THREE DAYS – SLICE #6

Three Days

Author : IRISH

Tittle : Three Days

Main Cast : EXO’s Byun Baekhyun, OC’s Lee Sunhee

Genre : Romance, Fantasy

Supported : EXO Members, Xi Luhan, Lee Jieun, A-Pink’s Jung Eunji

Rate : T

Disclaimer : This story is entirely fantasy and created by Irish. Any resemblance to real persons or organization appearing in this story is purely coincidental. EXO Members belong to their real-life, and OC’s belong to their appearance.

“Hanya karena dia sudah berbuat jahat padaku bukan berarti aku tak boleh mencintainya bukan?”—Lee Sunhee

Previous Chapter

Prologue || Chapter 1 || Chapter 2 || Chapter 3 || Chapter 4 || Chapter 5

 ██║ ♫ ♪ │█║♪ ♫ ║▌♫ ♪ │█║♪ ♫ ║▌♫ ♪ ║██

In Sunhee’s Eyes..

“B-Baek..”, aku berusaha melepaskan ciumannya, tapi Ia menarik tengkukku dan meneruskan tindakannya.

Aku bisa merasakan cairan lembap mengalir ke daguku, dan dia menciumnya juga. Sial. Ini tidak benar. Sungguh. Ini tidak benar. Dan bodohnya tubuh ini tidak bereaksi apapun!

Tidak. Aku tidak bisa bereaksi apapun karena seluruh tubuhku seolah terbakar karena tindakannya. Setelah cukup lama, Ia melepaskan ciumannya, menatapku.

“Kau masih yakin mau terus berdekatan denganku? Aku bisa menyerangmu lebih dari ini besok-besok.”

Aku tidak bisa bereaksi apapun. Tubuhku kaku, lidahku kelu. Dan otakku tidak bisa berpikir jernih.

Dia gila! Dia benar-benar gila!

“Dan juga, kurasa ini ciuman pertamamu,”

Dan dia melakukannya dihari pertamaku ditempat ini. Oh Tuhan, apa yang akan terjadi padaku setelah ini?

“Bukankah kita benar-benar menghabiskan malam bersama seperti yang Kyungsoo katakan?”

██║ ♫ ♪ │█║♪ ♫ ║▌♫ ♪ │█║♪ ♫ ║▌♫ ♪ ║██

Aku tak berani memandang tempat lain selain tanah disepanjang perjalanan kami menuju rumah. Dan Ia tak berhenti mengucapkan kalimat-kalimat yang berhasil merebusku ditempat.

“Kuharap mereka pulang besok pagi, jadi nanti malam aku akan menyelinap masuk ke kamarmu.”

“Perlukah aku mematikan listrik dirumah? Kau tidak akan berani tidur sendirian didalam kamar itu, dan akhirnya mencariku.”

Aku hanya diam saat Ia berkata seperti itu. Lidahku masih kehilangan fungsinya.

Tanpa kuduga—lagi!—Ia menarik pinggangku dan berbisik.

“Atau perlukah aku langsung memintamu tidur dikamarku?”

Sungguh.

Ucapannya membuatku mendapatkan kejut jantung, lagi, dan lagi, dan lagi.

Bahkan saat kami sampai didepan rumah, aku masih mendapatkan kejut jantung.

“Mereka belum pulang,”, gumam Baekhyun

Aku menahan lengannya, membuat Baekhyun menatapku.

“Apa kau akan benar-benar mematikan listrik dirumah?”

“Menurutmu?”, Ia balik bertanya

“Jangan lakukan.”, ucapku langsung

Ia menatapku, dengan senyuman diwajahnya, senyum yang membuatku semakin curiga padanya.

“Baiklah,”, ucapnya

“Benarkah?”

“Kau tidak percaya?”

“Tunggu,”, cegahku saat Ia akan melangkah masuk

“Apa lagi?”, suaranya bergetar menahan tawa

“Apa kau akan berubah sikap padaku besok pagi?”

“Maksudmu?”, Ia menyernyit menatapku

“Apa kau akan mengabaikanku lagi seperti tadi pagi? Atau kau akan membekapku lagi? Atau kau akan—”

“Tidak.”, potongnya

“Benarkah?”

“Perlu aku menciummu lagi untuk membuatmu percaya?”

“Tidak.”, kali ini aku yang berucap

Tapi Ia malah mendekatkan wajahnya ke arahku, membuatku kaku seketika karena aku tak bisa menggerakkan kakiku atau tubuhku untuk menjauh darinya.

“Lee Sunhee.. Aku menyukaimu,”, ucapnya lembut, suaranya, ah, sial, jantung ini kembali bekerja diluar kendali.

Sekarang aku berpikir, hubungan apa yang ku jalani dengannya?

██║ ♫ ♪ │█║♪ ♫ ║▌♫ ♪ │█║♪ ♫ ║▌♫ ♪ ║██

Aku sungguh tidak bisa tidur!

