I’m Telling You Chapter 7

Untitledgh

 

Title: I’m Telling You Chapter 7

Genre: Romance,Sad,School Life

Cast: Oh Sehun aka Sehun EXO

Park Jeon aka Jeon (OC)

Jeon Jungkook aka Jungkook BTS

Kim Nari aka Nari Wassup

Rating: G (Untuk Semua Umur)

Length: Chaptered

Author: Claralaluchaipark aka TianiEXO

Summary:

“Ku katakan kepadamu, untuk mencintaiku kan?”

 

I’m Telling You Chapter 7

 

Jeon mengendap-endap sepanjang jalan menuju rumahnya. Bukannya akan ada penagih uang sewa bulanan yang akan datang di rumahnya, tapi masalahnya adalah Sehun.

Iya, Jeon tahu. Sehun tadi pagi dengan keputusan sepihaknya menyatakan bahwa dirinya adalah pacarnya Jeon.

Sungguh tidak nyambung sama sekali apa yang terjadi dengannya hari ini.

Bertemu dengan wanita cantik tapi bagai penyihir yang kesurupan, kedua bertemu Jungkook yang tiba-tiba bersikap aneh seperti tadi.

Untung saja Jeon bukan seperti perempuan lainnya yang langsung terdiam dan pasrah saja setelah Jungkook menyandarkan kepalanya. Jeon tidak mungkin tipe orang yang seperti itu, Ia langsung saja memukul kepala Jungkook dan memaksa keluar dari mobilnya.

“Dia pikir aku ini gila apa? Kalau saja dia masih keras kepala, aku langsung loncat saja dari mobil tadi!” Jeon tiba-tiba saja langsung emosi ketika mengingat kejadian tadi bersama dengan Jungkook.

“Dasar, mentang-mentang wajahnya keren saja sudah seenaknya!” Jeon langsung menendang tempat sampah yang tepat berada di sebelahnya.

“Ah, astaga! Sampahnya jadi jatuh” tanpa perlu disuruh lagi, Jeon langsung saja memungutsampah-sampah yang berserakan itu dan mengembalikannya ke dalam tempat sampah yang tadi ditendangnya.

“Aneh sekali, kau senang memungut sampah ya?” gerakan tangan Jeon langsung terhenti ketika mendengar suara yang dikenalnya.

Tidak perlu dilihat lagi wajahnya, yang pasti itu adalah Sehun.

Tanpa memedulikan Sehun, Jeon tetap saja melanjutkan kegiatannya memungut sampah.

Setelah selesai, ia berjalan secepat mungkin meninggalkan Sehun yang sedaritadi menunggunya itu.

“Hei!” Sehun sontak saja langsung menyusul Jeon yang sudah berada di depannya.

“Kenapa kau mengacuhkanku?” Tanya Sehun sementara jeon terlihat mengalihkan pandangannya dari Sehun.

“Apa kau ada masalah hari ini karena diriku?” pertanyaan Sehun membuat Jeon berhenti melangkah.

“Apa kau ini seorang esper?” Tanya Jeon yang sontak membuat Sehun menampakkan wajah bingungnya.

“Aku rasa tidak?”

“Jadi kau mantan esper?” Tanya Jeon lagi, Sehun menggelengkan kepalanya sambil mengangkat kedua tangannya.

“Kalau begitu ya sudah, berarti ayah atau ibumu seorang esper” Jeon kembali berjalan.

“Memangnya kenapa kau menanyakan itu? Apakah kau tertarik dengan esper dan semacamnya?” Tanya Sehun sambil menyamakan langkahnya dengan langkah Jeon yang lumayan cepat itu.

“Iya, aku sangat tertarik dan aku ingin menjadi seorang esper” jawab jeon asal. Ia sebenarnya sangat malas untuk berurusan dengan seorang pria bernama lengkap Oh Sehun ini.

Itu membuatnya sakit kepala, setelah semua kejadian aneh menimpahnya hari ini. Ini seperti ibarat ‘sudah jatuh tertimpah tangga pula’ dan itu sangat pas bagi dirinya saat ini.

