperti anggapan orang lain. Kalau boleh jujur, terkadang anggapan yang seperti ‘itu’ sering membuat kadar percaya diriku cukup berlebihan.

Kembali aku menengoknya. Aku tidak tahu apa yang sedang terjadi, tetapi Baekhyun baru saja melompat-lompat kegirangan seraya memandangi layar ponselnya. Ia bersorak gembira dan mengepalkan tinjunya ke udara, dan aku kembali mengabadikan tingkah kekanakannya itu dengan bidikan kamera. Aku terkikik geli begitu mengamati hasil bidikanku, Baekhyun benar-benar menggemaskan. Kira-kira sudah sepuluh tahun lebih kami bersahabat, jadi aku maklum dengan sikap hiperaktifnya yang sering kambuh seperti ini. Baekhyun suka lupa diri kalau usianya bahkan sudah hampir mencapai kepala dua sekitar tiga tahun lagi.

“Mengambil gambarku lagi, hm?”

Kami saling bertemu pandang saat itu juga. Ia berada tepat di hadapanku, namun sebuah pagar kawat pembatas memberi jarak di antara kami. Aku tidak begitu terkejut karena ia sering muncul tiba-tiba seperti itu, tetapi maaf saja, ia terlalu tampan untuk dijuluki ‘hantu’. Aku tersenyum simpul, “Tidak ada kegiatan, sih.”

Kedua mata Baekhyun melengkung seperti bulan sabit begitu ia tertawa renyah. Untuk kesekian kali, aku kembali jatuh terpikat akan pesonanya. Aku tidak tahu perasaan apa yang sedang bergerumul di dalam hatiku ini. Tetapi di saat aku selalu berada di dekatnya, jantungku berdegup dengan tempo yang cepat, dan aku tahu itu bukanlah hal yang wajar. Sepertinya ini adalah perasaan yang seperti ‘itu’, dimana kau ingin selalu berada bersamanya dan ingin memilikinya, yang orang bilang namanya ‘jatuh cinta’.

Tapi, apakah jatuh cinta adalah perasaan yang seperti ini? Rasanya seperti dipentalkan ke langit dan sepasang sayap menerbangkan tubuhmu di udara?

“Kenapa tertawa terus? Ada yang lucu?” tanyaku penasaran. Baekhyun masih sedikit terbahak, ia juga mengusap tengkuknya. Entah mengapa wajahku rasanya begitu hangat. Sepertinya perasaan yang aneh ini membuat aliran darahku mendidih menuju ubun-ubun. Membingungkan, kenapa orang-orang menyebut perasaan ini ‘jatuh cinta’, sedangkan jatuh itu pasti selalu membuat orang kesakitan. Tetapi, ‘jatuh’ yang ini justru ingin membuatku terbang dan tersenyum tak jelas.

“Bagaimana, ya, mengatakannya?” Baekhyun mendadak menjadi gugup. Kemudian pandangannya terpaku kepadaku, bibir mungilnya melengkung naik, “Aku.. sebentar lagi tidak akan sendirian, loh! Kemarin aku baru saja menyatakan perasaanku kepada Seolhyun, dan baru saja ia menerimanya, menerimaku menjadi pacarnya!”

Seperti ada dentuman di dalam jantungku, dan dentuman itu seolah menimbulkan luka gores yang tak berbekas. Baekhyun menunjukkan layar ponselnya di hadapanku, dan aku hanya dapat termenung seraya mengepalkan jemariku begitu membaca rentetan pesan singkat yang tertera. Kenapa tiba-tiba rasanya aku ingin marah?

“Besok kami akan bertemu di perpustakaan. Yah, aku benar-benar tidak sabar! Aku ambil tasku dulu lalu kita pulang bersama, ya? Akan kuceritakan bagaimana kejadiannya nanti saat di bis,” tutur Baekhyun antusias lantas berlalu memunggungiku, dan aku tidak tahu harus bagaimana, jadi aku hanya terdiam mematung.

Apakah ini arti ‘jatuh’ yang orang-orang maksud; setelah diterbangkan kemudian dihempaskan ke bawah?

 

Terasa begitu menyakitkan, mengapa hanya aku yang memiliki perasaan seperti ini?

 

TO BE CONTINUED

 

Annyeong^^ 

Yah, dunno what to say if i was the main character </3

Mind to review? Komen kalian sangat membantu 😀

 

Iklan

8 pemikiran pada “Dominoes #1

  1. Ping balik: Gallery of EXO School

  2. Ping balik: Dominoes #2 | Gallery of EXO School

Review And Chat here!

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s