THREE DAYS – SLICE #7

Three Days

Author : IRISH

Tittle : Three Days

Main Cast : EXO’s Byun Baekhyun, OC’s Lee Sunhee

Genre : Romance, Fantasy

Supported : EXO Members, Xi Luhan, Lee Jieun, A-Pink’s Jung Eunji

Rate : T

Disclaimer : This story is entirely fantasy and created by Irish. Any resemblance to real persons or organization appearing in this story is purely coincidental. EXO Members belong to their real-life, and OC’s belong to their appearance.

“Hanya karena dia sudah berbuat jahat padaku bukan berarti aku tak boleh mencintainya bukan?”—Lee Sunhee

Previous Chapter

Prologue || Chapter 1 || Chapter 2 || Chapter 3 || Chapter 4 || Chapter 5 || Chapter 6

 ██║ ♫ ♪ │█║♪ ♫ ║▌♫ ♪ │█║♪ ♫ ║▌♫ ♪ ║██

In Sunhee’s Eyes..

“Kau.. bukan Sunhee.”

Aku tersentak mendengar Baekhyun bicara seperti itu.

“Mwo?”

Ia menatapku, masih dengan tatapan yang sama. Dan Ia segera mengalihkan pandangannya.

“Baekhyun-ah.. Kau baik-baik saja?”

Ia mengalihkan pandangannya ke arahku lagi, dan mengangguk.

“Ya,”, ucapnya pelan

“Kau benar-benar baik-baik saja?”

Kali ini Baekhyun menatapku, lama. Seolah Ia tengah berdebat dengan pikirannya. Baekhyun kembali menyentuh rahang kiriku, dan mendesah pelan.

“Kau benar-benar bukan Sunhee..”

“Apa?”

Aku benar-benar bingung mendengar ucapannya. Apa yang sedang Ia bicarakan? Kenapa Ia mengatakan bahwa aku bukan Sunhee saat aku adalah Sunhee? Maksudku.. Ada apa dengan sikapnya sekarang?

██║ ♫ ♪ │█║♪ ♫ ║▌♫ ♪ │█║♪ ♫ ║▌♫ ♪ ║██

Setelah berucap aneh seperti itu, Baekhyun bersikap aneh, lagi.

Ia.. mengabaikanku. Maksudku, Ia mengurung dirinya dikamar selama setengah hari ini, dan tidak mengizinkanku masuk. Ia sebenarnya hanya berkata ‘Tidak’ setiap kali aku mengatakan ingin masuk ke dalam kamarnya, dan aku tidak ingin membuatnya merasa semakin tidak nyaman dengan menerobos masuk ke dalam kamarnya.

Kurasa.. Ia tidak sedang baik-baik saja.

Jadi, aku menghabiskan waktuku dibalkon seperti kemarin, memperhatikan lalu lalang dijalanan kosong didepanku, dan berharap waktu bisa berjalan dengan cepat, atau keadaan Baekhyun memba—

“AKH!!”

Aku terkesiap saat mendengar teriakan. Baekhyun.

Dengan segera aku berlari ke kamarnya. Sungguh. Aku panik setiap kali mendengar teriakannya.

“Baekhyun-ah! Kau baik-baik saja?”

“Tidak. Jangan masuk.”

Aku terhenti. Apa keadaannya seburuk semalam? Aku memejamkan mataku saat kembali mendengar Baekhyun berteriak kesakitan. Tanganku sungguh ingin membuka pintu kamarnya, tapi aku masih sangat tidak bisa menyiapkan diriku untuk melihat seburuk apa keadaannya.

Tujuh.. Delapan..

Ia benar-benar berhenti berteriak kesakitan.

Aku bisa mendengar deru nafasnya bahkan dari luar ruangan. Apa Baekhyun benar-benar baik-baik saja?

“Ya..”

Apa aku baru saja mengutarakan pikiranku?

“Bolehkah aku masuk?”, tanyaku pelan

“Ya..”, Ia lagi-lagi menyahut pelan

Aku membuka pintu kamar itu, dan melangkah masuk. Baekhyun ada disudut kamarnya, terlihat menahan sakit. Aku segera mendatanginya, dan melingkarkan lenganku dibahunya.

“Kenapa kau selalu menanyakan keadaanku?”, ucap Baekhyun pelan

Kenapa? Tentu saja untuk memastikan bahwa Ia baik-baik saja.

“Kenapa kau ingin memastikannya? Kau tidak takut jika aku—ugh, pergi. Pergilah sekarang.”

“Apa sakitnya datang lagi?”

“Ya—pergi!!”, Baekhyun berteriak keras

Tapi aku bergeming. Aku mengumpulkan keberanianku.

“Aku tidak akan pergi.”

“Per—akh!”

Aku menutup mataku saat mendengar teriakan Baekhyun dalam jarak sangat dekat seperti ini. Ia berusaha meronta, berusaha melepaskan cekalanku padanya, tapi aku berusaha sekuat tenaga terus merangkulnya.

Aku menyernyit saat merasakan sesuatu yang tajam melukai lenganku. Tapi aku tidak mau membuka mataku, aku takut aku akan melepaskan Baekhyun karena aku begitu ketakutan.

Dan aku tak mau melepaskannya.

“Akh!!”