“Tapi menjadi esper itu lumayan susah, sepertinya kau harus bermeditasi selama 4 musim di pegunungan” ucap Sehun, sekali lagi Jeon menghentikan langkahnya.

“4 musim? Lebih baik aku makan miso 4 mangkuk saja daripada mesti seperti itu” kesal Jeon.

“Kalau begitu, ada apa sebenarnya? Kau kelihatan kesal”

“Berhenti mendatangiku seperti ini. Anggap saja kau tidak pernah mengenalku” ucap Jeon, Sehun yang mendengarnya hanya bisa membuat wajah penuh tanda Tanya.

“Kenapa kau berbicara seperti itu?”

“Karena aku tidak tahan lagi, kau hampir setiap hari selalu datang ke rumahku baik pagi,siang,sore, bahkan malam seperti ini pun kau datang hanya untuk melihatku. Apa kau ini stalker, bahkan stalker pun tidak mungkin punya stamina tinggi sepertimu. Apa kau tidak lelah? Apa kau tidak sibuk? Bagaimana mungkin kau membuang waktumu hanya untuk seoarang gadis biasa yang berwajah pas-pasan seperti aku ini? Apa kau sudah kehilangan akalmu untuk mencerna apa yang menjadi fenomena dalam kehidupan nyata ini? Orang kaya akan berjadian dengan orang kaya saja, orang miskin jodohnya dengan orang miskin” ucap Jeon dengan panjang lebar tanpa menarik nafas sedikit pun. Itu membuatnya tampak bernafas terengah-engah.

“Kau sedang berlatih rap?” Jeon hampir saja pingsan ketika mendengar tanggapan Sehun.

“Apa kau tidak mendengar apa yang aku katakan tadi?”
“Kau berbicara terlalu cepat, jadi aku tidak sempat mendengarnya” Sehun tersenyum dan

Jeon hanya memejamkan matanya kemudian menepuk keningnya.

“Aku tadi bilang bahwa kau jangan per-“

“Kalau aku tidak mau bagaimana?” Sehun memotong ucapan Jeon.

“Hah?!”

“Kalau aku tidak mau melakukannya bagaimana? Apa kau akan menghentikanku?” Jeon kehilangan kata-kata, ekspresi wajah Sehun saat ini sangat berbeda dari biasanya.

“Apakah sebegitu susahnya kau berusaha membuka hatimu atau merubah pandanganmu kepadaku meskipun hanya sedikit saja?”

“Sehun-ssi” Jeon hanya terpaku, dan baru menyadari bahwa apa yang Ia katakan tadi telah didengar Sehun seutuhnya.

“Baiklah, kalau begitu mulai sekarang aku tidak akan pernah mengganggu dirimu lagi. Lagipula aku ini hanya pengganggu” Sehun langsung berbaik dan berjalan meninggalkan Jeon yang hanya terpaku.

 

^^^^^^^^^^^^^^

 

“Selamat pagi, Jeon! Kau kelihatan sangat lesuh hari ini, apa kau mau coklat?” Sundi yang seperti biasanya hiperaktif langsung saja merangkul Jeon tanpa aba-aba.

“Hei, Jeon” Jeon tidak merespon apa yang Sundi katakan. Ia terus kepikiran tentang apa yang dikatakannya kemarin.

Perkataannya itu menandakan bahwa Ia telah menolak Sehun dengan cara yang lumayan bisa dibilang kasar.

“Jeon?” panggil Sundi lagi, namun jeon masih tidak ada respon.

“Kenapa dia seperti ini ya?” Sundi berpikir keras sambil menatap Jeon yang jalannya saja sudah sangat lusuh untuk diperhatikan.
Kalau begini terus bisa-bisa Ia jadi nenek-nenek 80tahun nantinya.

 

“Ah, Jungkook selamat pagi” Sundi teralihkan dengan kehadiran Jungkook.