Sedari tadi—entah berapa lamanya—aku hanya berguling-guling dikasurku. Entah mengapa kasur ini rasanya sangat tidak nyaman untuk sekarang. Setelah aku memejamkan mataku, aku membukanya dengan ketakutan dalam beberapa detik.

Aku sendiri tidak yakin apa yang membuatku benar-benar ketakutan setengah mati. Lampu remang kamarku masih menyala, itu artinya Baekhyun tidak melancarkan aksi memadamkan listrik miliknya.

Dan aku juga mengunci kamarku, jadi Ia tidak bisa menyelinap masuk kekamarku. Dan dia juga tidak memintaku untuk, umm, tidur bersamanya, jadi ketiga ucapannya tidak terjadi.

Sejenak aku terpikir apa yang sedang Ia lakukan sekarang, tapi kurasa, Ia sudah tertidur. Tunggu, aku tak sempat bertanya padanya apa Ia butuh tidur. Tapi memangnya Ia tidak tidur?

Jika dia sudah tidur, lalu kenapa aku masih tidak bisa tertidur?

Ahh, sungguh menjengkelkan.

Aku sedikit terkejut saat mendengar suara geretan keras. Kurasa suara pintu depan rumah. Tapi aku tidak mendengar suara langkah ataupun pembicaraan dibawah sana.

Apa yang lainnya sudah pulang? Atau itu suara lain?

Aku memasang telingaku baik-baik, dan menajamkan pendengaranku.

“AKH!!”

Aku kembali terkesiap saat mendengar suara teriakan diluar kamarku.

Baekhyun?

“Kalau Baekhyun membuat keributan dikamarnya, abaikan saja, dia sedang sakit.”

“Abaikan saja teriakannya.”

“Sangat sakit.”

“Rasanya seperti ribuan jarum menusuk tubuhku disatu waktu.”

“Lee Sunhee.. Aku menyukaimu,”

Aku tersadar saat nyatanya aku sudah berdiri didepan kamar Baekhyun. Aku sangat ingin membuka pintu kamarnya, mengingat pintu kamarnya sekarang tidak tertutup rapat dan aku bisa mendengar jelas teriakannya, tapi mendengar bagaimana Ia masih berteriak kesakitan membuat keberanianku luntur.

Enam.. Tujuh.. Delapan..

Aku membuka mataku. Ia sudah tidak berteriak lagi.

“Baekhyun?”, panggilku pelan

“Sunhee-ah..”, suara Baekhyun terdengar sangat lemah dan.. sakit.

“Kau.. baik-baik saja?”

Aku menunggu beberapa hitungan sebelum aku mendengar Ia menjawab dengan nada bicara yang sama.

“Ya.. Tidurlah.. Abaikan saja teriaka—akh!!”

Aku tercekat saat Ia kembali berteriak. Aku sangat ingin masuk, memastikan Ia benar-benar baik-baik saja. Tapi kakiku enggan beranjak. Aku takut. Aku sungguh takut pada apapun yang mungkin terjadi padanya didalam sana.

“Aku baik-baik saja..”, kudengar Ia bicara

“Kalau begitu.. Apa aku boleh.. masuk?”

“Tidak.. Jangan..”

“Kenapa?”

“Jangan Sunhee.. Jangan ma—”, ucapan Baekhyun terhenti saat aku nyatanya—dengan keberanian yang entah muncul dari mana—membuka lebar pintu kamarnya.

Aku terpaku saat melihat keadaan Baekhyun. Ia berada di pojok kamarnya, terlihat sangat kesakitan.

“B-Baekhyun..”

“Pergi..”, Ia memejamkan matanya sejenak, kemudian Ia menatapku, dan aku kembali terkesiap melihat sepasang matanya berwarna merah menyala. Aku bisa melihatnya walaupun dengan penerangan seminim ini.

“Kenapa?”, tanyaku

“Aku tidak mau.. kau akan menghindariku nanti..”

“Karena aku melihat seperti apa keadaanmu?”

“Jangan masuk.”, Ia berucap menghentikanku tepat saat aku hendak melangkahkan kakiku masuk kekamarnya.

“Aku tidak akan menghindarimu.”

“Tidak..”

“Aku berjanji..”

Ia menatapku, sebelum akhirnya Ia mengalihkan pandangannya. Kuanggap tindakannya sebagai jawaban ‘ya’ dan Ia membolehkanku masuk ke kamarnya.

Jadi, dengan hati-hati aku masuk kekamarnya, menutup pintu kamarnya—walaupun pintunya tak bisa tertutup rapat—dan melangkah mendekatinya.

“Sakitnya datang lagi?”

Ia menatapku.

“Aku begitu tidak ingin kau melihatku seperti ini.”

Aku duduk disebelahnya, menatapnya khawatir.

“Kenapa begitu?”

“Bukankah alasannya sudah jelas?”

Aku menyernyit.

“Apa itu?”

“Aku sudah mengatakannya berulang kali. Aku menyukaimu. Kau tidak mempercayainya karena seorang yang gila mengucapkan itu padamu?”

Jantungku kembali berdegup tidak karuan mendengar ucapannya.

