THREE DAYS – SLICE #2

Three Days

Author : IRISH

Tittle : Three Days

Main Cast : EXO’s Byun Baekhyun, OC’s Lee Sunhee

Genre : Romance, Fantasy

Supported : EXO Members, Xi Luhan, Lee Jieun, A-Pink’s Jung Eunji

Rate : T

Disclaimer : This story is entirely fantasy and created by Irish. Any resemblance to real persons or organization appearing in this story is purely coincidental. EXO Members belong to their real-life, and OC’s belong to their appearance.

“Hanya karena dia sudah berbuat jahat padaku bukan berarti aku tak boleh mencintainya bukan?”—Lee Sunhee

Previous Chapter

Prologue || Chapter 1

 ██║♫♪│█║♪♫║▌♫♪│█║♪♫║▌♫♪║██

Day 1

In Sunhee’s Eyes..

Setelah enam kali gagal berangkat ke Jeollado karena keberanianku yang menghilang tepat saat aku akan keluar dari apertemen dan pergi ke stasiun, akhirnya aku berhasil mengambil kereta malam, pukul 1 malam, ke Jeollado.

Walaupun ada beberapa orang didalam kereta, aku tak begitu ketakutan karena mereka tidak menatapku, lebih tepatnya, mereka tak menganggapku ada. Dan hal itu membuatku merasa lebih tenang.

Aku sampai di Jeollado saat dini hari. Matahari bahkan belum bangun dari persinggahannya. Dan kereta dari Seoul tampaknya terlalu bersemangat membawaku ke tempat yang tidak kukenal ini.

Tidak. Aku juga tidak mengenal Seoul. Aku lupa tentang semuanya. Maksudku, aku ingat beberapa tempat di Seoul, tapi tidak ingat apa aku pernah datang ke tempat itu. Kecuali kebencian tak beralasan—atau beralasan tapi aku sudah lupa alasannya—orang-orang disana yang membuatku begitu tertekan selama beberapa waktu ini.

Polisi sudah memberiku alamat keluarga yang bisa kudatangi di Jeollado, dan aku diminta untuk menemui kepolisian di Jeollado agar mereka membantuku disini.

Toh jika aku tidak menemukan keluargaku, aku bisa menemui dokter Xi. Ia memberiku alamatnya disini. Dan aku bisa menanyakannya pada kepolisian jika aku butuh bantuan bukan?

Aku menghentikan langkahku setelah berjalan kira-kira lima belas menit dari stasiun kecil di Jeollado. Dan menatap rumah kecil tak terawat yang ada di hadapanku sekarang. Alamatnya benar-benar menunjukkan tempat yang kutuju, tapi sepertinya tempat ini bahkan tidak dihuni.

Mengapa aku berkata begitu? Karena aku tidak melihat satupun lampu menyala padahal keadaan disini masih gelap. Keadaan rumahnya juga tidak terawat. Apa tempat ini benar-benar tempat keluargaku? Ah.. Aku bahkan tidak bisa mengingat mereka semua.

Haruskah aku benar-benar pergi ke kantor polisi?

Benar. Aku harus minta bantuan mereka.

Aku melangkah mengikuti peta kecil yang sudah kubuat saat aku ada di Seoul, polisi Seoul mengajariku jalur tercepat menuju kantor polisi. Tak ada banyak perumahan padat di Jeollado, bahkan dari tempatku berjalan sekarang aku bisa dengan jelas melihat dua buah gedung yang paling terlihat besar ditempat ini.

Salah satunya kuyakini sebagai sekolah. Tapi yang satu lagi, kurasa rumah, tapi sangat besar dan mewah. Heran sekali kenapa orang-orang kaya membuat rumah mereka di desa tertinggal seperti ini.

Sisanya, hanya rumah-rumah kecil minimalis yang berjarak sekitar tiga sampai empat meter satu sama lain. Dengan mayoritas memiliki halaman sangat luas didepan atau disampingnya. Dan beberapa bahkan punya kandang ternak—aku bisa mendengar suara berisik babi, ayam, sapi, ataupun domba saat aku melewati beberapa rumah, dan bahkan ada suara anjing penjaga—dan tanahnya yang berdebu.

Rasanya seolah aku berjalan di pasir. Karena saat aku berbalik, dibelakangku tercipta kabut pasir karena ulahku sendiri.