Aku mengeratkan peganganku. Rasa nyeri lain sekarang menusuk pinggangku saat kusadari Baekhyun mencengkram tubuhku. Sangat menyakitkan. Tapi kurasa rasa sakit ini tidak akan sebanding dengan yang Baekhyun rasakan setiap kali Ia berteriak kesakitan.

Baekhyun sudah tidak berteriak lagi, dan aku bisa mendengar nafasnya, pelan. Perlahan, aku membuka mataku, dan kudapati Baekhyun tengah menatap lenganku, membuatku menatap ke arah yang sama.

Darah.

“Aku melukaimu..”

Aku menatap Baekhyun, tangannya dengan gemetar bergerak menyentuh luka dilenganku.

“Aku benar-benar melukaimu..”, Ia berucap pelan

“Gwenchanayo..”, ucapku

Baekhyun menatapku, dan tatapannya menelitiku dari atas sampai bawah.

“Tidak.. Aku melukaimu..”, Ia menyentuh pinggangku, dan kurasakan sesuatu yang sangat perih disana.

“Aku melukaimu!”, Baekhyun berteriak, membuatku terkejut setengah mati.

“Baekhyun-ah, gwenchana, aku baik-baik saja,”, ucapku berusaha menenangkannya

“Kenapa? Kenapa kau tidak pergi saat aku memintamu pergi?”, ucapnya sambil menatapku

“Karena aku tidak mau membiarkanmu kesakitan sendirian,”, jawabku

Baekhyun menatapku, dan lengannya kini bergerak menarikku ke dalam pelukannya.

“Gomawo..”, bisiknya lembut

Ia kemudian menangkupkan tangannya diwajahku.

“Ayo kita obati lukamu,”, ucapnya sambil berdiri, dan membantuku untuk berdiri

Aku menyernyit saat merasakan nyeri dipinggangku ketika aku berdiri. Aku ingin melihat keadaanku, tapi aku takut. Aku takut aku mungkin akan marah, atau kesal pada Baekhyun karena Ia sudah melukaiku.

Aku juga tidak mau Baekhyun merasa bersalah karena sudah melukaiku. Bukan salahnya memang, karena akulah yang tidak berlari keluar saat melihatnya kesakitan.

Baekhyun mendudukkanku ditempat tidurnya.

“Tunggu disini,”, ucapnya sambil melangkah keluar kamar

Ia kembali dalam hitungan detik, sungguh cepat, dengan membawa obat. Baekhyun duduk disebelahku, dan menarik lenganku.

“Ah.. Luka ini pasti sangat sakit..”, ucapnya pelan

Aku menggeleng.

“Setidaknya aku bisa memastikan kau benar-benar baik-baik saja,”, ucapku

Baekhyun menatapku, dan tersenyum. Ia kemudian membersihkan darah yang keluar dari lenganku, dan memberi obat diluka itu.

“Chanyeol sudah memberitahumu aku pasti melukai siapapun yang ada didekatku saat aku kesakitan bukan?”, tanyanya

“Ya, dia sudah memberitahuku. Tapi aku benar-benar tidak bisa terus mendengarmu berteriak seperti itu.”

“Tapi aku melukaimu,”, ucapnya

Aku diam. Membuat Baekhyun menatapku.

“Maafkan aku,”

“Kenapa kau harus minta maaf? Aku merasa senang karena akhirnya aku tau seperti apa keadaanmu saat kau berteriak kesakitan seperti itu.”, ucapku

Tanpa kuduga, Baekhyun menyarangkan ciuman kecil dibibirku. Sungguh. Kenapa Ia selalu melakukan hal yang tidak terduga?

“Kau orang pertama yang membuatku berteriak kesakitan dalam waktu yang singkat.”, ucapnya

“Maksudmu?”, aku menatap Baekhyun bingung

“Kau tidak menghitungnya? Hanya lima detik. Rasa sakit itu datang hanya lima detik. Dan semalam, saat kau tidur bersamaku, rasa sakit itu bahkan tidak datang,”, ucapnya

“Apa itu buruk?”, ucapku refleks membuat Baekhyun tersenyum

“Tidak. Itu sangat baik. Kau.. seperti obat untuk rasa sakit ini.”

Aku tertawa pelan. Baekhyun kini mengobati luka dipinggangku. Ia bahkan memberi plester diluka itu. Aku masih tidak berniat melihat seburuk apa lukanya mengingat bahwa rasa sakit itu benar-benar menusuk.

Aku memilih untuk memperhatikan Baekhyun. Memikirkan semua keanehan ini. Semua takdir lucu yang mempertemukanku dengan keluarga vampire ini. Dengan keadaan Baekhyun seperti ini, semuanya terasa aneh, tapi tidak terelakkan.

“Nah, selesai,”, ucap Baekhyun saat Ia selesai mengobatiku.

“Apa aku boleh menemanimu lagi saat kau kesakitan?”, tanyaku tanpa sadar

Baekhyun menatapku, dan menggeleng tegas.

“Tidak, aku tidak mau melukaimu lagi.”

“Tapi aku—”

“Tidak. Cukup satu kali ini aku melukaimu. Aku tidak mau melihat darahmu lagi. Atau melihatmu meringis kesakitan. Kau mendengarku berteriak kesakitan saja sudah membuatku merasa sangat buruk.”

Aku akhirnya mengangguk. Apa lagi yang bisa kulakukan untuk meluluhkannya?

“Baiklah..”

