Who are You? [2]

who_are_you_2

Who are You?

Author : cloverqua (@cloverqua) || Main Cast : Oh Sehun, Kang Nara (OC)

Support Cast : Park Chanyeol, Lee Hyorin (OC) and others

Genre : AU, Friendship, Romance || Rating : PG 15 || Length : Chaptered

2015©cloverqua

Also published in : https://dreamin92.wordpress.com/

Previous : TEASER || 1

 

“Lee Hyorin!”

Gadis yang dipanggil itu tetap berjalan tanpa henti. Hyorin semakin mempercepat langkah kakinya menjauh dari Sehun yang berusaha mengejarnya. Entah sudah berapa kali, lelaki Oh itu memanggil dan memintanya berhenti. Hyorin terus berjalan mengabaikan Sehun yang tampak frustasi mengejarnya.

“Hyorin!” Sehun akhirnya berhasil menangkap pergelangan tangan Hyorin. Dengan satu tarikan kuat, lelaki itu sukses membuat Hyorin menghadap ke arahnya. Sehun terperanjat melihat bagaimana wajah gadis yang berstatus kekasihnya itu. Mata memerah dan sembap, bibir yang bergetar hebat, dan jangan lupakan isakan kecil yang terdengar darinya.

“Lepaskan tanganmu, Oh Sehun!” bentak Hyorin.

“Tidak. Sebelum kau mau mendengarkan penjelasanku sampai selesai,” Sehun tidak mau emosi gadis itu mengacaukan semuanya. Ia tahu kebiasaan buruk Hyorin jika sudah dikuasai emosi. Hyorin tidak bisa mengontrol semua ucapan yang keluar dari mulutnya.

“Penjelasan apa lagi yang ingin kau katakan, hah?” Hyorin tersenyum sinis. “Kau mau bilang jika apa yang kulihat tadi adalah sebuah kesalahan?”

“Ya,” Sehun menarik napas dalam, lalu menghembuskannya perlahan. “Apa yang kau lihat tadi, bukan seperti yang kau pikirkan, Hyorin. Tadi itu hanya sebuah kecelakaan kecil yang tidak disengaja.”

“Kecelakaan kecil?” bibir Hyorin mengatup rapat. “Dengan posisi kalian yang seperti itu, kau bilang hanya kecelakaan kecil? Bahkan orang awam pun bisa menilai jika kalian hendak melakukan sesuatu.”

“Astaga, Hyorin. Apa sekarang kau sedang mencurigaiku?”

Hyorin tidak menjawab. Ditatapnya wajah Sehun yang menegang—bola mata itu menatap lurus ke arahnya.

“Ya. Semenjak aku tak pernah mendapatkan restu dari orang tuamu, rasanya sulit bagiku untuk mempercayaimu sepenuhnya,” Hyorin mulai terisak. “Apakah kau akan tetap memperjuangkan hubungan kita sampai orang tuamu menyetujuinya? Apakah kau akan selamanya tetap berada di sisiku walau apapun yang terjadi nanti? Apakah kau akan setia dan tidak akan perah berpaling pada wanita lain?”

Wajah tegang Sehun perlahan berubah. Sorot mata kemarahan itu berganti menjadi tatapan sendu.

“Kau tahu, semua pemikiran itu selalu menghantui diriku dan sangat menyiksaku,” Hyorin memejamkan matanya. Sehun tertegun melihat Hyorin meneteskan air mata.

“Cukup, Oh Sehun,” Hyorin menarik napas panjang. “Kita sudahi saja.”

“Hyorin?”

“Aku sudah lelah, sangat lelah,” cairan kristal bening itu kian deras mengaliri pipi Hyorin. “Lebih baik kita akhiri saja hubungan ini, Sehun.”

“Tidak!” Sehun meremas pundak Hyorin. “Sudah kukatakan aku tidak akan pernah melepaskanmu, Hyorin. Kau hanya perlu bersabar. Aku yakin orang tuaku pasti akan merestui hubungan kita.”

“Berapa lama lagi, Sehun? Berapa lama lagi?” Hyorin menaikkan volume suaranya. “Jangan pernah berjanji untuk sesuatu yang tidak akan pernah bisa kau tepati!”

Sehun kehabisan kata-kata untuk membalas ucapan Hyorin. Sejujurnya, ucapan gadis itu tidak sepenuhnya salah. Ia sendiri bahkan tidak yakin dengan janji yang selalu ia katakan pada Hyorin. Hampir 1 tahun merajut kasih dengan gadis Lee itu, orang tua Sehun tak kunjung memberikan restu.

Hyorin tersenyum tipis ketika tangan Sehun menjauh dari pundaknya.

“Mulai sekarang, jangan pernah hubungi atau temui aku lagi,” Hyorin memutar tubuhnya, membelakangi Sehun yang masih berdiri dengan wajah sedih. Bola mata Sehun menatap lurus ke arah Hyorin yang mulai berjalan menjauh dari hadapannya. Meninggalkannya seorang diri, di tengah keramaian kota yang seolah kontras dengan suasana hatinya.

Kehilangan seorang gadis yang sangat ia cintai, Sehun merasa separuh jiwanya telah pergi.

//

Nara mengeratkan jaket yang ia kenakan. Berjalan seorang diri menyusuri jalanan menuju apartemen Jinhee di Myeongdong. Nara mendongak, memandangi lampu di sepanjang jalan yang terlihat cantik. Pikirannya kembali menerawang. Kejadian tak menyenangkan di kafe beberapa jam yang lalu, kembali berputar di dalam kepalanya.

“Bagaimana jika mereka bertengkar karena kejadian tadi?” gumamnya lirih.

Nara mengernyit ketika merasakan sesuatu yang aneh pada kakinya. Gadis itu duduk sejenak di bangku umum tepi jalan.

Tidak tahu kenapa, Nara tiba-tiba saja melamunkan Sehun. Ia kembali mengingat-ingat bagaimana ekspresi wajah Sehun ketika sedang marah. Sorot mata tajam seperti elang, suara keras saat mengeluarkan amarah, dan jangan lupa ekspresi wajahnya yang hampir sama seperti pembunuh berdarah dingin. Datar, namun memancarkan aura yang menakutkan.

Setidaknya gambaran seperti itu yang selalu ada dalam pikiran Nara, setiap kali ia mengingat sosok Sehun. Emosinya selalu saja terpancing karena kemarahan Sehun yang menurutnya sangat tidak beralasan.

“Apa dia tidak bisa bersikap baik padaku?” Nara menghela napas. “Walau hanya sekali saja.”

