Tips Menulis

Tips Menulis

Hallo Students!

Gallery of EXO School adalah blog yang bertema sekolah dan berbasis ‘sharing fanfiction’, sebagai wadah untuk EXO-L untuk mengembangkan bakat dan minatnya di dunia tulis menulis. Salah satu keberhasilan dalam menulis adalah kepuasan penulisnya, ketika penulis merasa Fanfic yang ditulisnya ‘cantik’ maka tercapailah goal menulis fanfiction, karena fanfiction bersifat bebas dan tidak terikat.

Banyak cara untuk mempercantik tulisan; khususnya cerita fiksi. Berikut ini kami, tim Gallery of EXO School, merangkum beberapa tips ketika menulis untuk memproduksi tulisan yang lebih berkualitas.

  1. Gambarkan detail

Apa sih menggambar detail itu?

Artinya, dalam menulis sebuah cerita fiksi, kita perlu menggambarkan suatu peristiwa atau kejadian dengan lebih detail, serta menghidupkannya.

Buatlah pertanyaan di dalam kepalamu, kemudian cari jawabannya. Seperti, apa yang dirasakan seorang tokoh melihat temannya sakit? Atau apa yang seorang tokoh rasakan ketika melihat sahabatnya patah hati?

Cari jawabannya sendiri, bayangkan bagaimana kejadiannya sebaik mungkin, kemudian tuliskan, dan jabarkan sebaik mungkin sehingga pembaca lebih mampu larut dalam sebuah kejadian yang tergambarkan.

Contoh :

Aku melihat perubahan air muka Yixing, pelipisnya berpeluh. Kurasakan tangannya bergetar digenggamanku dan wajahnya memucat. Dia tidak sedang baik-baik saja. Bisa kumengerti jika dia setakut ini.

Dibandingkan menggunakan “Yixing terlihat ketakutan.”, perasaan yang dikeluarkan terlihat lebih dalam.

Kesimpulannya, kita cukup mempertanyakan, “Apa yang dilakukan Yixing ketika dia ketakutan?”

Jawabannya adalah, ekspresinya berubah, pelipisnya berpeluh, tangannya bergetar, dan wajahnya memucat.

Setelah itu jabarkan, pilih diksi (kata-kata) yang paling pas dalam penjabarannya.

Jadi, memberi gambaran detail semudah membuat pertanyaan sendiri, menjawabnya dengan membayangkan ‘apa ya kira-kira’ kemudian disajikan secara menarik.

  1. Hidupkan perasaan tokoh.

Bagaimana cara menghidupkan perasaan tokoh?

Perhatikan contoh!

Aku takut melangkahkan kaki dari rumah ini. Sekali, dua kali, aku menoleh ke belakang, bangunan rumah itu masih kokoh berdiri disana, nenek masih melambaikan tangannya dengan senyum lebar. Aku jadi berpikir, apa ketika aku kembali kemari, satu atau dua dekade mendatang semuanya akan masih sama? Tiba-tiba terbesit rasa ragu di ulu hatiku, membuat langkahku makin berat tiap kakinya. Aku bertanya-tanya apakah benar memilih jalur ini?

Kira-kira apa sih yang dipikirkan tokoh akan suatu keadaan? Ketika dia menangis pacarnya memutuskannya? Ketika dia mendapat pesan bahwa dia gagal masuk audisi acara yang diimpikannya? Ketika dia bahagia ibundanya kembali setelah kian lama pergi? Ketika dia menahan benci melihat sesuatu yang tidak disukainya. Kita dapat membayangkannya kemudian menggambarkannya

Disamping, “Malam itu, aku tidak tidur semalaman karena menangis,”

Pikirkan, kira2 apa yang dia pikirkan ketika menangis semalaman itu? Seperti :

“Aku merasa dikoyakkan. Semalaman penuh aku berjuang untuk menghentikan air keluar dari ujung mataku, namun aku tak bisa memaksakannya, ketika aku berulang kali mencoba, tak berbuah hasil selain justru melukai ujung tenggorokanku. Dan keesokan harinya ketika mentari terbit, tak kunjung reda pula tangisku. Aku masih tidak bisa menerima, aku masih tidak mengerti.”

Sebenarnya ini tidak jauh berbeda dengan menggambar detail, hanya saja tambahan contoh agar lebih mudah dimengerti.

  1. Jelaskan alasan kenapa tokoh suka/benci terhadap sesuatu.

Aku tidak akan mengakui bahwa aku menerimanya, karena itu akan jadi bohong belaka. Kutarik napasku, bawaan ketika mata kami bersulut pandang hanya kebencian yang terasa. Teringat sudah akan kejadian dua malam yang lalu, penghiatan itu membuatku semakin jadi membenci dan membencinya. Sejutapun maaf pun tak ampuh lagi, masih teringat aku akan maafnya lima hari yang lalu, atau seminggu lalu, atau dua pekan lalu, aku memberinya “permintamaafan” itu, namun lihat apa yang kudapat? Penghianatan? Lagi?