Aku sampai di kantor polisi setelah berjalan sekitar enam atau tujuh menit. Melewati sekitar sebelas atau dua belas rumah. Kantor polisi jadi satu-satunya tempat yang punya sumber cahaya paling mencukupi dibanding tempat lain di tempat ini.

Satu-satunya jalanan aspal disini yang memiliki lampu jalananan bahkan lampunya berderit menyedihkan dan terkadang mati selama kurun waktu tertentu. Tempat ini.. menyedihkan.

Tapi bukankah aku lebih menyedihkan karena tak bisa mengingat kehidupanku sendiri? Setidaknya orang-orang yang tinggal disini akan punya kehidupan yang jelas, tidak sepertiku.

“..aish, murid-murid ini benar-benar mengerikan. Ya! Kalian! Kemari!”

“..tidakkah kalian jera dengan saling memukul satu sama lain? Huh? Kalian suka menginap dan tidur dijeruji huh? Aish! Benar-benar kalian membuatku kesal saja setiap hari..”

Aku melongokkan kepalaku ke dalam kantor polisi. Ada sebuah meja di tengah empat buah jerusi kosong berukuran dua kali tiga meter. Dan diujung ruangan, ada tangga menuju lantai atas. Di balik meja itu, tampak dua orang polisi tengah memarahi beberapa orang didepannya.

“..kenapa terus membuat masalah dengan memukuli teman huh?! Kalian mau tidak lulus sekolah?”

Dari penampilannya, empat orang yang duduk tertunduk didepan dua polisi itu pasti murid sekolah. Apa mereka murid-murid bermasalah yang tertangkap polisi? Kurasa ya.

“Chogi..”, ucapku memberanikan diri

Perhatian enam orang itu langsung tertuju padaku. Dan tatapan mereka membuat nyaliku ciut. Tanpa sadar aku melangkah mundur, entah mengapa. Oh ayolah Sunhee, kau mau membuat dirimu terlihat aneh?

“Oh, apa yang membawamu datang sepagi ini ke kantor polisi nak?”, tanya salah seorang polisi, bukan polisi yang tadi memarahi murid-murid itu.

“Ah, aku.. datang dari Seoul. Aku.. ingin menemui Ahn Soomin, keundae, apa mereka pindah rumah?”, tanyaku membuat dua polisi itu tampak saling memandang, tapi kemudian salah satu diantaranya segera tersadar.

“Ahn Soomin dan semua keluarganya sudah mati.”

Aku terkesiap saat salah seorang murid disana angkat bicara. Salah seorang namja itu, menoleh, menatapku.

“Satu tahun lalu, Juragan Ahn dan keluarganya mati dalam kebakaran dipabrik.”

Ucapan namja itu menjadi sambaran petir dini hari bagiku. Mereka sudah mati? Satu-satunya keluarga yang kumiliki sudah mati? Lalu.. untuk apa aku ada disini?

“Tapi ngomong-ngomong, kenapa kau mencarinya? Kau mengenalnya nak?”, salah seorang polisi berucap padaku.

“Ah, nde.. Ahn Soomin adalah pamanku..”

“Aigoo.. Lalu kenapa kau tidak tau apa yang terjadi pada keluarganya?”

Haruskah aku mengatakan pada mereka bahwa aku baru sadar dari koma dan tidak mengingat apapun? Kurasa aku tak bisa mengatakan hal itu.

“Keundae.. Apa aku boleh tau, Dokter Xi tinggal disini juga?”

“Kenapa kau menanyakan Appa ku?”

Aku menatap namja yang sedari tadi menyahut itu. Ia menatapku, meneliti. Tapi.. kurasa Dokter Xi terlihat sangat muda, tidak seperti.. Ia sudah memiliki seorang anak. Apalagi anak yang duduk dibangku SMU.

“Kau Lee Sunhee?”, tanya namja itu lagi membuatku tersadar

“Bagaimana kau tau?”

“Oh, jadi nona ini mengenal ayahmu?”, tanya polisi disana

“Ya. Dia pasien Appa. Biar aku saja yang mengantarnya ke Appa. Lagipula dia juga tidak punya tujuan disini.”

“Ah, geurae geurae. Lebih baik kau mengantarkan agassi ini supaya Ia tidak tersasar. Kali ini kau bicara baik.”

“Cepat sana! Kau ku bebaskan dari tidur dijeruji hari ini.”, ucap polisi lainnya

Namja itu memamerkan senyumnya dan berdiri berdiri. Saat Ia berdiri, aku baru sadar Ia begitu jangkung. Aku yakin Ia lebih tinggi daripada dokter Xi.