Baekhyun menatapku. Dan Ia menangkupkan telapak tangannya diwajahku.

“Kenapa?”, tanyaku bingung

“Kau harus menanyakan pada dokter itu, tentang siapa dirimu.”

“M-Mwo?”

Baekhyun tersenyum.

“Banyak hal yang tidak kau ketahui.. Tapi kau.. bukan Sunhee.”

“A-Apa maksudmu?”, ucapku bingung

Kenapa sejak tadi pagi Ia mengatakan bahwa aku bukan Sunhee? Jika aku bukan Sunhee, lalu siapa aku?

Dan kenapa Ia mengatakan hal aneh ini? Maksudku, cukup Kyungsoo dan Eunji yang memberiku ratusan pertanyaan karena sikap aneh mereka, dan sekarang Baekhyun juga mengatakan hal yang sama ane—

“Sunhee.. Gadis bernama Lee Sunhee.. Dia sudah mati.”

Aku menatap Baekhyun saat Ia bicara seperti itu. Aku benar-benar bingung sekarang. Apa maksudnya?

“Tanyakan saja pada Chanyeol, atau dokter Xi, mereka pasti akan menjawabmu..”, Baekhyun mendekatkan wajahnya padaku, membuat jantungku melonjak tidak karuan.

“..dan katakan pada mereka.. kalau aku sudah tau kau bukan Sunhee.”

Aku baru saja akan membuka mulutku lagi saat tiba-tiba saja aku mendengar suara pintu rumah besar ini berderit.

“Ah, mereka pulang. Kau mau menanyakannya sekarang?”, tanya Baekhyun padaku

Aku masih menatap Baekhyun bingung.

“Jawabannya.. apakah sesuatu yang buruk?”, tanyaku

Baekhyun terdiam sebentar.

“Kau bisa memutuskannya sendiri setelah mendengarnya. Dan juga.. temui aku setelah kau mendapatkan jawabannya, arraseo?”

Aku mengangguk pelan.

“Baiklah, aku akan menanyakannya pada Chanyeol.”

Baekhyun tersenyum, dan mengusap pipiku.

“Kuharap kau akan tetap disini walaupun sudah tau jawabannya.”

 ██║ ♫ ♪ │█║♪ ♫ ║▌♫ ♪ │█║♪ ♫ ║▌♫ ♪ ║██

Aku keluar dari kamar Baekhyun, dan tatapanku segera bertumbukan dengan Chanyeol. Benar. Chanyeol.

“Chanyeol-ah.”

Dengan segera Chanyeol mengalihkan pandangannya, dan melangkah pergi. Tapi dengan cepat aku menyusul langkah panjang namja itu.

“Chakkaman, Chanyeol-ah.”

Chanyeol menghentikan langkahnya, dan menatapku.

“Baekhyun tidak akan marah jika kau bicara padaku?”

Aku menyernyit.

“Nde?”

“Ttarawa.”

Chanyeol menarik lenganku, dan membawaku menuruni tangga. Aku sempat melihat Eunji dan Kyungsoo disana, mereka menatapku, sementara beberapa yang lain yang ah, aku bahkan sudah lupa nama mereka, mereka hanya menatapku sekilas.

Aku pasrah saat Chanyeol membawaku keluar dari rumah dan Ia bahkan membawaku ke bawah sebuah pohon besar, salah satu pohon yang tadi pagi Eunji tunjukkan padaku.

“Apa kau marah padaku?”, tanyaku pelan

Chanyeol menggeleng, dan Ia tersenyum.

“Kenapa aku harus marah padamu?”, ucapnya

“Keundae, kau mengabaikanku tadi pagi.”

“Itu karena Baekhyun bisa saja marah padamu jika Ia tau kau bicara denganku.”

“Ah..”, aku mengangguk-angguk pelan, aku menatap Chanyeol, ingin mulai bertanya padanya tapi aku tidak tau harus mulai bertanya darimana padanya.

“Kalau Baekhyun mengatakan hal aneh, kau bisa memberitahuku.”, ucap Chanyeol kemudian

“Eh?”, aku menatapnya bingung

“Sebenarnya.. Eunji tadi pagi—”

“Eunji hanya berusaha memberitahumu cara untuk lari dari rumah.”

“Lari?”, aku menyernyit

“Jika saja Baekhyun suatu hari menyerangmu.”

Menyerangku? Kenapa?

“Karena dia tau kau bukan Sunhee.”

Aku terkesiap.

“A-Apa?”

Chanyeol menatapku.

“Tiga puluh tahun lalu, ada seorang yeoja dibawa oleh dokter Xi ke rumah kami. Saat itu keadaan Baekhyun masih baik-baik saja. Kami semua benci pada yeoja itu karena Ia seorang manusia, tapi Baekhyun tidak.

“Selama berbulan-bulan berada dirumah, hanya Baekhyun yang bersikap baik padanya. Tapi suatu hari, Baekhyun berubah menjadi sosok vampire nya, dan yeoja itu ketakutan setengah mati.

“Karena berusaha menjelaskan tentang keadaannya pada yeoja itu, Baekhyun secara tidak sengaja menyerang yeoja itu.. dan membuatnya terbunuh..”

Chanyeol menatapku, mengawasi reaksiku sementara aku berusaha untuk memahami alur cerita yang Ia ceritakan padaku.

