[Second Dimension] Three : The Mindreader, The Singer, And The Nowhere Place

2NDD

Three : The Mind Reader, The Singer, and The Nowhere Place.


SeHun, OC, Lu Han

—diramadhani.

Aku cukup yakin akan ketepatan simpulan yang aku buat semalam.

Meski kenyataan itu cukup mengejutkanku. Aku hanya tidak terbiasa menemui seseorang yang begitu mudah menebakku; pun begitu mudah membicarakan hal-hal semacam itu denganku; hanya Lu Han seorang yang pernah melakukannya.

Tapi SeHun adalah kasus lain. Lelaki itu sudah berhasil menggaet atensiku bahkan ketika pertama bertemu. Dia memiliki berbagai sisi yang ingin kuungkap. Mungkin itu memang kesempatan bagiku untuk membuat relasi dengan orang lain.

Jadi siang itu, aku bertemu lagi dengan SeHun. Lelaki itu duduk santai di meja kantin dengan headphone yang memajang kepalanya. Para gadis menatapnya dengan napas tertahan. Mungkin Sehun memang keren, aku juga tidak boleh mengelak fakta tersebut.

Aku menaruh tray makanku di depan SeHun, lelaki itu cepat menangkap keberadaanku, kepalanya terangkat dan dia tersenyum padaku, “Oh, there’s our queen. You have too many questions for me, Your Majesty?”

Aku mendelik padanya.

“You’re disgusting.”

SeHun tersenyum, ia melepas headphonenya dan membiarkan benda itu menggantung di lehernya. Lelaki itu mengambil sumpitnya dan mulai memasukkan makanan ke dalam mulut.

Aku juga ikut-ikutan menelan makan siangku. Aku berdehem, “Darimana kau tahu?” tanyaku.

“Apa?” tanyanya balik, aku memutar kedua mataku. Aku cukup yakin otaknya masih berfungsi cukup baik untuk langsung mengerti arah pembicaraanku. Kadang-kadang aku gemas pada orang yang berpura-pura bodoh.

“Aku bisa merasakannya.” jawabnya kemudian.

“Maksudmu?”

“Kau paham maksudku.” Dia tegaskan; tatapan matanya menunjukkan bahwa dia akan tetap menang betapakeraspun aku mendebatnya. Aku mengerutkan alisku, namun aku tidak mempertahankannya lama-lama, dan menyetujui ucapannya; sebagian kecilpun aku tidak paham, setidaknya aku tidak perlu nampak konyol dan tolol.

“Kau kehilangan sahabatmu untuk sebuah kompetisi pertukaran pelajar. Sesepi itukah hidupmu akhir-akhir ini?” tanyanya. Aku mendelik. Dia kejam sekali.

“Kau kadang perlu mereparasi cara bicaramu. Itu menyakitkan. Aku tidak kehilangan Lu Han.”

“Baik. Terserah. Kau punya hipotesis tentang hilangnya Yeon?”

Aku membeku.

Belakangan ini, setelah pak detektif Kim berusaha mati-matian untuk menguak kasus hilangnya Yeon, aku mulai berpikir untuk membantu. Aku sedikit mengenal Yeon, dia adalah gadis yang baik. Kami memang jarang berinteraksi tapi aku sudah cukup untuk membuat kesimpulan bahwa dia boleh disebut baik.

Aku ingin tahu apa sebenarnya yang terjadi pada Yeon. Kemana dia. Dan bagaimana bisa.

Aku ingin bertanya pada dua gadis di taman belakang sekolah. Tapi aku tidak yakin. Sudah lama sekali sejak terakhir aku membuat interaksi dengan mereka yang dari dunia lain.

Semalam, aku bahkan membuat gagasan lain untuk meminta bantuan SeHun; aku sempat berpikir bahwa itu bukanlah ide yang bagus. Tapi aku tidak punya pilihan lain, bagaimanapun, SeHun lah sekarang yang mengangkat topik itu terlebih dahulu.