“Selamat pagi juga” balas Jungkook yang otomatis membuat Sundi tersipu malu.

“Jeon, selamat pagi” sapa Jungkook, Jeon terhenti kemudian melihatnya sebentar kemudian berjalan lagi tanpa mempedulikan Jungkook.

“Ada apa, kau tidak seperti kemarin” Jungkook langsung mencegat Jeon.

“Hah?”

“Kau tidak seperti kemarin” Jungkook mengulangi lagi perkataannya.

“Kau mau kubanting kepalamu seperti bola basket seperti kemarin lagi?” ucap Jeon dengan nada kesal.

“Kenapa kau marah?”

“Kenapa? Apa urusanmu. Berhenti menanyaiku, dan jangan pernah menganggapku ada” ucap Jeon dingin kemudian berjalan cepat melewati Jungkook dan langsung memasuki kelas.

 

^^^^^^^^^^^^^^^^^

 

Sepanjang pelajaran, Jeon tidak bisa focus. Pikirannya terus mengulang saat-saat Ia bersama Sehun.

“Apa aku sudah gila?” Jeon meringis kesal.

“Baik, ibu akan membagi kelompok untuk hari ini”

“Kelompok 8, Jeon Jungkook”

“Permisi seosangnim, aku belum mendapat kelompok” Jeon mengangkat tangannya dan bertanya.

“Kau di kelompok delapan bersama Jungkook, karena namamu yang sama dengannya jadi aku langsung saja menyebut nama Jungkook biar sekalian”

Jeon menghembuskan nafasnya kasar. Kenapa Ia harus berkelompok dengan Jungkook?

“Mohon kerjasamanya” ucap Jeon sambil duduk di hadapan Jungkook.
Tanpa memedulikan Jeon, Jungkook langsung saja mengerjakan tugas kelompok terlebih dahulu.

“Aku akan kerja bagi-“

“Tidak usah, biar aku yang mengerjakan semuanya” potong Jungkook cepat.

“Kau yang memintaku kan? Untuk menganggapmu tidak ada” sambung Jungkook lagi sambil masih focus mengerjakan tugas kelompok.

“Terima kasih karena kau sudah mengerti” jawab Jeon sambil mengalihkan pandangannya ke arah jendela.

“Semuanya berubah hanya karena menginjak sepatu orang itu”

“Seandainya saat itu aku tidak menginjak sepatunya, hidupku akan biasa saja tiap hari”

“Apa ada yang salah dengan diriku?”

Jeon terlihat berpikir keras, kemudian mengalihkan pandangannya ke Jungkok yang masih focus mengerjakan tugas kelompok mereka.

“Jungkook, aku mohon maaf. Tapi bisakah kau mengerjakannya sendirian? Aku harus ijin pulang cepat hari ini” ucap Jeon cepat kemudian langsung mengambil tasnya dan berlari keluar kelas.

“Hei, Jeon aku mau kemana?” Tanya Ajung, tapi sudah terlambat Jeon sudah keluar terlebih dahulu.

“Ia terlihat terburu-buru” sambung Ajung lagi.

^^^^^^^^^^^^^^^^^

 

“Aku harus menemui Sehun dan meminta maaf”

 

^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^

 

Fiuhhhhh, setelah berabad-abad melewati 4 musim akhirnya diupdate juga chapter 7 ff ini. Mohon maaf bagi teman-teman yang sudah lama menunggu.

Sebenarnya akhir-akhir ini saya ada seidkit halangan untuk mengerjakan ff saya. Selalu saja ada halangan atau hambatan yang menimpa saya.

Sekali lagi saya mohon maaf.

Selamat hari valentine meskipun udah lewat 1 abad ya teman-teman, kalau bisa coklatnya dibagi-bagi (kalau masih ada yang belum lewat masa kadaluarsa) hehehehhehehehhhehehahahaha.

Terima kasih

Dan

Jangan lupa tinggalkan comment!!!!

Iklan

2 pemikiran pada “I’m Telling You Chapter 7

Review And Chat here!

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s