“Sejak itu, keadaan Baekhyun berubah seperti sekarang. Setiap hari diawal-awal kematian yeoja itu, Ia terus berteriak kesakitan, sampai kami mengurungnya dikamar itu. Itulah kenapa pintu kamar itu rusak, karena Ia terus berusaha keluar dan percaya bahwa yeoja itu belum mati.

“Dan beberapa minggu setelah itu, dokter Xi membawa seorang yeoja ke rumah, yeoja yang lupa ingatan, saat pertama kali melihat yeoja itu, Baekhyun langsung mengatakan bahwa yeoja itu adalah yeoja yang dulu dibunuhnya secara tidak sengaja.

“Karena itu.. Selama tiga puluh tahun ini.. Dokter Xi terus membawa yeoja yang kehilangan ingatannya, untuk mengurangi rasa sakit Baekhyun, untuk membuatnya berhenti berteriak kesakitan, untuk membuatnya berhenti mendapat label gila dari kami.

“Itulah kenapa.. Dokter Xi selalu memberikan kenangan yang sama pada pasien yeoja yang lupa ingatan. Bahwa yeoja itu adalah Lee Sunhee yang lahir tanggal 12 Juni dan berusia 21 tahun.”

Aku tersentak.

“J-Jadi.. Aku juga..”

Chanyeol tersenyum padaku.

“Ya. Kau juga yeoja yang dibawa oleh dokter Xi sebagai usahanya untuk menyembuhkan Baekhyun.”

Aku benar-benar tidak bisa berpikir jernih. Aku.. Aku.. sulit untuk mempercayai ucapannya.

“Suatu hari, akan ada saat ketika Baekhyun sadar dan ingat tentang sosok Sunhee, dan saat Ia ingat, Ia akan menyerang yeoja yang dokter Xi bawa, membunuh yeoja itu. Itulah mengapa aku menceritakan ini padamu.

“Supaya kau bisa pergi dari rumah bodoh itu. Supaya kau bisa melanjutkan hidupmu. Jieun sudah mencuri data hidup aslimu dari dokter Xi, dan kau bisa tanya padanya tentang kehidupanmu yang lalu.

“Sehun dan Kai akan menunjukkan jalan menuju stasiun yang paling dekat dari tempat ini, dan Eunji juga sudah bilang padamu bahwa pohon ini akan membuat vampire tidak bisa mencium keberadaanmu bukan?

“Saat kenangan itu kembali, Baekhyun akan menyerang tanpa ampun. Saat kau lari, Ia akan mengejarmu, Ia akan benar-benar memburumu. Dan aku.. aku menyukaimu. Itulah kenapa aku tak mau kau berakhir seperti semua yeoja yang selama tiga puluh tahun ini kami korbankan untuk Baekhyun.

“Aku tau Baekhyun benar-benar sakit, dan dia.. tidak akan pernah sembuh.”

██║ ♫ ♪ │█║♪ ♫ ║▌♫ ♪ │█║♪ ♫ ║▌♫ ♪ ║██

Aku benar-benar tidak bisa berpikir dengan jernih setelah mendengar penjelasan dari Chanyeol. Bahkan saat Ia memintaku untuk menunggu dipohon itu karena Jieun akan menyusul keluar dan memberitahuku tentang kehidupanku sebenarnya, aku masih tidak bisa berpikir.

Otakku seolah rusak setelah mendengar cerita itu.

Apa itu benar? Atau Ia hanya berbohong padaku? Jika Ia berbohong, kenapa kebohongannya terdengar sangat nyata? Kenapa Ia—

“Han Yeoreum.”

Aku menoleh, entah kenapa aku menoleh saat mendengar seseorang menyebut nama itu walaupun itu bukan namaku.

Aku segera berdiri saat melihat Jieun berdiri tak jauh dariku. Ia.. tersenyum. Sungguh? Ia tersenyum? Padaku?

“Namamu adalah Han Yeoreum.”, ucapnya membuatku menyernyit

Jieun melangkah ke arahku, dan mengulurkan sebuah rekam medis padaku. Aku membuka rekam medis itu dengan ragu, dan terkesiap.

Han Yeoreum. Usiaku 24 tahun ini. Aku bekerja disebuah kelompok sirkus di Seoul. Aku tinggal bersama kelompok sirkusku dan hidup berpindah-pindah. Aku kehilangan ingatanku setelah kecelakaan saat atraksi sirkus.

Aku memejamkan mataku saat tiba-tiba saja kurasakan nyeri yang teramat sangat dikepalaku. Perlahan-lahan sekelebat bayangan berputar-putar melewati otakku.

“Yeoreum-ah!”

“Kau tau besok kita akan mengadakan sirkus di Seoul!”

“Kau akan jadi pengisi acara utama besok malam, Yeoreum-ah..”

Aku membuka mataku saat kudengar dengan jelas dengungan musik sirkus ditelingaku. Ingatanku. Benar.

“Ada yang sudah kau ingat, Yeoreum-ah?”, tanya Jieun dan kujawab dengan anggukan pelan.

“Aku mengingatnya. Semuanya. Aku sudah ingat semuanya.”

Jieun tersenyum.

“Maaf karena kami bersikap tidak baik padamu. Kami semua harus berpura-pura seperti itu pada mu, supaya Baekhyun benar-benar berpikir kau Sunhee. Tapi Chanyeol sepertinya sungguh menyukaimu karena Ia satu-satunya yang tidak mau berpura-pura.”

