Trapped

large.jpg

Title : Trapped

Author : rindaapus

Main Cast : Choi Hanna, Byun Baekhyun

Genre : fantasy

Length : Oneshot

Hanna. Choi Hanna itu namaku. Saat ini aku tengah berada di sebuah tempat yang asing, aku benar-benar tak tahu ini dimana dan bodohnya diriku tak bisa mengingat sejengkalpun memori yang telah berhasil membawaku ke tempat ini.

Hal yang kuingat meskipun samar-samar adalah tadi aku berjalan sepulang sekolah menyusuri jalan biasa yang kulewati sehari-hari. Namun, mengapa kali ini terlihat sangat berbeda, ini terlihat seperti kota tak berpenghuni. Oh, tidak mungkin kan aku ini penderita dimensia?!

Segera kubuka tas ransel bewarna biru yang menggantung di pundakku, mungkin ada alamat atau semacamnya di dalam sana. Ya.. kartu pelajar! Pasti ada alamatku disana! Aku terdiam sesaat melihat dompet yang saat ini berada di tangan kananku. Sejak kapan dompet ini berganti warna menjadi hijau? Warna yang notabene adalah warna paling kubenci.

“Ah, masa bodoh. Alamat lebih penting dari pada warna dompet saat ini”

Dengan rasa penuh tak sabar, kubuka dompet itu dan mengambil kartu pelajar di dalamnya. Senyum lega sedikit kuperlihatkan.

“Setidaknya, aku bisa pulang” batinku senang.

Namun, harapan itu pupus ketika aku tak bisa membaca tulisan yang tertera disana. Mataku menyipit berulang-ulang, mencoba membaca lagi dan lagi tulisan yang tampak seperti mem-blur itu. Sial, aku tidak bisa membacanya! Kudekatkan wajahku hingga kartu pelajar itu benar-benar tepat dihadapan wajahku. Namun, sia-sia saja yang kulakukan.

“Apa-apaan ini? mataku baik-baik saja sebelum ini!” kesalku melempar kartu pelajar itu kesembarang.

“Sepertinya begitu…” imbuhku setelahnya dengan lemas.

Ya. karena aku tak terlalu yakin. Oh Tuhan, semua ini benar-benar  membuatku frustasi, aku tidak bisa mengingat sedikit dan sedetikpun kehidupanku sebelum ini. Apa aku benar-benar menderita dimensia? Atau bahkan amnesia? Atau jangan-jangan ini adalah kehidupan di masa depan seperti di dalam film Doraemon? Namun sedetik kemudian, aku tersenyum getir.

“Otakku pasti tidak beres” Kehidupan masa depan pantatku, tidak ada peralatan canggih dan modern disini. Malah ini tampak seperti sebuah kota mati, ya… kota kosong yang tak berpenghuni.

Disamping kanan-kiri sepanjang jalan pedestrian ini adalah bangunan ruko yang tampak kosong bertahun-tahun, terlihat beberapa bangunan tembok yang sudah retak dan dipenuhi sarang laba-laba, jalanan paving dipenuhi dengan daun-daun jatuh berguguran khas musim gugur, alhasil pepohonan yang berbaris rapi di tepian menjadi kering kerontang. Benar-benar terlihat seperti kota yang mengerikan.

Aku duduk di sebuah bangku yang ada di tepian jalan, perasaan takut, khawatir, cemas terus mengangguku. Sebuah pertanyaan yang sedari tadi ingin kulontarkan adalah, AKU SEKARANG ADA DIMANA?!!

Wushhhhhh~

Tak ada jawaban kecuali hembusan angin menerpa helaian rambut hitam gelombang milikku, ku eratkan sweater bewarna merah muda yang membalut tubuh kurus malang ini. Aku merasakan cuaca yang tiba-tiba berubah menjadi lebih dingin.

“Apa mungkin sebentar lagi hujan?” tanyaku kemudian melihat ke langit.

Lagi-lagi sesuatu ditempat ini membuat otakku berfikir terlalu keras. Apa-apaan ini? jika akan segera turun hujan bukankah awan akan bewarna abu-abu kehitaman? Tapi, jelas sekali yang kulihat saat ini awan bewarna cokelat.

“Setelah mataku yang bermasalah terhadap huruf, sekarang juga dengan warna?” gumamku antara tak percaya dan tak habis fikir.

“Atau jangan-jangan, memang awan itu bewarna cokelat dan aku saja yang lupa disini? Bisa jadi! Mengingat alamat rumah dan apa yang bisa membawaku ke tempat ini saja aku lupa”

“Kalau begitu, apa yang harus kulakukan? rasanya otakku sudah tak mampu mencerna setiap kejadian tak masuk akal disini” aku terus berceloteh sendirian ditempat yang sunyi itu.

Kurasa aku tak berbicara terlalu keras, namun suaraku terdengar menggema-gema. Bayangkan saja bagaimana kosongnya kota ini.

“Sebenarnya tempat macam apa ini? kemana perginya semua orang?” gumamku kembali melihat sekeliling yang sama sekali tak ada tanda kehidupan.

“PERMISI!!!!”

“PERMISI!!!!”

“PERMISI!!!!”

“PERMISI!!!!”

 

“HALO, APA ADA ORANG?!!!”

“HALO, APA ADA ORANG?!!!”

“HALO, APA ADA ORANG?!!!”

“HALO, APA ADA ORANG?!!!”

 

“SIAPAPUN JAWAB AKUU!”

