Dominoes #3 (Final Chapter)

PicsArt_1442197061109

We are like dominoes; I fall for you, you fall for another

Dominoes #3 ; Final Chapter

Starring by EXO’s Baekhyun, OC, and EXO’s Sehun
Genre: Angst | Rating: T | Length: Ficlet
This story officially belongs to me

Previous: #1 #2

Langkah kecilnya mendahuluiku, ia berjalan memunggungiku. Helai rambutnya yang tergerai berayun-ayun seiring dengan angin yang berhembus, dan kulihat ia merapatkan kemeja almamaternya, kedinginan kurasa. Setengah berlari aku menghampirinya dan merangkul kedua bahu mungilnya, namun ia buru-buru menepisnya dan kembali berlalu mendahuluiku.

Aku hanya menghela nafas berat lalu mengekorinya lagi dengan kedua tangan yang kusembunyikan di balik saku celana. Nara benar-benar bodoh, tapi tidak kusangka ia sebodoh itu. Tadi aku tak sengaja memergokinya bersandar pada rak buku di perpustakaan. Ia menangis diam-diam lalu hendak menengok ke belakang, namun aku segera menutup matanya sebelum ia melihat dengan kedua matanya sendiri bahwa Baekhyun tengah bercumbu dengan Seolhyun. Aku mendekapnya. Ia tidak menolak, justru semakin meledakkan isak tangisnya dalam pelukanku. Dan aku merasakan sakit dua kali lipat.

“Mau sampai kapan mengikutiku? Aku bukan majikanmu,” ujar Nara tanpa berbalik menghadapku. Suaranya bergetar, aku tahu itu. Lantas aku menyahut, “Aku hanya ingin memastikan bahwa kau baik-ba–”

“Aku baik-baik saja. Tidak usah khawatir,” tukasnya dingin. Aku berdecih kecil. Mengapa gadis selalu begitu, mengatakan kondisinya ‘baik-baik saja’ padahal jelas-jelas ia sedang menangisi keterpurukannya. “Baik-baik saja katamu? Setelah mengetahui sendiri kejadian tadi, bagaimana bisa kau masih menyangkal kalau–”

“Jangan mengungkit-ungkit sesuatu yang sudah berlalu!” Nara menggertak geram, membuatku sedikit terkejut. Selama aku mengenalnya, belum pernah aku mengetahuinya begitu marah seperti itu. Bukankah itu berarti hal ini benar-benar mengusik perasaannya? “Tahu tidak, kau hanya belum terbiasa mengalami sakit hati. Jadi jangan membuat dirimu sedih berkepanjangan,” tuturku, tak terputus olehnya.

Kulihat Nara menghentikan langkahnya, maka aku pun juga. Ia sempat terdiam untuk beberapa detik sebelum suara paraunya sedikit meninggi, “Kau tidak tahu bagaimana perasaanku, jadi diamlah saja!”

Kemudian tak ada yang kembali memulai percakapan di antara kami. Ia masih mematung membelakangiku dan aku hanya memandang punggungnya dengan perasaan yang begitu.. muak? Ia hendak mengambil langkah lagi, namun aku buru-buru menyahut, “Aku pernah menyukai Seolhyun, tetapi ia jatuh kepada orang lain,” jemariku mengepal, “Aku mulai menyukaimu, tetapi kau pun juga jatuh kepada orang lain. Bagaimana bisa aku tidak dapat merasakan apa yang kau rasakan? Aku bahkan sudah mengalami hal itu dua kali, seharusnya aku yang lebih sakit, kan?”

Aku benar-benar tidak dapat menahan diri. Kalimat ini meledak begitu saja, setelah terlalu lama kupendam sendiri. Aku benar-benar tidak habis pikir, bagaimana bisa kedua gadis yang seharusnya adalah milikku justru menyukai orang lain–bahkan mereka menyukai orang yang sama. Aku benar-benar marah, tapi tidak tahu harus menyalahkan dan melampiaskannya kepada siapa. Semua perasaan kecewa, amarah, dan apapun itu yang sekiranya membebani melebur di dalam benakku.

“Untuk apa kau mempertahankannya? Dia bahkan tidak menganggapmu apapun, kan? Aku bahkan lebih memahami keadaanmu dibanding dengan Baekhyun,” terangku dengan nada meninggi. Aku benar-benar tidak membual soal ini. Mungkin ia tidak tahu jika aku selalu mengamati gerak-geriknya dalam diam, menyadari perubahan gestur dan mimik wajahnya tatkala Baekhyun menghampirinya–yang justru membuatku semakin dongkol dibuatnya.

Lalu Nara berbalik menghadapku. Kedua kelopak matanya membengkak, kemudian pandangannya yang semula sendu kini sedikit menampakkan kilatan amarah. Kulihat ia mengepalkan jemarinya, “Bukankah secara tidak langsung kau menyuruhku untuk membalas perasaanmu? Kau kira semudah itu? Kau kira melupakan seseorang yang sudah memberimu arti dari sebuah cinta pertama hanya membutuhkan waktu yang singkat?

Sebenarnya siapa yang egois? Lalu apa hakmu mencampuri urusan dan perasaanku? Kukira kau dapat menghiburku, tetapi kau justru membuat hal ini menjadi rumit. Seharusnya kau juga tahu diri.”

Ia memalingkan wajah dan berbalik, selangkah demi selangkah sosoknya semakin mengecil dari pandanganku. Dadaku begitu sesak, dan aku hanya terdiam mematung tanpa kata. Aku sudah membiarkan perasaan ini membusuk di dalam diri, dan sekarang perasaan ini berbaur dengan perasaan lain yang tak terbalaskan.

 

FIN

 

Annyeong^^
This is my first mini-series fic, and I think the conflict are flat enough/?
Gimme your review, I’ll aprecciate your critics and suggestions 😀

Iklan

8 pemikiran pada “Dominoes #3 (Final Chapter)

    • Iya kan ceritanya perasaan mereka saling jatuh gitu ke orang lain.
      Maaf, belum kepikiran buat bikin sequelnya. Sebelumnya maaf kalo ini ngegantung banget ;__;
      Makasih udah nyempetin baca dan komen ya ❤

      Suka

Review And Chat here!

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s