Ficlet – a Beutiful Plan

plan.png

 

Title: a Beautiful Plan

Cast: Kyungsoo, Park Saerin [OC]

Genre: Angst, Hurt, Sad

Author’s Note: terinspirasi dari lagu, Kyungsoo – Scream.

Harapan yang samar, tawa yang kering. Semua seperti itu hari demi hari.

Langit hitam mencekam, nyanyian angin malam menusuk-nusuk hingga rongga dada, malam begitu sunyi senyap. Nyiur kelapa melambai mengikuti arah angin berhembus, ombak laut menerjang karang dan bebatuan yang berada disekitar. Sungguh menakutkan, bahkan bulan dan bintang enggan menampakkan diri mereka. Kilatan petir mulai terlihat menyambar keras, memekikkan suara siapapun yang mendengarnya.

Tak ada keramaian seperti biasa di setiap gang sempit yang biasa digunakan untuk hal-hal diluar batas. Minum-minuman keras dan obat-obat terlarang, judi, kekerasan, para pria hidung belang yang dipenuhi dengan nafsu birahi adalah potret yang sudah menjadi pemandangan biasa di perkampungan itu. Kampung neraka di pulau terpencil, orang-orang menyebutnya.

Mati atau hidup tertindas. Hanya ada dua pilihan. Seolah mencoba menggantikan posisi Tuhan sebagai pencipta takdir. Dan selamanya akan menjadi seperti itu, gelap mata, kehidupan yang kelam, dan hidup dipenuhi dengan kejahatan.

Dari dalam sebuah rumah kayu tua, terlihat seorang pemuda dan seorang gadis duduk termenung memeluk kedua lututnya di pojok ruang kamar minim pencahayaan, hanya ada satu lilin yang menerangi. Saerin –nama gadis itu- mengamati cairan dari lelehan lilin dihadapannya, meski telah di bakar oleh api, lilin tetaplah lilin. Hal itu terus menganggu pikiran Saerin, jika lilin saja bisa kenapa tidak dengan halnya manusia?

Mata hazel cokelatnya beralih melihat sekeliling, menatap miris. Kenapa kami harus besar dan dilahirkan ditempat hina seperti ini? Kenapa kami tidak bisa merasakan masa-masa remaja layaknya mereka yang normal? Kenapa mata kami terus saja diperlihatkan dengan hal-hal yang menjijikkan? Dan kenapa harus kami yang nantinya menjadi seperti mereka? Jawab aku Tuhan. Jika memang kau benar-benar ada. Batin gadis itu mengepalkan kedua tangannya kuat.

Hening.

Tuhan tak ada, dan itu benar.

Lelah.

Hanya itu yang ada di benak mereka. Lelah dirasakan bukan karena mengerjakan rumus matematika, menyelesaikan tugas sekolah, dan karena menghabiskan waktu untuk bermain game. Tidak!

Hidup mereka tak sesederhana itu. Pagi hari, mereka selalu bolak-balik mengangkut ratusan minuman keras yang baru saja datang dari kapal kecil lalu membawanya sampai ke gudang dan jaraknya? jangan tanya berapa jauh mereka harus tempuh. Tak ada kata “bermain” yang ada hanya “bekerja”.

Siang menjelang sore hari. Mereka dikirim menggunakan perahu kecil menuju kota untuk mengamen, mengemis, bahkan mencuri dan mencopet. Hal yang sudah menjadi kebiasaan bahkan menjadi kewajiban.

Waktu bertemu malam, anak-anak itu akan bekerja melayani para pelanggan dari kota, menjual berbagai macam minuman keras, rokok, atau obat-obatan terlarang. Mereka kadang juga mengamen untuk mendapatkan beberapa uang koin. Hari-hari panjang yang melelahkan, tiada hari tanpa keluh kesah. Sekarang ataupun esok, tak akan pernah berubah.

Bagaimana jika tak mau? Mereka akan di pukul, di hajar, bahkan di buang ke tengah laut. Sadis. Kata yang tepat. Bahkan, orang tua dari mereka tak bisa berbuat apa-apa meski sebenarnya merasa sedih. Itulah mengapa kampung ini dinamakan Kampung Neraka.

Saat para anak perempuan telah tumbuh menjadi seorang gadis, mau tak mau tubuh mereka yang akan dijual untuk melayani nafsu bejat para lelaki hidung belang. Dilecehkan layaknya sampah, kotor dan hina. Menjadi kupu-kupu malam, cantik tapi tertutup oleh gelapnya malam. Tak berarti.