“Tidak.. Aku percaya.”, ucapku

“Bagaimana aku bisa tau bahwa kau percaya?”

“Bukankah kau bisa mendengarnya?”

“Apa?”

“Detak jantungku.”

Ia menatapku dalam diam. Dan tersenyum.

“Aku mendengarnya..”

“Kalau begitu kau tau kalau aku percaya bukan?”

“Kurasa.. ya. Tapi jantungmu juga berdetak sangat cepat saat kau bersama Chanyeol.”

“Benarkah?”

“Kau tidak tau? Aku sangat kesal mendengarnya.”

“Aku bahkan tidak menyadarinya.”

“Chanyeol tentu menyadarinya. Dia juga menyukaimu.”, aku menatap Baekhyun, Ia mengalihkan pandangannya.

Tapi.. benarkah ucapannya?

Oh Tuhan, aku baru tinggal ditempat ini satu hari dan bagaimana bisa—

“Keundae, bagaimana bisa kau suka padaku?”

“Apa?”

“Kita bahkan baru satu hari saling mengenal.”

Ia tersenyum, samar.

“Bagi makhluk seperti kami, sangat sulit untuk memiliki perasaan pada seseorang. Tapi padamu, saat mendengar detak jantungmu ketika kau dalam perjalanan kerumah, saat aku melihatmu untuk pertama kalinya saat kau masuk kerumah..

“Aku menyukaimu.”

“Bagaimana.. bisa?”

“Aku juga tidak tau. Aku hanya terus menggumamkan kata-kata itu didalam pikiranku. Bahkan saat rasa sakit ini datang, aku sangat kesal, aku tidak ingin kau tau aku semenyedihkan ini.

“Karena Chanyeol juga menyukaimu, sementara yang lainnya tidak menyukaimu.. Dan mereka tidak menyukaiku.. Tadi pagi, saat kau sendirian dirumah, sudah kuputuskan bahwa aku akan lebih dulu mengutarakan perasaanku padamu.

“Karena aku tidak mau, Chanyeol memilikimu.”

Lidahku lagi-lagi kelu mendengar ucapannya. Dan sudah kupastikan jantungku bekerja lebih cepat dari biasanya.

Ucapannya sangat tidak masuk akal tapi entah bagaimana terdengar masuk akal bagiku. Ia katakan bahwa Ia menyukaiku dihari pertama kami saling mengenal, sangat tidak masuk akal, tapi kemudian aku kembali memikirkan alasan yang membuat semua ini jadi tidak masuk akal.

“Aku.. menyukaimu.”

Ucapannya membuatku terdiam. Ia bisa dengan pasti dan yakin mengutarakan perasaannya, sedangkan aku? Aku masih berada dalam kebingungan yang membuatku tidak yakin pada perasaanku sendiri.

Tapi jika aku tidak merasakan apapun padanya, kenapa jantung ini bekerja tidak normal saat berada didekatnya? Kenapa aku terus dan terus memikirkannya dalam sehari ini?

Mungkinkah hal sebaliknya juga terjadi padaku? Aku.. juga menyukainya?

Aku menatap Baekhyun.

“Ayo kita tidur..”, ucapku akhirnya

Baekhyun menatapku, entah mengapa aku bisa melihat luka dalam tatapannya. Apa Ia terluka karena aku tidak menjawab pernyataannya? Atau karena aku tidak bereaksi senang atau semacamnya seperti yeoja-yeoja lainnya lakukan saat seseorang mengungkapkan perasaan pada mereka?

Baekhyun akhirnya mengangguk, dan menarik lenganku untuk berdiri.

“Jaljja, Sunhee-ah.”, ucapnya

“Oh.. Kau juga..”

Aku melangkahkan kakiku menjauhinya, tapi tubuh ini menolak, tubuh ini ingin aku bersama dengannya. Perasaan ini menolak tindakanku.

Akhirnya, aku menghentikan langkahku tepat saat aku akan sampai dipintu kamarnya. Aku berbalik, dan mendapati Baekhyun masih berdiri ditempat yang sama, menatapku.

“Baekhyun-ah..”, ucapku pelan

“Ya Sunhee?”

“Haruskah kita tidur bersama hari ini supaya kau tau aku juga menyukaimu?”

 ██║ ♫ ♪ │█║♪ ♫ ║▌♫ ♪ │█║♪ ♫ ║▌♫ ♪ ║██

“Kau tidak menyesal?”

“Karena apa?”, aku menatap Baekhyun, wajahnya sangat dekat denganku dan aku mulai terbiasa merasakan jantung ini berdegup sangat kencang saat berada didekatnya.

“Karena tindakanmu tentu saja.”

Aku menggeleng.

“Tidak..”

Baekhyun tersenyum. Aku bisa merasakan hembusan nafasnya saat kami berada dalam jarak sedekat ini. Sungguh sangat dekat.

Seseorang mungkin bisa berpikir bahwa Ia akan melakukan hal buruk padaku, tapi aku percaya Ia tak akan melakukannya. Aku.. percaya padanya.