Kali ini Nara mengingat lagi, bagaimana ekspresi wajah Sehun ketika berinteraksi dengan Hyorin. Laki-laki itu tersenyum. Senyuman yang belum pernah Nara lihat ketika mereka berinteraksi. Di mata Nara, Sehun yang sedang tersenyum terlihat sangat tampan dan mempesona.

“Ish, apa yang sedang kupikirkan?” Nara menggelengkan kepala. Berusaha keras membuang jauh-jauh pikiran aneh yang mulai merasuki otaknya. Logika Nara mungkin bisa menolak, tapi hati kecilnya tidak bisa berbohong kalau ia sangat iri dengan perlakuan Sehun kepada Hyorin, bahkan terhadap pegawai kafe lainnya.

Hening. Nara kembali larut dalam pikirannya sendiri. Kejadian terakhir yang melibatkannya dengan Sehun, tampaknya akan menghambat keinginannya untuk segera terwujud. Keinginan agar Sehun bisa bersikap baik padanya.

Nara mempunyai firasat buruk terhadap nasib hubungan Sehun dengan Hyorin. Kejadian memalukan itu tidak bisa dihapus begitu saja. Apalagi bagi Hyorin. Pasti gadis itu mengira jika dirinya dan Sehun sedang melakukan sesuatu. Padahal jelas-jelas itu hanyalah sebuah kecelakaan kecil yang tidak disengaja.

“Hhh … kuharap hubungan mereka baik-baik saja.”

//

“Nara?”

Nara hanya tersenyum tipis seraya berjalan masuk ke dalam apartemen Jinhee. Ia terlihat lesu karena kelelahan setelah menerima hukuman dari Sehun. Bukan hanya itu, kaki Nara juga terasa sakit. Sepertinya efek setelah ia terpeleset di lantai kafe beberapa jam yang lalu.

“Ada apa dengan kakimu?” tanya Jinhee penasaran. Ia mengitari sofa di depannya, kemudian duduk di sebelah Nara. Dipandanginya gadis itu yang sedang berusaha menyelonjorkan kakinya. Mata Jinhee membulat sempurna melihat kondisi pergelangan kaki kanan Nara yang sedikit bengkak.

“Astaga, Nara!” Jinhee berteriak panik. “Kakimu bengkak?”

Nara meringis lebar, “Pantas saja terasa sakit.”

Jinhee berdecak, “Bagaimana bisa kau tidak menyadarinya? Sudah, tunggu di sini. Aku akan mengambil kompres untuk kakimu.”

Saat Jinhee hendak berdiri, tiba-tiba saja tangan Nara mencengkeram pergelangan tangannya.

“Terima kasih,” ucap Nara singkat, namun mampu memunculkan rasa penasaran dalam benak Jinhee. Raut wajah Nara sekarang jauh dari kata baik. Sangat kontras dengan senyuman yang baru saja ia perlihatkan pada Jinhee.

“Sepertinya kau berhutang cerita padaku, Kang Nara,” Jinhee memicingkan matanya. “Setelah aku mengobati kakimu, kau harus menceritakan semuanya padaku. Mengerti?”

Nara mengangguk, lalu membiarkan Jinhee pergi ke dapur. Ia tersenyum, merasa lebih tenang setelah sampai di apartemen gadis itu. Jinhee memang sahabat terbaiknya.

Jinhee kembali dari dapur dengan membawa baskom yang berisi es dan handuk kecil. Ia bungkus beberapa kubik es menggunakan handuk, lalu mengompresnya secara perlahan pada pergelangan kaki kanan Nara. Jinhee tampak cekatan melakukan pertolongan pertama terhadap kaki Nara yang mengalami cidera itu.

“Aku sudah menyiapkan makan malam untukmu. Setelah ini, kau makan dulu ya?”

Nara mengangguk. Jinhee lantas berdiri sambil membawa peralatan yang ia gunakan untuk mengobati kaki Nara. Gadis itu pergi ke dapur sejenak, meninggalkan Nara yang kini tampak bersusah payah berdiri dari posisinya. Rasa lapar yang menghinggapi perutnya mendorong gadis itu untuk secepatnya pergi ke ruang makan.

“Ish, jangan memaksakan diri!” Jinhee yang baru saja kembali buru-buru menghampiri Nara. Ia posisikan tangan Nara agar merangkul pundaknya, lalu memapah gadis itu ke ruang makan.

“Maaf, aku jadi merepotkanmu.”

“Sudah menjadi tugasku untuk menjaga dan melindungimu, Nara,” Jinhee tersenyum. “Aku sudah berjanji pada kedua kakakmu.”

Nara tersenyum, kemudian mengeratkan pelukannya pada Jinhee. Jinhee yang melihat kelakuan Nara kembali seperti anak kecil, hanya tersenyum geli.

Rasa lapar yang sejak tadi mendera Nara, membuat gadis itu segera menyantap makan malam yang sudah disiapkan Jinhee. Ia memang terlambat pulang, karena itu Jinhee sudah lebih dulu menikmati makan malamnya.

“Jadi, apa kau sudah siap bercerita?”

Nara yang sedang menyuapkan sesendok nasi ke dalam mulutnya, melirik Jinhee yang tengah menatapnya dengan sorot mata serius. Nara masih mengunyah makanan, menelannya perlahan, sebelum akhirnya menjawab pertanyaan Jinhee.

Jinhee mendengarkan dengan seksama semua penuturan yang keluar dari bibir Nara. Ekspresi wajah gadis itu tampak berubah-ubah, hingga berakhir dengan helaan napas panjang. Rasanya ia masih tidak percaya dengan pengakuan Nara, soal insiden di kafe yang melibatkannya dengan Sehun.

Sementara raut kesedihan mendominasi wajah Nara. Gadis itu hanya memainkan sendoknya, mengaduk-aduk sup yang mulai dingin.

“Itu bukan salahmu sepenuhnya,” setelah beberapa menit bungkam, Jinhee kembali berbicara. Mengeluarkan pendapat yang sekiranya bisa menenangkan suasana hati Nara.

“Jelas ini salahku, Jinhee,” Nara menunduk. “Aku tidak bisa mengontrol emosiku, sampai menumpahkan air dalam ember itu. Kalau saja aku bisa menahan diri, mungkin saja aku tidak akan terpeleset. Dan kejadian memalukan itu tidak akan pernah terjadi, bahkan sampai dilihat oleh Hyorin-eonni.”

“Itu salah Sehun-oppa sendiri,” kesabaran Jinhee mencapai batas. Sungguh, ia tidak tahan melihat Nara mendapat perlakuan seburuk itu dari bos mereka. “Dia terlalu keras padamu.”