Aku menatap Jieun. Dan Ia masih tersenyum padaku.

“Jika Baekhyun tiba-tiba berkata bahwa kau bukan Sunhee, larilah, larilah dari rumah walaupun Baekhyun berteriak memanggilmu. Dia akan menyerang siapa saja saat berubah menjadi sosok vampire nya, jadi.. kau harus menyelamatkan dirimu.”

Aku mengangguk pelan mendengar ucapannya. Awalnya kupikir bahwa mereka berbohong, tapi nyatanya aku mengingat semuanya.

“Tapi.. Bagaimana dengan Kyungri Art School? Dan.. apertemen itu?”, ucapku kemudian, teringat pada keadaan aneh yang kuhadapi diawal kesadaranku.

Jieun tersenyum.

“Dokter Xi sudah berbuat sangat banyak untuk membuatmu yakin bukan?”

██║ ♫ ♪ │█║♪ ♫ ║▌♫ ♪ │█║♪ ♫ ║▌♫ ♪ ║██

Aku bukan Sunhee. Aku Yeoreum.

Haruskah kukatakan pada Baekhyun? Bagaimana jika Ia benar-benar menyerangku? Bagaimana jika Ia—

“Tanyakan saja pada Chanyeol, atau dokter Xi, mereka pasti akan menjawabmu..”

“..dan katakan pada mereka.. kalau aku sudah tau kau bukan Sunhee.”

“..temui aku setelah kau mendapatkan jawabannya, arraseo?”

“Kuharap kau akan tetap disini walaupun sudah tau jawabannya.”

Aku sudah menanyakannya. Aku hanya tidak mengatakan pada mereka bahwa Baekhyun sudah tau bahwa aku bukan Sunhee.

Aku.. belum menemui Baekhyun.

Dan aku.. belum memikirkan jawaban ini sebagai hal yang buruk atau baik.

Aku juga.. belum bisa menentukan apa aku akan tetap disini dengan ketakutan baru yang meneriakkan bahwa Baekhyun akan menyerangku suatu hari nanti, atau aku berlari dari tempat ini dan kembali ke kehidupan lamaku.

Aku sungguh tidak tau apa yang harus aku lakukan.

Haruskah aku menemui Baekhyun?

Ah. Mengingat wajahnya, suaranya, aku sungguh ingin menemuinya. Tapi aku takut, ugh, kenapa aku sangat penakut? Apa aku memang punya sifat seperti ini?

Sudah hampir dua jam aku mengurung diriku dikamar, dan menghabiskan waktuku dengan mengingat kembali semua ingatanku. Tidak ada ingatan buruk sama sekali.

Aku hidup dengan senang bersama dua belas orang crew sirkus, dan kami hidup berpindah-pindah karena selalu menyesuaikan dengan tempat kami mengadakan sirkus.

Aku bahkan ingat semua nama mereka, dan ingat semua detil atraksi sirkus kami.

Benar. Sekarang aku yakin Chanyeol tidak berbohong. Lagipula, Baekhyun juga sudah tau—

Ah, aku akan menemuinya sekarang.

Aku melangkah keluar kamar, dan mengetuk pelan kamar Baekhyun. Ia tidak terdengar berteriak kesakitan selama beberapa jam ini, dan kurasa Ia juga baik-baik saja.

“Baekhyun-ah..”

Aku sedikit terkejut saat Ia membuka pintu kamarnya, dan tersenyum padaku.

“Kau menemuiku..”, ucapnya sambil mengulurkan tangannya padaku

Tanpa pikir panjang aku meraih tangannya, dan Ia menarikku masuk ke dalam kamarnya. Dengan cepat Baekhyun mendudukkanku ditempat tidurnya, sementara Ia berlutut didepanku.

“Jadi.. bagaimana?”, tanyanya

Aku menyernyit. Menatapnya khawatir. Apa Ia akan menyerangku saat tau aku benar-benar bukan Sunhee?

“Tidak, aku tidak akan menyerangmu karena aku tau kau bukan Sunhee.”

Aku terkesiap. Ah, sebelum ini aku juga sering bicara tanpa bisa kukontrol, seperti yang terjadi disini.

“Benarkah?”, ucapku sambil menatap Baekhyun

Baekhyun mengangguk, dan bergerak menggenggam kedua tanganku.

“Aku hanya ingin tau.. siapa kau.”, ucapnya

Aku menghembuskan nafas pelan.

“Namaku.. Yeoreum, Han Yeoreum. Dan usiaku 24 tahun.”, ucapku sambil terus menatap Baekhyun lekat-lekat.

“Bagaimana dengan ingatanmu? Kau sudah mengingat semuanya?”, tanyanya

Aku mengangguk.

“Ya.. Hampir semua..”, jawabku

Baekhyun menatapku penasaran.

“Ceritakan padaku,”, pintanya

“Aku bekerja disebuah sirkus, dna kami hidup berpindah-pindah. Kau tau? Aku bahkan ingat ada crew di sirkusku yang selalu tampil dengan kostum vampire, tapi dia seorang pesulap.

“Aku juga ingat bagaimana aku bisa melompat dengan bebas diatas trampolin dengan melakukan atraksi.. Ah.. Ternyata aku punya kehidupan yang indah dulu.”, ucapku

“Lalu.. Apa sekarang kau ingin pulang?”, tanyanya membuatku terkesiap

“Eh?”