“Boleh aku memelukmu?”, tanyanya

Tanpa menjawabnya, aku melingkarkan lenganku ditubuhnya, membuat tatapan Baekhyun berubah, dan Ia segera memelukku.

“Sunhee-ah..”

“Hmm?”, aku menatapnya, matanya sudah berubah hitam kelam seperti dirinya sendiri. Dan kusadari Ia selalu menatapku dengan tatapan yang.. membuatku merasa nyaman.

“Bagaimana kalau aku tiba-tiba kesakitan lagi?”, ucapnya, tangannya berhenti memelukku, dan sekarang malah mengelus pipiku.

“Rasa sakit itu harus kalah,”, ucapku

“Segeralah pergi dari kamar ini jika aku mulai kesakitan..”, katanya

“Aku tidak mau,”, tolakku cepat

“Sunhee-ah, aku tidak mau melukaimu.”

“Dan aku tak mau membiarkanmu kesakitan sendirian.”

“Sunhee-ah..”

“Sudah kuputuskan, kalau kita akan bersama, kau harus menemaniku saat aku senang atau kesakitan, dan aku juga akan menemanimu saat kau senang ataupun kesakitan.”

Baekhyun tersenyum.

“Baiklah..”, ucapnya

“Kalau begitu percaya padaku, aku tidak akan menghindarimu walaupun kau melukaiku saat kesakitan.”

“Jika aku.. melukaimu tanpa aku menyadarinya, maafkan aku, Sunhee-ah.”

“Gwenchana.. Aku tidak akan marah padamu, apapun yang terjadi.”

 ██║ ♫ ♪ │█║♪ ♫ ║▌♫ ♪ │█║♪ ♫ ║▌♫ ♪ ║██

Day 2

Aku terbangun entah karena apa. Aku bisa merasakan lengan Baekhyun masih melingkar di tubuhku. Dan tanpa sadar aku memperhatikan wajahnya. Tindakanku memperhatikan wajahnya malah membuat jantungku tidak bisa bekerja dengan normal.

“Kau sudah bangun?”

Aku tersentak saat mendengar Baekhyun bicara. Dan tak lama, Ia membuka matanya. Menatapku.

“Bagaimana kau bisa tau?”

“Mendengar detak jantungmu.”, ucapnya

Aku tertawa pelan.

“Itu membuatmu terbangun juga?”

Ia mengangguk pelan, dan menarik kepalaku ke dalam pelukannya.

“Aku takut,”, ucapnya membuatku menyernyit bingung

“Takut? Kenapa?”

“Aku takut kalau kau tidak menyukaiku.”

Kenapa Ia harus menanyakan hal semacam itu?

“Aku menyukaimu.”

Ia menjauhkan tubuhnya dariku, dan menatapku.

“Benarkah?”

“Oh.. Aku menyukaimu.”

“Walapun aku bukan manusia?”

“Ya..”

“Walaupun aku.. seperti ini?”

“Seperti ‘ini’ maksudmu?”

“Sudah kubilang aku gila bukan? Dan Chanyeol juga menyuruhmu menjauhiku. Semua orang tau aku ini aneh.”

“Kurasa kau tidak seperti yang mereka katakan..”

Baekhyun menangkupkan telapak tangannya di pipiku. Rasa hangat segera menjalar dari wajahku ke seluruh tubuh ini. Tidak. Tubuh ini terbakar karena sentuhannya.

“Kau bukan manusia tapi kenapa tubuhmu tidak dingin? Di film dan novel-novel, bukankah vampire itu bertubuh dingin?”, tanyaku

“Aku juga seperti itu,”, ucapnya membuatku menyernyit

“Tapi sekarang tanganmu—”

“Saat aku berubah.”

“Eh?”

“Saat aku berubah jadi sosok asliku, aku juga seperti itu.”

Mendengar ucapan Baekhyun membuatku terdiam.

“Apa kau pernah berubah?”

Ia menggeleng.

“Aku tidak ingin berubah.”

“K-Kenapa?”

“Karena jika aku berubah aku mungkin bisa melukaimu.”

Aku tersenyum.

“Tapi apa kau bisa benar-benar tidak berubah?”

Kali ini Baekhyun menghembuskan nafas panjang.

“Aku juga tidak tau. Tapi aku benar-benar tidak ingin berubah. Aku lebih suka terus kesakitan seperti ini daripada harus berubah menjadi monster.”

“Kau bukan seorang monster..”

Baekhyun mendekatkan wajahnya ke wajahku, membuatku terkejut setengah mati. Tapi tubuh bodoh ini tak pernah bisa bereaksi pada tindakannya. Seperti yang terjadi kemarin. Aku hanya diam saat Ia melakukan hal seperti itu.

“Dilihat dari jarak sedekat ini kau tetap saja cantik.”, ucapnya membuatku yakin wajahku pasti sangat memerah sekarang.