“Tidak tahu.” Jawabku, kuhela napas. “Aku tidak biasa membantu. Aku tidak ingin menjadi jembatan antara dua dimensi. Itu terdengar mimpi buruk. Tapi….”

“Tapi, kau mulai berpikiran untuk bertanya pada dua gadis itu. Dan kau ingin minta bantuanku.”

Aku terkejut mendengarnya. “Kau mengerikan.”

“Aku hanya membaca ekspresi. Seperti yang biasa kau lakukan.”

“Aku gagal ketika berusaha membaca pikiranmu, SeHun.”

“Grading; level. Aku ada diatasmu, nona.” Katanya, dia menegak isi kaleng sodanya. Bibirnya melengkung, tapi kurvanya tidak simetris, berat sebelah. Kemudian ia meletakkan kaleng sodanya di meja, menimbulkan bunyi yang agak nyaring.

“Itu tidak buruk.” Kataku, membalas senyum miringnya dengan senyum utuh, kemudian aku juga mengikuti gayanya, menegak isi kaleng sodaku sampai habis dan meletakkannya di meja dengan sedikit tekanan. “Aku punya senior di kelas pawang hantu, setidaknya. Boleh dibilang begitu.”

“Pawang hantu.” SeHun mengulang kata itu dengan ekspresi datar, tapi nada bicaranya terdengar risih.

“Dan kau juga membuat masalah.” Katanya. Dahiku berkerut, mencoba menangkap maksudnya. Tapi SeHun tersenyum, kali ini senyum utuh namun dia tidak mau meninggalkan kesan arogan yang kini sudah menguar kuat dari lengkungan bibirnya. “Kau terlalu sering hang-out denganku, banyak gadis yang saat ini bersedia untuk membunuhmu.” Katanya kalem.

Aku speechless.

“Kau keluar topik, Mr. Oh. Dan aku selesai dengan makanku.” Kataku, kuambil tray makan siangku dan kutinggalkan mejanya.

***

Siang itu, hujan musim gugur turun begitu deras.

Aku ingat aku terjebak di sekolah, bersama Lu Han yang kelihatannya tak mau lepas dengan buku-buku pelajaran, dan Oh SeHun yang diam seribu bahasa. Banyak murid lain yang tinggal di sekolah, kebanyakan dari mereka bersesakan di Laboratorium Komputer, membunuh waktu dengan segala opsi yang ditawarkan oleh internet dan PC masing-masing.

Sedangkan Lu Han terlalu sayang akan waktunya untuk sebuah komputer, dan aku yang terlalu malas untuk berdesakan di sana, lalu SeHun yang aku tak tahu juga kenapa justru memilih bergabung denganku dan Lu Han tetap tinggal di dalam kelas.

Tiba-tiba Lu Han membanting bukunya.

“Aku bisa gila ditelan bosan. Aku sudah terlalu banyak belajar, dan kukira aku bahkan bisa muntah karenanya.” Kata lelaki itu, jengah. Dia menatapku dan SeHun bergantian, kami berdua sama-sama cuma diam, menunggu Lu Han mengatakan sesuatu untuk melanjutkan keluhannya yang tidak pernah terbayangkan itu.

“Kalian mau refreshing sejenak?” tanyanya, sembari tersenyum lebar, ada kejahilan yang tersirat di sana. Aku mendelik, kalau itu adalah mengerjai seseorang, aku tak mau ikut. Tidak dengan konsekuensinya, lagipula itu beresiko, bisa saja Lu Han kehilangan kesempatan ke Beijing gara-gara itu.

“Aku tidak segila itu, Ara.” Kata Lu Han.

Dan dia menarik aku dan SeHun yang tidak berdosa untuk mengikutinya. Dan kami dengan pasrah sepasrahnya nurut saja.

Lu Han membawa kami berdua ke ruang musik.

Musik adalah salah satu passion hidup Lu Han selain olah raga.