“Padahal aku begitu rindu makan ramen sambil menonton televisi dari dalam jeruji.”, ucap namja itu membuat salah satu polisi hendak menjitaknya lagi dengan gemas

Mendengar ucapannya, aku sedikit geli juga, tampaknya namja ini sering datang ke tempat ini.

“Kalian bertiga jangan pulang dulu, dia kuberi diskon karena dia kuberi tugas, tapi kalian pasti tidak bisa membantu apapun.. Jadi kalian..”, ucapan polisi itu perlahan tenggelam saat aku mengikuti langkah namja jangkung itu.

“Kau benar-benar Lee Sunhee?”, tanyanya saat kami diluar kantor polisi

“Ya. Siapa namamu?”

“Aku Park Chanyeol.”, ucapnya, “tapi, sebenarnya sakit apa yang membuatmu sampai ke Jeollado untuk menemui Appa?”

“Ah, Dokter Xi yang menangani kasusku.”

“Kasus?”, Ia menatapku sekilas, memperhatikan kesulitanku menggeret koper besar yang kubawa.

“Aku kecelakaan satu tahun lalu.. Dan koma. Kemudian saat aku sadar, aku tidak ingat apapun.”

“Kau tidak mengingat apapun?”, tanya namja bernama Chanyeol itu sambil sesekali menatapku, sementara aku menggeret koperku dibelakangnya.

“Aku.. tidak ingat apapun tentang kehidupanku.”

“Lalu keluarga? Teman? Sekolah? Rumah? Kau tidak mengingatnya?”

“Aku tidak ingat.. Dokter Xi yang memberitahuku bahwa aku yatim piatu dan keluargaku hanya ada di Jeollado.”

Terdengar suara tawa pelannya.

“Jadi kau bangun dari kematian?”, lanjutnya

Aku menggeleng pelan.

“Aku.. kurasa aku tidak mati.”

“Ah, tapi darimana kau dapat semua uang itu?”

“Uang apa?”, ucapku bingung

“Biaya rumah sakitmu tentu saja. Kau bilang kau tidak punya keluarga sama sekali. Dan Juragan Ahn juga tak pernah bercerita tentang keluarganya di Seoul. Jadi darimana semua uang untuk membiayaimu selama dirumah sakit?”

Ucapan Chanyeol berhasil membuatku menghentikan langkahku.

“Aku.. tidak tau.”

Chanyeol menatapku.

“Benarkah? Betapa anehnya..”, gumam namja itu

“Benar.. Sangat aneh. Aku bahkan tidak memikirkan hal ini sampai kau bertanya.”

Chanyeol kembali tertawa pelan.

“Jadi, berapa usiamu?”

“Aku? 22 tahun.”

“Sekolahmu?”

Aku mengangguk.

“Kyungri Art Academy.”

“Whoah, sekolah menakjubkan itu?”

“Kau tau?”, tanyaku

“Oh ayolah, siapa yang tidak tau sekolah elite seni itu? Kau ada di jurusan apa?”, tanyanya

“Aku.. tidak yakin. Tapi disurat kepindahanku, aku ada di Jurusan Seni Terapan.”

“Hmm.. Sayang sekali satu-satunya sekolah disini adalah sekolah biasa.”

“Aku juga tidak yakin akan bisa bersekolah disini..”

“Kenapa? Karena sekolah disini tidak seperti Kyungri?”

“Nde? Aniyo.. Bukan itu maksudku.”

“Lalu? Ah, bukankah Kyungri terkenal karena biaya sekolahnya yang sangat mahal?”

“Benarkah?”

Chanyeol menatapku, geli.

“Ya. Kau tidak mencari taunya? Apa kau murid beasiswa?”

“Ani.. Surat keterangan ini bilang aku murid reguler.”

“Tapi kau tidak punya keluarga bukan?”

“Oh.. Tidak satupun..”

“Lalu darimana semua uang itu?”

“Uang?”, aku menyernyit

“Uang untuk membayar sekolahmu. Kau juga tidak merasa aneh?”

Aku terdiam beberapa saat. Ia ada benarnya. Darimana aku dapat semua uang untuk biaya rumah sakitku? Dan darimana aku bisa membiayai sekolahku saat aku nyatanya tak punya keluarga satupun?

“Chanyeol-ssi..”