“Jangan bercanda.”, ucapku sambil mendorong pelan tubuhnya

Tapi Baekhyun malah mencekal tanganku, dan mendaratkan ciuman dibibirku. Sontak tindakannya membuat jantungku melompat tidak karuan.

“Aku sangat menyukaimu, Sunhee-ah..”

██║ ♫ ♪ │█║♪ ♫ ║▌♫ ♪ │█║♪ ♫ ║▌♫ ♪ ║██

Aku keluar dari kamar Baekhyun dengan hati-hati saat kurasa keluarganya yang lain belum pulang dari Seoul. Atau sudah pulang? Entahlah. Aku tidak mendengar suara apapun, dan tidak terbangun karena suara apapun.

Mungkin mereka belum pu—

“Kenapa kau keluar dari kamar Baekhyun?”

Langkahku terhenti saat mendengar suara berat yang kukenali.

“Chanyeol?”, ucapku saat ku tolehkan pandanganku

Ia berdiri diujung koridor, didepan sebuah pintu, dan tatapannya tertuju padaku.

“Kenapa kau keluar dari kamarnya?”, Chanyeol mengulang pertanyaannya

“Ah.. Itu.. Aku..”, belum sempat aku memikirkan alasan apapun untuk menjelaskan keberadaanku disana, Chanyeol sudah melangkah ke arahku, tidak, dia melangkah melewatiku.

Dengan kasar Ia membuka pintu kamar Baekhyun dan menerobos masuk ke dalam kamarnya. Aku sontak berbalik, dan menatap dua orang yang kini berdiri saling berhadapan itu.

“Chanyeol-ah, aku dan Baek—”

“Keluarlah dulu Sunhee-ah,”, aku terhenti saat mendengar Baekhyun bicara

“Eh?”

Baekhyun tersenyum padaku. Dan dengan tersenyum saja aku sudah merasa Ia mengatakan bahwa semuanya akan baik-baik saja padaku.

“Keluar, Lee Sunhee.”, kali ini Chanyeol yang berucap

Aku akhirnya melangkah mundur, dan menjauh dari kamar Baekhyun. Aku ingin masuk ke dalam kamarku, tapi kurasa aku akan bisa mendengar pembicaraan mereka, dan aku tidak ingin mendengar pembicaraan mereka, entah mengapa.

Aku menyandarkan tubuhku di tembok ujung koridor, dan menatap ke arah kamar Baekhyun yang sudah kututup tadi.

“Sekarang kau malah membuat masalah.”

Aku menoleh, menatap.. Kyungsoo? Ia yang kemarin mengatakan kata-kata tajam padaku.

“Apa maksudmu?”

Kyungsoo menyipitkan matanya, dan tertawa pelan.

“Kurasa kau benar-benar lupa ingatan. Tadinya kukira kau hanya berpura-pura.”

“Apa sebenarnya maksud ucapanmu, Kyungsoo-ssi?”

Mendengar ucapanku, Kyungsoo mengerjap cepat. Ia menatapku, tidak dengan tatapan benci yang tadi digunakannya saat menatapku. Entah mengapa, kali ini Ia menatapku seolah.. Ia kasihan padaku.

“Aku tidak tau kenapa kau datang ke tempat ini, tapi asal kau tau, lebih baik untukmu jika kau pergi secepat mungkin sebelum kau menyesal.”

Kyungsoo lagi-lagi melangkah meninggalkanku dengan menyenggol bahuku cukup keras. Dan aku menatap kepergiannya dengan penuh kebingungan.

Datang ke tempat ini? Sebenarnya apa yang sedang Ia bicarakan?

Perhatianku pada ucapan Kyungsoo terusik saat kudengar pintu kamar Baekhyun berderit. Aku melihat Chanyeol melangkah keluar dari kamar Baekhyun, rautnya sangat kaku, sepertinya Ia sangat marah.

Dengan cepat aku melangkahkan kakiku untuk mendatangi Baekhyun, dan Ia tersenyum saat aku ada didepannya.

“Apa yang kalian bicarakan?”, tanyaku

“Kau tidak mendengarnya?”, Baekhyun malah balik bertanya padaku

“Tidak, aku tidak mendengarnya.”

“Lalu kenapa kau tidak menguping pembicaraan kami?”

“Ei, aku tidak suka melakukan hal seperti itu.”, ucapku

Baekhyun mengusap puncak kepalaku. Entah mengapa aku menyukai tindakannya. Maksudku, seolah seseorang sering melakukan hal ini padaku. Tapi aku tidak bisa mengingatnya.

Apa mungkin.. ingatan yang kulupakan lebih banyak dari yang kubayangkan?

“Mengapa kau berkata begitu?”

“Eh?”

“Ingatan yang kau lupakan lebih banyak dari yang kau bayangkan. Memangnya kenapa?”, tanya Baekhyun

Aku tak perlu terkejut bagaimana Ia mengetahuinya. Bibir ini pasti sudah bicara tanpa seizinku lagi.

“Aku hanya.. Merasa ada banyak hal yang aku lupakan.”

“Apa kau ingin mengingatnya?”, tanya Baekhyun membuatku menatapnya, lama.