Lelaki itu cukup terkejut ruang musik ini kosong. Aku bisa menangkap kalau dia sedang berpikir sesuatu seperti, tidakkah ada seorangpun (selain Lu Han tentunya) yang punya inisiatif datang ke sini dan menunggu hujan yang kelihatannya tidak mau mereda itu di sini? Tapi pertanyaan itu tak pernah terjawab dan LuHan kelihatannya tak mau peduli, ia segera membuka pintu ruang musik dan mempersilahkan aku dan SeHun masuk, seolah kami ini tamu dan dia tuan rumahnya.

Ruang musik sekolah kami cukup luas, ada seperangkat alat musik modern yang cukup lengkap di tengah-tengah ruangan. Dindingnya diberi walpaper sangkar nada yang berisi deretan bulatan bertiang dan beberapa ada benderanya (terserahlah), ada dua buah sofa memanjang di sisi kiri dan sebuah jendela besar yang tertutup kordyn di bagian belakang.

Aku cukup sibuk mengamati ruangan itu hingga terlupa kalau aku datang bersama Lu Han dan SeHun, aku mulai sadar kembali ketika kudengar petikan gitar yang sendu dan merdu. Kucari arah suaranya dan kutemukan Lu Han, lantas atensiku terenggut sepenuhnya kepada lelaki itu.

Dia duduk di kursi kecil yang terbuat dari rotan, jemarinya sibuk memetik gitar, dan setiap suara yang mengudara dari petikannya yang harmonis terdengar menenangkan, menyejukkan.

Dan ketika lelaki itu mulai menyanyi, semuanya jadi lebih parah. Aku terlarut ke dalamnya, semuanya, sampai tulang-tulangku ikut terserap dalam lagunya. Lelaki itu hebat sekali, aku sudah sering mendengarnya bernyanyi. Tetapi reaksinya yang kuberikan tetap sama bahkan setelah sekian tahun lamanya.

The way you cry, the way you smile how much it means to me;
The words that i wanted to say; the words i missed the chance to say;
I will confess; it may be a little awkward but just listen;
I’ll sing for you…
Sing for you…

Lagu itu selesai, aku kembali ke dalam tubuhku, mendapatkan kembali semua inderaku dan menjadi Ara yang biasanya untuk merasakan sebuah tatapan terarah padaku.

Oh SeHun menatapku.

Ketika aku menatapnya balik, lelaki itu segera mengalihkan pandangannya, ke arah Lu Han yang mengemasi gitarnya. Tanpa sempat kukeruk motifnya.

Dan kemudian, Lu Han yang sudah selesai dengan menata gitar berjalan ke arahku dan SeHun, dia tersenyum bangga akan prestasi kecilnya dan berkata, “Hujannya sudah selesai. Ayo pulang.”

***

Aku begitu terkejut mendapati penampakan SeHun di depan pintu apartemenku, seolah mimpi gila di siang bolong. Sore itu, entah bagaimana bisa wajah lelaki itu muncul di intercom setelah kudengar seseorang membunyikan bel. Dia memakai baju rumahan berupa celana pendek, kaus putih polos. Dan tentu saja, dia tampan sekali. Kelihatannya apapun yang ia pakai sama sekali tidak memberi pengaruh akan itu. Dia selalu seperti itu.

Dia tersenyum canggung ketika kubukakan pintu rumahku, “Eh, itu. Apa kau sibuk?”

Aku cuma bengong di sana.

“Ara?” tanyanya ulang karena bibirku hanya terbuka, tanpa mengeluarkan suara apapun. Masih terlalu terkejut bagaikan mendapati Ali menjadi juara satu di sekolah kami.

“Aku tidak sibuk, Se.” Jawabku.

SeHun tersenyum lebar. Aku sama sekali tidak memahami lelaki ini, bahkan ketika dia meminta izin untuk masuk ke dalam. Aku yang (masih) cuma bisa bengong hanya mematung ketika SeHun lewat dan menyusup ke dalam. Aku memperhatikannya yang akhirnya duduk di sofa.

“Ada perlu apa?” tanyaku, masih berdiri di depan pintu.