“Ya?”, Chanyeol yang sudah beberapa langkah jauhnya dariku sekarang menoleh, menatapku bingung.

Aku memandangnya. Ini pertama kalinya bagiku bicara dengan orang lain—selain polisi, perawat dan Dokter Xi—setelah aku terbangun beberapa bulan lalu. Dan anehnya, pembicaraan dengan namja ini justru membuatku mempertanyakan banyak hal.

Tidak seperti saat aku bersama polisi, perawat atau Dokter Xi, saat aku menerima dengan pasrah keadaan dan semua kenangan yang hilang ini.

“Ada apa?”, ulang Chanyeol

“Tidak.. Hanya saja.. Aku tidak pernah memikirkan semuanya seperti yang kau katakan. Darimana biaya rumah sakitku. Atau siapa yang mengurus pendidikanku.. Aku tidak pernah memikirkannya.”

Namja itu tersenyum.

“Sejak kapan kau sadar dari kematianmu?”, tanyanya

“Kurasa sudah beberapa bulan..”

“Dan selama beberapa bulan ini kau tak menemukan apapun.”

“Maksudmu?”

“Kurasa.. kau meninggalkan banyak hal penting di Seoul.”

Sepanjang jalan aku terngiang ucapan Chanyeol. Dan kuakui, aku merasa sama anehnya dengannya sekarang. Tapi, kenapa Ia bahkan bisa memikirkan hal-hal yang tak pernah terpikir olehku? Apa karena Ia anak dari seorang dokter? Kurasa. Ia mungkin mewarisi kejeniusan orang tuanya.

“Tapi, Chanyeol-ssi..”

“Ya Sunhee?”

“Kau benar-benar anak dari dokter Xi?”, tanyaku teringat pada ucapannya tentang panggilan ‘Appa’ tadi.

Chanyeol tertawa pelan.

“Yap. Kenapa? Apa aneh? Kau akan menemukan lebih banyak orang aneh dirumahku.”, ucap Chanyeol, Ia sekarang menghentikan langkahnya, kusadari kami sudah berada didepan sebuah rumah besar.

Sangat besar.

Apa rumah ini adalah gedung yang tadi kulihat dikejauhan? Jadi.. gedung besar satunya adalah rumah? Benar-benar rumah? Oh astaga.

“Masuklah Sunhee-ssi,”, ucap Chanyeol menyadarkanku

Ia membawaku masuk ke halaman luas dengan dekorasi kuno disana. Dan melewati sebuah taman—aku tak bisa mengatakan bahwa tempat ini benar-benar taman karena tamannya sungguh tidak terawat dengan banyak tanaman liar—kami sampai di pintu besar rumah ini.

“Ngomong-ngomong, aku tidak mau berterima kasih padamu karena sudah membuatku lepas dari polisi itu. Aku lebih senang tidur dijeruji daripada dirumah ini.”

Aku menyernyit mendengar ucapan Chanyeol.

“Rumahmu sangat bagus, apa yang salah dengannya?”, tanyaku

Chanyeol menyunggingkan senyum kecil.

“Kau akan tau sendiri.”

“Kau bicara seolah aku akan tinggal disini saja.”

“Bukankah memang begitu? Memangnya kau mau tinggal dimana didesa kecil ini? Appa ku tidak akan membiarkanmu kembali ke Seoul karena Ia tau kau mengidap Agoraphobia.”

Sekarang aku berdiri dan menatapnya tak mengerti. Sementara Ia sendiri masih menyunggingkan senyum yang sama.

“Agoraphobia?”

“Oh, Appa belum memberitahumu?”, tanyanya dan kujawab dengan gelengan pelan, aku memang tak bicara apapun dengan dokter Xi.

“Biar Appa menjelaskan sendiri padamu. Masuklah.”

Chanyeol kemudian membuka pintu rumahnya, dan bahkan dari luar seperti ini, aku bisa melihat bagaimana mewahnya rumah ini. Begitu menakjubkan. Sungguh luar biasa.

Sangat bagus. Sungguh.

Aku mungkin memang kehilangan ingatanku, tapi aku cukup yakin dimasa lalu aku mungkin tak pernah melihat rumah yang lebih sempurna daripada tempat ini.

“Jangan melamun, masuklah, Appa pasti sibuk dengan laboratoriumnya yang ada dilantai bawah.”