Nara belum merespon. Gadis itu memilih menghabiskan segelas minumannya.

“Setiap orang mempunyai batas kesabaran yang berbeda. Aku yakin tadi itu adalah batas dari kesabaranmu selama ini,” Jinhee melipat kedua tangannya. “Kupikir dia pantas menerimanya. Memangnya ada orang yang bisa bertahan lama dengan perlakuan kasar dan dinginnya itu?”

“Kenyataannya memang ada,” Nara meringis lebar, lalu mengarahkan telunjuk pada wajahnya. “Aku.”

“Benar juga,” Jinhee mendekatkan wajahnya, lalu matanya terlihat lebih sipit dari biasanya. “Aku heran kenapa kau bisa tahan dengan sikapnya. Jangan-jangan—”

Mata Nara mengerjap lembut. Sedikit risih karena Jinhee terus memandanginya dari jarak dekat.

“Jangan-jangan kau jatuh cinta pada Sehun-oppa?” lanjut Jinhee polos.

“A—apa? Jatuh cinta?” Nara tertawa remeh, “Mana mungkin aku jatuh cinta pada laki-laki pemarah seperti dia? Kau ada-ada saja, Jinhee.”

“Benarkah?” Jinhee tersenyum menyeringai, “Lalu kenapa wajahmu memerah, Kang Nara?”

“Ti—tidak. Kata siapa?” Nara memegangi kedua pipinya. Benar saja, rasanya sangat panas. Nara tidak bisa membayangkan bagaimana tampilan wajahnya sekarang. Pasti tampak seperti kepiting rebus.

“Bahkan kau tergagap seperti itu menjawab pertanyaanku,” seringaian Jinhee semakin terlihat.

“YA!” Nara memukul kepala Jinhee dengan sumpit miliknya.

Jinhee merintih kesakitan, “Sakit!”

“Siapa suruh menggodaku?!” balas Nara tak kalah sengit.

“Eh, siapa yang sedang menggodamu? Aku hanya bertanya,” Jinhee mengusap rambutnya, lalu melirik Nara dengan cengiran lebar. “Jika reaksimu seperti ini, artinya kau mengakuinya, pabo.”

Nara mengepalkan tangannya rapat. Malas menanggapi ucapan Jinhee dan memutuskan untuk secepatnya menghabiskan makan malamnya. Sementara Jinhee yang duduk di depannya tak bisa berhenti tersenyum. Menggoda Nara seperti ini memang menjadi hobi yang tidak bisa ditinggalkan Jinhee begitu saja.

Bahkan hobi itu juga bisa digunakan untuk mengobati suasana hati Nara agar kembali seperti semula.

.

.

.

.

.

Suara alarm dari ponsel terdengar keras. Namun gadis pemilik ponsel itu sama sekali tidak bereaksi. Ia justru asyik bergulat di balik selimut tebalnya. Membiarkan alarm itu terus berbunyi sampai berhenti secara otomatis.

Nara menggeliat ketika merasakan sinar matahari yang menerobos celah jendela kamar. Dengan mata setengah terpejam, tangan Nara meraba nakas untuk mengambil ponselnya. Namun perhatiannya justru beralih pada sebuah notes yang diletakkan berdekatan dengan ponselnya.

Nara memposisikan diri untuk duduk, sambil bersandar pada headboards ranjang. Gadis itu mulai membaca sebuah tulisan yang ia yakini tulisan tangan Jinhee.

Aku berangkat dulu. Di meja makan sudah ada bubur. Semalam kau sedikit demam, tapi kurasa kau tidak menyadarinya. Karena itu aku memasak bubur untukmu. Jangan lupa meminum vitamin yang sudah kusiapkan di meja makan. Jika kondisimu belum membaik, hari ini tidak usah masuk kerja.

Beristirahatlah. Biar nanti aku yang bicara pada Sehun-oppa.

“Demam?” Nara memegangi keningnya. Memang tidak terlalu panas, tapi ia masih merasa sedikit pusing. Pantas saja semalaman ia tidak bisa tidur dengan nyenyak.

Nara menyibak selimut sebelum turun dari ranjang. Pemandangan yang tidak sengaja ia lihat membuatnya terperanjat. Kondisi pergelangan kaki kanannya tanpa diduga bertambah parah. Perawatan yang dilakukan Jinhee semalam sepertinya tidak memberi pengaruh yang berarti.

“Kenapa jadi begini?” Nara bingung harus berbuat apa. Satu-satunya yang terlintas dalam kepalanya kini adalah Minhyuk, kakak keduanya yang berprofesi sebagai dokter. Secara umum, Minhyuk pasti tahu apa yang terjadi dengan kakinya. Menurut Nara, sepertinya kakinya terkilir karena terpeleset kemarin. Ya, pasti terkilir.

“Sebaiknya aku temui oppa saat jam makan siang nanti,” ucap Nara. Dalam hati Nara sedikit mengumpat karena di apartemen Jinhee tidak mempunyai obat untuk memar atau bengkak semacam ini. Kalau pun ia harus membelinya di apotek, Nara akan semakin kesulitan karena nyatanya sekarang untuk sekedar berdiri saja terasa sulit. Apalagi untuk berjalan.

//

“Nara?!” Jinhee memekik keras begitu melihat Nara sudah sampai di depan pintu kafe. Kondisi gadis itu benar-benar buruk. Wajah sedikit pucat, ditambah bengkak pada bagian pergelangan kaki kanan yang sepertinya semakin parah. Jinhee bisa melihatnya dari cara berjalan Nara yang tampak kesulitan—bahkan lebih parah dari semalam.

“Sepertinya kondisi kakimu semakin parah,” Jinhee memapah Nara lalu mendudukannya di salah satu kursi. “Apa tidak sebaiknya kau izin dan pergi ke dokter?”

Nara menggeleng, “Tidak perlu. Tadi aku sudah mengompresnya lagi. Rasanya sudah lebih baik sekarang.”

“Kau yakin?” Taeyong menyahut. Lelaki itu sudah berdiri di belakang Jinhee, “Kulihat bengkak di kakimu sangat parah, Nara.”

“Nanti saat jam makan siang, aku akan pergi ke dokter,” Nara mengerling ke arah Jinhee. Seolah langsung paham dengan tatapan Nara, Jinhee memilih diam. Ia tahu, dokter yang dimaksud Nara adalah kakak gadis itu sendiri—Kang Minhyuk.

“Baiklah. Nanti biar aku yang mengantarmu ke sana,” balas Jinhee.