SeHun tercengang sejenak, seolah dia tidak pernah mempersiapkan jawaban untuk pertanyaan itu. Tapi ekspresi itu hanya keluar sekilas hingga dia menutupnya dengan sebuah senyuman manis, hanya beberapa detik hingga kupikir itu cuma khayalanku. “Aku hanya ingin berkunjung. Sejak datang, aku belum pernah mengunjungi tentanggaku di sini. Tidak juga Lu Han. Anak itu kangen sekali Beijing. Sibuk setengah mati.”

Aku mengangguk, berusaha tidak banyak bertanya lagi. Kemudian aku menawarinya minumandan menghilang ke dapur untuk membuat secangkir kopi. Dan ketika aku kembali, lelaki itu sedang ngobrol dengan mamaku. Mereka berdua membahas sesuatu dan nampaknya seru sekali, entah membicarakan apa.

Mereka tersenyum padaku ketika aku keluar dari dapur. Aku menatap mereka curiga, mengira-ngira apa yang keduanya bicarakan. Tapi kelihatannya tidak ada satupun dari mereka yang mempunyai intensi untuk menjelaskan sesuatu padaku.

Kemudian mama bangkit dari kursinya, mengucapkan beberapa hal pada SeHun sebelum lenyap ke kamarnya.

Aku mendelik begitu duduk di atas kursi, “Apa yang kalian bicarakan?”

SeHun menghirup aroma kafeinnya dan memejamkan mata, menikmatinya penuh. Kemudian dia menatapku, tersenyum penuh arti sembari menjawab, “Banyak hal.”

Aku berdecih.

“Jadi, tetanggaku yang baik hati, apa yang ingin kau lakukan dengan mengunjungiku sore-sore begini?” tanyaku, tidak repot-repot menyembunyikan nada risih yang tersirat.

SeHun melenyapkan senyumnya, ekspresinya nampak terluka (yang aku tahu seratus persen cuma dibuat-buat) kemudian menatapku, “Kau jahat sekali. Aku kan hanya ingin mengunjungi tetangga. Manner, you know.”

“If that’s all, you’ve done. You can go back home, now.” Kataku, bermaksud mengusir. Bukan bagaimana, tapi duduk berdua dengannya di ruang tamu rumahku rasanya canggung setengah mati. Self-defense, barangkali. Karena perasaan canggung itu membunuhku pelan-pelan. Dan aku belum mau mati.

Oh SeHun terlihat menahan senyumnya. Entah apa yang membuatnya ingin tersenyum tapi lelaki itu langsung menegak cairan hitam panasnya sampai habis, seolah lidahnya kebal suhu panas di atas delapan puluh derajat. Kemudian dia bangkit, “Aku akan pergi kalau begitu.” Katanya pelan. “Kalau kau betul-betul bersikeras mengusirku.”

Aku tidak menjawab.

Ketika aku hendak menutup pintu, aku sempat mendengar dia berkata, “Kau tahu,” pintunya sudah setengah tertutup, “Terkadang kupikir aku menyukaimu.” Sambungnya pelan. Tepat pada saat pintuku tertutup.

Aku terkejut, saking terkejutnya kepalaku pusing tiba-tiba. Ketika kubuka pintuku lagi, lelaki itu tidak ada dimanapun untuk ditemukan.

***

Keesokan harinya, dua lelaki gila itu berada di depan rumahku.

Ketika buka pintu, mereka berdua sudah berdiri seperti patung di sana, tangan di taruh saku dengan tampang yang sama-sama sok keren. SeHun dengan dasi yang entah dimana serta kancing baju atasnya tidak dipasang benar, dan headphone yang tidak pernah lepas dari lehernya. Sedangkan Lu Han berpakaian lengkap, terlihat berkarisma. Aku memandangi mereka beberapa saat sebelum menghela napas, berjalan duluan dan mereka langsung menguntit di belakangku.

Kami bertiga berangkat sekolah dengan keadaan seperti itu, aku seperti tuan putri di depan, dan seperti dua bodyguard, keduanya berjalan pelan di belakangku.