Dan hal itu, tak akan lama lagi dialami oleh Saerin. Gadis cantik itu kini telah tumbuh menjadi remaja cantik, dengan rambut yang lurus menjuntai sampai bahu, hidung mancung, dan bibir merah ranum. Meski tanpa hiasan make up sedikitpun, ia tampak terlihat menawan. Hal itu selalu mengganggunya.

Saerin meremas ujung kaos longgar sedikit lusuh yang ia pakai. Gadis itu tak mau. Tak mau menjadi wanita pelacur yang menempel di tubuh pria sana-sini. Tes. Perlahan air matanya turun. Air mata kepedihan. Tangan kanannya beralih memegang dadanya yang memanas. Sakit. Hatinya terluka melihat betapa menyedihkannya dunia yang selalu tak adil padanya.

Gadis itu menghapus kasar buliran bening yang mengalir dipelupuk matanya. tak ada gunanya ia menangis. Sia-sia saja, menangis atau tidak tak akan merubah kondisi apapun saat ini. takdir yang sudah didepan mata adalah, tak lama lagi ia kan menjadi wanita pemuas. Dan itu sudah keputusan mutlak.

Saerin memandang anak-anak lain yang sedang tertidur pulas, laki-laki, perempuan, anak kecil, dan remaja berbaring menjadi satu di sebuah ruangan sempit itu. Sejak usia tujuh sampai delapan belas tahun, mereka memang tinggal bersama dalam satu tempat agar mudah untuk dipekerjakan.

Saerin menghembuskan nafasnya kasar, apa hanya dirinya yang khawatir tentang harga diri saat ini? kenapa semua orang bersikap seolah tak terjadi apa-apa. Mengapa Kim Eunjin –teman sebaya Saerin- masih bisa tertidur sampai mengorok seperti itu padahal mereka akan segera di jual?

Saerin kembali tersadar. Gadis itu tersenyum pahit, ia dilahirkan untuk tidak memiliki harga diri. Tak ada yang bisa ia lakukan lagi. Mau tak mau, hidupnya akan berakhir menyedihkan. Park Saerin mengambil kain kumal yang biasa ia jadikan selimut untuk tidur dan bersiap untuk berbaring, ia memutuskan untuk melupakan sejenak masalah yang esok akan ia hadapi.Tidur adalah pelarian sejenak dari suatu masalah, tapi bukan berarti masalahmu akan selesai. Kau hanya lari, lari kemudian kembali lagi ke tempat awalmu.

Tiba-tiba sebuah tangan menggenggam erat lengannya. Do Kyungsoo. Nama lelaki itu. Ia bersandar sambil menyembunyikan kepala dilututnya. Tanpa memperlihatkan wajahnya, Kyungsoo terus saja menggenggam lengan Saerin. Gadis itu mengrenyitkan kedua alisnya tak mengerti dengan sikap aneh Kyungsoo.

“Wae?” tanya Saerin setengah berbisik. Tak mau membangunkan anak-anak lain yang sedang tidur.

“Ayo kita pergi” ucap Kyungsoo masih setia menyembunyikan wajahnya dibalik lutut. Saerin membelalakkan kedua mata bulatnya mendengar ucapan teman lahirnya itu.

“Kau gila…” cicitnya mencoba melepaskan genggaman tangan lelaki itu. Kyungsoo mempererat genggamannya, kini wajah tampan itu menatap Saerin dalam-dalam. Kantung hitam terlihat menggantung di bawah kedua kelopak matanya, begitu pula dengan Saerin. Tertekan dan stress.

“Ayo kita pergi dari sini” Gadis itu melepas kasar genggaman Kyungsoo. Menatap tajam lelaki itu.

“Jangan meracau tak jelas. Tidurlah” Saerin kemudian membaringkan tubuhnya membelakangi Kyungsoo. Ia mencoba menutup kelopak matanya yang terasa berat untuk terpejam. Do Kyungsoo melihat punggung Saerin yang membelakanginya.

“Kau masih bisa tertidur disaat-saat seperti ini?” pertanyaan Kyungsoo sukses membuat Saerin bangkit dari tidurnya. Gadis itu menundukkan kepalanya. Air mata beningnya kembali mengalir deras. Tadinya ia pikir hanya dirinya yang memikirkan tentang hal itu.