Nara mengangguk, lalu berjalan pelan menuju ruang loker untuk mengganti seragamnya. Langkahnya yang tertatih-tatih membuat Jinhee didera rasa khawatir yang kian menjadi.

“Dengan kondisi kakinya yang seperti itu, bukankah sebaiknya Nara beristirahat saja di apartemenmu?” Hansung melirik Jinhee, lalu beralih menatap Taeyeong. “Kau tahu, hyung sedang kondisi tidak baik hari ini. Sewaktu aku datang ke sini, hyung sudah sampai di kafe pagi-pagi sekali. Kupikir dia datang lebih awal karena suasana hatinya sedang bagus, ternyata aku salah. Aku bisa melihat bagaimana raut wajahnya yang begitu dingin. Tatapannya sangat tidak bersahabat.”

Taeyong dan Jinhee saling memandang. Sama-sama bingung dan belum mengerti arah pembicaraan Hansung.

“Aku takut, kondisi Nara yang seperti itu membuatnya tidak maksimal dalam bekerja. Kalian tahu maksudku, ‘kan?” Hansung sedikit berbisik. “Sehun-hyung sepertinya sedang dikuasai emosi. Sedikit saja kita melakukan kesalahan, maka—”

Kalimat Hansung terhenti ketika Jinhee tiba-tiba berlari masuk ke dalam ruang loker. Hansung hanya menatap heran ke arah Jinhee, lalu melirik Taeyeong yang hanya mengangkat bahu.

“Nara?” sesuai dugaan, Jinhee pergi menemui Nara. Ia bermaksud memberitahu kondisi Sehun setelah mendengar pengakuan Hansung.

“Ada apa?” Nara baru saja selesai mengganti pakaiannya dengan seragam pegawai.

“Sebaiknya hari ini kau tidak usah masuk, Nara,” lanjut Jinhee. Nada suaranya terdengar cemas

“Kalau hanya karena masalah kakiku, aku masih bisa mengatasinya,” Nara tersenyum seraya mengusap bahu Jinhee.

Jinhee menggeleng, “Ini bukan soal kakimu. Tapi, soal Sehun-oppa.”

Nara terdiam. “Ada apa dengannya?”

“Aku tidak tahu, tapi Hansung bilang sepertinya dia dalam kondisi tidak baik. Seperti sedang dikuasai emosi yang siap meledak kapan saja,” Jinhee menggigit bibir bawahnya.

Tidak ada perubahan dari raut wajah Nara. Gadis itu tampak tenang, seolah sudah bisa menebak kondisi Sehun.

“Pasti karena kejadian kemarin, dan itu adalah salahku,” Nara menghela napas panjang, “Aku akan pergi menemuinya. Meminta maaf atas apa yang terjadi kemarin.”

Jinhee mencengkeram lengan Nara, “Kau tidak perlu menemuinya. Aku khawatir dia akan memarahimu habis-habisan.”

Nara terkekeh pelan, “Bukankah aku sudah biasa diperlakukan seperti itu?”

“Tapi—” Jinhee memandang pergelangan kaki Nara. Untung saja gadis itu memilih mengenakan flat shoes, ketimbang high heels yang nantinya justru memperparah kondisi kakinya.

“Kau tidak perlu khawatir, Jinhee,” Nara menggenggam tangan Jinhee. “Aku memang sudah berencana meminta maaf padanya hari ini.”

Jinhee tidak berkata lagi. Ia biarkan Nara keluar meninggalkan ruang loker.

//

TOK! TOK!

Sehun melirik pintu sekilas ketika mendengar suara ketukan. Lelaki itu tidak mengatakan apapun, namun seseorang justru lebih dulu membuka pintu tanpa seizinnya. Sontak saja emosi Sehun kembali tidak stabil, terlebih saat melihat Nara sudah berjalan masuk ke dalam ruangannya.

“Sedang apa kau di sini?”

Tubuh Nara menegang. Suara Sehun begitu dingin. Benar seperti ucapan Hansung, Sehun sedang dikuasai amarah. Bahkan sepertinya kemarahan Sehun kali ini lebih besar dibanding biasanya.

“Ada yang harus kukatakan padamu, oppa,” suara Nara sedikit bergetar. Gadis itu menunduk, sembari memainkan jari tangannya dan menahan rasa sakit di kaki karena terus berdiri.

“Kau ingin meminta maaf soal kejadian kemarin?” Sehun tersenyum sinis. “Tidak ada gunanya lagi. Hubunganku dengan Hyorin sudah berakhir.”

“Apa?” leher Nara terasa tercekat. “Ka—kalian sudah putus?”

“Ya,” Sehun menggertakkan giginya, “Dan ini semua karena kau!”

DEG!

Nara bisa merasakan sesak di dadanya melihat bagaimana Sehun yang begitu murka.

Oppa, maafkan aku,” Nara menunduk, “Aku sama sekali tidak bermaksud melakukan itu, sungguh. Kemarin itu adalah kecelakaan dan—”

“DIAM!”

Nara nyaris terkena serangan jantung karena teriakan Sehun. Gadis itu menunduk, berusaha mati-matian menahan cairan bening di matanya yang sebentar lagi turun.

Oppa … aku sungguh-sungguh minta maaf,” lanjut Nara. Ia tak peduli apapun yang ada dalam anggapan Sehun sekarang. Ia tak peduli apakah lelaki itu akan memaafkannya. Nara hanya ingin menyampaikan permohonan maaf. Hanya itu.

“Keluar,” Sehun memutar kursi yang ia duduki, sengaja membelakangi Nara yang kini menatapnya dengan sorot mata sendu.

“Sebelum kesabaranku habis, lebih baik kau keluar dari ruanganku,” Sehun memberi penekanan pada kalimat yang ia ucapkan.

Nara menghela napas berat. Gadis itu membungkuk ke arah Sehun, meski lelaki itu tak melihatnya. Dengan langkah tertatih, ia keluar dari ruang kerja lelaki itu. Setelah keluar dari ruang kerja Sehun, Nara menatap nanar pada pintu di depannya. Cairan bening itu pun tidak bisa ditahan lagi.

Nara menangis dalam diamnya.

//

“Kau baik-baik saja?” tanya Taeyong setelah melihat Nara terduduk dengan wajah menahan sakit. Taeyong baru saja selesai mengantar pesanan salah satu pengunjung. Ketika ia kembali ke dapur, ia tidak sengaja melihat Nara sedang duduk di salah satu kursi dekat kasir.

“Aku tidak apa-apa,” jawab Nara lemas.

Bohong. Taeyong bisa melihat kondisi Nara tidak baik-baik saja.