Aneh. Aneh sekali.

Aku punya jutaan pertanyaan buat SeHun, tapi kesemuanya bukan hal yang tepat untuk dibicarakan ketika ada Lu Han di sini. Aku tidak bisa melakukan itu, terlalu jahat.

Dan kuputuskan untuk tidak berbicara dengan keduanya, sampai kami tiba di Sekolah.

Aku langsung bergegas ke lokerku untuk mengambil beberapa buku, pagi ini aku kedapatan kelas Biologi.

Kelas biologi di sekolahku ada di lantai tiga, bisa dikatakan mirip dengan laboratorium. Alat peraga seperti replika organ dalam manusia yang disusun rapi di sisi kanan depan kelas. Sedangkan ditengah terdapat papan tulis, dan di kiri depan kelas terdapat almari besar yang dibagi menjadi tiga, paling atas berisi tropi olimpiade biologi berjajar sangat rapi, dua bagian dibawahnya diisi dengan alat-alat peraga.

Di bagian kiri kanan ruangan terdapat skema dan gambar berukuran cukup besar tentang peredaran darah, sistem pencernaan, penurunan sifat, ekosistem dan sebagainya. Sedangkan dibagian paling belakang ruangan adalah alat peraga dan tengkorak seukuran tubuh manusia, sebenarnya aku cukup merasa terganggu karena ekstiensinya, mengingatkanku akan beberapa yang mirip di luar sana, yang lebih seram, sekaligus, lebih nyata tentunya.

Pagi itu, kami diperintahkan untuk melakukan praktikum, dan pembagian kelompok dilakukan secara acak. Kelompok itu, seperti yang kalian tebak. Aku dengan takdir menyedihkanku dinyatakan harus memulai kerja sama baik dengan Oh SeHun.

“Kau sudah pernah mempelajari hal ini?” bisik laki-laki itu, sembari membawa satu buah mikroskop di tangannya. Kutarik buku praktikumku dan menghela napas pelan dan menggeleng padanya, “Tidak. Aku tidak tahu apapun.”

“Bagus. Kita sama-sama mulai dari nol kalau begitu. Oh ya, kelihatannya si kecil tak bertelinga itu bisa membantu,” SeHun menunjuk gadis di samping almari tropi, telinganya terlepas dari kepalanya, tergantung di kedua sisi tubuhnya dengan seutas benang bewarna hitam. Ketika dia berjalan, telinganya bergoyang-goyang, dan kalau saja benang hitam itu putus, pasti telinganya sudah lepas.

Aku bergidik. Dan tiba-tiba berhasrat memukul Oh SeHun keras-keras, lelaki itu tahu benar cara terampuh mengerjaiku.

Dan dalam praktikum itu sendiri, kami berdebat dalam setiap langkah yang kami ambil untuk menyelesaikan praktikum ini. Karena terlalu banyak argumentasiku yang tidak dia setujui dan berakhirlah kami dengan sebuah peraduan presepsi pandang. Tapi toh akhirnya praktikum itu selesai dengan baik.

Dan satu hal yang kutahu, sepanjang pelajaran, kami seolah-olah telah menandatangani perjanjian tak kasat mata untuk sama-sama tidak mengungkit apa yang SeHun katakan kemarin. Karena kelihatannya tak satupun dari kami berniat membahasnya.

Kubuang limbah sisa praktikum ke tempat sampah setelah menyelesaikan laporan wajib. Kemudian lonceng pergantian jam berdering. Aku menyerahkan laporanku dan segera bergegas keluar.

***

Gara-gara keberuntunganku benar-benar parah, ketika aku berjalan pulang dan dikuntit dua anak kucing yang beda spesies (yang satunya kucing seram dengan mata tajam yang terkesan dingin, dan yang satunya kucing manis dan penuh kasih sayang, oh, yeah), maksudku, SeHun dan Lu Han, seorang guru menghampiriku dan berkata, “Oh Ara, murid terpintarku, aku mencarimu kemana-mana.”