Aku sadar ekspresi Baekhyun sudah berubah, sedih.

“Kau sudah tau tentang dirimu. Kau juga ingat kehidupanmu. Kau pasti ingin kembali ke kehidupanmu bukan?”

Dan meninggalkan nya—maksudku.. ada apa denganku? Kenapa membayangkan berpisah dengan namja ini sekarang membebaniku?

Tidak. Bukan membebaniku. Kurasa.. aku benar-benar menyukainya.

“Benarkah?”

“Oh?”, aku tersadar

“Kau benar-benar menyukaiku, benarkah itu?”

Aku mengangguk.

“Kau tau, entah mengapa aku tidak sanggup membayangkan harus berpisah denganmu, dan jujur saja, aku memang rindu kehidupanku, tapi aku tidak ingin meninggalkanmu.”

Aku menatap Baekhyun.

“Bukankah aku yang seharusnya khawatir?”, tanyaku

“Kenapa?”

“Karena aku bukan Lee Sunhee. Gadis yang pasti sangat kau cintai itu. Aku bukan dia. Aku hanya.. satu diantara beberapa yeoja yang sudah dibawa kerumah ini dan membuatmu berpikir bahwa Sunhee masih hidup.

“Aku sangat takut saat Chanyeol bilang bahwa kau menyerang yeoja yang datang kerumah ini sebagai pengganti Sunhee. Aku sangat takut saat Chanyeol memintaku untuk menjauh darimu saat kau sadar aku bukan Sunhee.

“Tapi aku.. percaya padamu. Aku percaya kau tidak akan melukaiku. Aku percaya kau tidak a—”

Ucapanku terhenti saat kurasakan sesuatu yang lembap membungkam bibirku.

Baekhyun.. menciumku.

Lembut, seolah seluruh perasaannya ada pada ciuman itu. Ia menarik tengkukku, dan mendorongku pelan hingga aku terjatuh ke tempat tidur, dan Ia melepaskan ciumannya.

“Aku menyukaimu.. Tidak peduli bahwa kau adalah Yeoreum.. Aku menyukaimu.”

██║ ♫ ♪ │█║♪ ♫ ║▌♫ ♪ │█║♪ ♫ ║▌♫ ♪ ║██

Day 3

Aku terbangun saat kurasakan lengan Baekhyun bergerak pelan dipinggangku. Ya. Dia tidak mengizinkanku untuk kembali kekamar. Dan aku.. tidak bisa menolaknya. Apa ini karena Ia seorang vampire jadi Ia bisa memaksakan keinginannya padaku tanpa bisa kutolak? Atau karena aku memang tidak ingin menolaknya?

Ahh.. Aku pasti benar-benar jatuh cinta padanya.

Aku membuka mataku, dan memperhatikan wajah Baekhyun. Jika aku tetap disini bersamanya, apa Ia akan bisa berhenti merasakan sakit itu? Atau.. suatu hari Ia akan kembali teringat pada yeoja bernama Lee Sunhee itu dan akhirnya menyerangku?

Membunuhku..

Mengingat bahwa Ia begitu kesakitan, mengingat bahwa semua rasa sakit itu muncul sejak Ia kehilangan Lee Sunhee, aku yakin Ia pasti sangat menyayangi yeoja itu. Walaupun sudah 30 tahun berlalu, Baekhyun pasti tidak bisa melupakannya.

Membuatnya bahkan terus berpikir bahwa yeoja itu masih hidup dan—

“Kenapa memandangku seperti itu?”

Aku tersadar saat tau Baekhyun sudah terbangun. Aku tersenyum padanya. Tidak apa-apa. Selama beberapa hari ini aku masih bisa ada didekatnya, dan Ia juga belum menyerangku, jadi.. kurasa tidak apa-apa untuk ada disisinya sedikit lebih lama.

“Ani, aku ha—”, Baekhyun menghentikan ucapanku saat Ia meletakkan jari telunjuknya dibibirku.

“Apa kau punya janji dengan Sehun dan Kai?”

Aku menyernyit. Sejak kapan aku bisa punya janji?

“Mereka mencarimu.”

“Bagaimana kau tau?”, tanyaku saat Baekhyun mengalihkan jarinya dari bibirku

Baekhyun menyunggingkan senyum kecil.

“Sudah kubilang bahwa aku punya telinga dimanapun dirumah ini bukan?”, ucapnya

Tak lama, aku mendengar suara langkah diluar kamar Baekhyun.

TOK. TOK.

“Apa?”, sahut Baekhyun

“Hyung, apa Sunhee didalam?”

Sunhee? Kenapa mereka masih memanggilku Sun—ah, ya, mereka berpikir bahwa Baekhyun belum tau bahwa aku Sunhee bukan?

“Ya, dia masih tertidur dipelukanku.”

Aku melirik Baekhyun, dan Ia tersenyum kecil mengisyaratkanku untuk diam.

“Ah, begitu rupanya. Dokter Xi mencarinya.”

“Katakan padanya Ia bisa menemui Sunhee nanti.”

Kenapa dokter Xi mencariku? Apa ada yang salah? Atau Ia berniat menceritakan semuanya padaku? Atau malah berniat melakukan hal yang buruk? Maksudku..

Aku menatap Baekhyun.

“Apa yang kira-kira dokter Xi ingin katakan padaku?”, tanyaku pelan

Baekhyun tampak berpikir sebentar.