“Nara!”

Nara terkesiap kaget mendengar suara keras Sehun. Pemilik kafe itu sudah berdiri di sebelahnya dengan wajah penuh amarah. Ia melirik sekilas ke arah Taeyong. Sadar dengan arah pandangan Sehun, Nara memberi isyarat agar Taeyong kembali bekerja.

“Ada apa, oppa?”

Sehun belum menjawab, namun lelaki itu memberikan secarik kertas yang berisi nota pembelian.

“Pergi ke Kim’s Coffee. Ambil pesanan yang tercantum pada nota,” titah Sehun.

Sedikit ulasan tentang Kim’s Coffee, tempat itu tidak hanya menjual berbagai minuman atau makanan yang berbahan olahan kopi atau semacamnya, tapi juga menyediakan bahan baku.

Kafe Sehun sendiri sebenarnya tidak terfokus pada minuman kopi saja, tapi berbagai aneka milkshake dan bubble tea. Kim’s Coffee sudah menjadi mitra kerja Heaven’s Cafe sejak pertama kali Sehun mendirikan kafe tersebut. Semua bahan baku yang dibutuhkan untuk berbagai sajian di kafe Sehun, dipesan langsung pada Kim’s Coffee.

“Aku akan menemani Nara, oppa,” Jinhee tiba-tiba menyahut. Entah sejak kapan, gadis itu sudah berdiri di sebelah Nara.

“Tidak. Nara harus mengambilnya sendiri,” Sehun kembali mengeluarkan tatapan tajamnya. “Dia sedang menjalani hukuman.”

Hukuman lagi?

Nara mengangguk lemas. Tatapannya tertuju pada Sehun yang sudah masuk kembali ke ruangannya.

“Nara, sebaiknya kau beritahu oppa soal kondisi kakimu,” bujuk Jinhee.

“Tidak, Jinhee. Dia akan semakin marah padaku nanti,” tolak Nara. “Sudahlah, tidak apa-apa. Aku memang pantas mendapatkan hukuman. Aku sudah membuat hubungan mereka berakhir karena kejadian kemarin.”

“Maksudmu, hubungan antara Sehun-oppa dan Hyorin-eonni?”

Anggukan pelan Nara membuat Jinhee menatap tak percaya. Hanya karena putus dengan kekasih, lalu melampiaskan kemarahan pada pegawainya sendiri? Sungguh kekanakkan!

“Sudah ya, Jinhee. Aku harus bergegas,” Nara mengusap lembut punggung Jinhee, berusaha menenangkan emosi gadis itu. Selanjutnya Nara berjalan keluar dari kafe untuk mengambil pesanan sesuai perintah Sehun. Nara hanya berharap ia bisa bertahan dengan kondisi kaki yang semakin parah. Semoga saja.

//

BRUK!

Seperti yang sudah diperkirakan, pertahanan Nara mencapai batas. Rasa sakit di pergelangan kaki kanannya yang begitu menyiksa, membuat gadis itu terpaksa berhenti di salah satu bangku umum tepi jalan. Nara meletakkan dua kantung yang berisi bahan baku kopi dan gula, yang baru saja diambilnya dari Kim’s Coffee.

Nara buru-buru mengeluarkan ponselnya daru saku celana. Ia bermaksud menghubungi Minhyuk. Ia butuh pertolongan laki-laki itu.

Yeoboseyo.”

Oppa …” Nara merengek karena tak tahan lagi dengan rasa sakit di kakinya. “Tolong aku. Aku tidak bisa berjalan, kakiku sakit sekali.”

A—apa? Kau di mana sekarang?

“Aku di dekat Kim’s Coffee, oppa. Tidak jauh dari rumah sakit Seoul,” jawab Nara lemas.

Baiklah, aku akan segera ke sana. Tunggu aku.

Nara menjauhkan ponselnya setelah Minhyuk memutus obrolan mereka. Gadis itu merintih kesakitan. Tiba-tiba saja ponsel Nara berdering. Tadinya Nara sempat mengira jika Minhyuk yang menghubunginya. Ternyata si penelepon itu adalah Sehun.

“Ah, masa bodoh! Gara-gara dia aku tersiksa seperti ini!” umpat Nara kesal. Ia abaikan panggilan masuk dari Sehun, lalu dengan sengaja mematikan ponselnya.

Hampir 20 menit menunggu, Minhyuk akhirnya sampai di tempat Nara. Dengan panik, Minhyuk bergegas keluar dari mobil yang ia kendarai.

“Astaga!” Minhyuk menatap tak percaya ke arah pergelangan kaki Nara. “Apa yang terjadi? Kenapa bisa bengkak seperti ini?”

“Kemarin aku terpeleset saat bekerja. Mungkin terkilir,” jawab Nara. “Sakit sekali, oppa.”

Minhyuk semakin panik melihat adiknya itu kini menangis. Sebelum menggendong Nara, Minhyuk terlebih dahulu memasukkan dua kantung yang dibawa gadis itu. Dengan hati-hati, Minhyuk menggendong Nara lalu membantunya duduk di kursi dekat pengemudi.

“Tahan sedikit lagi. Aku akan membawamu ke rumah sakit,” ucap Minhyuk berusaha menenangkan Nara.

//

Suara operator itu membuat Sehun emosi. Lelaki itu menatap layar ponselnya dengan mata sedikit melotot.

“Ponselnya tidak aktif!”

Jinhee mengerjap kaget mendengar teriakan Sehun. Gadis itu masih berdiri di depan meja Sehun. Raut wajahnya terlihat cemas dan dipenuhi ketakutan yang luar biasa.

Hampir 2 jam sejak kepergian Nara, gadis itu tak kunjung kembali. Bayangan kondisi kaki Nara seketika melintas dalam kepala Jinhee. Disusul berbagai pemikiran buruk tentang kondisi Nara sekarang. Jinhee benar-benar tidak bisa berpikir dengan tenang.

“Temanmu itu memang tidak becus bekerja,” Sehun menyandarkan punggungnya pada kursi kerja yang ia duduki. “Hanya mengambil pesanan saja lama sekali.”

Jinhee tidak merespon. Ia masih sibuk mengamati gelagat Sehun. Mungkin dari luar, Sehun terlihat sangat marah. Tapi, dari sorot mata lelaki itu, Jinhee bisa melihat kekhawatiran dalam diri Sehun.

“Ngg … sebenarnya, Nara sedang sakit, oppa,” Jinhee akhirnya mengaku soal kondisi Nara. Sesuai dugaan, Sehun menoleh ke arahnya dengan tatapan yang sulit diartikan. Bingung bercampur cemas.