Kita harus menjelaskannya hingga kita bisa memastikan bahwa pembaca paham kenapa seseorang membenci, atau menyukai sesuatu agar bisa ikut-ikutan menyukai atau membencinya.

  1. Jangan Lupa soal Karakter.

Tokoh yang kita buat memiliki karakter masing-masing, jika dia memang egois misalnya, gambarkan keegoisannya dengan baik. Jadi, ketika dia harus mengalah gambarkan seberapa berat ia harus mengalah itu.

Atau, kalau dia adalah orang yang pengecut, gambarkan kejadian yang menampakkannya sebagai pengecut, jangan langsung ditulis “Aku memang pengecut” tapi jelaskan bagaimana pengecutnya, sehingga tanpa harus ditulis “aku pengecut” pembaca bisa melihat betapa pengecut dia.

“Aku melangkahkan kakiku mundur lagi. Meskipun dua juta kali Baekhyun berkata bahwa aku pasti bisa, dan milyaran kali aku berusaha percaya pada kata-katanya, namun tetap saja. Aku tidak mampu. Aku menatap wajah gadis itu lagi dari jauh, segenggam bunga masih ada ditanganku namun kakiku membeku ditempat. Aku memang menyalahkan betapa ciutnya hatiku hingga bahkan tak mampu menyatakan perasaan itu. Menggelikan, ya? Hanya dengan alasan takut tidak diterima, aku hanya bisa berdiam diri dan menyaksikan dia pergi. Aku merasa benar-benar kasihan pada diriku sendiri.

Dibanding menulis “aku pengecut” penggambaran seperti itu lebih berkesan.

  1. Setting/Latar

Setting juga merupakan faktor yang penting dan berpengaruh terhadap ‘cantik’nya sebuah tulisan.

Setting terdiri dari

Setting Tempat; Setting Waktu; dan Setting Suasana.

Pertama, mari kita bahas setting tempat,

Tulisan dengan penggambaran deskripsi yang jelas (dibuat seolah benar-benar nyata; padahal kita sendiri tidak yakin apakah lattar itu ada atau tidak) dapat membuat kesan berkelas pada fiksi yang ditulis.

Contoh :

Bangunan kecil itu berada di pojok keramaian, jauh dari kata strategis, tempatnya kecil dan terpencil, dindingnya sudah tua. Di depannya ada papan kecil bertuliskan “Kedai Ramen 831”, sama sekali tidak mengundang minat.

Ketika kau masuk, kau tidak akan menemukan apapun yang istimewa dari desain bangunannya. Sungguh, semuanya biasa saja, ada beberapa tiang penyangga di tengah-tengah, pada setiap tiang, digantungi kalender-kalender tahun China. Dinding ruangan itu bercat hijau muda yang terlihat baru saja diperbaharui, lantainya dilapisi keramik bewarna putih yang terlihat bersih, seolah baru saja dibersihkan, diatas langit-langit, digantung tiga buah kipas angin yang cukup efektif untuk mengurangi pengap, kemudian beberapa jendela memasukkan seberkas cahaya luar yang cukup untuk menjadi penerangan. Sedangkan ruangan itu sendiri diisi oleh meja makan yang berjumlah delapan berbanjar dikelilingi oleh kursi-kursi kayu. Dari sini, dapat kulihat sebuah pintu yang kutebak merupakan jalan untuk masuk ke dapur tempat memasak.

Tapi aku sungguh heran, bukannya terlihat sepi, tempat itu dijejali begitu banyak kepala manusia, nenek berusia lima puluh tahunan bersama dua orang cucunya terlihat kewalahan melayani membludaknya pelanggan. Bahkan dari sekitar banyak kedai ramai yang berjajaran di jalan Myeongdong, tempat itulah yang terlihat paling sesak.

Bagaimana? Apakah terlihat nyata?

Sebenarnya, tempat yang dideskripsikan hanya karangan semata. Tidak benar-benar terdapat di dunia nyata. Namun terkesan ‘ada’ karena digambarkan sedimikian rupa sehingga terbentuk bayangan yang jelas di angan pembaca.

Atau, jika membuat gambaran detail terlalu rumit, kita bisa memberikan gambaran yang lebih sederhana, intinya dapat membuat pembaca sadar akan lattar yang sedang berusaha kita jabarkan,

Contoh :

Aku terengah-engah, tanganku cepat-cepat meraih knop pintu dan memutarnya kencang, kemudian mendorongnya untuk menemukan dua puluh tiga wajah terkejut kawan sekelasku, aku menampilkan wajah tersenyum penuh minta maaf disela enggahanku dan mengambil tempat duduk di atas kursi yang masih kosong.

Dalam contoh, kita dapat menarik kesimpulan :

  1. Si-‘aku’ ada di sebuah sekolah
  2. Si-‘aku’ masuk ke dalam kelasnya
  3. Suasana kelas itu : ada 24 siswa di dalamnya.]