“Kurasa dia ingin memastikan kau masih baik-baik saja bersamaku.”, ucap Baekhyun ringan

Aku menyernyit. Tidak yakin jika itulah maksud dokter Xi.

“Kenapa?”, kali ini Baekhyun menatapku

Aku menggeleng pelan.

“Sejujurnya, aku ingin tau seperti apa Sunhee itu.”, ucapku membuat senyum diwajah Baekhyun lenyap.

“Apa kau akan meninggalkanku jika kau tau seperti apa dia?”

“Apa aku berkata begitu?”

Baekhyun mengeratkan pelukannya padaku, membuatku sedikit kesulitan bernafas.

“Berjanjilah kau tidak akan meninggalkanku, Yeoreum-ah..”

Aku mengangguk pelan.

“Aku janji, keundae, aku tidak bisa bernafas kalau kau memelukku seerat ini.”, ucapku membuat Baekhyun segera melonggarkan pelukannya.

Ia kemudian mengusap pipiku.

“Sunhee.. Dia yeoja yang sangat pemarah. Sejak awal datang ke rumah ini, dia tidak tinggal diam saat keluargaku yang lain bersikap jahat padanya. Tapi.. dia sangat baik padaku karena aku bersikap baik padanya..”

Baekhyun terus bicara, sementara tangannya mengusap helai rambutku.

“Dia selalu duduk disebelahku saat kami disekolah, dia juga selalu membangunkanku dengan mengetuk dinding kamar ini setiap paginya. Aku sangat menyukai Sunhee, dan dia juga menyukaiku.

“Tapi saat itu.. aku berubah tanpa bisa kukontrol, dan dia sangat ketakutan. Aku ingin mencegahnya agar tidak pergi dari rumah, tapi dia terus berlari.. Aku mengejarnya.. Dan aku.. aku tidak sadar bahwa aku sudah.. membunuhnya.”

Aku terdiam mendengar ucapan Baekhyun.

“Lalu.. selama ini.. apa kau benar-benar mengira yeoja-yeoja itu adalah Sunhee?”

Baekhyun menatapku.

“Ya.. Aku.. Rasanya aneh, seperti selama ini aku kehilangan ingatanku, dan mendapatkannya kembali saat kemarin melihatmu didapur.”

“Maksudmu?”, aku menyernyit

“Sunhee punya luka dirahang kirinya. Dan kau.. tidak punya luka. Dan juga, kau tidak pemarah sepertinya. Kau tidak cuek sepertinya.. Kau tau apa yang membuatmu sangat berbeda dengan Sunhee?”, kali ini Baekhyun menyarangkan tatapannya padaku

“Apa itu?”

“Setiap kali kau bertanya ‘apa kau baik-baik saja’ aku selalu tersadar pada kenyataan bahwa Sunhee sudah mati, bahwa yeoja yang bertanya bukanlah Sunhee, tapi setelah itu, aku kembali memandangmu seperti Sunhee.

“Kemarin.. saat kau didapur dan bertanya seperti itu padaku.. Aku tidak melihatmu sebagai Sunhee lagi. Aku.. benar-benar mengenalimu.”

Aku terdiam.

“Apa mungkin.. suatu hari nanti kau akan menganggap semua yeoja yang lupa ingatan sebagai Lee Sunhee lagi?”

Baekhyun menatapku, dan Ia mengusap rambutku pelan.

“Selama kau tetap disini.. aku yakin hal itu tidak akan terjadi.”

“Benarkah?”

“Kau tidak tau kapan terakhir kali aku berteriak kesakitan? Saat kemarin aku menyerangmu, sampai sekarang, aku sama sekali tidak kesakitan. Bukankah itu bagus? Karena kau.. kurasa aku akan benar-benar berhenti merasa kesakitan.

“Jadi.. Jangan pernah tinggalkan aku.. Yeoreum-ah.”

 ██║ ♫ ♪ │█║♪ ♫ ║▌♫ ♪ │█║♪ ♫ ║▌♫ ♪ ║██

Aku melangkah menuruni tangga melingkar yang membawaku ke lantai bawah rumah besar ini. Aku belum menemui dokter Xi sejak pagi karena Baekhyun benar-benar tidak mengizinkanku sedetikpun untuk tidak ada didekatnya.

Aku mengetuk pelan pintu ruangan dokter Xi, menunggu sahutannya dari dalam.

“Masuklah..”

Aku membuka pintu perlahan, dan untuk kedua kalinya, cahaya jingga itu menyambutku. Aku melangkah masuk, dan menatap dokter Xi.

“Ssaem..”

“Duduklah.. Kurasa kau pasti mempertanyakan banyak hal bukan?”

Aku mengangguk pelan. Dan duduk dikursi kayu yang ada didekatku. Sementara dokter Xi berbalik, menatapku dengan senyum diwajahnya.

“Kau adalah orang pertama yang tidak menjerit ketakutan saat tau seisi rumah ini adalah vampire,”, ucapnya memulai, Ia kemudian meletakkan beberapa buah kertas diatas meja yang ada didekatku.

“Apa ini ssaem?”

“Chanyeol dan yang lainnya sudah bicara padaku. Mereka bilang tidak adil untuk terus membunuh manusia dengan membawanya sebagai Lee Sunhee ke rumah ini. Ini juga salahku, seharusnya dulu aku tidak membawa yeoja itu kerumah ini, terutama karena aku sudah tau semua anak-anak angkatku membenci manusia.