“Apa maksudmu?”

“Pergelangan kaki kanannya bengkak. Kurasa terkilir,” Jinhee menunduk. “Aku sudah menyuruhnya untuk tidak masuk kerja, tapi dia memaksakan diri.”

Ketegangan di wajah Sehun seketika menghilang. Kini hanya terlihat raut kekhawatiran yang semakin menjadi.

“Bahkan saat oppa menyuruh Nara mengambil pesanan di Kim’s Coffee, gadis itu tetap saja menurut. Padahal aku yakin kondisi kakinya semakin parah. Sekarang dia belum kembali. Aku khawatir terjadi apa-apa dengannya, oppa,” lanjut Jinhee.

Hening. Tidak ada kata satu pun yang keluar dari bibir Sehun. Jinhee masih bertahan di posisinya dengan kepala tertunduk.

“Kau boleh keluar.”

“Apa?”

“Keluar.”

Jinhee tidak bertanya lagi, namun wajah dingin Sehun cukup meyakinkannya kalau lelaki itu marah. Tidak, bukan marah. Lebih tepatnya kecewa. Jinhee bisa melihat penyesalan dari sorot mata Sehun.

Di samping mencemaskan kondisi Nara, Jinhee tanpa sadar tersenyum melihat wajah Sehun yang kini tampak frustasi. Entah kenapa ia merasa tenang sekarang. Paling tidak, Sehun masih peduli dengan Nara.

//

Minhyuk memandangi salah satu suster yang sedang membalut pergelangan kaki kanan Nara dengan perban elastis. Kini wajah Nara tampak jauh lebih tenang dibanding sebelumnya. Ia sudah mendapat pengobatan dari salah satu dokter yang ada di rumah sakit Seoul—rumah sakit tempat Minhyuk bekerja.

“Aku sudah memeriksa kondisi kakinya. Tidak ada indikasi yang mengarah ke patah tulang,” ucap wanita yang mengenakan jas putih. Pada nametag-nya tertulis Choi Kanghee.

“Dia hanya terkilir. Tapi, melihat bagaimana kondisi kakinya yang sampai bengkak seperti itu, butuh waktu selama 1 minggu untuk pemulihan. Artinya, dia tidak boleh melakukan pekerjaan berat. Harus beristirahat total selama masa pemulihan itu.”

“Baik, aku mengerti,” Minhyuk tersenyum lega. “Terima kasih atas bantuanmu, Dokter Choi.”

Dokter Choi tersenyum, kemudian kembali memeriksa kondisi Nara. Wanita itu menasehati Nara untuk beristirahat total selama 1 minggu. Ia tak lupa mengingatkan Nara untuk mengonsumsi atau memakai obat yang nantinya akan ia berikan pada gadis itu.

Setelah Dokter Choi keluar dari ruangan, Minhyuk menghampiri Nara yang masih terduduk di ranjang pasien.

Oppa,” Nara merajuk saat melihat wajah marah Minhyuk.

“Bagaimana bisa bosmu sekejam itu, hah?” Minhyuk tak bisa lagi mengontrol emosinya. “Jelas-jelas kakimu sedang sakit, tapi dia menyuruhmu melakukan tugas berat seperti itu. Keterlaluan!”

“Tidak, oppa. Dia sama sekali tidak tahu jika kakiku sedang sakit,” Nara sendiri sebenarnya bingung kenapa membela Sehun. “Lagipula, aku sedang menerima hukuman karena kesalahan yang kulakukan padanya.”

Minhyuk menarik napas dalam-dalam. Ia tak tahan lagi dengan kondisi adiknya yang bekerja sebagai waiters. Nara sama sekali tidak pernah melakukan pekerjaan sebagai pelayan. Ia tahu persis jika semua pekerjaan itu menyulitkannya. Minhyuk bisa melihat dari perawakan Nara yang kini tampak lebih kurus. Belum lagi sekarang Nara mendapat cidera di pergelangan kaki kanannya.

Oppa, kumohon jangan beritahu appa dan eomma soal kejadian ini. Kau bisa berjanji padaku, ‘kan?”

“Aku tidak bisa.”

Oppa!”

“Mau sampai kapan kau bekerja sebagai waiters?”

Nara menunduk. Ia tahu kakaknya sedang marah besar. Dibandingkan Minho, Nara mengakui kalau Minhyuk lebih protektif terhadapnya.

“Aku terlanjur menyukai pekerjaanku oppa. Aku benar-benar menikmati pekerjaanku sebagai waiters,” jawab Nara lirih. Ia melirik Minhyuk yang sedang menatapnya dengan cemas.

“Kenapa tertawa?”

Nara menggeleng, “Sudah lama aku tidak melihat wajah oppa seperti ini.”

“Ish, kau pikir ini lelucon?” Minhyuk memicingkan matanya. “Aku benar-benar mengkhawatirkanmu, tahu!”

“Iya, aku tahu,” Nara tersenyum tipis. “Maaf, oppa. Aku tidak bermaksud membuatmu khawatir.”

Minhyuk menghela napas, kemudian mengusap lembut kepala Nara. Membiarkan adiknya itu menghambur dalam pelukannya.

“Kapan kau akan pulang? Kami semua sudah sangat merindukanmu,” tanya Minhyuk.

“Aku tidak tahu,” Nara menjawab seadanya. “Paling tidak, sampai aku berhasil menemukan laki-laki pilihanku atau sebaliknya.”

Minhyuk melepaskan pelukan Nara, memandangi gadis itu dengan tatapan bingung. “Apa maksudmu?”

“Aku sudah membuat kesepakatan dengan Minho-oppa. Sampai aku berhasil menemukan laki-laki pilihanku, aku akan tetap tinggal di apartemen Jinhee,” jawab Nara.

“Jadi, kalau kau gagal—”

“Aku akan pulang dan menerima perjodohan itu,” potong Nara.

Minhyuk terdiam cukup lama. Baru kali ini melihat wajah serius Nara, Minhyuk meyakini kalau gadis kecilnya itu sudah tumbuh dewasa. Bahkan sudah berani mengambil keputusan seperti itu.

“Baiklah, aku turuti kemauanmu,” Minhyuk tersenyum. “Aku tidak akan memberitahu appa dan eomma soal kondisimu ini. Tapi, aku akan tetap memberitahu Minho-hyung.”

Nara menjerit senang, lalu memeluk Minhyuk seerat mungkin. “Terima kasih, oppa.”