Mengingat kenanganku? Itu artinya aku akan mengingat alasan orang-orang di Kyungri dan apertemen membenciku.

“Aku tidak mau..”

“Kenapa?”

“Entahlah, mungkin aku benar-benar punya kehidupan yang buruk di Seoul.”, ucapku membuat Baekhyun tertawa pelan.

“Bagaimana jika tidak?”

“Maksudmu?”

“Bagaimana jika ternyata kau melupakan hal menyenangkan disana?”

“Kurasa tidak. Semua orang disana tidak menyukaiku. Jadi.. kurasa aku tidak melupakan hal yang menyenangkan.”

Baekhyun menatapku, diam.

“Kenapa?”, tanyaku padanya

“Apa kau mau berjalan-jalan keluar setelah mereka semua pergi ke sekolah?”

 ██║ ♫ ♪ │█║♪ ♫ ║▌♫ ♪ │█║♪ ♫ ║▌♫ ♪ ║██

Aku melangkah menuruni tangga saat aku selesai dengan kegiatanku dikamar. Pintu kamar Baekhyun masih tertutup dan aku tak ingin mengganggunya. Aku tak ingin membuatnya merasa tidak nyaman karena keberadaanku.

Dan aku belum bicara pada Chanyeol. Jadi, aku turun karena aku mendengar suara Chanyeol dibawah. Mungkin Ia tengah bersiap-siap ke sekolah.

Aku berhenti tepat saat aku akan masuk ke dapur. Aku bisa mendengar suara logam yang beradu dengan kaca. Kurasa kemunculanku hanya akan merusak acara sarapan mereka.

Tunggu. Bukankah Baekhyun bilang bahwa mereka bukan manusia? Lalu apa mereka makan seperti kami?

Aku membalikkan tubuhku, dan tersadar bahwa sedari tadi dokter Xi ada tak jauh dibelakangku. Memperhatikan tindakanku.

“Kau tidak makan?”, tanyanya

Aku tersenyum dan menggeleng pelan.

“Aku bisa makan nanti,”, jawabku

Dokter Xi melangkah mendekatiku.

“Kenapa? Apa anak-anakku mengganggumu?”

“Tidak ssaem, mereka sangat baik padaku.”, ucapku pelan

Baik? Sejauh ini hanya Chanyeol dan Baekhyun yang bersikap baik padaku. Juga dokter Xi tentu saja. Dan aku tak bisa dengan percaya diri mengatakan bahwa Chanyeol akan tetap seperti itu padaku mengingat bahwa tadi pagi Ia tampaknya benar-benar marah.

Lagipula, aku tak ingin mengharapkan mereka terlalu bersikap baik padaku. Harapan semacam itu hanya akan membuatku merasa tidak nyaman saat menerima ucapan kasar mereka.

“Mereka tidak memperlakukanmu dengan baik kan?”, tebak dokter Xi membuatku terkejut.

“Aku tidak bilang seperti itu.”, bantahku

“Aku bisa mengetahuinya hanya dengan melihat ekspresimu.”, ucapnya

Aku terdiam. Benarkah hal semacam itu terlihat dari raut wajahku? Atau.. karena dokter Xi bukan manusia Ia juga bisa tau hal-hal semacam itu?

“Keundae, ssaem..”

“Ya Sunhee-ah?”

“Ada sesuatu yang membuatku penasaran..”

“Apa itu?”

Aku terdiam sejenak. Haruskah kukatakan? Atau aku diam saja dan berpura-pura tidak tau? Mana yang mungkin akan menerima respon lebih baik?

Aku menggeleng pelan.

“Lupakan saja, aku bisa menanyakannya lain kali..”

Dokter Xi menyernyit.

“Baekhyun bicara tentang hal aneh?”, tanyanya

“Nde?”

Kurasa keterkejutanku terlalu berlebihan dan kentara. Itulah mengapa dokter Xi tertawa pelan mendengar ucapanku.

“Apa yang dia katakan?”

“Ah, hanya.. rahasia kecil.”, ucapku menirukan istilah yang Baekhyun gunakan saat Ia menceritakan padaku tentang fakta bahwa Ia dan keluarganya bukan manusia.

“Rahasia kecil seperti apa yang membuatmu sepenasaran ini?”

“Itu.. ah, sebenarnya aku juga tidak terlalu penasaran..”, ucapku

“Aku rasa kau pasti percaya pada Baekhyun.”

“Nde? Ah, ya, aku percaya padanya.”

Dokter Xi menepuk pelan bahuku dan tersenyum.

“Sekarang aku mengerti kenapa Ia bisa menyukaimu.”

██║ ♫ ♪ │█║♪ ♫ ║▌♫ ♪ │█║♪ ♫ ║▌♫ ♪ ║██

Aku baru saja akan melangkah ke lantai atas saat seseorang mencekal lenganku.

“Eunji?”, ucapku terkejut

“Ttarawa.”