“Ani…” lirihnya disela-sela isak tangis yang ia tahan. Kyungsoo semakin membulatkan tekadnya. Lelaki itu tak bisa diam saja seperti ini. ia mengambil sesuatu didalam saku celana lusuh miliknya. Selembar Koran yang usang.

“Kita akan ke tempat ini” Kyungsoo menunjukkan lembaran Koran itu pada Saerin. gadis itu menghapus air mata dipipinya.

“Mwo-ya? kau bisa membaca?” Saerin menatap wajah tampan Kyungsoo. Lelaki itu mengangguk pelan membuat Saerin membulatkan kedua matanya tak percaya. Maklum saja, mereka tak pernah sekolah, yang ada hanya bekerja.

“Daebak! Sejak kapan?” bukannya menjawab pertanyaan Saerin. Kyungsoo justru menarik tangan gadis itu dan membawanya pergi.

Deg deg deg. Detak jantung keduanya berpacu keras. Takut seseorang melihat aksi mereka, karena jangan tanyakan apa hukuman setimpal untuk seseorang yang mencoba melarikan diri dari tempat laknat itu.

Kegelapan menyapa, hembusan angin kencang membuat Kyungsoo dan Saerin mempercepat langkah mereka. Melewati gang-gang sempit yang dipenuhi dengan kaleng-kaleng bekas minuman keras.

Genggaman kedua tangan Saerin dan Kyungsoo semakin erat. Tak ada yang mau melepaskannya satu sama lain. Nafas berat mulai terdengar dari hidung Saerin. Tenaganya tak sekuat Kyungsoo.

Takut, tertekan, dan ingin sekali menjerit terus saja tertahan di dada mereka. Perasaan itu bercampur dengan rasa ingin bebas membuat semangat keduanya terbakar hebat. Mereka terus berlari dan berlari sekuat apapun yang mereka bisa. Sampai seseorang mengetahui aksi melarikan diri dari keduanya.

Kilatan petir terus saja menyambar keras. Kyungsoo mempererat genggaman tangan itu. keduanya tak berhenti berlari karena telah tertangkap basah. Entah apa yang akan terjadi pada mereka jika sampai jatuh ke tangan para penguasa itu.

Tak beberapa lama, hujan deras turun tanpa ampun. Akhirnya, setelah berlama-lama kilatan petir menunjukkan kehebatannya, kini seolah hujan tak mau kalah, tetesan itu turun berlomba-lomba turun membasahi bumi. Meski begitu, tak membuat Kyungsoo dan Saerin menyerah. Mereka terus berlari hingga memasuki sebuah semak belukar.

Buggg…

Terlalu kencang mereka berlari. Saerin tersandung sebuah kayu, gadis itu jatuh tersungkur ketanah. Perih menghampiri ketika luka sobekan itu terguyur oleh tetesan air hujan.

“Arghh….” Ringisnya kesakitan. Saerin merasa sudah tak bisa bergerak. Ia sangat lelah, nafasnya memburu naik turun tak beraturan. Ditambah, derasnya hujan membuat penglihatan mereka sama sekali tak terlihat.

“Aku tak bisa…Arghhh…..ak..aku…lelah…” lirih Saerin menangis sejadi-jadinya. Gadis itu merasa sudah putus asa. Namun, tidak dengan Kyungsoo. Lelaki itu masih percaya jika mereka berdua bisa lari dari tempat itu. sedikit lagi. sedikit lagi kebebasan itu sudah didepan mata.

Mereka hanya tinggal melewati semak-semak ini, menaiki perahu, lalu menuju kota. Ya, hanya sesederhana itu.

“Naik ke punggunggku!” titah Kyungsoo cepat. Mereka tak punya banyak waktu lagi karena saat ini sebuah cahaya mulai terlihat dari kejauhan. Seperti cahaya dari lampu senter. Orang-orang itu pasti akan menemukan keberadaan mereka jika tidak segera pergi.

“Ppali!!!!” lirih Kyungsoo penuh dengan penekanan. Saerin naik ke punggung lelaki itu. mereka berdua kembali berlari ditengah-tengah guyuran hujan dan gelapnya malam.

Setelah berlari dan terus berlari sambil menggendong Saerin. Do Kyungsoo mengalami dehidrasi, mulai tubunya melemas, ia sudah tak kuat untuk melangkahkan kakinya bahkan menopang tubuhnya sendiri. Nafas Kyungsoo tak beraturan. Saerin terlihat cemas. Benar saja, Kyungsoo kepayahan dan akhirnya mereka berdua ambruk.