“SIAPAPUN JAWAB AKUU!”

“SIAPAPUN JAWAB AKUU!”

“SIAPAPUN JAWAB AKUU!”

 

Aku menghela nafas untuk yang kesekian kali. Percuma saja, pertanyaan ini bukannya dijawab malah terus diulang-ulang.

Andai malaikat datang kemari dan menjemputku keluar dari tempat aneh ini, andai….

Lima menit…

Dua puluh menit….

Tiga puluh menit……

Sepertinya ada harapan karena saat ini dari kejauhan aku melihat seseorang berjalan kearahku. Astaga aku senang sekali, akhirnya ini semua akan segera berakhir. Kulambaikan kedua tanganku dengan penuh semangat kearah orang itu.

“Disini, tolong aku!” teriakku padanya yang masih cukup jauh.

“Ahju…ssi” kata itu berakhir dengan nada pelan. Kedua tanganku yang semula terangkat kini terkulai kebawah dan meremas kuat ujung sweater yang kupakai.

Orang berpakaian serba hitam itu semakin mendekat. Wajahku berubah menjadi pucat pasi seketika, orang itu terlihat… sangat menyeramkan.

Dengan cepat aku membalikkan tubuh dan segera berjalan menghindar, ujung jari tangan kananku tak henti-hentinya menjadi korban gigitanku sendiri. Aku takut, ingin berteriak menjerit.

Tapi, aku sadar.

Aku tidak kenal siapapun disini, tidak! Bahkan aku tidak tahu tempat macam apa ini.

Langkah kaki yang semula melangkah lebar kini berubah menjadi sebuah larian kecil. Kulirik sekilas kebelakang, orang berbaju hitam itu tetap saja mengikuti kemana langkahku pergi.

“Hana, dul, set” setelah hitungan itu berakhir aku berlari dengan sangat kencang melewati beberapa gang sempit yang tak pernah kulewati sebelumnya, ingin rasanya menjerit ketakutan tapi aku tahu itu tak menyelesaikan masalah sedikitpun.

Sampai pada akhirnya, sebuah gang buntu tepat di hadapan mataku. Ini tampak seperti sebuah eksekusi mati, tak ada pilihan kecuali, mati.

Aku membalikkan tubuhku dan melihat betapa menyeramkannya seseorang dihadapanku kini, wajah dan tubuhnya semua berbalut dengan pakaian warna hitam. Rasanya kaki ini tak kuat lagi menahan tubuhku sendiri, badanku terus saja gemetar dan mengeluarkan keringat dingin.

Pria itu semakin mendekat, reflek aku memundurkan langkah.

Satu langkah, dua langkah, tiga langkah hingga kini tak ada jarak lagi.

Kini, pria itu tepat berada di hadapanku, ia mengeluarkan sebilah pisau yang menggantung di samping celananya. Tuhan, aku takut setengah mati!

Keringat ini rasanya tak mau berhenti mengucur, detak jantungku berdetak tak karuan rasanya. Tidak, aku tidak ingin mati sekarang.

Namun, nampaknya semua itu hanya harapan karena saat ini pisau tajam itu telah ditempelkan tepat di leherku. Nafasku berhembus tak beraturan, dengan segenap keberanian yang ku kumpulkan, aku melayangkan sebuah pukulan tepat di hadapan pria itu.

Buggggg

Kulihat ia kesakitan dibalik masker yang menutupi wajahnya, segera aku berbalik badan untuk berlari. Namun, aku lupa jika dibelakangku adalah sebuah tembok.

Dugggg

Alhasil, aku terjatuh nyaris pingsan. Kupejamkan mataku saat merasakan darah segar mengucur dari pelipis, sangat perih.

“Bangun!” titahnya padaku. Aku tak berani, sungguh, aku tak tahu apa yang selanjutnya akan terjadi pada diriku.

“Bangun!”

Mau tak mau, aku membuka kedua kelopak mataku yang terasa sangat berat.

“Sudah selesai mimpinya!?” tanya seseorang yang tengah memegangi pipinya kesakitan.

“Byun Baekhyun?” aku terkejut bukan main melihat siapa yang tengah berada di hadapanku saat ini, segera saja kulayangkan pandanganku melihat sekeliling.

Ini bukan gang, melainkan adalah kamar Baekhyun!

“Sudah kubiarkan tidur diranjang milikkuku, tapi kau malah memukulku” kesal Baekhyun sembari mengelus pipinya yang aku tau itu sangat sakit, karena aku masih merasakan bagaimana kerasnya kupukul penjahat itu, eh maksudku Baekhyun.

“Mianhe, kurasa aku tadi mimpi buruk” aku menggaruk tengkuk yang sama sekali tak gatal. Bingung harus bagaimana.

“Wae? Karena mimpi indahmu hanya aku kan?” tanyanya dengan penuh rasa percaya diri, seketika mataku melotot kearahnya.

“Mwo? Kau ini bicara apa sih!”

“Ah jujur sajalah. Kita kan setelah lulus SMA akan bertunangan, kau dan aku” Baekhyun menatapku dengan penuh kemenangan. Astaga aku benar-benar muak, lagi-lagi dia membahas perjanjian masa kecil kita berdua.

“YA! berhenti mengungkit kejadian masa lalu!”

“Shirreo!”

“Byun Baekhyun!”

“Shirreo!”

“Baekhyun!!”

“SHI-RREO!”

 

END

Iklan

Review And Chat here!

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s