“Ini hanya kesempatan terakhir yang kuberikan padamu,” kali ini wajah Minhyuk tampak serius. “Kalau terjadi apa-apa lagi denganmu, aku tidak akan segan menyeretmu kembali ke rumah. Mengerti?”

“Siap, kapten!”

Minhyuk tertawa mendengar teriakan Nara. Tangannya bergerak mengacak-acak rambut Nara. Gadis itu memekik kesal, kemudian menghadiahi pukulan bertubi-tubi pada bahu Minhyuk.

Setelah menyelesaikan administrasi, juga mengambil obat di bagian farmasi, Minhyuk menghampiri Nara yang menunggu di salah satu deretan kursi pengunjung. Minhyuk juga membelikan kruk sebagai alat bantu jalan untuk Nara.

“Aku antar kau kembali ke tempatmu bekerja,” ucap Minhyuk.

“Tidak perlu, oppa. Aku bisa kembali naik taksi,” tolak Nara halus. “Lagipula, oppa harus kembali bekerja bukan?”

“Aku tidak bisa membiarkan adikku pulang sendirian. Bagaimana jika terjadi sesuatu lagi padamu?”

“Tapi—”

“Nara?”

Sebuah suara menginterupsi pembicaraan Minhyuk dan Nara. Gadis itu mengerjap lembut begitu melihat sosok laki-laki yang berjalan ke arahnya.

“Chanyeol-oppa? Sedang apa kau di sini?”

Lelaki yang dipanggil Nara itu hanya menatapnya dengan kerutan di dahi. “Aku menjenguk temanku yang dirawat di sini.”

Chanyeol mengamati kondisi kaki Nara yang sudah dibalut perban elastis, serta kruk alat bantu jalan yang digunakan gadis itu.

“Ada apa dengan kakimu?”

“Kakiku terkilir,” Nara melirik Minhyuk dengan hati-hati. “Kemarin aku terpeleset saat mengepel lantai kafe.”

“Benarkah?” Chanyeol mendesah pelan. “Aish, kurasa Sehun sudah keterlaluan menghukummu seperti kemarin.”

“Sebentar … ” Minhyuk menyela ucapan Chanyeol. “Sehun yang kau bicarakan itu, apa dia putra dari Tuan Oh Jaehyun? Pemilik rumah sakit ini?”

Nara terdiam, namun pandangan matanya tertuju pada raut wajah Minhyuk yang berubah. Selama beberapa detik, Nara masih memikirkan maksud dari pertanyaan yang dilontarkan sang kakak. Selanjutnya mulut Nara menganga lebar. Ia baru menyadari kebodohan yang telah ia lakukan. Nara benar-benar lupa jika Minhyuk bekerja sebagai dokter di rumah sakit milik orang tua Sehun. Bodohnya lagi, ia datang dengan cidera kaki akibat terpeleset saat bekerja, juga kehadiran Chanyeol yang jelas-jelas tahu di mana tempat Nara sekarang bekerja.

Nara memang tidak pernah memberitahu Minhyuk jika ia bekerja sebagai waiters di kafe Sehun. Minhyuk hanya tahu kalau Nara bekerja sebagai waiters di kafe lain, bukan kafe milik Sehun.

“Ya,” Chanyeol menjawab singkat. “Apa kau mengenalnya?”

Minhyuk tidak menjawab, namun lirikan matanya langsung tertuju pada Nara yang terlihat was-was. Nara merasa tubuhnya seolah menciut, ketika Minhyuk memberinya deathglare.

“Tentu saja aku kenal,” Minhyuk tersenyum lebar—niatnya ingin menambah kadar ketampanan, tapi bagi Nara justru tampak menakutkan.

“Aku bekerja sebagai dokter di sini. Tidak mungkin aku tidak mengenal putra pemilik rumah sakit tempatku bekerja,” imbuh Minhyuk.

Tamatlah riwayatku—batin Nara frustasi.

“Lalu, apa kau dokter yang menangani Nara?”

Pertanyaan spontan Chanyeol seperti sengatan listrik. Nara terlihat panik, sementara Minhyuk memandangi Chanyeol dengan raut bingung.

“Tidak, aku—”

“Dia teman dari Dokter Choi,” potong Nara. “Dokter yang menangani kakiku ini. Kebetulan, aku juga mengenalnya dari dokter kenalanku itu.”

Nara mengatur napasnya yang sedikit terengah-engah. Cara berbicaranya yang menggebu sebenarnya cukup mencurigakan. Belum lagi bagaimana ekpsresi wajah Minhyuk sekarang. Seperti elang yang bersiap menerkam mangsanya.

Beruntung Chanyeol tidak terlalu peduli dengan hubungan antara Nara dan Minhyuk. Karena lelaki itu lebih peduli dengan kondisi kaki Nara.

“Kau mau kembali ke kafe? Biar aku yang mengantarmu,” tawar Chanyeol.

Nara mengangguk, kemudian melirik Minhyuk. Lelaki itu masih menghadiahinya sorot mata tajam, seolah berkata ‘kau berhutang satu cerita padaku’.

“Tolong sampaikan ucapan terima kasihku pada Dokter Choi,” Nara tersenyum getir. “Sampai bertemu lagi, Minhyuk-oppa.”

Minhyuk menarik napas panjang, lalu memandangi Chanyeol yang membawakan obat milik Nara.

“Antarkan dia sampai tujuan dengan selamat,” ucap Minhyuk berpesan pada Chanyeol.

Chanyeol mengangguk, kemudian membantu Nara yang masih kesulitan menggunakan kruk. Keduanya berjalan meninggalkan Minhyuk yang masih setia berdiri di posisinya. Sesekali Nara menengok ke belakang, lalu tersenyum miris.

Minhyuk hanya menggelengkan kepala, tak habis pikir dengan kelakuan adik bungsunya itu. Setelah memastikan Nara tak terlihat lagi, ia pun kembali ke ruangannya untuk melanjutkan pekerjaan yang tertunda.

//

Mobil yang dikemudikan Chanyeol berhenti di depan kafe Heaven. Chanyeol membantu Nara keluar dari mobil, lalu mengantarnya masuk ke dalam kafe. Kedatangan mereka pun disambut oleh Jinhee, Taeyong, Hansung, serta beberapa pegawai kafe lainnya. Taeyong dan Hansung mengambil barang pesanan milik kafe dari mobil Chanyeol. Sementara Jinhee membantu Nara duduk di salah satu kursi pengunjung.

Beberapa saat setelah kedatangan Nara dan Chanyeol, Sehun muncul dengan wajah khawatir. Melihat gadis itu sudah kembali dalam kondisi selamat, Sehun menghela napas lega. Namun, kondisi pergelangan kaki Nara yang dibalut perban elastis membuat hatinya terasa miris.