“Aku tidak bilang mereka membencimu, mereka hanya, merasa paranoid pada manusia. Karena mereka berpikir manusia berbahaya.”, ucap dokter Xi

Aku mengangguk-angguk pelan, masih menatapnya bingung.

“Jadi kau adalah yang terakhir. Dan karena aku tersadar lebih cepat daripada kemarahan Baekhyun, aku sudah membelikanmu tiket kereta.”

“Nde?”

“Kelompok sirkusmu ada di Daegu sekarang, dan besok siang mereka akan pergi ke Busan. Ini tiket untuk keberangkatan besok pagi, tenang saja, besok pagi Chanyeol dan yang lain akan membawa Baekhyun keluar sebentar, dan aku akan mengantarmu sampai keluar rumah.

“Sehun dan Kai akan mengajarimu jalan pergi paling aman dari rumah ini ke stasiun. Aku.. benar-benar minta maaf karena sudah membohongimu selama dua hari ini. Dan maaf karena sudah membuatmu terbebani karena merasa dibenci oleh lingkunganmu.

“Aku benar-benar merasa menderita melihat keadaan Baekhyun selama tiga puluh tahun ini. Dan dengan tidak adanya yeoja lagi untuk menggantikan Lee Sunhee, kurasa Ia akan sembuh dengan sendirinya.”

Aku terdiam mendengar penjelasan dokter Xi.

“Keundae ssaem, Baekhyun sudah tau ka—”

TOK. TOK.

Ucapanku terhenti saat seseorang mengetuk pintu ruangan. Aku baru saja akan mengatakan pada dokter Xi bahwa Baekhyun sudah tau aku bukanlah Lee Sunhee dan sekarang usahaku kembali terhenti.

“Ah, itu Sehun dan Kai. Bawa ini, dan ikutlah dengan mereka. Kau bisa bereskan barang-barangmu nanti jika kau ada waktu, jika Baekhyun membiarkanmu untuk tidur dikamarmu tentu saja.”, ucap dokter Xi sambil tertawa pelan

“Arraseo ssaem..”, ucapku akhirnya

Aku menatap dokter Xi saat Sehun dan Kai muncul dipintu.

“Ssaem, kuharap kita bisa bicara sebentar besok pagi.”, ucapku

Dokter Xi mengangguk.

“Tentu saja kita bisa bicara besok, Yeoreum-ah.”

██║ ♫ ♪ │█║♪ ♫ ║▌♫ ♪ │█║♪ ♫ ║▌♫ ♪ ║██

Aku mengikuti Sehun dan Kai dalam diam. Aku tidak pernah benar-benar bicara pada mereka, jadi.. aku merasa tidak mengenal mereka.

“Ini pertama kalinya seorang yeoja tinggal hanya tiga hari dirumah.”

“Nde?”, aku menatap Sehun saat Ia bicara

“Biasanya.. mereka tinggal selama satu atau dua tahun.. sebelum Baekhyun sadar kalau mereka bukan Sunhee.”

“Jangan bicara terus Sehun, dia akan kesulitan mengingat jalannya.”

“Ah, gwenchana, aku bisa mengingatnya.”, ucapku

Tentu saja aku mengingat jalannya, bagaimana bisa aku lupa jalannya saat mereka membawaku melewati jalan ke sekolah mereka?

“Ayolah Kai, kau ingat berapa waktu terlama seorang yeoja tinggal menggantikan Sunhee?”, ucap Sehun

Kai awalnya diam, tapi Ia kemudian berucap.

“Empat tahun dua bulan. Dia tampaknya benar-benar menyayangi Baekhyun saat itu. Tapi Baekhyun sadar kalau yeoja itu bukan Sunhee, dan akhirnya Baekhyun membunuhnya.”

Mendengar kata ‘menyayangi’ membuatku segera teringat pada perasaanku sendiri pada Baekhyun.

“Ah, memangnya Baekhyun tidak menyayanginya juga?”, tanyaku

Sehun dan Kai menggeleng pelan.

“Baekhyun hanya menyayanginya karena berpikir Ia adalah Sunhee.”

Aku terdiam. Apakah hal seperti itu juga yang Baekhyun rasakan padaku? Tapi.. Ia sudah tau bahwa aku bukan Sunhee bukan? Apa hal yang sama juga berlaku jika Baekhyun sadar yeoja itu bukan Sunhee?

“Apa?”

Aku tersadar. Seberapa banyak otak ini membiarkan mulutku bicara?

“Eh?”

“Aku tidak berpikir Baekhyun akan membiarkan yeoja itu hidup lebih dari lima menit setelah Ia tau bahwa yeoja itu bukan Sunhee.”

Haruskah kukatakan pada mereka kalau Baekhyun tau aku bukan Sunhee?

۩۞۩▬▬▬▬▬▬ε(• -̮ •)з To Be Continued ε(• -̮ •)з ▬▬▬▬▬▬▬۩۞۩

Iklan

4 pemikiran pada “THREE DAYS – SLICE #7

  1. Ping balik: THREE DAYS – EPILOGUE | Gallery of EXO School

  2. Ping balik: THREE DAYS – CHAPTER 8 | Gallery of EXO School

Review And Chat here!

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s