Tanpa bicara apapun, aku mengikuti langkahnya. Ia membawaku keluar dari rumah, dan kami berjalan dalam diam selama beberapa lama. Sampai akhirnya Eunji berhenti dibawah sebuah pohon besar.

“Kau tau pohon apa ini?”

“Oh?”

“Bersembunyi dipohon ini, akan membuat seorang manusia luput dari penciuman kami.”, ucap Eunji, Ia kemudian menatapku, “Baekhyun pasti sudah mengatakan padamu tentang kami bukan?”, lanjutnya

Aku mengangguk pelan. Baekhyun memang sudah mengatakannya bukan?

“Didesa ini, ada banyak pohon besar seperti ini. Kau lihat kan?”, ucapnya sambil menunjuk ke arah beberapa tempat dengan dagunya.

Aku menatap ke arah yang ditunjuknya, dan menemukan beberapa buah pohon besar disana.

“Aku melihatnya. Tapi, kenapa kau menunjukkan ini padaku?”, tanyaku membuat Eunji menatapku sejenak

“Mungkin saja kau akan memerlukannya suatu hari.”, ucap Eunji

Aku menyernyit. Tidak memahami maksud ucapannya. Memangnya apa yang mungkin akan terjadi dan membuatku harus bersembunyi dipohon ini?

Dan kenapa Ia harus repot-repot mengatakan hal ini padaku padahal Ia dan yang lainnya selalu bersikap membenciku? Benar. Kenapa? Kenapa mereka membenciku? Bukankah itu sebuah pertanyaan yang membutuhkan jawaban sekarang?

“Eunji-ssi..”

“Wae?”

“Kenapa kalian membenciku?”

Eunji terdiam sebentar.

“Tidak hanya kau, kami benci semua orang asing yang masuk ke rumah kami.”

Apa ucapan Baekhyun benar? Bahwa mereka membenci manusia?

“Kalian membenciku karena aku manusia?”

Aku menatap Eunji, mengawasi ekspresinya. Tapi Ia hanya diam. Menatap lurus ke depan seolah sibuk dengan pikirannya sendiri, dan aku tidak ingin mengusik kesibukannya dengan pikirannya.

Tapi kemudian Eunji tersenyum padaku.

“Kami bukannya membencimu, kami hanya benci karena kau harus datang ke rumah kami.”, ucapnya, Ia lalu melangkah pelan, “kajja, Baekhyun pasti sudah mencarimu.”

Aku dan Eunji akhirnya berjalan dalam diam. Aku masih tidak mengerti mengapa Ia bersikap seperti ini padaku, sikapnya sangat aneh karena Ia tiba-tiba saja membawaku keluar rumah dan menunjukkan pohon padaku.

Lalu Ia mengatakan bahwa Ia membenciku dan tidak membenciku disatu waktu yang sama dan hal itu lebih membuatku bingung.

Dan sekarang Ia tersenyum padaku dan bicara dengan nada ramah seolah Ia benar-benar tidak membenciku padahal sikapnya dan saudaranya yang lain sungguh menunjukkan bagaimana mereka memusuhiku tanpa alasan yang jelas.

Tidak. Mungkin Baekhyun benar, mereka membenciku karena aku manusia. Tapi sekarang aku kembali bertanya-tanya, kenapa Kyungsoo bicara aneh padaku? Dan kenapa Eunji sekarang juga membicarakan hal aneh padaku?

Apa sebenarnya.. ada sesuatu yang mereka sembunyikan dan tidak ingin aku ketahui? Lalu ada apa dengan semua sikap dan ucapan aneh mereka?

“Sunhee-ah..”

Aku mendongak, dan tersenyum melihat Baekhyun ada dilantai dua sementara saudaranya yang lain sudah bersiap-siap akan ke sekolah.

Pemandangan ini lebih aneh bagiku. Karena Baekhyun bicara padaku saat saudaranya masih ada dirumah.

Apa seharusnya hal ini tidak menjadi hal aneh untukku? Ini hari keduaku disini dan tentu saja ada banyak hal yang tidak kuketahui tentang mereka—kecuali tentang fakta bahwa mereka bukanlah manusia itu tentu saja.

Aku menatap Chanyeol, ingin melihat ekspresinya, tapi Ia tidak sedang menatap ke arahku. Ia sepertinya benar-benar marah sejak tadi, dan aku belum punya kesempatan untuk bicara padanya karena Eunji sudah membawaku keluar lebih dulu.

Tanpa bicara apapun saudara Baekhyun beranjak pergi, aku tidak melihat dokter Xi dimanapun, kurasa Ia sudah pergi lebih dulu.

Dan aku dengan segera melangkah ke lantai atas, menghampiri Baekhyun. Berbeda dengan aku yang masih merasa aneh karena tindakannya, Baekhyun malah menarik lenganku, untuk ke sekian kalinya, merapatkan tubuhnya padaku.

“Bogoshipeo..”, bisiknya membuatku tertawa pelan

“Kurasa belum dua jam aku keluar dari kamarmu,”, ucapku membuat Baekhyun tersenyum.