“Kau sudah kembali?”

Nara mengangguk pelan, sangat pelan. Ia bahkan tak berani menatap ke arah Sehun. “Maaf, aku terlambat.”

“Tak apa, yang penting kau sudah kembali dengan selamat. Terima kasih sudah mengantar Nara, hyung,” lanjut Sehun kemudian masuk kembali ke ruangan. Meninggalkan semua orang yang menatapnya dengan beragam ekspresi.

“Apa dia masih marah padaku?” tanya Nara cemas.

Jinhee menggeleng, lalu tersenyum, “Aku sudah menceritakan semuanya pada Sehun-oppa. Soal kondisi kakimu. Kau tahu, dia sangat mencemaskanmu. Berulang kali dia mencoba meneleponmu tapi ponselmu tidak aktif.”

Jadi itu sebabnya dia meneleponku?—entah kenapa Nara menyesal sudah mematikan ponselnya dengan sengaja. Ia kira Sehun akan kembali memarahinya, namun ternyata lelaki itu justru sangat mencemaskannya.

Oppa, terima kasih sudah mengantarku,” ucap Nara pada Chanyeol.

Chanyeol mengangguk, “Beristirahatlah. Jangan paksakan dirimu untuk bekerja. Aku yakin Sehun pasti mengerti kondisimu.”

Ne, sekali lagi terima kasih,” balas Nara.

“Ya sudah, aku harus kembali ke kantor. Ada pekerjaan yang harus aku selesaikan,” pamit Chanyeol. “Sampaikan salamku pada Sehun.”

Nara tersenyum, lalu membiarkan Chanyeol keluar dari kafe dengan diantar Taeyong dan Hansung. Jinhee masih setia duduk di sebelahnya.

“Aku ingin menemui Sehun-oppa,” ucap Nara sambil bangkit berdiri dari kursi.

“Perlu kutemani?”

“Tidak, aku bisa sendiri, Jinhee.”

Jinhee tidak berkata lagi setelah melihat Nara sudah bisa berjalan, meski dengan bantuan kruk.

.

Sehun yang sudah kembali ke ruangannya terlihat gusar. Tangannya memegangi dada, ketika ia merasakan debaran jantungnya yang semakin tak terkendali.

“Ada apa denganku?”

Sejak Nara tak kunjung kembali dari Kim’s Coffee, Sehun tidak bisa mengendalikan rasa khawatirnya pada gadis itu. terlebih setelah mendengar pengakuan Jinhee. Ucapan gadis itu pun terbukti. Nara pulang dengan kondisi kaki yang baru saja mendapat perawatan. Awalnya Sehun merasa lega, tapi melihat gadis itu pulang diantar Chanyeol, ada perasaan aneh yang menghinggapi dirinya.

KLEK!

Sehun menoleh kaget ketika mendengar suara pintu ruangannya dibuka. Lelaki itu semakin terkejut melihat Nara sudah berdiri di dekat pintu. Sepertinya gadis itu cukup kesulitan dengan kruk yang ia gunakan sebagai alat bantu berjalan. Pintu itu masih terbuka setengah, dan Sehun yang kemudian membukanya sampai Nara bisa masuk ke dalam ruangan.

“Apa yang kau lakukan di sini?”

Nara berjalan mendekati Sehun, namun karena ia belum terbiasa dengan kruk itu, ia nyaris jatuh. Untung saja Sehun bergerak cepat menahan tubuh Nara yang terhuyung ke arahnya.

“Kau baik-baik saja?”

Nara tidak tahu kenapa dirinya benar-benar gugup saat posisi Sehun tampak seperti sedang memeluknya. “Ne, oppa. Terima kasih,” ucapnya singkat.

“Kenapa tidak bilang jika kakimu sedang sakit?”

Kau sendiri yang terlalu emosi, oppa. Dasar tidak peka!

Tentu saja kalimat itu hanya tertahan di bibir Nara. Gadis itu memilih bungkam lantaran tak mau berdebat dengan Sehun.

Oppa, masih marah padaku?”

Sehun menatap Nara sekilas, lalu menggeleng pelan. “Aku tidak pernah marah padamu. Aku justru marah pada diriku sendiri.”

Nara mengernyit, “Kenapa?”

“Sudahlah, lupakan saja,” Sehun membantu Nara duduk di atas sofa yang terdapat di ruang kerjanya. Tiba-tiba saja Nara mengeluarkan sebuah amplop berwarna putih yang disodorkan padanya.

“Ini apa?”

“Surat keterangan dari dokter,” Nara meringis. “Aku dianjurkan untuk istirahat total selama 1 minggu, oppa.”

“Benarkah?” tanpa berniat membukanya, Sehun meletakkan amplop itu di atas meja. “Kalau begitu, selama 1 minggu ke depan, kau tinggal di apartemenku.”

“APA?” Nara nyaris berteriak mendengar penuturan Sehun.

“Ini sebagai bentuk tanggung jawabku. Aku harus merawatmu karena mengalami cidera saat bekerja,” Sehun mengusap tengkuknya. “Kau jadi seperti ini juga karena aku.”

“Tidak, oppa. Ini terjadi karena kecerobohanku. Bukan salah oppa.”

“Tidak apa-apa,” Sehun menghela napas. “Saat Jinhee bekerja nanti, siapa yang akan menjagamu? Jika kau tinggal di apartemenku, akan ada maid yang melayanimu. Nanti aku juga bisa memantau kondisimu dari mereka.”

Sejak kapan dia jadi sangat peduli seperti ini?

“Sudah diputuskan. Mulai malam nanti, kau akan tinggal di apartemenku. Sampai kondisi kakimu benar-benar pulih sepenuhnya,” tandas Sehun.

Nara terdiam. Ia pandangi Sehun yang masih menatapnya. Perlahan lengkungan senyum itu terlihat jelas di wajah Sehun. Nara mengerjap tak percaya.

Astaga, barusan dia tersenyum padaku? Oh, kurasa mataku mulai rabun.

“Kau harus menerimanya. Ini adalah bentuk tanggung jawabku sebagai bosmu, Nara,” lanjut Sehun. Seketika meruntuhkan bayangan Nara yang sempat terbuai dengan perlakuan istimewa padanya.

Apa yang kau pikirkan, Kang Nara? Hubungan kalian tidak lebih dari rekan kerja. Dia bosmu, dan kau adalah pegawainya.

-TO BE CONTINUED-

 

Iklan

4 pemikiran pada “Who are You? [2]

Review And Chat here!

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s