Do Kyungsoo terlihat tak sadarkan diri, tubuh lelaki itu kehilangan banyak cairan. Saerin berfikir keras bagaimana caranya menghindari orang-orang yang semakin terasa dekat. Akhirnya, dengan sekuat tenanga, gadis itu membopong tubuh Kyungsoo untuk bersembunyi di balik pohon besar. Saerin menyandarkan kepalanya di batang pohon itu merasakan luka yang semakin perih.

Hujan terus saja mengguyur deras, terlihat dari belakang cahaya itu semakin mendekat dan mendekat. Kyungsoo yang setengah sadar menggenggam erat tangan dingin Saerin.

“Jangan pernah melepaskan genggaman ini. kau ingat? Apapun yang terjadi. Semua akan baik-baik saja jika kita tetap bersama” lirih Kyungsoo nyaris tak terdengar. Saerin mengangguk pelan.

Cahaya itu semakin mendekat, membuat gadis itu menyandarkan kepalanya di bahu Kyungsoo takut. Kedua matanya terpejam kuat, begitu pula dengan Kyungsoo. Takut. Itu yang mereka rasakan.

“Kurasa mereka berontak. Bagaimana kalau kita lepaskan saja gadis yang bernama Park Saerin itu jika dia mau kembali. Kita tidak tahu apa yang akan mereka lakukan jika kabur dan melapor ke polisi” ucap seorang lelaki bertubuh kekar.

“Kau benar. Baiklah, kita lepaskan saja dia. PARK SAERIN JIKA KAU KEMBALI, KAMI AKAN MELEPASMU” teriak lelaki bertato disusul dengan teman-temannya meneriaki nama Saerin.

Gadis itu menggigit bibir bawahnya. Apa yang mereka katakan? Melepaskan dirinya? Itulah yang ia mau. Sebuah kebebasan. Saerin tak mau menunggu lama lagi, ia hendak pergi kearah orang-orang itu. namun, sebuah tangan menahannya dengan lemas.

“Kau gila?” tanya Kyungsoo tak berdaya.

“Mereka bilang akan melepaskanku” Saerin terlihat seratus persen percaya.

“Jangan! Kau jangan percaya mereka!” tolak Kyungsoo tegas.

“Ani. Kita sudah mendapatkannya, kebebasan” Saerin terlihat tetap teguh dengan pendiriannya. Ia berusaha keras untuk berdiri.

“Apa kau tidak ingat perkataanku, jangan perhan melepaskan genggaman ini? semua akan baik-baik saja jika kita bersama” tubuh Kyungsoo semakin tak berdaya. Saerin semakin membulatkan tekadnya.

“Buktinya kau sakit, dan itu tidak baik-baik saja. aku akan menghampiri mereka dan setelah itu kita bisa mendapat apa yang kita mau” Saerin berjalan meninggalkan Kyungsoo yang bersandar lemah. Jika ia bisa, lelaki itu akan menghentikan semua tindakan konyol Saerin.

Bang!! Bang!! Bangg!! Tiga anak peluru terdengar dilesatkan. Kyungsoo menelan air ludahnya susah payah. Dadanya memanas dan semakin sesak. ia sudah tahu ini akan terjadi. Park Saerin, andai kau tetap memegang tangan ini.

Sedetik kemudian Kyungsoo melihat cahaya itu mendekat kearahnya. Seolah mengerti, ia memejamkan kelopak matanya dan mencoba tersenyum. Setidaknya, ia akan bertemu kembali dengan Saerin. Ia bersiap bertemu dengan malaikat maut.

Bang!! Bang!! Bang!!! Bang!!! Empat peluru menembus jantung dan ulu hatinya. Darah segar mengalir keluar dari mulut lelaki itu. Kyungsoo memegangi dadanya yang sakit amat dalam. Nafasnya tercekat hebat.

“Tuhan, di saat-saat terakhirku. Aku masih ingin mempercayai jika kau benar-benar ada” batin Kyungsoo dalam hati sebelum nyawanya pergi ke tempat dimana seharusnya berada.

Dan mereka berdua memang benar-benar bebas meski bukan didunia.

END

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Iklan

Satu pemikiran pada “Ficlet – a Beutiful Plan

Review And Chat here!

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s