“Lantai bawah?”, ucapku bingung

“Ya. Kau lihat tangga itu?”, Chanyeol menunjuk ke arah salah satu sudut, disana terlihat ujung sebuah tangga yang pasti akan membawa seseorang ke lantai bawah.

Rumah ini benar-benar punya lantai bawah.

Tanpa bicara apapun aku melangkah masuk ke dalam rumah besar itu. Lampu kristal besar terlihat menggantung di langit-langit ruangan tempat kami berdiri yang punya konsep seperti ballroom ini. Sementara cahayanya berwarna jingga terang begitu menenangkan.

Aku melangkah mengikuti Chanyeol, dan saat langkahku hampir menuju ujung tangga, aku sedikit terkesiap melihat ada namja lain tengah berdiri ditengah-tengah tangga melingkar yang menuju kebawah itu.

Ia tampak berdiri menghadap tembok, ditangan kirinya terdapat beberapa buah krayon, dan tangan kanannya tampak sibuk menggambar ditembok. Oh sungguh? Ia menggambar ditembok?

“Dia siapa?”, tanpa sadar mulutku berucap

“Oh, dia Baekhyun, saudaraku.”

“Saudara? Kalian terlihat seusia.”, ucapku

Chanyeol tersenyum tipis.

“Ayo kebawah, abaikan saja Baekhyun, Ia suka bicara aneh-aneh.”, ucap Chanyeol sambil dengan santai melangkahi setiap anak tangga.

“Kau pulang terlambat lagi.”, entah kenapa aku kembali terusik mendengar suara namja bernama Baekhyun itu.

Ia menatap ke arah perginya Chanyeol, dan kegiatan menggambarnya terhenti. Sementara dengan hati-hati aku melangkahi anak tangga.

Langkahku terhenti saat melihat gambarnya. Ia menggambar siluet sebuah hutan gelap—untuk informasi Ia menggambar sangat besar dan kurasa tembok adalah kanvas pribadinya—dengan sinar matahari terbit yang menyusup diantara dedaunan rimbun itu.

“Cantik..”, mulut bodoh ini kembali berucap tanpa sadar

Dan ucapanku membuat namja itu menoleh, menatapku. Secara otomatis mataku bergerak mengamatinya dari atas sampai bawah.

Ia tidak setinggi Chanyeol, tapi Ia lebih tinggi daripada aku. Kulitnya pucat, sangat pucat. Ia punya mata sipit yang menatapku dengan tatapan sayu, seperti mengantuk, tapi lingkaran hitam disekitar matanya membuatnya.. entah mengapa terlihat tidak sehat.

Aku mengerjap cepat saat perlahan Ia tersenyum, padaku. Dan lengkungan bibirnya membuat wajah lelah namja ini terlihat sangat ramah. Ia hanya tersenyum sebentar, sebelum senyum itu lenyap dan Ia mengalihkan pandangannya, jemarinya kembali menggambar.

“Kenapa kau masih disini?”

۩۞۩▬▬▬▬▬▬ε(• -̮ •)з To Be Continued ε(• -̮ •)з ▬▬▬▬▬▬▬۩۞۩

Iklan

20 pemikiran pada “THREE DAYS – SLICE #2

  1. hahaha lucu deh masa si chanyoel lebih suka d kantor polisi pdhl rumahnya mewah. wah kayaknya keluarga chanyeol aneh semua. semoga yg baca gk ikut-ikutan aneh hehehe..

    Suka

  2. Ping balik: THREE DAYS – SLICE #7 | Gallery of EXO School

  3. Ping balik: THREE DAYS – EPILOGUE | Gallery of EXO School

  4. Ping balik: THREE DAYS – CHAPTER 8 | Gallery of EXO School

  5. Ping balik: THREE DAYS – CHAPTER 6 | Gallery of EXO School

  6. Ping balik: THREE DAYS – CHAPTER 7 | Gallery of EXO School

  7. Ping balik: THREE DAYS – CHAPTER 5 | Gallery of EXO School

  8. Ping balik: THREE DAYS – CHAPTER 4 | Gallery of EXO School

  9. Ping balik: THREE DAYS – CHAPTER 3 | Gallery of EXO School

  10. Bikin penasaran banget nih gimana masa lalunya sunhee, misteri banget
    dan kalimat tanya yang terakhir itu bikin kepo ><
    bagaimana nanti hubungannya baekhyun dan sunhee yang bikin ga kalah penasaran
    ditunggu next chapternya 😀

    Disukai oleh 1 orang

Review And Chat here!

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s