“Kemana Eunji tadi membawamu?”, tanyanya

“Ah, kami hanya berjalan-jalan keluar.”, ucapku

“Apa dia bicara aneh?”

Aku menyernyit.

“Bicara aneh?”, tanyaku padanya

“Apa Ia melarangmu untuk ada didekatku?”

Aku menggeleng pelan.

“Tidak, Ia tidak berkata seperti itu.”

Baekhyun mengangguk-angguk pelan.

“Apa kau lapar?”, tanyanya

Aku menjawab pertanyaannya dengan anggukan pelan. Baekhyun tersenyum, dan menggamit lenganku, membawaku ke dapur. Sungguh.

Ia bahkan membawaku melangkah melewati Chanyeol saat aku begitu ingin untuk bicara pada namja itu dan memastikan apa Ia marah dan kenapa Ia bersikap sangat dingin sekarang padahal kemarin ia sangat baik padaku.

Apa Ia memang seperti itu?

Aku juga ingin menanyakan pada Chanyeol tentang sikap aneh yang dilakukan oleh Kyungsoo dan Eunji. Aku sungguh penasaran, tapi aku tidak bisa menanyakannya dirumah ini, kurasa.

Aku ingat Ia bilang bahwa Baekhyun punya telinga dimanapun dirumah ini.

Dan kemungkinan besar, Baekhyun akan tau apa yang kami bicarakan.

Lalu, bagaimana caraku untuk bicara pada Chanyeol? Dan juga, jika aku bicara pada Chanyeol sementara Baekhyun mengetahuinya, apa itu akan membuat Baekhyun.. cemburu? Ugh. Aku sungguh berada diposisi yang tidak mengenakkanku.

Aku baru ditempat ini, sudah menerima pernyataan cinta dari seseorang, dan menerima kebencian dari beberapa orang lainnya. Kenapa aku? Ini nasib buruk.. atau nasib baik?

“Walaupun kami bukan manusia tapi kami bisa makan seperti kalian,”

Ucapan Baekhyun menyadarkanku dan mengingatkanku bahwa aku sudah ada didapur rumah mereka. Aku menyernyit melihat roti-roti bakar dan telur ada disebuah piring dimeja.

Mereka vampire yang terlihat sangat manusia jika mereka benar-benar makan semua ini.

“Duduklah, Sunhee-ah,”

“Oh..”

Aku duduk dikursi terdekat dari tempatku sedari tadi berdiri. Dan dengan cepat Baekhyun duduk disebelahku. Aku merasa aneh karena sikapnya sangat normal, Ia sama sekali tidak terlihat sakit atau salah program seperti yang Chanyeol katakan. Ia.. terlihat baik-baik saja.

Banyak pertanyaan didalam benakku yang tak bisa kuungkapkan sekaligus dan aku juga tidak tau harus mengatakannya pada siapa. Tapi aku tidak ingin terus berdiam dalam keadaan tidak mengerti seperti ini.

Aku menghela nafas panjang, dan memperhatikan Baekhyun. Ia tengah mengambil piring kosong dimeja, dan mengambil piring lain yang berisi roti panggang, juga telur.

“Makanlah, Sunhee-ah,”

“Dan kau tidak makan?”, tanyaku sambil menatapnya

Ia tersenyum dan menggeleng pelan.

“Aku hanya ingin melihatmu,”, ucapnya membuatku yakin semburat merah muncul diwajahku sekarang.

Bagaimana bisa Ia mengucapkan hal-hal seperti itu dipagi hari? Ugh, bukan masalah tentang waktu tentunya. Aku hanya masih merasa canggung pada hubungan aneh kami yang terbentuk hanya dalam satu hari.

Sungguh, apa seseorang pernah mengalami hal seperti ini juga sebelumnya dibelahan dunia lain?

Aku makan dalam diam pada awalnya, merasa canggung juga karena Baekhyun tidak mengalihkan tatapannya sedikitpun dariku.

Tindakannya membuatku tanpa sadar menghabiskan makananku dengan cepat. Aku tak ingin Ia terus menatapku seperti ini karena tindakannya malah membuatku semakin merasa canggung.

Aku tersentak saat tiba-tiba saja Baekhyun menyingkirkan rambut yang menutupi wajahku, dan Ia menyentuh rahang kiriku.

“Waeyo?”, tanyaku, sontak aku menghentikan makanku dan menatapnya

Baekhyun memandangku, dengan tatapan yang sama sekali tidak bisa kuartikan.

“Kau.. bukan Sunhee.”

۩۞۩▬▬▬▬▬▬ε(• -̮ •)з To Be Continued ε(• -̮ •)з ▬▬▬▬▬▬▬۩۞۩

Iklan

7 pemikiran pada “THREE DAYS – SLICE #6

  1. Ping balik: THREE DAYS – EPILOGUE | Gallery of EXO School

  2. Ping balik: THREE DAYS – CHAPTER 8 | Gallery of EXO School

  3. Ping balik: THREE DAYS – CHAPTER 7 | Gallery of EXO School

Review And Chat here!

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s