Sebagaimana kita tahu, akhir-akhir ini banyak Fanfiction yang menjelaskan lattar dengan membubuhi @kedai ramyeon @sekolah @kelas, yang menganggu dan tidak efektif. Memang benar, pemberian @rumah @sekolah mempermudah kita menjelaskan lattar tempat suatu peristiwa, namun tidak mampu menggambarkannya.

Kemudian, penggambaran lattar waktu,

Perhatikan contoh :

Ketika aku membuka pintu keluar, langit sudah menghitam. Ragu-ragu, kulangkahkan kakiku. Kepalaku mendongak untuk melirik angkasa, kelihatannya bintang memadamkan dirinya. Aku merengutkan wajahku, tapi tak ada yang berubah, bintang-bintang itu rupanya benar-benar tak mau sekedar keluar untuk menghiburku.

Untuk mempercantik fiksi, lattar waktu juga perlu digambarkan, bukan dijelaskan.

Bedanya?

Berdasarkan contoh di atas, lattarnya sudah cukup jelas. Tentu saja dari “langit sudah menghitam”, bisa jadi bermakna mendung atau malam hari, kemudian dijelaskan dengan “kelihatannya bintang memadamkan dirinya” yang mempunyai makna ganda, yang membenarkan malam dan mendung sekaligus, bintang tidak akan terlihat ketika mendung.

Dibanding, “Aku membuka pintu keluar, rupanya, hari sudah malam.” yang memang memperjelas lattarnya adalah malam hari, namun kurang dapat menggambarkannya.

Intinya : menggambarkan lebih baik dari menjelaskan.

Selanjutnya, penggambaran lattar suasana.

Mari kita perhatikan contoh berikut;

Wajah LuHan yang berada di sebelahku terlihat sepenuhnya ketakutan, pelipisnya dibanjiri oleh keringat dan napasnya tidak beraturan, sedangkan disebelahku yang lain, Yixing, dia juga sama saja. Tangannya yang mencengkram pistol terlihat gemetaran, wajahnya terlihat panik seratus persen.

Sedangkan aku mati-matian menahan gejolak untuk segera melarikan diri. Tapi itu sulit bukan main. Aku adalah yang paling tua di sini, aku menjadi panutan, aku tidak ingin membuat adik-adikku menyerah.

“Hyung, aku takut.” Bisik Sehun dari belakang.

Ketika aku ingin menjawabnya, suaraku tertelan begitu bunyi ‘Duarr!’ menggema di sekitar.

Detik kemudian, aku mulai kehilangan kesadaranku.

.

Dengan contoh diatas, kita bisa membayangkan suasana ketakutan yang dihadapi oleh para tokoh.

Dibanding, “Kami semua takut, aku, ataupun adik-adikku. Dan setelah sebuah suara tembakan terdengar, aku kehilangan kesadaranku.” Suasana takutnya kurang dapat diresap oleh pembaca karena hanya dijelaskan, bukan digambarkan.

Contoh fiksi yang menggabungkan tiga lattar :

Keabadian

Pagi itu, udara di lorong ini penuh akan unsur melankoli. Entah kenapa perasaanku yang awalnya terlampau biasa dengan cepat bisa menjadi begitu kalut secara drastis. Jantungku berdebar begitu kencang melihat wajah kawan-kawan sekelilingku, aku tiba-tiba merasa ada sesuatu yang tidak beres. Dan intuisiku menjeritiku peringatan untuk tidak bertanya apapun.

Namun disokong oleh rasa penasaran yang membludak, aku mengambil langkah dan mendekati salah satu kawanku, Nara, wajahnya lesu, matanya memerah dan kosong, serta seperti kebanyakan siswa, seragamnya berantakan.

“Ada apa?” Tanyaku padanya, harap-harap cemas.

Gadis itu membuka mulutnya, terlihat susah payah mengumbar suara, “Ms. Nella…” isaknya pelan, “Ms. Nella meninggal karena kecelakaan.”

Deg! 

Kakiku langsung lumpuh seketika. Sulit bagiku untuk mencernanya, pikiranku tak mampu mengolah apapun namun kesadaranku tahu, bahwa Ms Nella, guru kesayanganku, telah pergi meninggalkanku.

Ke keabadian.

Kelengkapan :

  1. Lattar waktu : tersebutkan ‘pagi itu’.
  2. Lattar suasana : tersebutkan ‘melankoli’
  3. Lattar tempat : ‘lorong’ dan ‘…seperti kebanyakan siswa lain, seragam…” artinya, mereka ada di lorong sekolah.

Sekian tips yang dapat kami rangkum, semoga bermanfaat. Apabila ada kesalahan, karena kita semua sama-sama sedang belajar, maka mohon dimaklumi, atau bahkan silahkan ditegur.

Dan dimohon untuk tidak me-repost atau copy paste dalam bentuk apapun.

—diramadhani

Iklan