Aku tidak mengatakan apapun, menunggu dia melanjutkan bicaranya, “Ada yang harus kubicarakan denganmu, kuharap kau ada waktu.” Pada saat itu, aku sudah mencium sesuatu yang janggal, tapi tak kulakukan penolakan. Kemudian dia melirik dua lelaki di belakangku dan berkata, “Kuharap kalian juga bisa membantu.”

Dan benar saja, yang dia maksud “bicara” adalah membuatku menata setumpukan berkas yang entah apalah aku tidak mau peduli, tentu saja bersama SeHun dan Lu Han tinggal untuk membantu. Lu Han lah yang kelihatannya paling kesal, dia terus-terusan mengomel karena waktu belajarnya terpotong banyak.

Kami selesai ketika waktu hampir menunjukkan pukul delapan, badanku sakit semua dan aku lelah setengah mati. Kami bisa keluar tepat sebelum gerbang sekolah dikunci. Rasanya aneh sekali baru pulang pada waktu selarut itu.

Ketika kami baru berjalan beberapa detik, aku teringat sesuatu,“Oh Tidak!” kataku. SeHun dan Lu Han menatapku,“Ponselku tertinggal!”

Keduanya mengeluh.

“Bagaimana ini…” kugigit bibir bawahku. “Padahal semua gerbangnya dikunci, dan pagarnya terlalu tinggi, tidak ada yang memungkinkan untuk dilompati.”

Tiba-tiba Lu Han tersenyum sebelah, seolah dia punya sebuah ide yang benar-benar brilian, “Ada satu jalan yang bisa dilewati.”

Aku dan SeHun saling berpandangan, sedangkan aku sendiri bergidik.

“Taman belakang sekolah.” Gumam kami bersamaan.

***

Kami memanjat satu-satunya pagar yang mengelilingi sekolah yang paling mungkin dipanjat. SeHun duluan, kemudian dia membantuku naik dan yang terakhir Lu Han. Aku mengamati pemandangan di bawahku, pada malam hari, tempat ini terlihat semakin seram saja, mereka juga lebih kompleks. Aku mencoba mati-matian mengabaikan apa yang kulihat, karena itu akan membuatku jauh lebih takut.

Dan ketika itu, SeHun memegang pundakku, membuatku menatapnya dan dia seolah-olah berkata, tidak apa-apa. Aku hanya mengangguk sebagai respon.

“Kita lompat bersama,” bisik Lu Han, mengambil atensiku dari SeHun, entah sengaja atau tidak, “Satu,” katanya,

“Dua,” sambung SeHun.

“Tiga!” sambungku. Dan aku melompat dari sana.

Tiba-tiba keseimbanganku kacau, tadinya kupikir aku jatuh, tapi temponya terlalu lama dan aku tidak segera sampai ke tanah, rasanya aku terperosot, terpental, terombang-ambingkan. Semuanya gelap. Tidak ada suara apapun sampai akhirnya kurasakan hawa dingin yang mencekam. Kepalaku pusing sekali, dan ketika kuamati sekeliling, tubuhku kaku seketika.

Ini bukan rumah, bukan pula taman belakang sekolah tempat kami melompat barusan. Tempat ini asing dan gelap. Satu-satunya caraku dapat melihat adalah cahaya remang dari sinar rembulan. Ratusan, mungkin ribuan pohon mengelilingiku, seolah aku terjebak dalam hutan belantara.

Aku menegak ludah.

Aku berada di tidak di manapun.

***

The last time i updated this on April 2015, it’s been months already. Sorry for that, hw. You can re-read it if you somehow forget what happened before, because i’m freaking bad at updating regulary. And i tried my best to finish it as soon as possible as i get my mood to write dis, eak :v

MAAF KALO BANYAK KEKURANGAN, WAHAHA :v

Dan mbayangin Lu Han nyanyi a sing for you, berasa anu banget, kan -,- BAVER DUH >.<

Iklan

Review And Chat here!

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s