Dominoes #2

PicsArt_1442196909327We are like dominoes; I fall for you, you fall for another

Dominoes #2

Starring by EXO’s Baekhyun, OC, and EXO’s Sehun
Genre: Angst | Rating: T | Length: Ficlet
This story officially belongs to me

Previous: #1

Teman-teman mengemasi alat tulis mereka begitu guruku menyudahi pelajaran. Segelintir dari mereka berlalu pulang terlebih dulu, sementara yang lain masih sibuk bercengkerama satu sama lain. Tadi guruku mengajak kami untuk melakukan pembelajaran di perpustakaan dengan alasan ruang kelas kami berdebu sehingga membuatnya bersin beruntun, jadi di sinilah aku berada, ruang perpustakaan. Tak butuh waktu lama, beberapa temanku tadi turut beranjak meninggalkan perpustakaan. Sekarang suasana sudah seperti perpustakaan pada umumnya.

Aku memberesi beberapa alat tulisku yang tercecer di atas meja lantas memasukkannya ke dalam tas, menyangkingnya, dan mengambil langkah dengan lesu. Pandanganku bergulir tatkala mendapati Baekhyun bersandar pada salah satu rak buku. Meski aku hanya dapat mengamati salah satu sisi wajahnya, namun aku mengetahui ia tersenyum lebar. Kedua matanya terpejam dengan kepalanya yang sedikit mendongak, dan aku tidak tahu ia sedang memikirkan apa. Aku mengambil langkah kecil, dan naluriku memberi perintah agar aku tak beranjak, jadi aku memilih untuk bersandar di balik rak yang sama dengan milik Baekhyun. Kurang lebih kami saling memunggungi, dan sekali lagi, rak ini menjadi media pembatas di antara kami.

Sejak kemarin dadaku terasa sesak. Kukira aku terjangkit asma, tapi rasanya mustahil jika kau memiliki asma tanpa ada riwayat keturunan yang mengidap penyakit yang sama, jadi dapat kusimpulkan bahwa secara tidak langsung Baekhyun lah yang membuatku seperti ini. Baekhyun memang sudah sering menjadi akar penyebab mengapa nafasku begitu sesak, terlebih di saat aku selalu bersamanya. Tetapi kali ini rasa sesaknya berbeda, sesak yang membuat dadaku nyeri sekalipun tak ada luka gores ataupun lebam. Sesak yang kurasa timbul akibat rasa amarah, kecewa, dan sedih yang melebur menjadi satu, namun aku tak tahu mengapa.

Kemarin, Baekhyun menjelaskan segalanya kepadaku. Mulai dari bagaimana ia memiliki rasa dengan Seolhyun hingga meminta saranku untuk memulai suatu hubungan, tetapi aku hanya menanggapi tanpa antusiasme sekalipun, karena pada dasarnya aku pun tak tahu dan belum pernah menjalin suatu hubungan yang seperti itu. Aku benar-benar tak tahu harus bagaimana, dan malam itu tiba-tiba saja aku menangis tanpa alasan yang jelas di balik bekapan bantal. Mungkin itu naluriku yang memaksa untuk melampiaskan segala perasaan yang berkecamuk ini, benakku sudah tak kuat memendamnya, mungkin.

Derap langkah kaki mengusik lamunanku, dan saat kudengar suara lembut memanggil nama Baekhyun, tanpa perlu berpaling aku pun sadar jika itu adalah Seolhyun. Kemudian aku menangkap tawa kecil Baekhyun, lalu mereka terbuai dalam percakapan hangat. Gejolak amarah kembali meletup-letup dalam dadaku, namun aku hanya dapat mengepalkan jemariku erat. Aku tidak tahu kenapa aku harus marah, sedangkan aku sama sekali tak memiliki hak untuk itu. Baekhyun bahagia, sudah seharusnya aku juga begitu, tetapi kali ini aku tidak dapat merasakan kebahagiannya. Aku tidak rela, tetapi tak dapat bertindak.

“Jadi, sekarang kita adalah..” Baekhyun menggatungkan kalimatnya, yang kemudian disambut oleh tawa kecil Seolhyun, “Ya, sepasang kekasih.”

Aku mengulum bibirku, kemudian setitik embun hangat mengalir melalui pelupuk mataku. Mengapa rasanya sakit sekali? Tapi bagaimana, aku tidak dapat berbuat sesuatu selain menangis. Mengapa aku begitu bodoh? Mengapa aku harus jatuh kepada orang yang bahkan tidak memiliki perasaan apapun kepadaku? Orang yang bahkan mengatakan dirinya selalu sendiri padahal aku selalu berada di sampingnya.

Aku hendak berbalik, mengintip keberadaan Baekhyun dan Seolhyun dari balik tumpukan buku pada rak, namun jemari seseorang membekap kedua mataku dan ia membalik tubuhku hingga membuatku berada dalam dekapannya. Seharusnya aku berontak, tetapi tubuhku benar-benar tidak memiliki tenaga, jadi aku hanya menenggelamkan kepalaku dan meluapkan isak tangisku dalam dekapannya. Lalu aku mendengarnya berbisik pada daun telinga kiriku, “Bodoh, kalau sudah tahu rasanya sesakit ini kenapa harus bertahan? Ingin menambah luka hatimu?”

TO BE CONTINUED

Annyeong^^
Gimme your review, komentar kalian sangat membantu 😀

 

Iklan

8 pemikiran pada “Dominoes #2

  1. Annyeong..

    BYoon.. Hiks… Karya mu ini hiks…hiks… Jd mngingatkn ku pda jaman msih SMA kls 2 dlu..
    Tp bda nya cma d’latar tmpat aja, ini d’prpus aku d’Lab Biologi.. 😥

    Disukai oleh 1 orang

  2. Ping balik: Gallery of EXO School

  3. hii thor,nih komen pertama aq..
    nih jelas sgt pendek & gangtung bgt..
    tpi ceritany cukup menari karna feelny uda dpt..
    aq tebak itu pasti c sehun??
    kayknya bakalan seru..
    d tunggu next chap,.
    cepat & d panjangin dong,.hehee,,
    semangat..

    Disukai oleh 1 orang

Review And Chat here!

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s